Indonesia
NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Zia setengah berlari meninggalkan koperasi dengan pipi yang masih terasa membara.

Langkah kakinya membawa ia lurus menuju dapur umum pesantren. Tempat yang seharusnya menjadi tujuan awalnya sebelum insiden mendebarkan dengan Zizan tadi.

Begitu menginjakkan kaki di ambang pintu dapur, aroma gurih bakwan dan pisang goreng yang baru diangkat langsung menusuk hidung Zia.

Di sana, tiga sahabatnya Sindi, Rara, dan Ratna sedang sibuk membolak-balik gorengan di atas wajan raksasa. Lebih tepatnya, mereka sibuk mengobrol sambil sesekali bekerja.

Pikiran Zia yang masih melayang pada kotak minuman kacang hijau di genggamannya membuat fokusnya buyar.

Tanpa sadar, tangannya terulur ke atas tampah. Ia langsung menyomot satu bakwan yang justru baru saja ditiriskan dari minyak mendidih.

"Aww! Panas, panas, panasss!" jerit Zia tertahan.

Ia refleks melompat-lompat kecil seperti sedang menari balet gagal. Bakwan panas itu dioper-oper dari tangan kanan ke tangan kiri dengan cepat. Sebelum akhirnya ia gigit paksa karena sayang kalau jatuh.

Akibatnya, lidahnya langsung kelu dan ia megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen.

"Astaga, Zia! Itu minyaknya baru pensiun dari wajan, main comot aja!" seru Sindi sambil menggeleng-gelengkan spatula di tangannya.

Rara yang melihat rona merah di pipi Zia langsung menyipitkan mata curiga. Rona itu perpaduan antara salah tingkah setelah bertemu Zizan dan efek kepanasan bakwan.

"Bentar deh. Ini anak kepanasan karena gorengan, atau lagi simulasi jadi kepiting rebus? Pipimu merah banget itu, Mbak."

"I-ini karena hawa dapur! Panas banget wajannya!" kilah Zia terbata-bata. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya yang kian memanas.

"Halah, alasan!" sahut Ratna sambil tertawa renyah. "Gaya larimu tadi juga aneh. Kayak orang habis dikejar tawon, tapi kok senyum-senyum. Jangan-jangan habis ketemu pangeran ya? apa jangan-jangan Mas Charis ya, ciee ah," goda Ratna tanpa rasa bersalah, karena tidak mengetahui apa yang sudah terjadi kepada hubungan Zia dan Charis.

Zia terdiam sejenak mendengar nama Charis yang sudah seperti sembilu di hatinya, namun ia tetap mencoba baik-baik saja karena ia tahu temannya masih belum tahu faktanya.

"Oh, kamu kan dari koperasi, kan? Aku tahu ini," goda Sindi menyelidik.

Sindi langsung menyambar dengan cepat. "Konspirasi alam apa lagi ini? Tadi aku lihat Kang Zizan juga jalan buru-buru dari koperasi sambil megang plastik. Mukanya tegang kayak habis lihat hantu, tapi kupingnya merah!"

Zia makin salah tingkah. Ia berusaha menyembunyikan kotak minuman kacang hijau di balik badannya. Namun gerakan itu justru terbaca oleh mata jeli Rara.

"Eh, eh! Apaan itu yang disembunyiin di punggung?" Rara langsung memutar tubuh Zia secara paksa. "Wah! Sari kacang hijau! Sejak kapan kamu modal beli beginian? Biasanya juga numpang minum teh anget dapur!"

"Pasti dikasih!" tebak Ratna heboh. Ia langsung memukulkan sendok sayur ke penggorengan hingga menimbulkan bunyi dentangan nyaring. "Perhatian semuanya! Zia resmi mendapatkan upeti dari jalur langit!"

"Ciyeee, Mbak Zia! Uhuy! Uhuy!" goda Sindi, Rara, dan Ratna kompak bersahutan.

Jadi mana nih, Mas Charis apa Zizan, nih?

ejek Ratna.

Suasana dapur yang bising makin pecah oleh tawa mereka bertiga.

"Enggak, ih! Ini... ini tadi cuma kebetulan!" bela Zia dengan suara melengking. Wajahnya sudah matang sempurna karena malu. "Udah ah, kalian receh banget! Aku mau ke kamar dulu!"

Sambil mengunyah sisa bakwan panas dengan buru-buru, Zia berbalik dan lari meninggalkan dapur. Diiringi suara sorakan "Ciyeee!" yang masih menggema dari trio sahabatnya itu.

***

Napas Zia tersengal-sengal saat ia sampai di koridor asrama putri. Dadanya masih bergemuruh. Ada rasa malu dari dapur, ada debaran dari koperasi.

Ia berniat masuk ke kamar untuk menaruh buku tulis baru dan mendinginkan hatinya yang sedang acak-acakan.

Namun, begitu tangannya hendak mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka, langkahnya mendadak terhenti.

Melalui celah pintu, Zia melihat Sinta berada di dalam. Sinta tampak sedang sibuk membongkar lemari dan laci meja. Seperti sedang mencari suatu barang dengan raut wajah yang gelisah.

Melihat sosok Sinta, seketika itu juga suasana hati Zia berbalik seratus delapan puluh derajat.

Rasa canggung dan senang yang tadi memenuhi dadanya menguap begitu saja. Digantikan oleh rasa sesak dan amarah yang mendadak naik ke ubun-ubun.

Luka dan kekesalan akibat kejadian kemarin malam di antara mereka langsung berdenyut kembali.

Zia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya memuncak. Namun ia tahu, jika ia masuk sekarang, pertengkaran hebat pasti tidak akan terhindarkan.

Zia tidak ingin merusak sisa harinya lebih hancur lagi.

Dengan sentakan napas yang berat, Zia sengaja menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai. Memberikan sinyal keberadaannya yang penuh amarah.

Setelah itu, ia langsung berbalik badan dengan kasar dan melangkah pergi menjauh dari area kamar tanpa menengok lagi.

***

Di dalam kamar, gerakan Sinta langsung membeku.

Ia mendengar jelas hentakan kaki itu. Ia sempat melihat sekilas ujung jilbab Zia yang berkelebat pergi dari celah pintu.

Sinta sadar betul bahwa Zia baru saja ada di sana. Dan menyadari bahwa sahabatnya itu pergi karena enggan melihat mukanya.

Sinta menurunkan tangannya dari atas lemari. Bahunya merosot turun. Setitik air mata mendadak jatuh di pipinya.

Rasa sedih yang mendalam langsung menyergap hatinya.

"Zia..." gumam Sinta lirih. Ia menatap pintu yang kini kosong.

Sinta duduk bersimpuh di lantai kamar yang dingin. Pikirannya benar-benar buntu dan bingung.

Mengapa kejadian kemarin malam bisa berdampak seburuk ini pada hubungan mereka?

Sinta masih belum sepenuhnya mengerti di mana letak kesalahan fatalnya. Kesalahan yang membuat Zia sampai seberubah dan semarah itu.

Keheningan kamar kini terasa begitu mencekam bagi Sinta. Ia dilingkupi rasa bersalah dan ketidakpastian.

Sinta masih terduduk lemas di lantai kamar. Ia menatap pintu yang tertutup rapat dengan pandangan kosong. Air matanya menetes satu demi satu, membasahi lantai semen yang dingin.

Benaknya terus berputar. Mencoba mengais kembali ingatan tentang kejadian kemarin malam.

Ia benar-benar bingung.

Sinta tahu malam itu ia memang sempat berbicara dengan Salsa. Santriwati senior yang terkenal tak memiliki banyak teman hanya beberapa.

Namun, Sinta sama sekali tidak tahu apa yang kemudian disampaikan Salsa kepada Zia. Hingga membuat sahabat terbaiknya itu menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan kemarahan yang begitu besar.

"Zia, apa yang udah terjadi, apa yang kamu dan mbk Salsa bicarakan malam itu, kenapa setelah itu kamu jadi seperti ini, " Jerit Sinta dalam hati.

Ia menyenderkan tubuhnya di pintu dengan perasaan yang sudah hancur, sambil terus menyeka air matanya yang sudah hampir membasahi kerudungnya.

"Aku harus segera bicara sama Zia, sebelum semuanya semakin keruh," batin Sinta dengan semangat yang sudah mulai pulih, "

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!