Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab³³
Kabar mengenai hilangnya Laura dan Lionel akhirnya sampai ke telinga Erwin beberapa jam setelah penculikan itu terjadi. Saat menerima telepon dari salah satu orang kepercayaannya, Erwin yang sedang berada di ruang kerja langsung berdiri dari kursinya.
"Apa kau bilang?! Laura dan Lionel hilang?" Wajahnya berubah pucat.
Orang di seberang menjelaskan bahwa kedua anak itu tidak ditemukan setelah jam pulang sekolah. Pihak sekolah sudah memeriksa rekaman kamera dan menghubungi keluarga Ardynata.
Erwin bahkan tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. "Di mana Naura?"
"Mereka semua berada di Mansion Ardynata, Tuan."
Tanpa berpikir panjang, Erwin mengambil kunci mobil dan bergegas keluar.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Ia benar-benar merasakan ketakutan sebagai seorang ayah, ketakutan jika kedua anak yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya mungkin sedang berada dalam bahaya.
Ia masih ingat ketika Laura pertama kali memanggilnya Papa. Ia juga masih ingat Lionel yang dulu selalu berlari ke arahnya setiap kali pulang dari sekolah. Namun delapan tahun terakhir membuat Erwin terlalu sibuk mengejar sesuatu yang ternyata tidak pernah memberinya kebahagiaan. Dan sekarang, ketika kedua anaknya hilang, ia baru menyadari betapa banyak waktu yang telah ia sia-siakan.
Mobil Erwin berhenti di depan Mansion Ardynata. Ia turun bahkan sebelum mobil berhenti sempurna dan langsung berlari menuju pintu utama.
Salah satu penjaga mencoba menghentikannya.
"Tuan Erwin, tunggu. Kami harus—"
"Minggir!" Erwin masuk dengan wajah panik.
Begitu sampai di ruang keluarga, ia langsung melihat Naura berdiri di depan layar besar bersama Alaska, Kakek Guntur, Sakti, Miranda, dan beberapa anggota tim keamanan.
Naura yang melihat kedatangannya langsung mengerutkan kening.
"Erwin?"
Erwin berhenti beberapa langkah dari mantan istrinya itu. "Anak-anak di mana?"
Pertanyaan pria itu membuat suasana ruangan semakin berat.
"Kami masih mencari mereka."
Erwin tampak terpukul. "Apa maksudmu masih mencari?"
"Mereka diculik."
Satu kalimat itu membuat Erwin kehilangan kata-kata. Ia menatap Naura dengan mata yang mulai memerah. "Siapa yang melakukannya?"
"Kami belum tahu pasti."
Naura menjelaskan mengenai pesan yang diterimanya, foto Laura dan Lionel, hingga lokasi palsu yang sengaja diberikan penculik.
Erwin mengepalkan tangan. "Kenapa tidak langsung lapor polisi?"
"Kami sedang mempertimbangkan langkahnya, penculik meminta keluarga tidak melibatkan polisi." Jawab Alaska.
"Dan kalian menurutinya?" Erwin menatap Alaska tajam.
"Kami tidak pasif." Nada Alaska tetap tenang, dia tidak terprovokasi. "Kami sedang melacak semua kemungkinan tanpa membuat penculik merasa terancam. Kalau mereka panik, keselamatan anak-anak bisa terancam."
Erwin mengatupkan rahangnya, Ia tidak menyukai kenyataan bahwa Alaska sekarang berada begitu dekat dengan Naura, tetapi kali ini ia tahu bukan waktunya mempermasalahkan itu. Tatapannya kembali kepada Naura.
"Aku akan ikut mencari kedua anakkku." Suara Erwin terdengar serak.
Naura menatap mantan suaminya itu selama beberapa saat. Dulu, mungkin ia akan menolak keberadaan pria itu. Namun saat ini, ia tidak memiliki kemewahan untuk membuang waktu.
"Terserah!"
Erwin mengembuskan napas lega. "Naura... aku minta maaf. Aku seharusnya lebih memperhatikan mereka. Selama ini aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, tapi aku membiarkan semuanya diurus olehmu sendiri.“
Naura menatap pria itu dengan ekspresi sulit dibaca. Dulu, ucapan seperti itu mungkin akan membuatnya menangis. Namun sekarang, ia hanya menarik napas panjang.
"Erwin, kita bisa membicarakan semua itu nanti."
"Aku—"
"Sekarang bukan waktunya." Nada Naura tidak keras, tetapi tegas. "Kita harus membawa Laura dan Lionel pulang."
Erwin melepaskan napas panjang dan mengangguk perlahan. "Aku mengerti."
Naura kembali menatap ke arah layar.
Di ruang keamanan Mansion Ardynata, salah satu anggota keamanan datang dengan tergesa-gesa.
"Tuan besar!"
Kakek Guntur menoleh. "Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu." Pria itu menyerahkan sebuah rekaman kamera. "Sejak beberapa minggu terakhir, ada seorang staf rumah tangga yang beberapa kali terlihat keluar masuk area belakang mansion tanpa alasan jelas."
"Siapa?" tanya Naura.
"Namanya Yudi, dia sudah bekerja di mansion selama hampir tiga tahun."
Sakti mengerutkan kening. "Kenapa baru diperiksa sekarang?"
"Kami tidak memiliki alasan mencurigainya. Namun setelah penculikan terjadi, kami memeriksa seluruh aktivitas staf."
Rekaman diputar, terlihat Yudi berbicara dengan seseorang di luar pagar mansion. Wajah orang tersebut tidak terlihat jelas, tetapi ada satu hal yang menarik perhatian Naura.
"Perbesar."
Rekaman diperbesar, Yudi terlihat menerima sebuah amplop.
"Kapan rekaman ini?" tanya Naura.
"Tiga hari sebelum anak-anak diculik."
Kakek Guntur langsung berubah serius. "Bawa di kesini!"
Tidak sampai lima belas menit kemudian, Yudi dibawa ke ruang keamanan.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Tuan." Pria itu terlihat pucat.
Kakek Guntur menatapnya dingin. "Kalau begitu kamu tidak keberatan menjelaskan siapa yang memberimu amplop itu?"
Yudi bungkam.
"Dan kenapa beberapa kali kamu mengambil foto jadwal anak-anak?"
Wajah Yudi langsung berubah.
"Katakan bajingan!" Erwin yang berada di samping Naura maju selangkah, kedua tangannya mengepal erat menahan emosi.
Yudi menunduk, tubuhnya mulai gemetar. "A-aku... aku hanya diminta memberikan informasi."
"Oleh siapa?" tanya Alaska.
Yudi menggigit bibir. "Aku tidak tahu namanya."
"Jangan berbohong!“
"Aku benar-benar tidak tahu!"
Kakek Guntur memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk meletakkan bukti di atas meja. Beberapa foto, catatan jadwal, dan bukti transfer diletakkan di depan Yudi.
"Namanya... Dahlia." Pria itu akhirnya kehilangan keberanian.
Ruangan langsung sunyi.
"Dia menghubungiku beberapa bulan lalu. Awalnya dia hanya meminta informasi mengenai aktivitas keluarga."
"Termasuk anak-anak?" tanya Naura.
"Iya."
"Untuk apa?"
Yudi menunduk. "Aku tidak tahu, gapi beberapa hari lalu dia meminta jadwal sekolah Laura dan Lionel."
"Jadi dia tahu rutinitas anak-anak?" Erwin mengepalkan tangan.
"Ya."
Naura merasakan darahnya berdesir, Dahlia. Wanita yang selama ini mereka curigai sebagai dalang pemalsuan DNA ternyata juga memiliki akses terhadap informasi keluarga.
Namun Yudi belum selesai. "Ada satu lagi."
"Apa?" tanya Alaska.
"Nyonya Dahlia tidak bekerja sendiri."
Semua orang langsung menatapnya.
"Dia sering menghubungi seorang wanita."
"Siapa?"
Yudi menelan ludah. "Namanya Davina."
"Kau jangan asal bicara!“ Wajah Erwin seketika berubah.
"Aku melihatnya sendiri, Tuan. Nomor yang menghubungi saya beberapa kali juga berasal dari orang yang sama."
Naura menatap Erwin, pria itu terlihat terpukul. "Davina..."
Pikiran mereka langsung terhubung pada satu hal. Penculikan itu mungkin bukan hanya berkaitan dengan Dahlia, tapi Davina juga terlibat.
🤭🤭
krn ibu ny Tania sendiri yg gx kasih tau klo dy lgi hamil ank ny sakti ,,