Indonesia
NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Pembantaian di Puncak Tengkorak

Awan kehitaman bergerak tebal menutupi rembulan di atas langit Puncak Tengkorak. Udara malam pegunungan terasa membeku kaku, membawa angin dingin yang menggesekkan ranting-ranting pohon cemara mati. Di puncak tebing batu yang terjal, Benteng Puncak Tengkorak berdiri kokoh dengan dinding granit tebal dilapisi pasak besi. Tiga puluh obor minyak menyala remang di atas selasar menara pengawas, menyingkapkan siluet prajurit bersenjata panah mesin dan zirah emas Istana Naga Merah.

Dua pengintai zirah emas berdiri bersandar pada pilar kayu menara timur. Di tangan mereka, terikat tali busur panah otomatis yang mengarah lurus ke lorong lembah bawah. Salah seorang pengintai menggosokkan kedua telapak tangannya yang membeku, menatap gulungan kabut tebal yang merayap di dasar jurang.

Srettt!

Desisan tipis membelah kegelapan malam tanpa aba-aba. Dua anak panah baja meteorit berujung bulu burung hantu meluncur deras dari balik rimbun pohon cemara mati. Anak panah buatan Feng Ni menembus tenggorokan kedua pengintai secara bersamaan dari jarak lima puluh depa.

Darah kental menyembur basah membasahi selasar kayu. Sebelum tubuh kedua pengintai itu menghantam lantai, lima pemanah Zirah Bencana yang merayap di dinding tebing menyambar jasad mereka, merebahkannya tanpa suara.

Feng Ni melompat turun dari dahan cemara mati dengan gerakan seringan kapas. Jubah kulit ular kehitamannya menyatu sempurna dengan kegelapan malam. Di tangannya, busur baja meteorit terentang kencang. Jemari lentiknya menarik tiga anak panah berlapis racun Ular Hijau sekaligus.

"Pembersihan menara utara selesai," bisik Feng Ni dingin ke arah sepuluh pemanah terbaik di sampingnya. "Bakar gudang minyak belerang saat kavaleri Tie Shan memasuki gerbang."

Di dasar lembah bawah, dua ribu kavaleri zirah berat Pasukan Serigala Hitam berdiri kaku dalam kegelapan. Tidak ada nyala obor maupun dering rantai besi. Kuda-kuda perang mereka terikat kain tebal di bagian paku sepatu dan moncongnya.

Tie Shan berdiri di barisan terdepan di atas kuda jantan hitamnya. Zirah Bencana kehitaman bergaris emas yang membungkus dadanya memancarkan pendar kelam. Kampak kembar bergerigi besi meteorit di kedua tangannya terangkat melintang, menanti isyarat lampu dari puncak benteng.

Ma Huang berdiri tegak di atas bukit batu sebelah barat. Jubah kulit serigala kelabunya melambai tipis ditiup angin malam. Sepasang mata merahnya menembus kegelapan, mengunci sosok komandan benteng yang tampak berjalan kaku di dalam ruang pengawas utama.

Cahaya lampu minyak di puncak menara timur mendadak dipadamkan dan dinyalakan tiga kali secara berurutan.

Tie Shan menyeringai lebar. Gigi-giginya berkilat tajam di balik pelindung muka besi. Tangan kirinya menghentakkan kekang kuda kencang-kencang.

"Bantai seluruh prajurit zirah emas!" jerit Tie Shan dengan suara parau yang menggelegar memecah keheningan malam.

Derap ribuan paku sepatu kuda pecah seketika. Dua ribu kavaleri Zirah Bencana meluncur deras bagaikan gelombang pasang kehitaman yang meruntuhkan tanah lembah. Gemuruh derap kuda menggetarkan dinding batu Benteng Puncak Tengkorak.

Prajurit penjaga gerbang bawah tersentak kaget. Mereka berlari histeris ke arah genta tembaga bahaya. "Musuh! Penyerbuan kavaleri perbatasan!"

Sebelum tangan penjaga sempat menyentuh pemukul genta, panah api belerang yang dilepaskan Feng Ni meluncur deras menghantam gudang minyak di sudut timur benteng.

Bummm!

Ledakan dahsyat meletupkan kobaran api kebiruan setinggi lima tombak. Serpihan kayu terbakar dan minyak mendidih membumbung tinggi, melahap puluhan prajurit zirah emas di atas selasar benteng. Jeritan kesakitan melengking tinggi menyatu dengan gemuruh derap kavaleri.

Tie Shan mengarahkan kuda jantan hitamnya melompat melintasi parit perlindungan luar. Kampak kembar baja meteorit di kedua tangannya diayunkan memutar melingkar.

Brak! Krak!

Pintu gerbang kayu berlapis tembaga tebal hancur berhamburan dalam satu kali hantaman gelombang kavaleri terdepan. Serpihan kayu tebal dan pasak besi panas terlempar mengenai sepuluh prajurit perisai emas di balik gerbang.

Pasukan Serigala Hitam merangsek masuk menembus asap kebakaran. Kampak-kampak meteorit dan tombak baja kehitaman meluncur kejam, memotong zirah emas musuh bagaikan membelah kayu lapuk.

Seorang komandan perwira zirah emas menggeretakkan giginya kencang. Ia mengayunkan pedang panjang berukir naga, mencoba membendung gelombang serangan kavaleri Tie Shan. "Rapatkan barisan perisai! Tahan kavaleri musuh!"

Tie Shan melompat turun dari pelana kudanya yang bergerak kencang. Tubuhnya mendarat mulus dua depa di hadapan perwira tersebut. Kampak kembar di tangan tuanya diayunkan mendatar dari kanan ke kiri.

Srettt!

Zirah emas tebal milik perwira itu terbelah dua tanpa hambatan. Garis racun dingin dari besi meteorit merembes cepat, membakar dada perwira itu hingga darah kental menyembur basah membasahi ubin batu benteng. Perwira itu roboh kaku tanpa sempat melancarkan tebasan balasan.

Pertempuran di pelataran dalam benteng berubah menjadi medan pembantaian berdarah. Lima ratus prajurit zirah emas Istana Naga Merah terdesak kaku di antara tembok api belerang dan lingkaran kavaleri Serigala Hitam.

Dari arah lorong atas benteng, sesosok pria berzirah emas tebal dengan mantel bulu merah melangkah keluar. Komandan Benteng Puncak Tengkorak, General Zhao Kuang, mencabut dua bilah tombak tembaga raksasa dari punggungnya. Wajah tuanya yang bernoda darah memancarkan amarah liar.

"Bocah-bocah liar perbatasan!" raung Zhao Kuang. Ia meloncat turun dari tangga batu, menghantamkan kedua tombak tembaganya ke tanah hingga ubin granit retak ambles. "Aku akan mencabut nyawa kalian semua!"

Zhao Kuang melesat maju ke arah Tie Shan. Dua tombak tembaganya meluncur cepat bagaikan dua ekor naga emas yang membelah udara malam.

Tie Shan mengangkat kampak kembarnya untuk menangkis. Benturan keras membuat Tie Shan terdorong mundur tiga langkah di atas lantai batu yang basah.

Sebelum Zhao Kuang sempat melancarkan tusukan susulan, sesosok bayangan kelabu meluncur mendatar dari puncak menara pengawas. Pijakan kaki Ma Huang tak terdengar saat mendarat tepat di antara Tie Shan dan Zhao Kuang.

Pedang Tulang Hitam di tangan kiri Ma Huang terangkat miring. Uap asam racun Ular Hijau berdesis kental dari bilahnya, membakar sisa embun malam di sekitarnya menjadi asap kehitaman.

Ma Huang menatap Zhao Kuang dengan mata merah yang berkilat dingin. "Mundur, Tie Shan. Pria ini bagianku."

Tie Shan menarik langkah kakinya mundur dua depa, menyapu darah musuh di kampaknya seraya memberi jalan bagi pimpinan mudanya.

Zhao Kuang menyipitkan matanya tajam. Wajahnya berkerut murka menatap Ma Huang. "Kau... kau adalah Ma Huang! Putra pembawa sial dari Keluarga Ma!"

Zhao Kuang menjejakkan kakinya kencang. Dua tombak tembaga di tangannya diputar melingkar, melancarkan delapan tusukan beruntun secepat kilat yang mengincar seluruh organ vital Ma Huang.

Ma Huang tidak melompat mundur. Ia merendahkan badannya dua jengkal. Pedang Tulang Hitam diputarnya melingkar di depan dada, menangkis setiap mata tombak tembaga dengan presisi sempurna.

Ting! Trang! Cring!

Bunga api kebiruan meledak di udara setiap kali kedua senjata beradu kaku. Asam racun korosif pada Pedang Tulang Hitam merembes cepat melahap lapisan emas di kedua tombak tembaga Zhao Kuang. Ukiran naga pada tombak itu meleleh kehitaman.

Zhao Kuang terperanjat. Rasa dingin membakar merambat menembus genggaman tangannya. Sebelum ia sempat menarik mundur tombaknya, Ma Huang melangkah maju menekan jarak berdiri mereka.

Ma Huang menyalurkan gelombang tenaga dalam Inti Bencana Hitam-Keemasan lurus ke telapak tangan kanannya. Ia menghantamkan telapak tangannya kencang tepat di gagang tombak kiri Zhao Kuang.

Brak! Krak!

Gagang tembaga tebal itu patah terbelah dua. Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam dari bawah ke atas dalam satu sabetan mendatar yang memotong udara.

Bilah pedang hitam memotong lengan kanan Zhao Kuang hingga putus di bagian siku. Darah segar menyembur kental membasahi mantel bulu merahnya.

Zhao Kuang meraung histeris seraya terhuyung mundur tiga langkah. "Tangan... tanganku!"

Ma Huang tidak memberikan kesempatan sedikit pun. Pedang Tulang Hitam digerakkannya miring dalam satu tebasan lurus yang memutus leher Zhao Kuang secara bersih.

Srettt!

Kepala Komandan Benteng Puncak Tengkorak itu melayang jatuh di atas lantai granit yang terbakar. Tubuh berzirah emas milik Zhao Kuang roboh kaku tak bernyawa di tengah pelataran benteng.

Melihat pimpinan mereka tewas mengenaskan, sisa-sisa prajurit zirah emas membuang senjata tembaga mereka ke tanah. Mereka berlutut pasrah di bawah todongan panah meteorit Pasukan Serigala Hitam.

Feng Ni melompat turun dari menara pengawas, melangkah menghampiri Ma Huang. Wajah cantiknya yang dingin ternoda jelaga hitam. "Benteng Puncak Tengkorak telah dikuasai total, Tuan Muda. Gerbang menuju benteng kedua Istana Naga Merah kini terbuka tanpa pertahanan."

Ma Huang mengusap darah Zhao Kuang dari bilah Pedang Tulang Hitam menggunakan kain jubah kelabunya. Ia menyarungkan pedang hitamnya kencang-kencang.

Tatapannya membeku kaku menatap ke arah lembah utara tempat pangkalan utama Istana Naga Merah berada. Kemenangan di Puncak Tengkorak hanyalah awal dari gelombang pembantaian yang akan meratakan seluruh kekuatan Pangeran Zhao Xu.

1
B. Toon
Wah, baru lagi thor. Suka bgt sama karya-karyanya. Kalau bikin MC selalu sadis dan kejam. Hahaha... seleraku bgt 😄
Restu Agung Nirwana: wkwkwk... trims bang, dukung trs biar saya semangat nulisnya 😀😀🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!