Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MONSTER YANG TERBANGUN
Keheningan yang membekukan seketika menguasai atmosfer Lembah Angin Kelabu. Deru angin badai yang semula membelah bukit karang mendadak lenyap, digantikan oleh tekanan aura tak kasat mata yang teramat pekat hingga membuat butiran debu di udara berhenti melayang.
Di atas punggung Burung Elang Berkepala Tiga, Sang Utusan Suci berdiri mematung. Mata keemasannya memancar tajam, mengunci pandangan lurus ke arah kawah raksasa di bawahnya.
Di dasar kawah yang hancur, Ryu Jin berdiri tegak.
Sepasang mata merah darah milik sang pendekar menatap ke atas langit, mengunci sepasang mata keemasan sang Utusan.
Sebuah konfrontasi tatapan yang teramat berbahaya. Tidak ada kata-kata, tidak ada ancaman diplomasi, dan tidak ada sedikit pun niat untuk mundur dari kedua belah pihak.
Tatapan mata Ryu Jin begitu hampa, dingin, dan pekat oleh aura kematian—seolah-olah ia sedang menatap seekor mangsa yang tinggal menunggu waktu untuk dilahap. Sementara itu, di balik keangkuhan mata keemasan Sang Utusan Suci, terbesit seberkas getaran aneh yang belum pernah dirasakannya sepanjang hidup. Sang Utusan merasa seolah-olah ia sedang menatap ke dasar jurang maut tanpa dasar yang sanggup menelan seluruh jiwa dan raganya!
"Sombong!" jerit Sang Utusan Suci, mencoba mengusir getaran asing di dadanya. "Hanya karena kau mampu menahan satu pilar petirku, kau pikir kau sanggup menantang penguasa Alam Suci Pusat?!"
DUAAAAARRR!
Sang Utusan Suci menghentakkan kakinya. Langit di atas Lembah Angin Kelabu pecah terbelah! Dari balik robekan awan keemasan, meluncur turun Tujuh Pedang Hukuman Langit—tujuh pedang raksasa terbuat dari petir murni sepanjang ratusan meter yang menancap melingkar mengurung posisi Ryu Jin!
"Hancur berkeping-kepinglah kau!"
Tujuh pedang petir raksasa meluncur turun serentak dengan kecepatan kilat, mengincar pusat energi, leher, dan jantung Ryu Jin dari tujuh sudut mematikan!
Lian Xue yang terkulai di balik reruntuhan karang membelalakkan matanya yang redup.
Meskipun tubuhnya terluka akibat sengatan petir sebelumnya, kesadaran Lian Xue masih menangkap jelas skala kehebatan serangan tersebut. Jurus Tujuh Pedang Hukuman Langit adalah teknik pemusnah tingkat tinggi dari ranah Pseudo-Heavenly Tribulation yang mampu meratakan sebuah kota benteng dalam sekejap mata!
Ia meyakini Ryu Jin akan hancur tak berbekas.
Namun...
SSSTTT!
Ryu Jin tidak berpindah tempat satu milimeter pun.
Tangan kanan Ryu Jin mengayunkan pedang besi berkarat di genggamannya. Gerakannya terlihat teramat lambat dan sederhana, namun memancarkan gelombang Hukum Kematian yang teramat presisi!
KLANG! KLANG! KLANG!
Bilah pedang besi Ryu Jin menebas udara dalam satu lingkaran tak bertepi. Aura petir hitam keemasan yang baru saja diserapnya meledak mendatar, memotong dan mematahkan tujuh pedang petir raksasa musuh tepat di titik simpul energinya!
Tujuh pedang petir setinggi ratusan meter itu seketika hancur berkeping-keping menjadi partikel cahaya yang beterbangan ditiup angin!
Lian Xue membelalakkan matanya dalam guncangan batin yang luar biasa!
Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun memburu. Selama perjalanan ini, Lian Xue selalu menganggap Ryu Jin hanyalah seorang pemuda beruntung yang mengandalkan kekejaman sadis dan kekuatan Pedang Tulang Hitam untuk menang. Ia menganggap teknik dan ranah Ryu Jin sangat remeh jika dibandingkan dengan para ahli dari Alam Suci Pusat.
Namun, menyaksikan Ryu Jin mematahkan jurus puncak ranah Pseudo-Heavenly Tribulation hanya dengan ayunan pergelangan tangan... Lian Xue menyadari betapa salahnya ia menilai iblis di hadapannya! Kemampuan bertarung Ryu Jin berada di tingkat monster yang belum pernah diperlihatkan sepenuhnya—sebuah pemahaman taktis dan penguasaan pedang yang teramat sempurna dan mengerikan!
"Bagaimana mungkin?!" jerit Sang Utusan Suci dari atas langit. Wajah anggunnya kini dipenuhi kejutan dan kemurkaan yang tak tertahankan! "Kau hanyalah eksperimen gila! Bagaimana bisa kau mematahkan Hukum Langit milikku?!"
Sang Utusan Suci mengangkat Tombak Hukuman Langit tinggi-tinggi ke udara, membakar separuh Inti Jiwanya untuk memicu kekuatan penuh Senjata Suci Tingkat Wilayah tersebut!
"Aku tidak peduli energi apa yang kau sembunyikan! Hari ini, aku akan memusnahkan jiwamu sampai tak berbekas!"
WUUUUUSH!
Tombak di tangan Sang Utusan bertransformasi menjadi naga petir raksasa sepanjang satu kilometer yang membelah atmosfer, meluncur turun untuk meremukkan seluruh Lembah Angin Kelabu!
Namun, tepat saat naga petir raksasa itu meluncur mendekat...
DEGG!
Dada kiri Ryu Jin berdenyut keras. Suara dentuman itu tidak hanya menggema di dalam tubuhnya, melainkan memantul kencang ke seluruh penjuru Lembah Angin Kelabu—membekukan alur waktu dan pergerakan udara sekitarnya!
Di dalam rongga dada Ryu Jin, Pedang Tulang Hitam dengan Sembilan Mata Merah bergetar hebat. Pendar warna hitam keemasan yang dipancarkannya mendadak berubah menjadi warna Hitam Kelam Mutlak yang menyerap seluruh cahaya di sekelilingnya!
Aura keagungan yang teramat dingin, tua, dan sangat mematikan membumbung tinggi menembus langit!
GZZZZZZ!
Mata keemasan Sang Utusan Suci yang sedang meluncur turun sekonyong-konyong membelalak lebar dalam ketakutan mutlak yang belum pernah dirasakannya sepanjang hidup!
Raut mukanya pucat pasi, seluruh bulu kuduknya berdiri tegang. Dari pendar aura yang memancar dari dada Ryu Jin, Sang Utusan Suci mengenali pendar keberadaan yang teramat kelam dan terlarang—sesuatu yang pernah dicatat dalam gulungan rahasia tertinggi di Alam Suci Pusat!
"A-Aura ini..." suara Sang Utusan Suci bergetar hebat, kepanikan liar merobek seluruh keangkuhannya. "N-Nggak mungkin! Kau... kau bukan ciptaan Sekte Dewa Langit Merah! Kau bukan sekadar Kelinci Percobaan Nomor Nol!"
Sang Utusan menyadari kenyataan mengerikan yang telah terlambat dipahaminya!
Ryu Jin bukanlah produk hasil eksperimen manusia biasa... melainkan Iblis Terlarang yang Dahulu Dikurung oleh Para Penguasa Wilayah! Eksperimen Desa Sunyi dan campur tangan Sekte Dewa Langit Merah yang baru saja berlalu bukanlah hal yang menciptakan kekuatannya, melainkan hanya wadah acak tempat iblis terlarang ini memilih untuk memecahkan segelnya sendiri dan kembali bangkit ke dunia manusia!
"K-Kau adalah iblis yang dikurung itu—"
"Terlalu banyak bicara," suara Ryu Jin terdengar sangat rendah, memantul tepat di belakang telinga Sang Utusan Suci!
Ryu Jin telah menghilang dari dasar kawah, muncul melayang tepat di udara di hadapan naga petir raksasa dan Sang Utusan Suci!
Wajah kusam Ryu Jin tidak lagi memancarkan pendar manusia biasa. Sepasang matanya telah berubah menjadi warna merah kehitaman mutlak tanpa pupil, menyebarkan aroma kematian alami yang sanggup membunuh jiwa dari jarak jauh.
Ryu Jin mengayunkan pedang besinya secara santai.
DUAARR!
Tidak ada ledakan dahsyat. Tidak ada cahaya yang merusak mata.
Hanya ada satu garis hitam tipis yang melintasi atmosfer Lembah Angin Kelabu.
Dalam kurun waktu kurang dari satu kedipan mata, naga petir raksasa sepanjang satu kilometer, Burung Elang Berkepala Tiga, dan tubuh Sang Utusan Suci dari ranah Pseudo-Heavenly Tribulation... terbelah dua secara rapi di udara!
SSSTTT!
Sebelum potongan tubuh Sang Utusan Suci sempat jatuh ke tanah, aura hitam kelam dari pedang Ryu Jin melahap habis seluruh daging, pembuluh darah, dan Inti Jiwa milik pemburu dari Alam Suci Pusat tersebut hingga mengering menjadi abu yang lenyap ditiup angin!
Pembantaian mutlak seorang eksekutor puncak Alam Suci Pusat dalam satu kibasan tangan!
TAP.
Ryu Jin mendarat anggun di atas hamparan karang gersang yang telah hancur.
Aura hitam kelam di dalam dadanya perlahan-lahan meredap kembali masuk ke balik rongga tulang rusuknya, menyisakan pemuda berkain cokelat pudar dengan wajah kusam yang hampa. Pedang besi berkarat di tangannya disarungkan kembali secara tenang.
Di balik reruntuhan karang, Lian Xue gemetaran hebat hingga tak sanggup berdiri.
Air mata dingin menetes membahasi pipinya yang pucat. Tubuhnya menggigil kaku dalam horor sejati yang meremukkan seluruh sumsum tulang dan jiwanya.
Semua harapan, rencana kelicikan, dan impiannya untuk melihat Ryu Jin hancur di tangan ahli Alam Suci Pusat... runtuh tak berbekas dalam sekejap mata. Sosok yang menyeretnya selama ini bukanlah sekadar pendekar kejam biasa, bukan pula manusia hasil eksperimen yang cacat. Pria di hadapannya adalah iblis terlarang yang dikurung masa lalu—sesosok bencana berjalan yang akan menelan seluruh wilayah ini ke dalam lautan darah!
TAP. TAP.
Ryu Jin melangkah mendekati Lian Xue.
Ia berjongkok di hadapan gadis yang lemas kaku itu. Tangannya mencengkeram rahang Lian Xue secara perlahan, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang kembali merah darah.
"Kemampuan yang kau anggap remeh ini..." suara Ryu Jin terdengar sangat tenang, namun sanggup membekukan seluruh isi dada Lian Xue, "...baru saja melahap Utusan Suci milikmu."
Lian Xue tidak sanggup membalas. Ia hanya bisa menatap Ryu Jin dengan sepasang mata yang dipenuhi ketakutan mutlak, membiarkan dadanya naik turun dalam keputusasaan yang tak terobati.
Ryu Jin melepas rahang Lian Xue, lalu menyambar bahu gadis itu dan menyampirkannya kembali di bahunya bagaikan barang bawaan tanpa nilai.
Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah lorong awan keemasan yang kini terbuka lebar tanpa ada lagi penjaga—pintu masuk utama menuju Alam Suci Pusat.