Halo semuanya, bertemu lagi dengan author cerryblosoom.
Untuk pembaca setia TERLAHIR KEMBALI UNTUK LEBIH MENCINTAIMU. Author kembali dengan season 2 kisah cinta yang manis antara Lily dan Alion.
Setelah melewati berbagai rintangan untuk akhirnya keduanya bersama. Saat ini mereka akan memulai babak baru. Dimana masa depan telah jauh berubah.
Kepercayaan adalah dasar utama dalam sebuah hubungan. Lalu bagaimana jika mulai timbul keretakan. Dari kebohongan kecil bisa merusak segalanya.
Lily yang memiliki rahasia kelahiran kembali. Lalu Alion yang menyembunyikan masa lalu kelam.
!!!!
Bagi pembaca yang baru bergabung, bisa membaca season 1 terlebih dahulu, untuk menghindari kebingungan. Terima kasih.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cerryblosoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 HARI PERTAMA KULIAH
Tiga bulan kemudian.
Setelah melewati masa-masa OSPEK yang melelahkan. Tiba saatnya untuk benar-benar memasuki masa kuliah, bagi mereka para mahasiswa baru. Sial bagi Lily, yang mendapatkan kelas pagi, di hari pertamanya menjadi mahasiswa. Jika saat biasa mungkin bukan masalah bagi gadis itu. Tapi tepat semalam adalah pesta penutupan masa OSPEK. Lily bahkan baru bertemu dengan ranjang tepat pukul 1 dini hari. Lalu diharuskan bangun pagi di pagi berikutnya. Sudah jelas itu sedikit menyulitkannya.
Dengan sepotong roti di mulutnya, Lily buru-buru berangkat. Tak lupa ia mengunci pintu kosan nya. Meski tempat ini terbilang aman, yang mana terdapat cctv, dan juga penjaga keamanan di depan, dia harus tetap waspada.
"Pagi Ly, sudah rapi saja nih," sapa seorang gadis yang baru keluar di kamar sebelah Lily.
"Ah, pwagi khak Shanya," balas Lily dengan mulut penuh. 'glek' "Ada kelas pagi nih kak. Kakak mau keluar ya."
Sonya mengangguk-angguk mengerti, "Begitu rupanya. Yaa biasa deh, Ly. Perut memprotes minta diisi."
"Ohh, hihihi begitu. Kak Sonya tak ada kelas pagi?" tanya Lily balik. Melihat dari penampilan seniornya yang terlihat baru bangun tidur. Dalam hati Lily sudah menebak apa jawabannya. Tapi untuk kesopanan dia masih bertanya.
Keduanya kini sama-sama berjalan menuruni tangga.
"Tidak ada, tapi nanti siang aku memiliki satu kelas. Niatnya ingin terus tidur saja sampai siang. Sayangnya ini perut gak mau diajak kerja sama."
"Memang semalam kakak tidak makan dulu sebelum tidur?"
"Ya makan sih. Tapi waktu masih sore. Malamnya aku sibuk mengerjakan tugas. Hingga akhirnya tertidur karena kelelahan."
Tepat saat sudah sampai di bawah, Lily pun menyudahi acara basa-basinya. Bukannya dia tak suka mengobrol dengan sang senior. Tapi pagi ini memang bukanlah waktu yang tepat. Jika terlalu lama disini, dia hanya akan terlambat di kelas pertamanya.
"Ohh, kalau begitu Lily duluan ya kak, takut telat nih, hehe. Selamat menikmati sarapan nya, kak."
"Hmm, hati-hati."
Dengan persetujuan seniornya, Lily kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Kak Sonya adalah salah satu seniornya di universitas. Bisa dibilang Kak Sonya adalah satu-satunya penghuni kos yang dia kenal saat ini. Lily mengenalnya sejak pertama kali pindah ke kosan ini. Seniornya itu yang pertama kali berinisiatif untuk menyapanya. Yang tentu saja Lily menyambutnya dengan senang hati.
Jarak kosan yang Lily dapatkan memang cukup dekat dengan universitasnya. Hanya butuh berjalan selama lima belas menit, dan berlari selama 5 menit saja. Ya, memang sedekat itu. Lily sangat beruntung mendapatkan kosan sedekat itu. Karena bisa dibilang hanya dia maba yang berhasil mendapatkan kamar disana. Banyak penghuni yang memang telah senior. Sekalipun ada orang baru, hanya mahasiswa lama yang kebetulan mengenal penghuni di sana.
Jadi bagaimana Lily yang notabennya mahasiswa baru mendapat tempat. Ini juga salah satu keuntungan dilahirkan kembali. Meski ingatannya tentang kehidupan pertama mulai samar. Dalam beberapa hal Lily masih ingat dengan cukup jelas.
Setelah berlari hampir 7 menit, Lily pun sampai di kelasnya. Seperti yang dia duga ruang kelas telah penuh. Saat itulah seseorang melambai ke arahnya. Lily pun berjalan ke arah orang itu.
"Hufh, terima kasih," Kata Lily sambil duduk.
"Sama-sama," jawab Zidan.
"Hampir saja aku tak menemukan bangku. Kenapa kelas begitu ramai begini,"gumam Lily aneh. "Bukankah kelas seni tak banyak peminatnya. Apa kau tahu alasannya Zidan?"
"...."
Zidan hanya menggeleng sebagai respon atas pertanyaannya.
Bahkan meski pria itu tahu, Lily yakin tak akan mungkin dia menjelaskan. Sekalipun mau, itu pasti jawaban singkat yang tak akan dia mengerti. Mengingat sifat kekasihnya yang 11 12 dengan Zidan saat menghadapi orang lain. "Mungkin jika ada Lio, dia pasti bisa langsung menerjemahkan perkataan Zidan padaku, hihihi," batin Lily merasa Lucu.
Tak lama setelah Lily duduk, dosen pembimbing mengikuti masuk kelas.
"Loh, pak Dion!?" seru Lily terkejut. Karena sangat terkejut, Lily lupa mengontrol suaranya.
Semua pasang mata langsung tertuju padanya. Lily hanya bisa tersenyum malu mengingat kecerobohannya.
Melihat situasi yang semakin canggung, Dion angkat suara. "Ehem, baiklah sebelum dimulai saya akan memperkenalkan diri...."
Srekk srekkk srekkk
Lily yang tak lagi menjadi pusat perhatian, akhirnya bisa bernafas lega. Melupakan rasa malunya, Lily memandang kedepan dengan penuh perhatian. Hatinya masih tergelitik rasa penasaran, bagaimana bisa guru baru di SMA nya menjadi dosen seninya sekarang.
"Kamu tahu?" tanya Zidan tiba-tiba.
Lily tersentak kaget mendengar pertanyaan Zidan yang tiba-tiba. "Ah, dosen itu maksud kamu?"
"Hmm," gumam Zidan menyetujui.
"Bukankah dia guru baru di SMA kita. Apa kau tak mengetahuinya.... Ohh, ya! Lio juga berkata dia senior di Zero."
"Bukankah, seharusnya kamu mengenalnya, Zidan."
Zidan tak lagi merespon ucapan Lily. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan. Sulit mengetahuinya dengan wajah datar miliknya. Yang pasti pandangannya kini menatap lurus pada senior serta dosen barunya itu.
Tanpa menoleh ke arah Lily, Zidan mengangguk terlambat. Tentu saja pria itu pasti mengenal seniornya dengan baik.
Dion Saputra A., S.Hum., M.Sn.
"Kalian bisa memanggilku, pak Dion atau pak Putra, senyamannya saja. Tapi kebanyakan orang di kampus memanggilku pak Dion. Jadi jika kalian sedang mencariku di kampus, jangan katakan mencari pak putra. Karena yang kalian temui bukan saya, melainkan pak Putra dosen hukum, hahaha…."
"Seperti yang kalian tahu, saya akan mengajar kelas seni. Tak ada yang rumit untuk kelas saya. Selama kalian masuk dengan rajin dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Maka nilai bukanlah masalah."
"Baik, sampai disini perkenalannya. Saya akan langsung mulai kelas pertama kita...."
****
Beberapa jam kemudian. Tak banyak yang diajarkan selain teori seni, mengingat ini masih pertemuan pertama mereka.
Dengan keluarnya pak Dion, pertanda kelas seni telah berakhir. Tanpa menunggu lama semua orang bergegas untuk keluar. Selma mengikuti kelas, Lily akhirnya memahami mengapa jurusan seni yang seharusnya sepi peminat, memiliki banyak orang. Untuk itu Lily harus berterima kasih pada mahasiswi yang duduk di belakangnya. Karena dari mereka Lily mengetahui apa yang terjadi.
Rupa-rupanya itu karena banyak pria tampan di jurusan seni. Kesampingkan dosen mereka yang masih muda, senior serta junior baru pun memiliki paras yang menyegarkan mata. Pantas saja para gadis berbondong-bondong memasuki jurusan ini.
Saat mengetahui hal itu, Lily tak banyak bereaksi. Gadis itu hanya merasa sedikit tak berdaya. Semua orang begitu menyukai kecantikan saat ini.
Setelah merapikan buku-bukunya Lily menoleh ke arah Zidan yang masih senantiasa duduk tanpa berniat bergerak sedikitpun.
"Apa kamu tak akan keluar, Zidan?" tanya Lily. Hampir semua orang telah meninggalkan kelas. Sisa orang yang tinggal jelas akan pergi juga.
Zidan hanya menggeleng sebagai tanggapan.
Sembari merapikan bukunya Lily kembali bertanya."Tak ada kelas lain?"
"Tidak," kali ini Zidan bersuara. Yang pastinya jawabannya tetap sesingkat biasanya
"Umm, baiklah," sahut Lily memahami. "Lalu aku pergi dulu."
"Tunggu," seru Zidan dengan suara rendah.
Lily yang memang belum beranjak, sedikit tersentak. "Yaa, apakah ada masalah?"
"Ada yang ingin kutanyakan?"
Melihat sikap serius Zidan, Lily pun terbawa suasana. Saraf nya tegang memikirkan masalah serius apa yang akan Zidan tanyakan padanya. Lily langsung kembali duduk di kursinya.
"Apa itu?" tanya Lily gugup.
Tak lama Zidan langsung mengutarakan maksudnya. "Apa yang disukai seorang gadis?"
"Hah??????????????????????????????????!!!!!!"
raut wajah dan beberapa gerakan jika ada 🤣🤣🤣