Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."
Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.
Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Helaan nafas lelah menemani Zakia pada sore ini, ia menatap infus yang masih menempel di tangan dan juga bau obat-obatan Rumah Sakit yang menusuk ke dalam hidung. Jika sudah begini Zakia berharap saat bangun dia sudah pindah ke rumah mereka dengan kondisi seperti biasa.
Namun harapan itu sirna saat tadi Daren mengatakan bahwa ia perlu dirawat sekitar dua hari lagi sampai keadaan membaik, akibat penyakit geger otak ringan yang sialnya kambuh di saat dia berpikir, membuat dirinya kembali terperangkap di ruangan serba putih ini.
Zakia pun tak menyangka bahwa tubuhnya bisa masuk ke fase selemah ini. Entah hanya lemah atau membutuhkan istirahat, tapi yang pasti Zakia sekarang merasa bosan, sangat bosan! Ditambah dengan kepulangan semua keluarganya, kini hanya ada dirinya dan Daren, rasanya begitu sepi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, menampilkan Daren dengan berdiri di depan pintu sambil bermain ponsel.
"Ni anak kerjanya apaan sih?" gumam Zakia heran. Pasalnya, beberapa hari Zakia tinggal bersama Daren dia tak melihat pria itu bekerja sedikitpun, tapi uangnya banyak.
Kalaupun uangnya dari pak Jamrud tidak mungkin sebanyak itu kan? Toh Daren juga sudah menikah, sudah punya kehidupan dan tanggung jawab sendiri, tak mungkin juga pak Jamrud masih ikut menafkahi putranya yang telah berumah tangga.
"Bosen ga?" Lamunan itu buyar, Daren berbicara di ujung pintu masih dengan ponsel yang tak lepas dari tangan.
"Hm," gumam Zakia sambil mengangguk.
"Mau ke taman?" tawar Daren. Sejujurnya Daren yang ke luar masuk Rumah sakit ini saja bisa bosan, apalagi dengan Zakia yang tak boleh ke mana-mana, makanya ia berinisiatif menawarkan kepada Zakia untuk pergi ke taman, mumpung cuaca juga sudah sore.
"Ayok!" seru Zakia semangat.
Senyum lebar terukir dari bibirnya, Zakia perlahan bangkit dan ingin menurunkan kakinya secepat mungkin. Tapi gerakan itu tiba-tiba saja berhenti, Zakia baru ingat bahwa dia tidak bisa berjalan.
Daren yang melihat itu berdehem lalu berkata, "bentar ya gue ambilin kursi roda dulu, jangan ke mana-mana, bentar doang kok ini!"
Usai mengatakan itu, Daren langsung menutup pintu dan bergegas pergi dari sana, meninggalkan Zakia dengan rasa sepi di dalam hatinya.
Lagi dan lagi dia menyusahkan orang lain.
Zakia memainkan ujung jarinya sambil menunggu Daren, perasaan gelisah sekali, Zakia tidak sabar, rasanya dia ingin langsung pergi begitu saja, persetan dengan semua peraturan Rumah Sakit ini, dia sudah bosan!
Tapi, apakah Zakia berani? Jawabannya, mungkin saja. Karena ketidak sabaran yang dimiliki oleh Zakia membuat egonya naik tinggi, ia menurunkan kakinya perlahana-lahan dan satu persatu, satu kaki telah turun walaupun diiringi dengan rasa ngilu.
Sesekali bibir Zakia meringis dan ekspresinya kesakitan, tapi tak apa, dia tak ingin menjadi wanita lemah dan tak ingin merepotkan Daren setiap saat, Zakia wanita kuat! Ketika ada masalah dia mampu menghadapinya, kenapa di saat seperti ini harus ada orang lain yang membantunya?
Zakia bernafas lega saat satu kaki telah turun, sekarang saatnya kaki selanjutnya. Sedikit demi sedikit, Zakia berusaha semaksimal mungkin, bibir meringis, rasa sakit yang menjalar tak membuatnya menyerah, sampai akhirnya semua hal yang ia usahakan berhenti karena suara seseorang.
"Ngapain?"
Zakia mendongak, itu Daren! Berdiri diambang pintu, membawa kursi roda dan tatapan datarnya. Zakia sontak menelan ludah, apakah suaminya ini akan marah?
Daren menghela nafas, ia maju menghampiri Zakia dengan kursi roda di tangannya. Begitu sampai, bukannya berkata apapun, Daren malah membantu Zakia untuk menurunkan kakinya sebelah lagi, dengan lembut tanpa ada unsur kemarahan sedikitpun.
Padahal Daren sudah memperingatkan dan Zakia melanggar peringatan itu, logikanya jika Zakia kenapa-napa maka Daren yang akan repot, tapi kenapa Daren malah memperlakukannya lembut seperti ini?
"Pegangin leher gue, biar gue bantu naik ke kursi roda," ujar Daren. Jarak mereka sungguh berdekatan, dengan Daren yang berdiri setengah membungkuk sambil menyamakan tinggi badannya dengan posisi duduk Zakia.
Zakia bergeming, "ga mau liat matahari sore emangnya?" tawar Daren sekali lagi.
Dengan gugup Zakia menggandengkan tangannya di leher Daren, begitu juga dengan Daren yang mendekap erat punggung istrinya itu. Tapi hidung Zakia malah menangkap wangi tubuh Daren dan otak jahilnya mulai bekerja.
"Udah siap?"
Dalam dekapan Daren, Zakia mengangguk yakin. Begitu tubuhnya diangkat, saat itu jugalah Zakia mengikuti kata otaknya, yaitu menghirup aroma tubuh Daren lebih dalam dan sepuas mungkin.
'Haah wangi banget.'
Daren kemudian mendudukkan Zakia di kursi roda dan melepaskan pegangannya perlahan-lahan, posisi kaki Zakia ia rapikan dan tak lupa Daren mengambil cardigan lalu ia berikan kepada Zakia.
Zakia menatap cardigan itu heran. "Punya siapa?" tanyanya.
"Punya kak Hana, tadi pas nganter mereka ke depan gue minta dia ninggalin satu cardigan buat lo, biar ga terlalu kedinginan," jawab Daren.
"Ooh," jawab Zakia. Ia langsung memakai cardigan itu, merapikan sedikit rambutnya lalu menunggu Daren yang mengambil barang penting milik mereka.
Usai memastikan semua barang penting sudah dibawa, Daren langsung mendorong kursi roda yang dinaiki Zakia ke luar. Koridor Rumah Sakit tidak terlalu ramai, ada beberapa perawat dan dokter yang sedang lewat, pasien yang sepertinya yang baru selesai melakukan rutinitas di luar ruangan dan juga suara anak-anak yang sesekali tersenyum dengan Zakia.
Kursi roda itu didorong oleh Daren masuk ke dalam sebuah lift, hanya ada sekitar 5 orang di dalam lift tersebut, Zakia sibuk menunggu dengan tidak sabaran dan Daren yang masih bermain ponsel.
Sepertinya Daren sedang sibuk, pikir Zakia.
Saat sedang menunggu, seorang anak kecil menepuk pelan telapak tangan Zakia. Zakia yang merasakan itu menoleh, alisnya terangkat seolah-olah sedang bertanya.
"Itu oom suaminya tante ya?" tanya anak itu sambil menunjuk Daren yang fokus bermain ponsel.
Zakia melihat Daren, lalu menatap kembali anak itu sambil tersenyum tak lupa dengan kepala yang mengangguk.
"Ganteng," pujinya. Anak itu mengangkat ke dua jempolnya sambil tersenyum sehingga menunjukkan gigi ompongnya.
Zakia yang mendengar itu ikut tertawa, anak ini lucu sekali, pikirnya. Tapi sepertinya pandangan Zakia soal ketampanan Daren bukan hanya pandangan dirinya semata, buktinya anak kecil yang berstatus orang lain ini pun mengakui ketampanan sang suami.
Zakia baru ingat, bahkan dulu pun Dinda mengakui ketampanan yang dimiliki Daren, tapi mengingat kejadian itu seketika Zakia tertawa pelan, Dinda yang selalu memuji tapi Zakia yang mendapatkannya, defenisi jodoh tidak bisa ditebak.
Tak lama kemudian suara lift berdenting, mereka sudah sampai di lantai paling bawah, anak tersebut berjalan lebih dulu bersama dengan ayahnya.
Sebelum berpisah lebih jauh, dia melambaikan tangan kepada Zakia, "Dada tante cantik, dada om ganteng," ujarnya. Tubuhnya kemudian digendong oleh sang ayah dan langsung pergi dari sana.
Zakia dan Daren sama-sama melambaikan tangan lalu berjalan menuju tempat utama mereka, yaitu taman.
"Lucu banget ya," celetuk Daren.
"Siapa?"
"Anak tadi, dia bilang gue ganteng," katanya. Zakia terkejut, jadi Daren mendengarnya? Apakah dia juga tahu kalau sedari tadi dia juga sadar bahwa Zakia memperhatikannya? Kalau iya, Zakia bisa malu sekarang.
Daren kok bisa y ga marah😭 emg ni anak dri mulai fisik, emosi sampai ke harta-hartanya tipe semua org bngettt