Indonesia
NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:589
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Melodi Dari Kegelapan.

“Oh, Anakku! Kau akhirnya pulang, Edward!”

Ratu Tiana serta-merta melesat maju, merengkuh tubuh putranya ke dalam pelukan yang teramat erat.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, Nak! Kau baik-baik saja, kan?! Tidak ada bagian tubuhmu yang sakit atau luka, kan?!”

“Ibunda... aku baik-baik saja,” ujar Edward menepuk pelan punggung ibunya, mencoba menenangkan. “Ibu tidak perlu cemas berlebihan seperti ini.”

Ratu Tiana perlahan melepaskan pelukannya. Manik matanya kemudian beralih menatap helai rambut Edward—yang ternyata masih berada di tingkat pendaran terendahnya, yaitu warna oranye tua dengan gradasi merah menyala.

Melihat pertanda bahwa energi dan kesehatan putranya belum pulih seutuhnya, tatapan Ratu Tiana berubah pilu. Meski ia berusaha keras menyembunyikan duka itu di balik senyuman hangatnya, air mata keharuan tetap merebak di pelupuk matanya.

Dengan jemari yang lembut, sang Ratu menyisir helai demi helai rambut Edward, sebelum akhirnya kembali membawa tubuh putranya ke dalam pelukannya.

“Bagaimana bisa Ibu tidak cemas... Melihat kondisi rambutmu yang masih seperti ini, tentu saja Ibu sangat khawatir,” bisiknya pelan dengan suara bergetar di bahu Edward.

“Tapi... di samping itu semua, Ibu teramat lega melihatmu pulang tanpa ada kurang suatu apa pun.”

Raja Nolan melangkah mendekat. Sebuah senyuman lega terukir di wajah tegas sang Raja saat ia menepuk bahu putranya pelan.

“Syukurlah kau selamat dan kembali utuh, Edward. Ibumu ini tidak ada hentinya berjalan bolak-balik di atas lantai istana hanya karena memikirkan keadaanmu.”

“Tentu saja aku cemas!” tegur Ratu Tiana berkacak pinggang, menatap suaminya tajam.

“Ibu mana yang tidak panik melihat putranya terbang melesat ke angkasa dalam keadaan sakit parah?! Terlebih lagi Edward pergi tanpa kabar selama enam hari penuh! Tentu saja aku merasa sangat cemas!”

“Iya, iya, aku tahu...” Raja Nolan terkekeh pelan, lalu kembali menatap Edward.

“Yang terpenting, kau sudah kembali ke istana ini dengan selamat, Edward. Tapi... kau sempat mampir ke Nivalis dulu sebelum ke sini, kan? Kau tahu... untuk menemui Putri Iselyna?”

Raja Nolan menyipitkan mata goda, lalu melanjutkan, “Sejak kepulangan kami dari sana, gadis itu tidak berhenti memancarkan raut wajah cemas dan meminta maaf. Aku sangat yakin benaknya selalu dipenuhi oleh dirimu.”

“Ah, kau benar sekali, Sayang!” Ratu Tiana mengangguk setuju, lalu beralih mengunci pandangan ke arah manik mata putranya.

“Kau sudah menemuinya, kan, Edward?”

Szzzzt—!

Rona merah padam seketika merebak hebat di kedua belah pipi Edward.

Tanpa sanggup membalas tatapan ibunya, sang Pangeran serta-merta memalingkan wajahnya ke arah lain dengan canggung.

Melihat reaksi spontan putranya, Raja Nolan dan Ratu Tiana saling pandang, lalu menyunggingkan senyuman jahil yang teramat kompak.

“Oho... begitu rupanya,” goda Ratu Tiana yang langsung paham arti dari ekspresi malu-malu pangeran muda itu.

“Syukurlah kalau kau sudah menemuinya... Lalu bagaimana? Apakah kalian berdua sudah... ehem?”

Raja Nolan dan Ratu Tiana mendadak berpelukan erat, memeragakan gerakan mesra secara dramatis sembari melirik jahil ke arah Edward—seolah memberi godaan tanpa suara mengenai apa yang baru saja terjadi di langit Nivalis.

Wajah Edward yang tadinya merona kini berubah merah padam sepenuhnya hingga ke ujung telinga!

Bagaimana tidak? Segala peragaan dan tebakan jahil kedua orang tuanya itu seratus persen tepat sasaran mengenai adegan ciuman di bawah aurora malam!

“A-A-A-Apa-apaan sih kalian ini?! Sudahlah! Aku mau kembali ke kamarku saja!”

Edward yang mendadak gagap dan salah tingkah langsung memutar badannya, melesat pergi meninggalkan area aula dengan langkah seribu!

Gelak tawa kebahagiaan Raja Nolan dan Ratu Tiana seketika pecah menggema, menyaksikan tingkah menggemaskan dari putra kebanggaan mereka yang tengah dimabuk asmara.

Namun, di sela-sela tawanya, Raja Nolan mendadak kembali memanggil nama putranya.

“Oh, Edward! Satu hal lagi,” seru sang Raja yang membuat langkah kaki Edward seketika terhenti di ambang pintu.

“Besok adalah hari pertamamu masuk ke akademi.”

Edward menoleh sejenak, wajahnya masih memancarkan rona merah canggung. “Untuk apa?”

“Lho, bukankah sebelumnya kau sendiri yang menyetujui untuk masuk ke Akademi Lumina?” Raja Nolan menaikkan sebelah alisnya. “Kau harus mulai bersiap-siap dari sekarang untuk besok.”

“Ah... iya, aku sampai lupa,” gumam Edward menepuk dahi pelan.

“Kalau begitu, aku akan langsung pergi ke kamar untuk berkemas dan bersiap. Tapi... apakah Ayahanda benar-benar yakin pihak akademi akan menerimaku begitu saja?”

Raja Nolan terkekeh mantap mendengar keraguan putranya.

“Kau adalah sosok pemuda yang berhasil menyelesaikan insiden Wild Dungeon sendirian, sekaligus pahlawan yang menyelamatkan Kerajaan Nivalis dari kehancuran beserta Ratu Elizabeth dari kematian. Hanya orang bodoh yang menolak murid dengan bakat luar biasa sepertimu!”

Raja Nolan menyunggingkan senyum bangga, lalu melanjutkan, “Lagipula, bukankah Ayah sudah pernah bilang kalau hal ini sudah dibicarakan langsung dengan Kepala Akademi? Jadi, kau tidak perlu khawatir sama sekali.”

Edward tersenyum lega, lalu membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

“Kalau begitu baiklah. Aku akan segera beristirahat agar bisa bersiap besok pagi. Terima kasih banyak, Ayahanda.”

Edward berbalik, berniat melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadi.

Namun, tepat sebelum ia melintasi pintu aula, suara Ratu Tiana kembali menggema bernada geli:

“Ingat ya, Nak! Jangan sampai kau begadang semalaman hanya karena terus memikirkan wajah Putri Iselyna! Bisa-bisa kau terlambat bangun di hari pertamamu!”

HAHAHAHA!

Gelak tawa Raja Nolan kembali pecah bersahut-sahutan dengan godaan istrinya.

Szzzzt—!

Rona merah di wajah Edward seketika kembali membara hebat hingga ke leher! Tanpa berani menoleh lagi, sang Pangeran langsung berlari kecil keluar dari aula utama menuju kamarnya sembari menutup pintu aula rapat-rapat.

Di sepanjang lorong istana yang hening, langkah kaki Edward bergema pelan.

Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan Bernard. Raut wajah pelayan tua itu seketika berbinar cerah, dan dengan sigap ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam memberi penghormatan penuh.

“A-Anda sudah kembali, Tuan Muda! Syukurlah... syukurlah Anda baik-baik saja,” ujar Bernard dengan nada suara yang diliputi rasa syukur teramat dalam.

Edward tersenyum tipis. “Angkat kepalamu, Bernard. Terima kasih banyak karena sudah mengkhawatirkan kondisiku.”

Edward melanjutkan langkahnya pelan, lalu menambahkan, “Oh iya, Bernard... Bisakah kau menyiapkan seluruh keperluanku untuk besok pagi? Aku akan mulai masuk ke akademi esok hari, dan aku tidak ingin datang terlambat di hari pertamaku.”

“Tentu saja, dimengerti, Tuan Muda,” jawab Bernard sigap. “Apakah saya juga perlu menyiapkan kereta kuda istana untuk Anda?”

Edward menoleh sejenak, memasang wajah sedikit bingung. “Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Bernard terkekeh pelan. “Biasanya, Anda jauh lebih memilih untuk terbang langsung ke lokasi daripada harus duduk berjam-jam di dalam kereta kuda.”

“Ah... tadinya aku juga berpikiran untuk terbang saja,” desah Edward sembari terkekeh canggung.

“Tapi kalau aku terbang, Ibunda pasti tidak akan memberikan izinnya. Padahal... terbang jelas jauh lebih cepat daripada naik kereta kuda.”

Bernard kembali menundukkan kepalanya khidmat. “Tentu saja, Tuan Muda. Yang Mulia Ratu Tiana pasti sangat memperhatikan keselamatan Anda. Saya akan segera menyiapkan seluruh keperluan sekolah beserta kereta kuda terbaik.”

“Satu hal lagi... tolong bangunkan aku esok pagi ya,” tambah Edward sembari tersenyum canggung. “Aku sedikit takut kalau-kalau aku kesiangan.”

“Serahkan pada saya, Tuan Muda. Anda bisa selalu mengandalkan saya.”

Edward mengangguk lega, lalu berlalu melintasi lorong istana menuju kamar pribadinya.

Bernard menegakkan tubuhnya, menghembuskan napas panjang sembari menatap punggung Tuan Mudanya yang kian menjauh.

Sebuah senyuman hangat terpatri di wajah keriput pelayan tua itu.

Meski Edward telah melalui berbagai macam pertempuran mengerikan dan memikul beban dunia yang teramat berat, tidak ada satu pun hal yang sanggup mengubah kebaikan serta kehangatan isi hatinya. Pemuda itu... selalu saja sanggup tersenyum ramah pada siapa pun.

Dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya, Bernard berbalik arah meninggalkan lorong istana—bergegas menyiapkan segala kebutuhan sang Pangeran untuk menyambut hari pertamanya di Akademi Lumina.

***

Di kegelapan hutan yang sunyi, tepat di celah-celah sempit pegunungan yang terisolasi, sebuah mulut gua berdiri kokoh di atas tebing tinggi nan curam. Cahaya rembulan malam menyinari tempat itu dengan pendaran perak yang dingin.

Di sana, seorang pria tampak terduduk santai di atas batu besar sembari memainkan sebilah seruling kayu. Alunan nadanya mengalun begitu merdu menembus keheningan malam.

Helai rambutnya terurai bebas dipermainkan angin, sementara jubah cokelat yang mengenakan tubuhnya terkibar halus laksana ombak di lautan.

Suara seruling yang mengiringi keindahan rembulan itu perlahan memikat para penghuni malam untuk berdatangan. Mulai dari hewan-hewan pengerat kecil, burung-burung malam, hingga dua ekor Goblin liar di belakangnya yang tampak menari-nari ikhlas mengikuti irama.

Entah karena mereka benar-benar menikmati musik indah tersebut... atau karena alunan nada seruling itu secara sihir memaksa mereka untuk menikmatinya.

Fwooosh—!

Seekor burung merpati berwarna hitam pekat mendadak terbang meluncur dan hinggap di atas dahan pohon, tak jauh dari tempat sang pemetik seruling berada.

Pria itu menghentikan tiupan serulingnya. Sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya saat menyadari kehadiran sang burung.

“Bukan sekadar hewan biasa, ya...? Jadi, siapa kau sebenarnya?” bisik pria itu santai.

“Aku punya sebuah pekerjaan besar untukmu,” sahut burung merpati hitam itu—mengeluarkannya dalam bentuk nada suara pria dewasa yang berat dan bergema.

“Dan tentu saja... imbalan yang kupersiapkan cukup untuk membeli satu buah negara.”

Pria berseruling itu menaikkan sebelah alisnya, tertarik. “Lanjutkan...”

“Targetmu adalah calon pewaris sah Kerajaan Nivalis,” ujar sang burung tegas.

“Aku ingin kau menyelesaikan tugas ini dengan cepat dan bersih. Seluruh imbalanmu akan segera dilunasi tepat saat misi ini sukses. Dan ingat... jangan sampai gagal.”

Pria itu tersenyum miring. “Ternyata putri itu, ya...? Kalau begitu, aku minta imbalannya dinaikkan menjadi dua kali lipat. Jika kau tidak sudi, silakan cari pemotong leher yang lain.”

“Kau...!” Mata burung merpati itu menyipit tajam, mengeluarkan geraman kesal.

“Aku tahu betul apa yang terjadi pada 'pion' yang belum lama ini kau utus ke sana,” potong pria berseruling itu santai sembari memutar-mutar seruling di jemarinya.

“Bahkan dengan bantuan monster purba sekelas Amorfos sekalipun, orangmu itu tetap gagal total menghancurkan Nivalis. Jadi bagaimana? Apakah kita sepakat dengan harga dua kali lipat?”

Suara dari dalam tubuh burung merpati itu membisu sejenak, sebelum akhirnya menjawab dingin:

“Baik... Kita sepakat.”

“Nah, begitu dong. Kerja sama yang menyenangkan.”

Thud!

Tepat setelah kata-kata itu terucap, burung merpati hitam itu mendadak ambruk jatuh ke tanah—mati seketika dengan cairan busa beracun meleleh keluar dari paruhnya.

Pria berseruling itu menyeringai penuh arti.

Tanpa memedulikan bangkai burung di depannya, ia kembali menempelkan seruling kayu itu ke bibirnya dan mulai meniup alunan nada yang baru—menciptakan simfoni magis yang kembali membuat makhluk-makhluk kegelapan di sekitarnya menari riang di bawah gumpalan awan malam.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!