Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Honeymoon
Alana dan Rafa sedang menikmati waktu libur akhir pekan ditaman belakang rumahnya dengan teh hangat di cangkir mereka masing-masing.
Rafa selama menikah jarang menyentuh Alana, entah kenapa setiap menyentuhnya dan hendak bersilaturahmi Rafa selalu terbayang wajah Tiara, Almarhum istrinya. Dan ia merasa bersalah pada Alana meski istrinya itu tidak pernah komplain atau protes. Alana selalu mengerti, dan mengira Rafa hanya kecapean.
"Alana..."
Alana menoleh kearah Rafa yang memanggilnya dengan suara seraknya, dan seperti ada kegugupan disana.
"Kenapa, Mas?"
"Kita udah hampir setahun nikah, tapi gak pernah jalan-jalan berdua".
Ucap Rafa sambil menatap langit sore dan melirik ke arah Alana yang memegang cangkir tehnya.
"Mas mau ajak aku jalan-jalan?"
Rafa mengangguk sambil tersenyum lembut,
"Kita honeymoon" Sahutnya penuh tekad.
"Akhir-akhir ini kita sering sibuk sama kerjaan, dan kamu juga sempet cedera kaki pas kecelakaan mobil. Aku mau punya waktu berdua sama kamu".
Sambung Rafa membuat Alana tersentak dengan permintaan suaminya itu.
"Mas, yakin? Apa nanti jadwal meeting dan lain-lain bisa dirubah?"
"Aku akan atur semuanya"
Rafa meyakinkan Alana yang sedikit ragu, Alana tersenyum penuh rasa syukur.
"Makasih, Mas"
Rafa memeluk Alana, menyandarkan kepala Alana kedadanya, Rafa mengusap rambut istrinya pelan penuh perasaan.
Namun hati dan fikirannya saat memeluk Alana, masih melayang ke Almarhum Tiara.
Pelukannya mengerat saat bayangan Tiara maki. Jelas dibenaknya, ia mengecup puncak kepala Alana dan menahan sesak dadanya sendirian.
"Kita masuk yuk, udah mau gelap juga"
Ajak Rafa pada Alana yang nyaman dipelukannya.
Alana mengangguk membawa cangkir teh itu ke dalam rumah, sementara Rafa mengikutinya dari belakang.
Saat didalam rumah Vino dan Cia tengah anteng menggambar diruang Tv.
"Hallo sayang, adek sama kakak lagi gambar apa?"
Tanya Alana menghampiri kedua anak itu sambi menunduk melihat apa yang digambar mereka.
"Vino gambar keluarga" seru Vino sambil menunjukan gambarnya pada Alana.
"Ini siapa aja Vino?" Tanya Alana dengan wajah ceria didepan Vino.
"ini Papa Johan dan Vino, tapi Mommy pergi jauh. Jadi Vino gambar Mommy agak jauh".
Vino menjelaskan tentang gambarnya yang ia buat, hati Alana sedikit terenyuh retak didalam melihat kepolosan Vino.
"Gambarnya bagus sayang" Alana mengusap kepala Vino, air matanya hampir terjatuh
"Kalo kakak gambar apa?"
Tanya Alana pada putri kesayangannya.
"Ini, gambar Papa Johan, Papa Rafa, Cia, Vino, sma Mama". Serunya dengan mata berbinar membuat Alana tersentuh.
"Bagus sayang, gambarnya mau ditempel dimana?" Tanya Alana keoada kedua anak itu.
"Vino mau di tempel di kamar Vino aja" sahut Vino sambil mewarnai gambar yang belum terpoles warna.
"Cia juga, mau dikamar Cia aja"
Rafa yang sedari tadi melihat dari jarak sedikit jauh menghampiri mereka.
"Wah, pada seru amat disini. Sini mana Papa lihat gambar kalian"
Rafa duduk ditengah-tengah mereka sambil mengambil kertas Cia dan Vino.
"Buat dikantor Papah aja lah. Bagus ini kak"
Ucap Rafa yang langsung dibantah oleh Cia.
"No, Papa. Ini aku bikin buat kamarku. Nanti aku bikin lagi gambar Papa dan Mama"
Protes Cia begitu lucu didengar Rafa, hingga Rafa dan Alana terkekeh mendengarnya.
"Yaudah kalian tempel dikamar masing-masing ya" Sahut Alana melerai ribut kecil antara Rafa dan Cia.
Malam hari, Rafa merasa dadanya sesak ia merindukan Alm. Istri dan anaknya.
Alana melihat Rafa yang sedang melamun dibalkon kamar memandang langit gelap.
"Mas, lagi ada yang dipikirin ya?"
Tanya Alana hati-hati melihat mata Rafa yang berkaca-kaca.
"Nggak kok, sayang. Cuma lagi nikmatin angin aja"
Rafa menarik tubuh Alana kepelukannya. Dagu Rafa bersandar dipuncak kepala istrinya, menghirup aroma wangi dirambut Alana.
"Kamu tumben peluk aku kayak gini, Mas"
"Cuma pengen aja sayang"
Rafa mengecup puncak kepala Alana berkali-kali untuk menyadarkan bahwa sekarang ada Alana dihidupnya. Kasih sayang untuk Cia tidak perlu diragukan, justru Rafa lebih menyayangi Cia ketimbang Alana.
"Maaf ya"
Lirih Rafa sambil memeluk istrinya, ia mengusap rambut Alana lembut. Alana mendongak menatap wajah suaminya.
"Kenapa? Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Alana hati-hati melihat wajah Rafa begitu kusut dan tak seperti biasanya, tak seperti Rafa yang ia kenal. Namun Rafa hanya menggeleng pelan.
"Nggak ada sayang"
Jelas jawaban Rafa bohong, namun Alana mempercayainya.
"Yaudah, kita tidur yuk. Udah malem juga, gak baik tidur larut malam tiap hari"
Alana menarik tangan Rafa ke kamar untuk segera beristirahat, Rafa mengikuti Alana dan segera berbaring dikasur mereka, saat Rafa berbaring Alana menarik selimut menyelimuti tubuh Rafa hingga kedada, Alan pun ikut terbaring. Tak ada pelukan diantara mereka, namun jemari mereka saling bertaut. Dan itu, sudah cukup untuk Alana.
Alana jarang sekali menuntut macam-macam seperti peluk, cium atau sekedar mengeluh. Ia takut, ia trauma ketika dia mengeluh tentang isi hatinya, jawabannya tidak sesuai yang diharapkan. Dia belajar dari pengalaman rumah tangganya dengan Johan.
Mata Alana dan Rafa terpejam namun, tak ada yang benar-benar lelap tertidur.
Alana sampai saat ini belum siap untuk terbuka secara blak-blakan kepada Rafa. Begitupun Rafa yang tidak bercerita detail tentang Alm. Tiara kepada Alana.
Hingga pagi tiba, Alana bangun terlebih dahulu. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengusir sisa kantuknya. Saat kembali dari kamar mandi ia melihat Rafa masih tidur, Alana merapikan selimut menutupi tubuh Rafa hingga ke bahu lalu ia melangkah pergi kedapur menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
Alana membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan. Hari ini dia bikin omlet keju permintaan Vino dan Cia.
Alana sedang sibuk didapur, dan langkah berat yng santai menghampirinya.
"Sayang, masak apa?"
Rafa menghampiri istrinya itu dan memeluknya dari belakang, suara seraknya khas orang baru bangun tidur.
"Bikin omlet keju, buat anak-anak. Kamu mau, Mas?".
Rafa mengangguk, lalu mengecup kepala Alana lama. "Makasih ya, sayang", ucapnya penuh rasa syukur kepada istrinya.
Langkah dan teriakan kecil dari arah lorong terdengar menuju meja makan.
"Pagi mama, papah"
Cia dan Vino menyapa Rafa dan Alana sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Pagi, sayang. Sini sayang, sarapannya udah siap nih". Sahut Rafa sambil menarik kursi untuk kedua anak itu, mereka duduk dengan rapih dan dimeja sudah ada omelet yang mereka minta kepada Alana.
"Mamah, ini punya Vino?"
Tanya Vino ragu, melihat omlet didepannya.
"Iya sayang. Di makan ya, semoga suka"
"Papa makan omlet juga?"
Tanya Cia sambil tertawa pelan
"Iya sayang, biar sama kayak kalian"
Alana menyiapkan Jus untuk anak-anak dan kopi untuk Rafa dan untuk dirinya.
"Omletnya enak gak sayang?"
Tanya Alana sambil mereka bertiga. Mereka mengangguk dengan cepat sambil melahap makanan masing-masing.
"Enak banget, masakan mama gak pernah gagal"
Sahut Cia sambil mengacungkan jempol
"Vino suka, omletnya enak. Besok mau lagi boleh, Mah?"
"Boleh sayang. Mamah seneng banget kalo makanan yang mama masak cocok dilidah kalian".
Meja makan itu terasa hangat setiap sarapan pagi dan makan malam. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia yang sempurna.
Selesai makan, Cia dan Vino diantar sekolah oleh supir lalu Alana bersama Rafa.
Alana mampir ke kantor Rafa, sekedar melihat-lihat sebelum ia meeting dengan salah satu produser perfilman.
"Sayang, duduk. Kamu mau teh atau apa?"
"Nggak, Mas. Kamu kerja aja nggak apa-apa. Aku bisa nunggu kok"
"Aku ada meeting sama klien 20 menit lagi, aku tinggal nggak apa-apa?"
Alana mengangguk sambil tersenyum.
Rafa mencium kening Alana lama, lalu segera pergi ke ruang meeting untuk menunggu kliennya.
Alana duduk diruangan Rafa dan membuka gadgetnya untuk mengecek beberapa pekerjaan. Menjadi penulis naskah yang sekarang dikenal orang, Alana cukup sibuk dengan beberapa meeting setiap minggunya.
Begitupun Rafa, sebagai penerus Pak Dirga, dia harus siap berperang dengan pekerjaannya setiap hari. Memikirkan cara agar perusahaannya memberi yang terbaik untuk kliennya, serta para konsumen diluar sana.