Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Dia Ayahmu
"Loh Om..., kok Om yang jemput kami? Di mana mamiku?" tanya Kenzie saat mendapati keberadaan Sofyan di depan ruang kelasnya.
Dua bocah itu tidak mendapati keberadaan ibunya, melainkan seorang pria yang kenal cukup akrab dengan ibunya.
"Papi kalian yang memintaku buat menjemput kalian," jawab Sofyan.
"Papi siapa? Jangan ngawur kamu!" Kenzo berseru. "Selama ini kami cuma memiliki mami, tidak pernah memiliki papi. Dan di kehidupan kami tidak butuh papi," desisnya lagi.
Sofyan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia pikir kedua bocah itu sudah mengenal siapa ayahnya. Apa mungkin Erlangga tidak memberikan penjelasan pada mereka?
"M—maaf cil!" Sofyan menanggapinya dengan terkekeh. "Maksud Om itu Papi Erlangga. Dia itu kan ayah kandung kalian."
Dua bocah itu terkejut. "Apa? Dia ayah kami?"
"Sembarangan kalau ngomong! Om Erlangga itu teman kerjanya mami, bukan ayah kami. Om jangan mengada-ada. Ayah kami sudah meninggal, dan kami tidak butuh ayah baru."
Sofyan meneguk ludahnya sembari menggumam, 'kacau! Kalau sudah seperti ini siapa juga yang disalahkan. Ujung-ujungnya aku juga yang kena semprot si bocil. Makanya, kalau mau cari enak jangan asal-asalan. Kalau sudah seperti ini orang lain juga yang dibikin repot."
"Cil, om saranin kalau mau marah sama papi kalian, jangan sama Om. Om nggak tahu apa-apa," cicit Sofyan. "Yaudah, mendingan sekarang ayo kita pulang. Kalian sudah ditunggu di rumah."
"Jadi ini alasannya ngajak kita tinggal di rumahnya," gerutu Kenzo. "Tahu gitu lebih baik tinggal di rumah kontrakan aja."
Agak kecewa setelah tahu kebenarannya. Meskipun pernyataan itu tidak keluar dari mulut ibunya tapi Sofyan cukup mengenal dekat ibunya, tidak mungkin pria itu berniat untuk membohonginya.
"Kupikir dia cuma rekan kerja mami, nggak tahunya papi kita," gerutu Kenzie.
"Yaudahlah. Kita pulang sekarang. Kita tanya langsung sama mami." Kenzo dengan langkah dinginnya mendahului Kenzie dan juga Sofyan.
Setibanya di rumah mereka disambut hangat oleh Ayuna dan juga Erlangga. Namun dua bocah itu tak membalas sambutan Erlangga.
"Sayang, ini kenapa mukanya kok ditekuk gitu? Lagi ada masalah, kah?" tanya Ayuna.
"Masalahnya itu dari mami," sungut Kenzo.
Ayuna mengerutkan keningnya. " Maksudnya?"
"Udahlah mi, nggak usah sok bingung gitu," seru Kenzie.
"Ya tapi kan mami nggak ngerti apa maksud kalian. Memangnya mami buat masalah apa sama kalian? Bukankah tadi pagi kalian baik-baik saja?"
Erlangga melirik ke arah Sofyan yang masuk ke dalam rumah. Dia meminta pria itu untuk memberikan penjelasan terkait putranya yang pulang dengan membawa amarah.
"Sofyan, bisalah kau jelaskan apa yang terjadi pada mereka?"
Sofyan menggaruk kepalanya. A—anu Tuan."
Erlangga menajamkan matanya. "Anu apa? Jawab yang benar!"
Erlangga jadi salah tingkah sendiri. "Anu Tuan, tadi saya keceplosan. Maaf..., saya tadi bilang kalau Tuan itu Ayah kandung mereka."
So—fyan...!!"
Tangan Erlangga mengepal dengan raut wajah dingin menyeramkan.
"Aku menugaskanmu buat menjemput mereka, bukan menyuruhmu menjadi guru. Lancang!"
"M—maaf Tuan." Sofyan menurunkan suaranya dengan wajah menunduk.
Erlangga mengedarkan pandangannya ke arah dua bocah yang kini duduk di sofa dengan muka tertekuk. Di situ ada Ayuna yang juga bergabung bersama mereka.
"Sayang, maafin mami. Tidak seharusnya mami berbohong."
Kedua bocah itu menoleh serempak. "Jadi benar, dia papi kami?"
Ayuna menoleh sekilas pada Erlangga yang masih berdiri tak begitu jauh di sampingnya. "Iya benar, dia papi kalian."
"Bukannya mami bilang kalau papi sudah mati," seru Kenzo. "Selama ini kita selalu bertiga. Dia nggak pernah datang menemui kita. Bahkan saat kita diusir sama nenek, dia nggak ada untuk membantu kita. Sekarang tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai papi kami. Apa ini tidak keterlaluan namanya?!"
"Papi minta maaf. Papi nggak pernah tahu kalau kalian dilahirkan." Erlangga berjongkok tepat di depan dua bocah itu. Dia memasang muka melas berharap belas kasih dari mereka.
"Maaf? Enak sekali bilang maaf," desis Kenzo. "Di saat kami dicaci maki, dibenci bahkan dikata-katain sama banyak orang nggak ada tuh Om datang buat belain. Sekarang tiba-tiba minta maaf seolah-olah tak terjadi apa-apa. Kalau maaf bisa dibeli dengan mudah, berarti nyawa juga tak berarti kan, Om?"
"Sayang! Jangan bicara kasar seperti itu. Bersikaplah yang sopan," seru Ayuna. "Mami nggak pernah ngajarin kalian buat kurang ajar sama orang tua. Dia itu ayah kalian. Jangan berani ngelawan kayak gitu. Kalian itu masih kecil, jangan berani melawan orang tua, dosa!"
Meskipun posisi Erlangga bersalah, tapi sebagai ibu, Ayuna tidak ingin anak-anaknya membenci ayahnya sendiri. Mungkin dulu Erlangga pernah berniat untuk mencarinya, hanya saja pria itu gagal, ditambah lagi dengan ia yang memilih untuk bungkam.
"Kalau orang tua yang menelantarkan anaknya apa itu tidak dosa?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Kenzo. Erlangga hampir tak percaya, benihnya bisa tumbuh sepintar itu. Ia berpikir mereka masih terlalu dini dan lebih suka bermanja-manja, tapi yang ia lihat saat ini anaknya memiliki pemikiran layaknya orang dewasa.
"Sayang, papi akui sudah berdosa terhadap kalian, tapi papi mohon, maafkan papi. Papi ingin menebus semua kesalahan papi."
"Dengan cara apa?" tanya Kenzo dengan muka sok cool.
Erlangga menoleh sekilas pada Ayuna. Di situ Ayuna diam, seolah-olah tak peduli dengan kegelisahannya.
"Dengan cara apapun, yang penting bisa buat kalian senang. Gimana? Apa kalian mau maafin papi?"
Ujung bibir Kenzo menarik. "Kalau kami nggak mau maafin?"
"Jangan begitu dong bang!" Diam-diam Kenzie mulai simpati terhadap Erlangga. "Papi itu bukan penjahat. Dia berniat ingin meminta maaf. Masa nggak dimaafin?"
Erlangga mengulas senyuman tipis, setipis tisu hingga nyaris tak terlihat.
"Bukan penjahat," sungut Kenzo. "Sejak kita bayi hingga sekarang, tak sekalipun dia jenguk kita. Saat tinggal di rumah nenek kita dimaki-maki tiap hari dia nggak pernah datang untuk menemui kita. Bahkan di saat kita diusir dari rumah nenek, dia juga nggak ada buat bantu kita."
Dengan amarah yang memuncak bocah itu mengutarakan kekesalannya. Bahkan Erlangga dibuat tak berkutik.
"Kau bilang dia bukan penjahat. Terus kalau bukan penjahat lalu apa namanya?"
Sofyan yang ada satu ruangan dengan mereka diam-diam tersenyum, dia terlihat senang melihat Erlangga dimaki-maki oleh bocah lima tahun.
"Kenzo! Bisakah kau bicara dengan baik?" Ayuna langsung melayangkan tatapan dingin padanya. "Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi kita sebagai manusia seharusnya bisa memaafkan. Tuhan saja maha pemaaf, kenapa kita yang hanya manusia biasa nggak bisa memaafkan?"
"Justru karena kita cuma manusia biasa sangat sulit untuk memberinya maaf. Orang macam dia nggak patut buat dikasih hati. Dibaikin bakalan ngelunjak, dikasih hati juga bakalan minta jantung," desis Kenzo dengan geramnya. "Ngomong-ngomong kenapa dari tadi mami berniat untuk membelanya? Atau jangan-jangan mami sudah terpengaruh oleh bujuk rayunya?"