Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Tembakan Pertama

...# ...

...Bima tidak ingat memutuskan bergerak....

...Tubuhnya sudah melompat, bahu menghantam lengan Hadi tepat ketika pistol bersuara. Bunyinya seperti tepukan pada bantal, dan peluru menghantam peti kayu di belakang Wartini. Serpihan melompat ke pipinya. Wartini terjatuh ke lantai tanpa sempat menjerit....

...Hadi mundur dua langkah. Wajahnya tidak berubah, masih ramah, masih sabar. Ia hanya mengangkat pistol lagi....

..."Bima, jangan halangi. Ini sebentar."...

..."Ibu saya!"...

..."Dia bukan istriku." Hadi berkata lembut, seperti menjelaskan pada anak kecil kenapa lampu harus dimatikan. "Hadi yang asli sudah mati dua belas tahun lalu."...

...Bima membeku setengah detik. Setengah detik itu cukup....

...Alessia sudah bergerak. Ia menghantam pergelangan Hadi dengan sisi tangan, dan pistol bernapas satu kali lagi ke langit-langit. Atap seng berdenting. Hadi memutar tubuh, siku menghantam rahang Alessia, dan perempuan itu terhuyung ke belakang menabrak meja kantor. Bahunya yang berdarah membentur sudut kayu. Ia menggigit bibir sampai berdarah, tapi tidak bersuara....

..."Alessia!"...

..."Jangan lihat aku!" Ia meludah darah ke lantai. "Pegang dia!"...

...Bima menerjang. Hadi mengelak seperti orang yang sudah menghitung semua gerakan sebelum terjadi, lalu lututnya naik tepat ke perut Bima. Napasnya putus. Ia jatuh berlutut, dan pistol bergerak turun ke arah kepalanya....

...Dimas menjerit. Rico, yang tadi hanya menangis, meraih kaleng oli dari rak dan melemparkannya. Kaleng itu menghantam kacamata Hadi. Kaca retak. Hadi mengumpat, dan untuk pertama kalinya suaranya bukan suara ramah....

...Itu bukan suara ayah Bima. Itu suara yang Bima kenal dari seberang telepon tadi malam, suara yang membaca dari naskah....

..."Siapa kamu?" Bima terengah....

...Hadi menarik kacamata retaknya dan melemparnya ke lantai. Wajah di baliknya setengah familier, setengah asing, seperti foto yang diedit oleh orang yang hanya pernah melihat aslinya dari jauh. Garis rahangnya benar. Kerut di sudut mata benar. Tapi sorot matanya terlalu dingin....

..."Namaku tidak penting." Ia tersenyum miring. "Giovanni menjahit wajah ini selama enam bulan. Dokter bedah terbaik di pelabuhan. Dan aku hafal setiap batuk, setiap jeda, setiap resep sate yang kamu masak."...

...Wartini merangkak mundur di lantai. "Tapi tulisan itu... tinta biru..."...

..."Ayahmu tidak sempat membawa pulpennya." Ia mengangkat bahu. "Aku yang mewarisinya."...

...Bima menatap tangan orang itu. Jari manisnya memakai cincin perak dengan huruf A. Cincin yang dulu di jari Carla, yang ia taruh di meja rumah putih, yang sekarang ada di saku jaketnya....

...Ia meraba saku. Kosong....

..."Kamu ambil waktu di mobil," bisiknya....

..."Di dapur nenekmu." Orang itu memutar cincin di jarinya. "Marta menyenggolmu bukan hanya untuk menyelipkan surat."...

...Dari ambang pintu terowongan, Ilaria naik perlahan. Ia tidak lagi tersenyum. Ia berdiri di sisi orang itu dengan tangan terlipat di dada, dan Bima akhirnya mengerti kenapa senyumnya tadi terlalu rapi....

..."Ilaria," kata Alessia....

..."Mbak." Suaranya tidak gemetar. "Maaf. Aku bukan sedang menyelamatkan Sari."...

..."Kamu..."...

..."Aku kasih Rico harapan, supaya dia berhenti menembak. Giovanni tidak butuh Bima mati sekarang. Dia butuh kalian berdua hidup dan berdiri di ruangan yang sama." Ilaria menatap Alessia lurus. "Karena yang membuka halaman terakhir bukan buku resep. Tapi kalian."...

..."Kamu adik tiriku."...

..."Aku adik tirimu yang tidak pernah diajak makan malam keluarga." Suaranya sedikit pecah, lalu mengeras lagi. "Dua belas tahun aku mengintip dari jendela, Mbak. Dua belas tahun jadi anak yang tidak punya nama di meja. Giovanni satu-satunya yang pernah bilang aku punya tempat."...

...---...

...Alessia berdiri pelan. Pistolnya sudah tidak ada. Ia hanya punya tangan kosong dan bahu berdarah. Tapi ia berjalan ke arah Ilaria seperti sedang masuk ke ruang rapat, bahunya tegak....

..."Kamu mau tempat?" tanyanya. "Duduklah di sebelahku. Tapi tidak di sana."...

..."Terlambat."...

..."Ilaria."...

..."Jangan panggil namaku seperti itu!" Ilaria mundur satu langkah. "Dua belas tahun aku tunggu kamu panggil namaku seperti itu, dan baru sekarang, pas kamu butuh aku!"...

...Alessia berhenti. Bima melihat sesuatu di wajahnya. Tidak marah. Tidak dingin. Pengakuan yang datang terlambat, seperti surat yang sampai setelah penerimanya pindah....

..."Kamu benar," katanya pelan. "Aku tidak pernah memperhatikanmu. Aku salah."...

...Ilaria menggigit bibir. Matanya basah, tapi ia tidak menurunkan dagu....

...Orang berwajah Hadi itu mengangkat pistolnya lagi, kali ini mengarah ke Dimas. "Cukup. Aku punya perintah. Kalian berdua ikut aku ke aula. Sekarang. Atau anak itu yang pertama."...

...Alessia dan Bima bertukar pandang. Tidak ada kata. Bima hanya menatap matanya, dan dalam setengah detik itu mereka berbicara tanpa suara....

...*Aku jangan pergi.*...

...*Aku juga tidak.*...

...Mereka berdua bergerak bersamaan....

...Alessia menunduk menarik kaki meja ke samping. Bima menerjang ke arah Dimas dan menariknya jatuh ke belakang peti. Peluru menghantam kayu di tempat kepala remaja itu tadi berada. Rico, yang akhirnya tersadar, memukul sakelar di dinding....

...Lampu gudang mati total....

...Gelap menelan semua. Hanya cahaya abu-abu dari lubang atap, tipis dan miring. Bima menarik Dimas ke bawah rak kontainer dan menutup mulut adiknya dengan telapak tangan....

..."Jangan keluar suara," bisiknya....

...Langkah kaki bergema. Seseorang menendang kaleng. Alessia bergerak di kegelapan seperti kucing, dan Bima mendengar bunyi tubuh jatuh, lalu bunyi tulang berderak. Ilaria menjerit. Kemudian tembakan lagi, dan lagi, tanpa arah....

...Di sebelahnya, ada tangan yang meraih lengan bajunya dari gelap....

..."Aku."...

...Alessia. Suaranya sangat dekat, napasnya hangat di sisi lehernya. Ia merapat ke bawah rak, tubuhnya menekan sisi tubuh Bima di ruang sempit yang tidak dirancang untuk dua orang dewasa dan satu remaja....

..."Bahumu?"...

..."Diam."...

..."Aku tanya bahumu."...

..."Sakit." Ia menahan napas. "Puas?"...

..."Belum."...

..."Kamu menyebalkan."...

..."Kamu juga." Bima menyentuh lengannya, dan jari mereka bertemu di kegelapan. "Aku cuma tidak mau kamu mati."...

..."Itu mengganggu kontrak."...

..."Iya. Kontrak."...

...Mereka terdiam. Jantung Bima berdetak terlalu keras, dan ia bertanya-tanya apakah Alessia bisa mendengarnya. Dalam gelap, wajah mereka hanya berjarak setengah telapak tangan. Napasnya menyentuh bibirnya, hangat, bau darah dan hujan....

..."Jangan dekat-dekat," bisik Alessia....

..."Kamu yang nempel."...

..."Tempatnya sempit."...

..."Alasan."...

..."Kamu..." Ia berhenti. Tubuhnya menegang, lalu mengendur, dan keningnya jatuh pelan ke bahu Bima. Hanya sebentar. Hanya sepersekian detik yang tidak akan ia akui nanti. "Jangan bilang siapa-siapa."...

..."Bilang apa?"...

..."Tidak ada."...

...Bima tersenyum di kegelapan, dan wajahnya terasa panas sampai ke telinga. Dimas menggeliat di antara mereka, dan dengan suara kecil yang sengaja dibuat polos, berbisik, "Aku denger semuanya."...

..."Diam," kata mereka berdua serempak....

...---...

...Lampu menyala lagi....

...Terang menyambar seperti tamparan. Bima menyipit, dan ketika matanya terbiasa, ia melihat Rico berdiri di dekat sakelar dengan pistol di tangan, tapi bukan mengarah ke mereka. Ia menatap ke seberang ruangan dengan wajah pucat....

...Ilaria tergeletak di lantai, memegangi lengan yang berdarah. Orang berwajah Hadi tidak ada di mana pun. Papan terowongan terbuka lebar. Di dekatnya, cincin perak berhuruf A tergeletak di atas tumpukan debu....

..."Dia kabur," kata Rico. "Lewat jalur air. Saya tembak, tapi kena lengan Ilaria. Dia sempat narik adiknya jadi perisai."...

..."Dia bukan adikku," kata Alessia dingin. Tapi ia berlutut di samping Ilaria dan merobek kain bajunya untuk menekan lukanya. Gerakannya cepat dan tanpa ragu....

...Ilaria menatapnya, bingung. "Kenapa..."...

..."Kamu masih berutang cerita padaku."...

..."Aku mengkhianati Mbak."...

..."Ya. Dan kamu akan menjelaskan semuanya." Alessia tidak menoleh. "Tapi kamu tidak akan mati di lantai gudang ini sebelum itu."...

...Bima mengambil cincin itu dari lantai. Perak tipis, dingin, huruf A di bagian dalam. Ia memutar-mutarnya, lalu memperhatikan sesuatu yang tadi tidak ia lihat. Di sisi luar, hampir tidak terbaca, ada gambar kecil digores dengan jarum. Lingkaran, dan sebuah jangkar terbalik....

..."Alessia." Ia mengangkat cincin itu. "Ini lambang kelompok yang dipakai Om Gio?"...

..."Ya."...

..."Tapi cincin ini milik Carla. Dia bilang cincin ini milik orang yang mengajari kakekmu berhitung. Orang yang menyelamatkan kapal pertama."...

...Alessia mengangkat kepala pelan. Matanya bertemu mata Bima, lalu berpindah ke cincin, lalu ke Wartini yang kini duduk memeluk Dimas, wajahnya masih kosong....

..."Berarti lambang itu bukan milik Giovanni," kata Alessia, hampir berbisik. "Giovanni cuma memakainya."...

..."Terus milik siapa?"...

...Sebelum ada yang menjawab, ponsel hitam di tangan Dimas berdering keras. Remaja itu menjatuhkannya seperti benda panas. Layarnya menyala dengan nama yang tidak pernah ada di kontak mana pun....

...*PAK DARTO.*...

...Bima merasakan darahnya menurun ke kaki. Pak Darto seharusnya terbaring di rumah mansion sayap barat, di bawah penjagaan Marta....

...Alessia meraih ponsel itu dan menekan pengeras suara....

...Napas berat terdengar di seberang. Suara tua yang parau, penuh ketakutan, dan di baliknya samar-samar terdengar bunyi ombak, dan dentang lonceng kapal....

..."Mas Bima..." bisik Pak Darto. "Mas, maafkan saya. Saya nggak sanggup lagi diam."...

..."Pak Darto, Bapak di mana?"...

..."Di kapal. Kapal Tiga Belas. Mereka bawa saya pagi tadi." Ia terbatuk. "Mas, saya mau bilang sesuatu yang selama dua belas tahun saya simpan. Soal malam ayah Mas. Soal siapa yang sebenarnya pegang pistol di Gudang Empat."...

..."Pak..."...

..."Bukan Giovanni, Mas. Bukan Carla. Yang tembak ayah Mas..." Suaranya pecah, dan terdengar langkah sepatu mendekat di belakangnya. "Yang tembak ayah Mas itu..."...

...Tembakan....

...Satu kali, keras, tanpa peredam. Napas Pak Darto berhenti seperti kabel yang diputus. Ponsel terjatuh, berbenturan dengan lantai kapal, dan di baliknya terdengar suara lain, sangat dekat dengan mikrofon, tenang dan hangat....

..."Halo, Bima," kata Om Gio. "Maaf Darto menyela. Kita lanjutkan di aula. Bawa istrimu. Dan Rico..."...

...Jeda panjang....

..."Terima kasih sudah mempertemukan mereka berdua. Sari sudah di sini. Dia ingin bicara dengan ayahnya."...

...Rico menjatuhkan pistol....

...Dari speaker, suara anak perempuan kecil terdengar menangis, memanggil satu kata yang sama berulang kali. Bukan *Ayah*. Bukan *Papa*....

..."Om Rico... Om Rico... tolong..."...

...Alessia menoleh pelan ke arah Rico, dan seluruh darah di wajahnya hilang....

..."Sari bukan anakmu," katanya. "Kamu bilang anakmu bernama Sari, umur empat tahun. Tapi ini suara anak yang memanggilmu Om."...

...Rico tidak menjawab. Ia menatap layar ponsel yang menyala, wajahnya kosong, dan Bima melihat laki-laki yang tiga hari menyetirnya ke mana-mana itu perlahan menurunkan kepala....

..."Dia anak Hendra," bisik Rico. "Hendra yang mati di mansion. Saya bilang anak saya supaya Mbak tidak tahu saya ada di pihak siapa."...

...Alessia mundur satu langkah....

..."Lalu siapa," katanya, setiap kata keluar seperti diseret, "yang sebenarnya kamu lindungi, Rico?"...

...Rico mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya, ia menatap langsung ke arah Bima, bukan Alessia, dan di matanya tidak ada rasa bersalah....

...Ada sesuatu yang lebih buruk. Rasa kasihan....

..."Kamu, Bim," katanya. "Dua belas tahun. Sejak kamu delapan belas, sejak malam kamu lari ke dalam api. Pak Hadi yang asli memintaku menjagamu sampai kamu cukup kuat untuk mengambil bukunya."...

..."Pak Hadi yang asli..."...

..."Dia masih hidup." Rico menelan ludah. "Dan dia ada di aula Vieri, dirantai di kursi, menunggu anaknya. Karena Giovanni belum pernah tahu bahwa orang yang dia tahan dua belas tahun bukan Matteo."...

...Alessia menarik napas tajam....

..."Yang dia tahan," lanjut Rico, "adalah ayah Bima. Dan ayah Alessia..."...

...Ia berhenti, matanya melirik ke Wartini yang sudah berdiri kaku, bibirnya bergerak tanpa suara....

..."...sudah lama berdiri di sisi Giovanni. Mengenakan wajah orang yang paling kalian percaya."...

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!