Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Telepon Adrian

Tempat Parkir

Silvia dan yang lainnya berdiri di samping mobil, menatap ke arah Kelvin dengan tatapan dingin.

Kelvin mengalihkan pandangan ke tempat lain, lalu berdeham pelan, “Ehem.”

Ia mengulurkan cumi-cumi bakar yang masih berada di tangannya kepada mereka, “Kalian masih mau makan nggak?”

Aroma cumi-cumi bakar yang harum langsung menyeruak ke hidung.

Mata Nelia masih memerah, tetapi ia tetap berpura-pura tenang saat mengangkat pandangan ke arah Kelvin. Ia tanpa sadar menelan ludah, tetapi masih saja gengsi, “Aku nggak mau.”

Silvia hanya bisa menghela napas tak berdaya, “Aku mau.”

Melihat cumi-cumi yang sudah diterima Silvia, Nelia langsung mengalihkan pandangan kepada Kelvin, “Kasih aku!”

Kelvin menyerahkan tusuk cumi-cumi itu kepada Nelia. Suaranya masih terdengar dingin, “Maaf. Aku nggak tahu Alice akan bertindak sejauh itu.”

Nelia sempat tertegun mendengar permintaan maafnya yang tiba-tiba. Ia menundukkan kepala dan menggaruk belakang kepalanya. Pipinya langsung memerah, “Nggak apa-apa. Lagipula semuanya sudah berlalu.”

Minnie memutar bola matanya, lalu menepuk dahinya dengan keras, “Nelia, dasar nggak tahu terima kasih.”

“Kita pulang ke apartemen?” Kelvin bertanya hati-hati kepada Silvia yang duduk di sampingnya.

Silvia hanya menjawab singkat, “Mm.”

Suasana di dalam mobil perlahan kembali tenang seperti sebelumnya.

Kedua tangan Kelvin menggenggam erat setir. Tatapannya tenang mengarah ke jalan di depan, tetapi hatinya terasa sangat tidak nyaman.

Ting Su Residence

“Terima kasih, Bang Kelvin.”

Setelah mengatakannya, Nelia langsung turun dari mobil. Minnie juga menyusul turun.

Silvia perlahan melepaskan sabuk pengamannya. Ia mengangkat pandangan kepada Kelvin, “Bang, cepat selesaikan semua masalahmu itu. Jangan biarkan perempuan-perempuan yang nggak jelas seperti tadi mengotori pandangannya lagi.”

Kelvin memijat pelipisnya dan menghela napas, “Maaf soal kejadian hari ini. Hal ginian tidak akan terjadi lagi.”

“Mm.” Silvia mengangguk pelan, “Terima kasih, Bang.”

Silvia mengembuskan napas pelan, lalu menempelkan telapak tangannya pada kunci sidik jari.

“Tit tit tit—”

Silvia mengganti sepatu di dekat pintu masuk. Matanya kemudian tertuju pada Minnie yang sedang berbaring di sofa, “Nelia di mana?”

Jari-jari Minnie yang panjang bergerak cepat di atas layar ponselnya. Mulutnya masih terus bergumam santai, “Dia sudah masuk kamar.”

Tatapan Silvia berhenti pada pintu kamar Nelia yang tertutup rapat. Matanya perlahan meredup. Ia berjalan tenang menuju kamarnya.

“Kalau sudah mau pergi, kabari aku. Biar aku bisa mengunci pintunya.”

Minnie meliriknya sekilas, “Ya, tahu kok.”

Langkah Silvia tiba-tiba terhenti. Seolah baru teringat sesuatu, ia menoleh, “Kenapa beberapa hari ini Adrian tiba-tiba nggak menempel terus sama kamu?”

“Selama proses serah terima pekerjaan, wajar kalau ada beberapa orang yang nggak menerima pengelola baru. Jadi memang sedikit merepotkan.” Suara Minnie terdengar santai. Tangannya tetap sibuk bergerak.

Di layar permainan, bar HP karakter yang dikendalikan Minnie masih hampir penuh. Dengan mudah, ia menghabisi karakter lawan, “Menang!”

Minnie langsung duduk tegak, lalu menoleh kepada Silvia, “Ada sesuatu yang perlu dibantu Adrian?”

Silvia menggeleng, “Nggak juga. Aku cuma penasaran saja. Soalnya setiap kali kamu pulang, rasanya nggak pernah ada satu hari pun Adrian nggak menempel terus sama kamu.”

Minnie bangkit dari sofa. Jarinya baru saja terangkat ke udara—

“Tut tut tut—”

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Minnie menunduk melihat nama yang muncul di layar.

Adrian Vale.

“Baru saja kamu cari orang itu, orangnya langsung muncul.”

Minnie memutar layar ponselnya ke arah Silvia, “Nih... orang yang kamu cari datang.”

Minnie menekan tombol jawab, “Halo? Adrian, kenapa?”

“Minnie…” Suara dari seberang telepon terdengar sangat lemah.

Setelah terdiam selama beberapa detik, suara itu kembali terdengar, “Sini terjadi sesuatu.”

Ekspresi Minnie seketika berubah dingin. Nada suaranya perlahan dipenuhi kepanikan, “Apa yang terjadi?”

Tidak ada jawaban dari seberang.

Minnie mulai kehilangan kesabaran, “Adrian! Bicara!”

Beberapa detik kembali berlalu.

Minnie akhirnya tidak sanggup hanya berdiri diam. Ia meraih jaket yang tergeletak di sampingnya, lalu bangkit hendak pergi.

Silvia dengan cepat meraih lengannya, ekspresinya serius, “Aku ikut.”

“Jangan…” Minnie mengernyit dan baru hendak menolak, tetapi tatapan Silvia membuatnya terdiam sesaat.

Sepasang mata yang biasanya selalu tenang itu kini memancarkan keteguhan yang belum pernah Minnie lihat sebelumnya.

“Silvia, dengarkan aku. Jangan ikut campur dalam masalah ini.” Minnie memberikan peringatan terakhirnya.

Tangan Silvia yang menggenggam lengan Minnie sedikit mengerat. Tatapannya tetap lurus menatap Minnie, “Minnie, aku ikut kamu. Kamu nggak mungkin bisa menyembunyikanku di belakangmu seumur hidup.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!