Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ada Melodi untuk Panji
"Sepertinya kamu mengetahui sesuatu tentang Abas," kata Tuan Baskara setelah cukup lama diam. Nayla tersenyum.
"Nayla cuma menyimpulkan dari apa yang Nayla lihat, Om. Dan itu masih perlu dikonfirmasi terlebih dahulu," kata Nayla. Tuan Baskara menghela napas panjang.
"Dia pernah salah memilih wanita," kata Tuan Baskara.
"Bukan berarti pilihan Om adalah pilihan yang tepat," kata Nayla. Tuan Baskara menaikkan kedua alisnya.
"Bisa jadi Abas memang harus bertemu pilihan yang salah sebelum menemukan yang tepat," lanjut Nayla. Tuan Baskara tersenyum tipis.
"Om jadi penasaran, setepat apa pilihannya hingga bisa mengalahkan wanita seperti kamu, Nayla," kata Tuan Baskara. Nayla tersenyum.
"Terkadang, Om... apa yang orang sebut cinta, bisa mengalahkan logika," kata Nayla. Tuan Baskara mendengus.
"Hh! Cinta. Abas bahkan pernah gagal karena itu," kata Tuan Baskara. Nayla tertawa kecil.
"Kita lihat saja, Om. Apakah kali ini cintanya akan menemukan akhir yang bahagia? Ataukah akan gagal sama seperti sebelumnya?" kata Nayla.
"Kalau dia gagal lagi, Om akan memintamu bertanggung jawab," kata Tuan Baskara. Nayla menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum.
Bara, yang sedari tadi mendengarkan percakapan papanya dan Nayla, benar-benar dibuat takjub oleh wanita itu. Dia tidak menyangka wanita yang dijodohkan dengan kakaknya itu begitu tenang dan lugas dalam menghadapi Tuan Baskara.
"Kalau begitu, Nayla pamit, Om," kata Nayla sambil beranjak dari duduknya.
"Oh! Kamu nggak mau ketemu Abas dulu?" tanya Tuan Baskara. Nayla tersenyum.
"Kapan-kapan aja Nayla ajakin dia ngopi, Om," kata Nayla. Tuan Baskara mengangguk.
"Mari, Om. Salam buat Tante," kata Nayla.
"Ya, ya. Hati-hati," kata Tuan Baskara.
Nayla berjalan keluar dari ruang tamu. Bara mengintip dari dalam sosok wanita yang bisa mengalahkan papanya itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Abas yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Bara.
"Astaga, Kak Abas! Bisa nggak, sih, nggak ngagetin?"
Abas diam, menatap Bara dingin.
"Nayla ke sini. Baru aja pulang," kata Bara sambil tersenyum tipis. Dahi Abas sedikit mengerut.
"Kak Abas penasaran ngapain dia ke sini?" tanya Bara dengan nada menggoda.
"Tidak. Bukan urusanku," jawab Abas sambil menatap ke arah pintu rumahnya yang terbuka.
"Mmm... bukan urusan Kak Abas ternyata," kata Bara sambil melirik ke arah Abas.
Abas lalu berjalan menuju pintu depan.
"Mau kemana Kak?" tanya Bara. Abas menghentikan langkahnya.
"Bukan urusanmu," jawab Abas lalu kembali berjalan.
Bara membuka mulutnya lebar, tak percaya dengan jawaban kakaknya yang begitu dingin.
'Dia abis kesenggol apa sih? Sensinya ngalahin cewek lagi PMS,'
***
Melodi memetik gitarnya perlahan. Chord-chord baru yang sudah diisi lirik membuat Melodi hanyut sambil bersenandung lirih di depan kamar kosnya.
"Tuhan... hapuskan dirinya
dari ingatanku
dari hatiku....
bebas... bebaskan aku
dari bayangnya
dari senyumnya
yang selalu membawa luka"
"Ting ting ting..."
"Sedih amat lagunya," komentar Raya yang sudah duduk di hadapan Melodi.
"Iya, iya?"
"Kamu baru sadar?"
Melodi meringis.
"Abisnya liriknya pas gitu sama nada dan vibesnya," kata Melodi. Raya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Beneran kamu nggak terinspirasi dari siapa gitu?" tanya Raya.
Melodi memutar bola matanya perlahan. Sedetik kemudian dia menaikkan kedua bahunya. Raya menaikkan kedua alisnya.
"Kamu itu beneran... jenius!" kata Raya.
"Eh?"
"Nggak tahu sih, tapi beberapa kenalanku yang anak musik, suka tertekan kalau ada tugas bikin lagu padahal cuma bagian reff doang. Katanya bingung, nggak ada inspirasi," kata Raya.
"Sedangkan kamu? Ngeliat kamu bikin satu lagu utuh tuh kayak yang nggak pusing gitu. Ngalir aja," lanjut Raya.
"Masa' sih?" tanya Melodi. Raya mengangguk mantap. Melodi tersenyum lalu kembali memetik gitarnya.
Raya lalu beranjak dan berjalan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Melodi yang masih asyik dengan gitarnya. Melodi menatap dawai-dawai gitarnya sambil memainkan chord lagu barunya. Dia teringat percakapannya dengan Panji di KAC tadi pagi.
"Chord itu lagi?" tanya Panji. Melodi tersenyum.
"Udah dapet liriknya," kata Melodi. Panji menaikkan satu alisnya.
"Masa'? Coba denger,"
Melodi mulai memainkan chord intro lagu. Panji memperhatikan nada yang dipetik Melodi.
"Malam ini ku sendiri berdiri
menatap bintang di langit
mencoba mengganti senyummu
dengan kerlipnya yang jauh
Tapi nyata tak semudah angan
bayangmu selalu ada
menghantui malamku selalu
dengan senyummu yang semu
Tuhan... hapuskan dirinya
dari ingatanku
dari hatiku....
bebas... bebaskan aku
dari bayangnya
dari senyumnya
yang selalu membawa luka"
"Gimana?" tanya Melodi. Panji menatap Melodi dalam-dalam.
"Bagus. Seperti biasa," kata Panji. Melodi tersenyum puas.
"Lagu ini..." kata Panji. Dia lalu mengalihkan pandangannya.
"... rasanya..."
Panji terlihat ragu-ragu. Melodi dapat melihat wajah Panji dipenuhi rasa bingung dan takut.
"Hm? Kenapa, Pan?" tanya Melodi.
Panji menoleh. Dia menatap Melodi dalam-dalam.
"Cowok yang di tempat parkir tadi," kata Panji.
"Lagu ini... tentang dia kan?" lanjutnya.
Mata Melodi sedikit membulat. Dia terdiam. Melodi melihat Panji tersenyum kecut.
"Tepat sasaran?" tanya Panji.
"Eh?"
"Aku bener, kan?"
Melodi lagi-lagi terdiam. Dia menunduk menatap permukaan lantai KAC yang memantulkan bayangannya samar-samar.
"Nggak," jawab Melodi lirih.
"Nggak?"
"Aku cuma mainin apa yang ada di kepalaku," kata Melodi, masih sambil menunduk.
"Pertanyaannya," kata Panji.
"Apa yang ada di kepalamu? Cuma nada? Atau ada yang lain?" lanjutnya.
Melodi mencoba mencari kata untuk menjelaskan pada Panji. Tapi, saat mulutnya terbuka, satu wajah terlintas dalam pikirannya. Melodi hanya terdiam di sepanjang sisa waktunya di KAC.
Kini Melodi kembali menatap permukaan lantai kosnya. Dia mencoba memahami apa yang sedang dia pikirkan dan rasakan. Sosok Abas yang berdiri diam di area parkir KAC terlintas di benaknya.
'Kenapa aku nggak bisa berhenti mikirin orang itu?'
***
Panji berbaring di atas tempat tidur di kamar kosnya. Dia menatap langit-langit kamarnya lalu menghela napas panjang.
Sepulang dari KAC siang itu, Panji terus memikirkan apa yang dia katakan pada Melodi. Panji mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa aku ngomong kayak gitu ke dia?" gumam Panji.
Panji masih ingat wajah Melodi saat dia menanyakan tentang lagu barunya. Melodi terlihat bingung. Dia bahkan hanya memainkan gitar dalam diam di sepanjang sisa waktu mereka di KAC.
"Harusnya aku cukup bilang lagu itu bagus," gumam Panji.
Panji bangun dari rebahan. Dia duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap lurus ke arah dinding. Di sana sebuah foto terpasang. Sebuah foto seorang gadis yang sedang bermain gitar sambil tersenyum lebar. Sebuah foto yang selama ini hanya sanggup ditatapnya diam-diam di dalam kamar kosnya. Sebuah foto yang mengingatkannya... bahwa mungkin perasaannya tak akan pernah berbalas.
'Harusnya... aku nggak merasa cukup cuma jadi temen deketmu,'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪