Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: WANITA DI BALIK GELANG PERAK
Sosok pria berjaket kulit itu berdiri beberapa meter dari Rangga dan Ratna. Tudung hitam yang menutupi sebagian wajahnya membuat ekspresinya sulit dikenali, tetapi cara berdirinya sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia bukan orang biasa.
Kelima pria bermasker yang semula begitu percaya diri kini tampak ragu.
Salah seorang dari mereka menggenggam pipa besi lebih erat.
“Siapa kamu?” bentaknya.
Pria berjaket kulit tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat wajah sedikit, kemudian mengarahkan pandangan kepada Rangga.
Tatapan mereka bertemu.
Dalam sepersekian detik, Rangga kembali mengenali sorot mata itu.
Tatapan yang sama.
Tatapan dari dua tahun lalu, ketika tubuhnya terkapar setelah dikeroyok di jalanan bypass.
“Tidak mungkin...” gumam Rangga.
Pria itu tetap diam.
Salah satu penyerang rupanya kehilangan kesabaran. Ia mengangkat pipa besi tinggi-tinggi dan berlari menyerang.
Gerakannya cepat.
Namun pria berjaket kulit jauh lebih cepat.
Ia menggeser tubuh ke samping, menangkap pergelangan tangan lawan, lalu memutar tubuhnya dengan gerakan singkat. Pipa besi terlepas dari genggaman. Dalam gerakan yang sama, siku pria berjaket menghantam bagian dada lawan hingga tubuhnya terjengkang ke aspal.
Empat penyerang lainnya langsung bergerak.
Rangga tidak lagi berdiri pasif.
Ia mengambil posisi di samping Ratna.
“Jangan jauh dari saya.”
Ratna justru menatapnya datar.
“Saya bisa menjaga diri.”
“Saya tahu.”
Rangga melirik para penyerang.
“Tapi malam ini bukan waktu yang tepat untuk membuktikannya.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Ratna terangkat sedikit.
“Setidaknya Anda mulai bisa berpikir rasional.”
Sebelum Rangga sempat menjawab, dua penyerang kembali menerjang.
Rangga bergerak menyambut mereka.
Pukulan pertama berhasil ia hindari, tetapi pukulan kedua mengenai bahunya cukup keras hingga tubuhnya terdorong beberapa langkah. Ia segera mengembalikan keseimbangannya dan melayangkan pukulan ke arah lawan yang paling dekat.
Sementara itu, pria berjaket kulit bergerak seperti bayangan.
Tidak banyak gerakan.
Tidak banyak tenaga yang terbuang.
Setiap serangan selalu diarahkan untuk menghentikan lawan secepat mungkin.
Dalam hitungan detik, satu demi satu para pengeroyok mulai kehilangan keberanian.
Namun, orang terakhir tidak ikut mundur.
Ia justru mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
Sebuah benda kecil berwarna hitam.
Ratna yang sejak tadi mengamati gerak-gerik mereka langsung menyadarinya.
“Rangga!”
Rangga menoleh.
“Jangan biarkan dia menekan tombol itu!”
Pria tersebut langsung berlari menuju mobil Rangga.
Rangga mengejarnya.
Tetapi pria berjaket kulit sudah lebih dulu bergerak.
Ia melesat memotong jalur, membuat lawan terpaksa menghentikan langkah.
Untuk sesaat, keduanya berhadapan.
Pria bermasker itu mundur.
Pria berjaket kulit maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Lalu…
BRAK!
Tubuh penyerang tersebut jatuh menghantam kap mobil.
Benda hitam yang berada di tangannya terlempar ke aspal.
Rangga segera memungutnya.
Ia memeriksa benda itu dengan dahi berkerut.
Bukan senjata.
Bukan alat komunikasi biasa.
Hanya sebuah perangkat kecil dengan satu tombol merah di bagian tengah.
“Ini apa?” tanya Rangga.
Pria berjaket kulit tidak menjawab.
Ia justru menatap ke arah jalan keluar.
“Sudah cukup. Mereka akan pergi.”
Rangga mengangkat wajah.
“Berhenti!”
Pria itu melangkah menjauh.
“Dua tahun lalu kamu juga pergi setelah menyelamatkan saya.”
Langkah pria itu terhenti.
Rangga mengepalkan benda hitam di tangannya.
“Kali ini saya tidak akan membiarkan kamu menghilang begitu saja.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Pria itu perlahan menoleh.
“Kalau begitu, jangan kejar saya.”
Rangga terdiam.
“Karena orang yang sebenarnya perlu kamu temui bukan saya.”
Tatapan pria itu kemudian beralih kepada Ratna.
Ratna membalas tatapan tersebut tanpa rasa takut.
Untuk sesaat, keduanya seperti memahami sesuatu yang tidak diketahui Rangga.
Rangga menangkap perubahan kecil itu.
“Jadi kalian saling mengenal?”
Ratna tidak menjawab.
Pria berjaket kulit juga tidak memberikan penjelasan.
Ia hanya menarik tudung lebih dalam menutupi wajahnya.
Kemudian pergi menembus kegelapan.
Rangga berdiri terpaku.
Di tangannya masih ada benda hitam yang ditinggalkan salah satu penyerang.
Sementara di sampingnya, Ratna memandang arah kepergian pria tersebut dengan ekspresi yang jauh lebih serius daripada sebelumnya.
“Ratna.”
Wanita itu menoleh.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Ratna diam beberapa saat.
Kemudian menjawab pelan.
“Pertanyaan yang lebih tepat adalah... kenapa mereka mulai bergerak sekarang?”
Rangga menatapnya tajam.
Dan malam yang semula hanya dimulai sebagai sebuah pertemuan di galeri seni, perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Ratna tidak langsung menjawab.
Ia berjalan mendekati benda hitam yang tadi terjatuh di aspal, lalu berjongkok untuk memeriksanya. Rangga mengikuti dari belakang, sementara beberapa meter di depan mereka, kelima pria bermasker sudah melarikan diri meninggalkan area parkir.
“Jangan disentuh lagi,” kata Ratna.
Rangga menghentikan tangannya.
“Kenapa?”
“Karena kita belum tahu benda itu sebenarnya untuk apa.”
Ratna mengeluarkan saputangan tipis dari tas kecilnya, lalu mengambil perangkat tersebut menggunakan ujung kain.
Ia membaliknya beberapa kali.
“Bukan alat peledak.”
Rangga mengangkat alis.
“Kamu bisa tahu hanya dari melihatnya?”
“Tidak.”
Ratna menatapnya.
“Saya tahu karena kalau benda ini memang dimaksudkan untuk meledakkan sesuatu, mereka tidak akan membuangnya begitu saja ketika terdesak.”
Rangga terdiam.
Logika wanita itu memang tajam.
“Lalu?”
Ratna memperhatikan bagian belakang benda tersebut.
“Ada nomor seri.”
“Bisa dilacak?”
“Mungkin.”
Ia menyerahkan benda itu kepada Rangga.
“Tapi bukan malam ini.”
Rangga memasukkannya ke dalam saku.
Pandangan Ratna kemudian beralih kepada pria yang masih tergeletak di dekat mobil. Salah satu pengeroyok tadi belum sempat melarikan diri karena mengalami cedera cukup parah setelah dihantam pria berjaket kulit.
Rangga mendekatinya.
“Siapa yang menyuruh kalian?”
Pria itu tidak menjawab.
Rangga berjongkok di hadapannya.
“Saya tidak tertarik membuat masalah. Saya hanya ingin tahu siapa yang mengirim kalian.”
Pria tersebut tetap diam.
Ratna berdiri beberapa langkah di belakang Rangga.
“Jangan buang waktu.”
Rangga menoleh.
“Kenapa?”
“Orang seperti itu tidak akan bicara hanya karena ditanya.”
Ratna kemudian berjalan mendekat.
Ia berjongkok, tetapi tidak menyentuh pria tersebut.
“Kalau memang kalian datang untuk mengganggu Rangga, kenapa membawa saya juga?”
Pria bermasker itu mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.
Ratna menangkap perubahan tersebut.
“Begitu.”
Rangga langsung memperhatikannya.
“Kamu menemukan sesuatu?”
Ratna berdiri.
“Bukan Rangga yang menjadi satu-satunya tujuan mereka.”
Rangga mengernyit.
“Maksudmu?”
“Entahlah.”
Ratna berjalan menuju mobil.
“Tapi saya yakin mereka tidak datang secara kebetulan.”
Rangga berdiri dan menatap pria bermasker yang masih terdiam.
Kemudian ia melihat ke arah Ratna.
Gelang perak di pergelangan tangan wanita itu masih memantulkan cahaya lampu parkir.
Rasi Arkais.
Simbol yang sama.
Surat yang sama.
Dan sekarang serangan.
Terlalu banyak kebetulan untuk diabaikan.
Rangga akhirnya menyusul Ratna.
“Ratna.”
Wanita itu berhenti di samping mobil.
“Ya?”
“Gelang itu.”
Ratna menatap pergelangan tangannya sendiri.
“Apa?”
“Kenapa mereka menyerangmu?”
Ratna diam cukup lama.
Kemudian menjawab,
“Mungkin karena mereka tahu apa yang saya bawa.”
Rangga menatapnya tajam.
“Kamu membawa sesuatu?”
Ratna tidak menjawab.
Ia membuka pintu mobilnya sendiri.
Namun sebelum masuk, ia menoleh.
“Rangga, kalau kamu benar-benar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, jangan hanya bertanya kepada saya.”
“Lalu kepada siapa?”
Ratna menatapnya beberapa detik.
“Pulanglah.”
Rangga terdiam.
“Ke Desa Samudra.”
Nama itu kembali terdengar.
Ratna menutup pintu mobil.
Namun sebelum masuk sepenuhnya, ia menambahkan,
“Di sana kamu akan menemukan sesuatu yang selama ini kamu kira sudah hilang.”
Pintu mobil tertutup.
Mesin menyala.
Rangga hanya berdiri di tempatnya sambil memandang kendaraan Ratna meninggalkan area parkir.
Ia tidak mengejar.
Tidak malam ini.
Pikirannya terlalu penuh.
Ia menatap langit.
Awan Jakarta menutupi sebagian besar bintang, tetapi satu titik cahaya masih terlihat di antara celahnya.
Rangga merogoh saku jasnya dan menggenggam benda lama yang sejak awal menjadi bagian dari perjalanan ini.
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Desa Samudra lagi.”
Ia berjalan menuju mobilnya.
Namun sebelum masuk, ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Rangga membuka pesan itu.
Hanya ada satu kalimat.
“Jangan bawa siapa pun ketika pulang.”
Rangga membaca kalimat tersebut dua kali.
Lalu layar ponselnya kembali gelap.
Ia tidak panik.
Tidak juga mundur.
Justru untuk pertama kalinya malam itu, matanya memperlihatkan keteguhan yang berbeda.
Ia tahu perjalanan pulangnya tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.
Dan ia juga tahu, setelah malam ini, tidak ada lagi alasan baginya untuk terus menghindari masa lalu.
Rangga tidak langsung menjalankan mobilnya.
Pesan singkat itu masih terpampang di layar ponsel.
Jangan bawa siapa pun ketika pulang.
Ia membaca kembali kalimat tersebut, lalu mengunci layar.
Bukan karena takut.
Justru karena terlalu banyak pertanyaan yang mulai bermunculan di kepalanya.
Siapa yang mengetahui rencana kepulangannya?
Bagaimana orang itu tahu bahwa ia akan kembali ke Desa Samudra?
Dan yang paling mengganggu pikirannya, mengapa pesan tersebut terasa seperti peringatan, bukan ancaman?
Rangga menyandarkan tubuhnya ke jok.
Selama bertahun-tahun, ia selalu mengandalkan logika ketika menghadapi masalah. Dalam bisnis, keputusan yang salah bisa berarti kerugian besar. Di Borneo, satu kesalahan membaca situasi bahkan bisa membuat nyawa melayang.
Namun malam ini berbeda.
Untuk pertama kalinya, semua petunjuk yang ada di hadapannya tidak berbentuk angka, kontrak, ataupun laporan keuangan.
Semuanya berhubungan dengan masa lalu.
Dengan Desa Samudra.
Dengan janji masa kecil.
Dan dengan rasi bintang Arkais yang sejak dahulu seolah tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Rangga akhirnya menyalakan mesin mobil.
Sebelum meninggalkan area parkir, ia sempat melihat ke arah tempat pria berjaket kulit tadi berdiri.
Kosong.
Pria itu sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Rangga mengembuskan napas panjang.
“Selalu datang, selalu pergi.”
Ia tersenyum kecil.
Anehnya, kali ini ia tidak merasa perlu mengejarnya.
Ada hal lain yang jauh lebih penting.
Pulang.
Keesokan paginya, Rangga tiba di kantornya lebih awal dari biasanya.
Tono yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung menghampirinya.
“Mas Rangga, semalam jadi menghadiri acara gala?”
“Jadi.”
“Bagaimana?”
Rangga meletakkan jasnya di kursi.
“Lumayan.”
Tono memperhatikan wajah bosnya.
“Mas kelihatan seperti tidak tidur.”
“Memang tidak banyak tidur.”
Tono tertawa kecil.
“Jangan-jangan ada urusan bisnis lagi?”
Rangga hanya menggeleng.
“Bukan.”
Ia membuka laci meja dan mengambil beberapa dokumen perusahaan.
“Tono, selama aku pergi nanti, kamu yang pegang kantor.”
Tono langsung berhenti tersenyum.
“Pergi?”
“Ke Desa Samudra.”
“Sekarang?”
“Dalam beberapa hari.”
Tono tampak berpikir.
“Berapa lama?”
Rangga tidak langsung menjawab.
Ia sendiri belum tahu.
“Belum pasti.”
Tono mengangguk perlahan.
“Baik. Urusan kantor saya tangani.”
Rangga menepuk bahunya.
“Aku percaya kamu.”
Setelah Tono pergi, Rangga berdiri di depan jendela besar kantornya.
Jakarta terlihat sibuk seperti biasa.
Mobil bergerak tanpa henti.
Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh.
Orang-orang berjalan mengejar kesibukan masing-masing.
Namun pikiran Rangga sudah jauh meninggalkan kota itu.
Ia kembali membayangkan Desa Samudra.
Rumah masa kecilnya.
Jalan tanah.
Halaman tempat ia pernah bermain.
Dan malam ketika sebuah janji kecil pernah dibuat di bawah langit yang penuh bintang.
Dulu ia mengira semua itu hanya kenangan masa kanak-kanak.
Kini seseorang seolah memintanya kembali untuk membuka halaman yang pernah ia tutup.
Rangga mengambil ponsel.
Ia membuka kembali pesan misterius tadi malam.
Kemudian jarinya berhenti di atas layar.
Ia tidak membalas.
Tidak perlu.
Jika seseorang ingin memberinya jawaban, orang itu akan datang.
Dan jika tidak...
Rangga akan mencarinya sendiri.
Sore menjelang ketika Rangga meninggalkan kantor.
Ia membawa sebuah tas kecil.
Tidak banyak barang.
Beberapa pakaian.
Dokumen penting.
Dan benda lama yang selama ini ia simpan baik-baik.
Sebelum masuk mobil, ia kembali menatap langit Jakarta.
Bintang belum terlihat.
Namun entah mengapa, Rangga tersenyum.
“Kalau memang waktunya pulang, aku pulang.”
Mobil bergerak meninggalkan halaman kantor.
Di kaca spion, gedung perusahaan perlahan mengecil.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rangga tidak sedang mengejar sesuatu.
Ia justru sedang kembali kepada sesuatu yang pernah ia tinggalkan.
Dan jauh di balik semua kemewahan yang kini dimilikinya, sebuah pertanyaan lama perlahan kembali mengetuk pintu ingatannya.
Apa sebenarnya yang pernah ia janjikan di bawah langit Desa Samudra?
Dan mengapa setelah bertahun-tahun, seseorang masih berusaha memastikan janji itu tidak pernah mati?
Sebagai narator, aku tahu perjalanan Rangga kali ini bukan sekadar perjalanan pulang. Ia sedang kembali menuju titik awal kehidupannya, tempat sebuah janji pernah dibuat dan mungkin, sebuah jawaban selama ini menunggunya. Babak lama telah berakhir, tetapi pintu masa lalu baru saja terbuka.