Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Brak!
Gelas kaca berisi kopi hitam itu hancur berkeping-keping saat Leon membantingnya ke atas meja kerja.
Urat-urat di leher dan pelipis pria itu menonjol keluar menahan amarah yang meledak-ledak.
"Beraninya anak gembel itu menarik rambut putriku!" geram Leon dengan nafas memburu.
Nabila duduk di sofa sambil memeluk Luna yang sudah tertidur pulas setelah kelelahan menangis di mall tadi siang.
"Asisten Budi sudah mematahkan pergelangan tangan Sinta, Leon. Itu sudah cukup jadi peringatan," ucap Nabila mencoba menenangkan suaminya.
"Peringatan? Aku tidak butuh memberi peringatan pada parasit kotor seperti mereka," bantah Leon menatap tajam ke luar jendela.
Leon mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Asisten Budi yang sedang berjaga di pos luar rumah.
"Budi, cari tahu di mana suami Sinta sering bermain judi," perintah Leon tanpa basa-basi sedikit pun.
"Saya sudah memegang datanya, Tuan Besar. Suaminya punya hutang judi lima ratus juta di kasino bawah tanah," jawab Asisten Budi dari seberang telepon.
"Beli semua surat hutangnya malam ini juga dan tagih langsung ke rumah kontrakannya secara paksa," perintah Leon menyeringai kejam.
"Kalau dia tidak bisa bayar hari ini juga, sita rumahnya dan jual suaminya ke kapal penangkap ikan ilegal di tengah laut," tambah Leon memberikan instruksi mematikan.
"Siap laksanakan, Tuan Besar. Malam ini keluarga mereka resmi menjadi gelandangan jalanan," jawab Asisten Budi menutup telepon.
Leon memasukkan ponselnya ke saku celana dan berjalan menghampiri istri serta anaknya yang tertidur.
Pria yang kejam di luar sana itu seketika berubah menjadi ayah yang sangat lembut saat mengelus rambut panjang Luna.
"Maafkan Papa sayang, besok Papa sendiri yang akan mengantarmu ke sekolah untuk memastikan kau aman," bisik Leon mengecup kening putrinya.
Keesokan paginya, suasana di kediaman Wegan terasa sangat sibuk namun penuh dengan semangat.
Luna berdiri di depan cermin besar kamarnya dengan mengenakan seragam sekolah Royal Star yang sangat rapi.
Seragam itu terdiri dari kemeja putih berlengan pendek, dasi pita berwarna merah tua, dan rok kotak-kotak selutut.
"Anak Mama cantik sekali pakai seragam sekolah elit ini," puji Nabila merapikan kerah baju putrinya.
"Tas putri duyungnya juga sangat pas di punggung Luna," tambah Nabila memakaikan tas ransel yang kemarin diperebutkan di mall.
"Mama, apakah teman-teman di sekolah nanti galak seperti anak laki-laki kemarin?" tanya Luna mendongak menatap ibunya dengan cemas.
"Tentu saja tidak sayang, mereka anak-anak yang baik dan sangat pintar," jawab Nabila tersenyum menutupi rasa khawatirnya sendiri.
Leon masuk ke dalam kamar Luna dengan mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat elegan dan mahal.
"Ayo tuan putri, kereta kudamu sudah menunggu di bawah," ajak Leon mengulurkan tangannya pada Luna.
Luna menyambut tangan ayahnya dengan senyum riang dan mereka berjalan turun menuju garasi.
Mobil limusin hitam panjang sudah disiapkan khusus untuk mengantar pewaris keluarga Wegan di hari pertamanya bersekolah.
Gedung Sekolah Internasional Royal Star berdiri megah di kawasan paling elit di pusat ibu kota.
Bangunannya menyerupai kastil Eropa kuno dengan gerbang besi tinggi yang dijaga ketat oleh puluhan satpam.
Mobil-mobil mewah dari berbagai merek terkenal antri memanjang di area penurunan siswa depan lobi.
Para orang tua murid yang terdiri dari pejabat, artis, dan pengusaha kaya raya terlihat sibuk memamerkan kekayaan mereka.
"Lihat tas Hermes edisi terbaruku, ini hadiah ulang tahun dari suamiku," pamer seorang ibu sosialita pada ibu lainnya di pelataran sekolah.
"Oh itu murah sekali, suamiku baru saja membelikan pulau pribadi untuk liburan anak kami minggu depan," balas ibu yang lain tidak mau kalah sombong.
Di tengah pameran kekayaan yang norak itu, limusin hitam panjang milik Leon Wegan berhenti tepat di depan karpet merah lobi sekolah.
Suasana mendadak hening saat melihat pelat nomor mobil yang sangat ditakuti di dunia bisnis tersebut.
Leon turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Luna dengan sikap yang sangat protektif.
"Ingat pesan Papa sayang, jangan pernah takut pada siapa pun di dalam sana," ucap Leon berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Luna.
"Kalau ada yang nakal, Luna tidak boleh menangis. Luna harus berani melawan dan langsung lapor pada guru," jawab Luna mengulang pelajaran mental yang diberikan ayahnya semalam.
"Pintar sekali anak Papa. Masuklah ke dalam, pengawal bayangan Papa akan mengawasimu dari jauh," ucap Leon mengecup dahi putrinya dengan sayang.
Luna mengangguk mantap dan melangkah masuk ke dalam gedung sekolah dengan langkah kecil namun penuh percaya diri.
Di dalam kelas satu A, ruangan itu terlihat sangat mewah seperti ruang bermain di hotel bintang lima.
Luna memilih duduk di bangku kosong yang letaknya agak di tengah agar bisa melihat papan tulis dengan jelas.
Tidak lama kemudian, seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua masuk ke dalam kelas.
Anak itu memakai jepit rambut berlian asli dan tas ransel merek mahal edisi terbatas yang harganya ratusan juta.
Namanya adalah Chloe, anak dari seorang pengusaha kosmetik yang terkenal sangat sombong di kalangan sosialita ibu kota.
Chloe melihat Luna duduk di bangku favoritnya dan langsung berjalan menghampirinya dengan wajah sangat angkuh.
"Hei kamu anak baru, minggir dari sana! Itu tempat dudukku!" perintah Chloe menunjuk wajah Luna dengan jari telunjuknya.
Luna menatap anak perempuan itu dengan pandangan tenang tanpa ada rasa takut sedikit pun di matanya.
"Tapi di meja ini tidak ada namamu tertulis, jadi aku boleh duduk di sini," jawab Luna dengan suara yang sangat sopan namun tegas.
Mendengar bantahan langsung itu, wajah Chloe seketika berubah merah karena marah.
Di rumahnya, dia selalu dituruti oleh semua pelayan dan tidak ada satu pun orang yang berani melawannya.
"Kau berani menjawabku?! Kau tidak tahu siapa papaku?!" ancam Chloe berkacak pinggang mencoba mengintimidasi.
"Aku tidak tahu siapa papamu, dan aku juga tidak mau tahu soal itu," balas Luna mengutip kalimat yang sering dia dengar dari ayahnya saat menelepon lawan bisnis.
Beberapa anak lain di kelas itu mulai berbisik-bisik melihat keberanian anak baru itu melawan Chloe si anak penguasa kelas.
"Tasmu jelek sekali! Pasti harganya murah dan dibeli di pasar kaget ya?!" ejek Chloe beralih menghina tas putri duyung milik Luna.
Luna melirik tas ranselnya yang dia pertahankan dengan susah payah dari jambakan Raka kemarin siang.
"Tas ini dibelikan oleh Mama dan Papaku di mall. Tas ini tidak jelek karena dibeli pakai uang halal," jawab Luna mengingat didikan ibunya.
"Dibeli pakai uang halal? Hahaha! Memangnya papamu kerja apa? Supir angkot ya?" tawa Chloe sangat keras mengejek latar belakang Luna.
Luna berdiri dari bangkunya dan menatap Chloe tepat di matanya dengan tatapan tajam warisan Leon Wegan.
"Papaku namanya Leon Wegan. Beliau bukan supir angkot, tapi beliau adalah orang yang bisa membeli seluruh sekolah ini beserta isinya," ucap Luna dengan suara yang sangat tenang dan sangat jelas.
Mendengar nama Leon Wegan disebut dengan lantang, beberapa anak konglomerat yang sering mendengar nama itu dari orang tua mereka langsung terkesiap kaget.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget