Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: SIAPA YANG BOLEH PULANG DULUAN
Dia melihat anak kandung mendiang suaminya, Kelvin Jr, sedang tidur di dada Sinta.
Dia melihat anak dari sahabatnya dan musuhnya dulu, Arga Jr, sedang tidur di dada Arga.
Dua ayah. Dua bayi. Satu rahim petarung yang sudah berhasil.
Itu akhir Bab 31. Foto itu Luna kirim ke grup keluarga. Captionnya panjang tentang rahim petarung yang masih hidup dan hebat. Tidak sampai beberapa menit, Opa balas, Opa Oma bangga. Dua-duanya cucu Opa.
Sekarang Bab 32. Malam harinya, aku kembali ke kamar. Perutku kosong. Tidak ada tendangan lagi. Aneh rasanya. Selama berbulan-bulan ada tendangan terus, sekarang kosong dan perih. Kosong yang bukan kosong kalah, tapi kosong menang. Karena isinya sudah keluar. Sudah lahir. Sudah selamat.
Arga tidur di sofa dengan foto Arga Jr di dadanya. Luna tidur di sofa sebelah dengan foto Kelvin Jr di dadanya. Dan aku, di tengah ranjang, memegang dua foto polaroid itu. Dua detak yang dulu ada di dalam, sekarang ada di luar, masih berjuang di inkubator. Perjuangan belum selesai. Ini baru Bab 32. Masih ada belasan bab lagi sampai mereka bisa pulang. Tapi untuk malam ini, aku bisa tidur lagi tanpa mimpi buruk keguguran. Karena dua-duanya sudah lahir. Sudah selamat. Rahim petarung tidak kalah.
Pagi harinya suster masuk. Senyum. Bilang hari ini hanya boleh satu bayi yang digendong dengan metode kangguru, karena satu inkubator harus disterilkan. Hanya satu.
Padahal ada dua bayi di dalam sana. Arga Jr dan Kelvin Jr.
Siapa yang boleh digendong duluan hari ini? Pertanyaan kecil yang jadi besar.
Arga langsung berdiri. Bilang Arga Jr saja. Dia lebih besar, suaranya lebih kencang tadi malam, dia lebih kuat.
Luna langsung berdiri juga. Bilang Kelvin Jr saja. Dia lebih kecil, dia yang ketubannya pecah duluan, tapi dia tetap bertahan. Dia anak mendiang Kelvin, suami pertama Sinta. Dia harus dapat prioritas, karena dia sudah berjuang lebih lama di dalam air yang sudah tidak ada.
Dua orang yang sayang, rebutan sayang.
Aku, Sinta, di tengah ranjang, perut kosong, tidak ada tendangan lagi, aku yang harus putuskan. Aku bilang pelan, suara masih serak habis lahiran. Hari ini Kelvin Jr dulu. Karena dia yang lebih kecil. Karena dia yang ketubannya pecah duluan tapi bertahan. Rahim petarung itu bukan soal siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling lama berjuang tanpa air. Arga diam. Dia setuju. Karena dia tahu, Kelvin Jr adalah anak dari sahabatnya. Sahabat yang dulu jadi musuh karena cinta, lalu jadi sahabat lagi sebelum meninggal. Rumit, tapi itulah keluarga kami.
Luna menggendong Kelvin Jr dengan hati-hati. Bayi sekecil botol minum, kulit masih merah transparan, mata masih tertutup, tapi napasnya kuat. Mesin monitor berbunyi stabil. Detak pejuang. Aku lihat Luna nangis. Nangis pelan. Karena akhirnya dia bisa gendong anak sahabatnya yang dulu dia janji akan jaga.
Tidak lama, Opa dan Oma datang ke NICU. Bawa koper. Bukan koper baju bayi. Koper dokumen. Opa duduk di sofa yang semalam Arga tidur dengan foto di dadanya. Opa buka koper. Di dalamnya ada surat.
Ini surat wasiat sementara, kata Opa. Opa Oma bangga. Dua-duanya cucu Opa. Arga Jr cucu kandung dari Arga, anak Opa. Kelvin Jr cucu angkat dari mendiang Kelvin, tapi tetap cucu Opa karena ibunya Sinta, menantu Opa yang rahim petarung.
Semua diam. Bahkan suster NICU diam.
Opa lanjut, Opa mau kasih warisan. Jumlahnya besar. Bukan untuk Sinta. Bukan untuk Arga. Bukan untuk Luna. Tapi untuk bayi. Siapa yang boleh pulang duluan dari NICU, dia yang dapat warisan itu untuk biaya hidup sampai dewasa.
Semua kaget. Warisan untuk bayi yang pulang duluan.
Arga Jr lebih besar, kemungkinan pulang duluan lebih besar. Kelvin Jr lebih kecil, lebih lama di NICU, tapi dia pejuang ketuban pecah duluan.
Siapa yang akan dapat? Ruangan jadi tegang.
Aku, Sinta, yang baru melahirkan, harus jadi juri. Rahim petarung yang sudah berhasil sekarang harus jadi hakim. Aku bilang, Opa, jangan kasih hanya untuk satu bayi. Bagi dua saja. Separuh untuk Arga Jr, separuh untuk Kelvin Jr. Karena dua-duanya lahir dari satu rahim yang sama. Dua ayah, dua bayi, satu rahim petarung yang sudah berhasil. Kalau Opa kasih hanya untuk satu yang pulang duluan, nanti mereka berantem seperti Arga dan mendiang Kelvin dulu. Aku tidak mau anakku berantem karena warisan. Aku sudah capek berantem.
Opa menatapku lama. Oma nangis. Oma peluk aku.
Opa bilang, kamu benar, Sinta. Rahim petarung tidak kalah, tapi hati Ibu tidak boleh kalah juga. Oke, dibagi dua. Adil. Tapi syaratnya, yang bagian Kelvin Jr akan Opa simpan atas nama Luna sebagai wali, karena Luna yang janji akan jaga Kelvin Jr seperti anak sendiri. Dan yang bagian Arga Jr atas nama Arga. Kamu setuju? Aku setuju. Luna nangis lebih kencang. Arga nangis juga. Dua detak di inkubator berbunyi stabil. Dua-duanya berjuang.
Siang itu, aku belajar jadi Ibu NICU. Ibu NICU itu bukan Ibu yang bisa langsung peluk anaknya kapan saja. Ibu NICU itu Ibu yang harus cuci tangan sampai siku, pakai baju steril, dan hanya boleh sentuh ujung jari kaki bayi. Tidak boleh peluk lama. Tidak boleh cium. Harus kuat.
Aku sentuh kaki Arga Jr. Kecil. Hangat. Aku bisik, nak, cepat besar ya, Mama tunggu di rumah. Aku sentuh kaki Kelvin Jr. Lebih kecil lagi. Lebih hangat. Aku bisik, nak, kamu juga, kamu pejuang Mama, Mama bangga.
Luna di sebelah berbisik ke Kelvin Jr, tante di sini, tante janji jaga kamu sampai besar, seperti janji tante ke Papa kamu dulu.
Arga di sebelah berbisik ke Arga Jr, Papa di sini, Papa tidak akan kemana-mana lagi, Papa sudah tidak jadi musuh siapa-siapa, Papa jadi Papa saja.
Sore, dokter datang. Dokter bilang dua-duanya stabil. Dua-duanya naik berat badan hari ini. Dua-duanya kuat. Dua-duanya pejuang. Tidak ada yang lebih kuat, karena kuat itu bukan soal besar kecil, tapi soal mau hidup. Dan dua-duanya mau hidup.
Aku senyum. Pertama kalinya setelah berbulan-bulan mimpi buruk keguguran, aku senyum tanpa takut.
Malam harinya, aku kembali ke kamar. Perutku kosong. Tidak ada tendangan lagi. Aneh rasanya. Arga tidur di sofa dengan foto Arga Jr di dadanya. Luna tidur di sofa sebelah dengan foto Kelvin Jr di dadanya. Dan aku, di tengah ranjang, memegang dua foto polaroid itu.
Dua detak yang dulu ada di dalam, sekarang ada di luar, masih berjuang di inkubator.
Suster masuk tengah malam. Bilang ada kabar baik. Dua-duanya tidur nyenyak. Tidak ada demam. Tidak ada sesak. Dua-duanya pejuang malam ini.
Aku angguk. Terima kasih, suster.
Di grup keluarga, Luna update lagi tengah malam. Tulisannya pendek saja. Hari ini Kelvin Jr dan Arga Jr naik berat badan. Opa sudah bagi warisan jadi dua. Dua-duanya cucu Opa. Dua-duanya pejuang NICU. Mohon doanya terus.
Opa balas cepat. Opa Oma bangga. Dua-duanya cucu Opa. Cepat pulang.
Aku baca balasan itu sambil pegang perut kosongku. Perihnya masih ada, tapi perih menang, bukan perih kalah.
Perjuangan belum selesai. Ini baru Bab 32. Masih ada belasan bab lagi sampai mereka bisa pulang. Tapi untuk malam ini, aku bisa tidur lagi tanpa mimpi buruk keguguran. Karena dua-duanya sudah lahir. Sudah selamat.
Rahim petarung tidak kalah. Hati Ibu juga tidak kalah.
Dan besok pagi, aku akan kembali ke NICU. Akan gendong satu lagi. Akan sentuh kaki kecil itu lagi. Akan bisik lagi. Sampai hari dimana aku bisa peluk dua-duanya bareng tanpa selang, tanpa mesin, tanpa inkubator. Hari dimana aku bisa bawa pulang dua-duanya. Dua ayah, dua bayi, satu rahim petarung yang sudah berhasil, dan satu keluarga yang akhirnya tidak berantem lagi karena warisan.
..........
[CATATAN PENULIS]
Terima kasih udah baca sampai Bab 32 versi halus tanpa angka! Ini bab NICU dan warisan yang paling aku nangisin nulisnya.
Kemarin banyak yang komen A Arga Jr paling kuat karena nangis kencang. B Kelvin Jr paling kuat karena ketuban pecah duluan tapi tetap hidup.
Di Bab 32 ini terjawab: Dua-duanya kuat! Dua-duanya naik berat badan! Dan Opa adil, dibagi dua, tidak untuk satu saja!
Menurut kalian di Bab 33 siapa yang boleh pulang duluan dari NICU beneran?
A. Arga Jr yang lebih besar, lebih cepat pulang
B. Kelvin Jr yang lebih kecil tapi pejuang, kalau dia pulang duluan itu mukjizat
Komen A atau B ya! Yang komen aku balas satu-satu dan aku kasih bocoran Bab 33: Oma mau kasih nama lengkap siapa? Dan kapan Sinta boleh peluk dua-duanya bareng tanpa selang?
Jangan lupa kasih LIKE
mampir juga di karyaku yah😊