Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Dari Yatim Piatu Menjadi Ratu Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.

Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.

Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.

Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.

Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.

Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Sakit Terparah di Dunia

POV Paolo

Setelah bicara dengan Cecília-ku, sebuah energi berbeda menguasaiku. Mendengar suaranya selalu berefek begitu — seakan dunia menata dirinya kembali ke tempat yang benar. Aku mengikuti beberapa rapat, menandatangani kontrak-kontrak penting, berusaha menjaga rutinitas seolah semua terkendali. Ayahku sudah kembali dari Milan; pamanku membaik, dan ia akan mengambil alih perusahaan selama aku bepergian. Pietro juga akan ikut denganku, yang membuatku lebih tenang.

Waktu berlalu tanpa kusadari. Ketika aku tersadar, hari sudah jauh lewat tengah hari dan aku bahkan belum makan. Kepalaku penuh rencana, terutama karena dalam beberapa jam lagi aku akan dalam perjalanan ke Norwegia untuk menemuinya.

Saat itulah teleponku berdering.

Kulihat layarnya. Itu calon mertuaku.

Aku langsung menjawab, tapi ada sesuatu dalam napasnya yang membuatku menegang.

"Dom Paolo… aku butuh bantuanmu… perempuan keparat itu menculik putriku."

Sekujur tubuhku membeku.

"Aku tak mengerti, Dom Harald. Apa yang Anda bicarakan?"

Jawabannya datang seperti pukulan telak ke dada.

"Mirani… perempuan terkutuk itu… mantan kekasih Bjorn… ia menculik putri kecilku."

Kurasakan kedua tanganku mengepal begitu keras hingga buku-buku jariku memutih.

"Aku berangkat ke sana sekarang."

Aku bahkan tak berpamitan. Kututup telepon dan, di detik yang sama, kukirim pesan ke grup famiglia:

"Kita harus ke Norwegia. Semua. Cecília diculik."

Ponselku langsung berdering. Ayahku. Lalu Pietro. Lutero. Sepupuku. Pamanku menjawab bahwa ia tak bisa ikut — istrinya masih perlu dirawat — dan kubilang aku mengerti, tapi kehadiran sepupuku sudah cukup.

Kami berkumpul di markas famiglia dalam hitungan menit.

Ayahku, seperti biasa, mengambil alih kendali dengan ketenangan strategis:

"Kita berangkat dengan dua pesawat. Telepon Dom Harald dan katakan kita akan tiba dengan enam puluh orang. Kita butuh hanggar dikosongkan. Tiga jam paling lama."

Kutunjuk kamera yang terpasang di ruangan.

"Ia sudah mendengarkan, Ayah."

Dari seberang, suara Harald terdengar sarat luka:

"Terima kasih… sekali lagi."

Aku menatap lurus ke lensa.

"Dom Harald, putri Anda adalah wanitaku. Kalau perlu, aku akan pergi ke neraka… tapi aku akan membawanya pulang."

Tak ada lagi yang perlu dikatakan.

Kami langsung menuju hanggar. Di perjalanan, Pietro menelepon Ana Paula. Ia hanya bilang ada perjalanan mendadak. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya — itu akan menghancurkan Ana Paula bahkan sebelum kami punya jawaban.

Perjalanan terasa seperti keabadian, meski hanya berlangsung sedikit lebih dari tiga jam.

Ketika kami mendarat, Harald sudah menunggu di hanggar. Wajahnya tak lagi dikenali — seorang pria berkuasa yang direduksi menjadi luka seorang ayah.

Kami masuk ke mobil dan langsung menuju markas.

Rekaman kamera mall dipaparkan di hadapan kami.

Kutonton setiap detiknya.

Mirani bekerja di butik. Tatapannya mengenali Cecília. Cara ia mengikuti sampai ke toilet. Lalu, ia muncul bersama wanita lain — besar, brutal — membopong Cecília-ku yang tak sadarkan diri lewat pintu belakang.

Darahku mendidih.

"Mereka punya bantuan orang dalam," kataku, dingin.

Harald mengangguk.

"Kami sudah menemukan pengkhianatnya. Seorang prajurit baru. Kami siksa… tapi ia tak tahu tujuan akhirnya. Katanya Mirani datang dari Brasil mencari Bjorn… lalu tahu bahwa Bjorn sudah mati."

Kupejamkan mata sesaat.

"Jadi ia melihat Cecília… dan memutuskan untuk balas dendam."

Suaraku keluar pelan, sarat racun.

"Saat aku menangkap perempuan itu… ia akan memohon kematian."

Tak ada lagi ruang untuk emosi yang lepas kendali. Aku masuk ke mode otomatis.

Kami menerima sebuah alamat.

Sebuah gudang.

Kami tiba dalam hitungan menit.

Tempat itu luas, terpencil. Delapan orang di pengamanan luar. Tak sebanding dengan lima puluh orang yang kami bawa.

Pietro melempar bom gas. Yang di depan tumbang. Yang di sisi dilumpuhkan. Kami mengepung sisi belakang lalu menyerbu masuk.

Setiap langkah di dalam tempat itu seakan bergema di dadaku.

Kami menggeledah semuanya.

Sampai kami melihatnya.

Sesosok mayat.

Terbungkus plastik.

Jantungku mulai berdetak tak beraturan.

Aku berjalan ke sana dengan langkah berat.

Aku berjongkok.

Kupegang plastiknya.

Dan kutarik.

Dunia berhenti.

Itu dia.

Cecília-ku.

Terluka. Terikat. Rambut dipotong dengan kejam. Wajahnya… tak lagi dikenali.

Kurasakan sesuatu di dalam diriku patah untuk selamanya.

Tanganku gemetar saat menyentuh nadinya.

Sunyi.

Tak ada denyut.

Tak ada apa-apa.

Dadaku terbuka dalam sebuah jeritan yang tak kukenali sebagai suaraku sendiri.

"CECÍLIA!"

Harald jatuh berlutut di belakangku, menjerit seperti pria yang hancur.

"TIDAK! TIDAK! PUTRIKU!"

Aku mulai memukuli tembok, tak merasakan sakit, tak merasakan apa pun selain kehampaan yang menghimpit.

"BANGUN!" teriakku, memeluk tubuhnya. "BANGUN, SAYANG!"

Tapi ia tak bergerak.

Tak ada yang bergerak.

Adikku dan Lutero menahanku saat aku benar-benar kehilangan kendali.

Kenyataannya sederhana.

Kejam.

Tak terbalikkan.

Ia sudah mati.

Dan aku tak sanggup menyelamatkannya.

Perjalanan pulang membisu.

Berat.

Setiap detik di dalam mobil itu terasa seperti hukuman.

Ketika kami tiba di mansion, seorang ahli forensik sudah menunggu.

Aku minta waktu sejenak.

Kuberlutut di sisinya sekali lagi.

Kusapukan tangan ke sisa wajah yang begitu kucintai.

"Aku mencintaimu…" gumamku. "Maafkan aku…"

Kata-kata yang sia-sia.

Terlambat.

Tapi hanya itu yang tersisa bagiku.

Para ahli forensik membawa jenazahnya.

Lalu tiba bagian yang paling sulit.

Kami masuk untuk memberi tahu Astrid.

Ia menatap suaminya… dan bahkan sebelum sang suami bicara, ia mulai menangis.

"Kau membawanya pulang?"

Keheningan yang menjawab.

Dan ia runtuh.

"TIDAK! TIDAK! TIDAK!" jeritnya. "AKU TAK KEHILANGAN PUTRIKU LAGI!"

Ia pingsan.

Duka keluarga itu memenuhi setiap sudut rumah.

Aku menjauh.

Kutelepon ibuku.

Kuceritakan semuanya.

Kudengar tangisnya di seberang sana.

"Aku akan memberi tahu Luna… dan Ana Paula…"

Kupejamkan mata.

"Itu akan berat…"

"Aku tahu, Nak…"

Kututup telepon.

Pietro memanggilku ke samping.

"Aku, Lutero, dan sepupu akan pulang. Luna dan Ana Paula akan membutuhkan kami. Mama takkan sanggup sendirian."

Aku mengangguk pelan.

"Aku tinggal."

Mereka tak membantah.

Mereka pergi.

Dan aku tetap di sana.

Di tengah neraka.

Dengan hati berkeping-keping.

Tanpa dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!