Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 33
Bisma tertawa terbahak-bahak, suara kekehannya yang tajam dan beracun memantul di dinding ruang kerja yang serba mewah itu. Ia memindahkan posisi pistolnya, kini mengarahkannya tepat ke dada Arsen.
"Percaya padamu?" cibir Bisma, wajah keriputnya mengeras oleh kedengkian.
"Jangan bertingkah seperti pahlawan di hadapanku, Arsen! Kamu tidak punya pilihan! Anak buahku sudah membersihkan seluruh souvenir box di hotel. Semua flashdisk dan dokumen audit yang kamu titipkan pada Danu sudah dibakar sampai jadi abu setengah jam yang lalu!"
Deg.
Tsania membelalakkan matanya, menatap Arsen dengan rasa panik yang makin membumbung tinggi. "Mas... dokumen itu..."
"Asistenmu Danu itu juga sudah dikunci di dalam gudang kantor," tambah Bisma dengan senyum kemenangan yang amat memuaskan dahaganya akan kekuasaan.
"Kamu Sendirian, Arsen. Tidak ada bukti, tidak ada sekutu, dan tidak ada jalan keluar."
Arsen tidak menyahut. Pria itu berdiri tegap, merapikan kerah kemeja putihnya yang sedikit kusut dengan gerakan amat tenang, sebuah ketenangan yang mendadak terasa janggal dan mengerikan di tengah gertakan senjata api.
"Papa yakin sudah memusnahkan semuanya?" tanya Arsen pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin.
Bisma mengerutkan dahi, alis tebalnya bertaut curiga. "Apa maksudmu?!"
Arsen melangkah satu tapak ke depan, sama sekali tidak gentar pada moncong pis-tol yang mengarah ke da-danya. Manik matanya memancarkan keangkuhan dan kecerdasan yang jauh melampaui perhitungan sang ayah.
"Papa lupa satu hal," bisik Arsen, suaranya tenang namun mengintimidasi.
"Aku ini anak kandungmu, Bisma Pratama. Aku belajar seluruh trik busuk dan cara berpikir manipulatif langsung dari iblisnya."
Tsania menahan napas, dadanya berdebar liar melihat perubahan aura Arsen yang mendadak berbalik menguasai keadaan.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Arsen?!" bentak Bisma, cengkeramannya pada gagang pistol mendadak bergetar tipis.
"Dokumen yang dipegang Danu itu cuma umpan," cetus Arsen renyah, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya.
"Aku tahu Papa memata-matai setiap gerak-gerikku. Aku tahu Papa memasang orang untuk membuntutiku ke rumah sakit. Jadi, aku sengaja membiarkan Danu membawa dokumen palsu itu agar orang-orang Papa fokus padanya."
Bisma membelalakkan mata, raut wajah pimpinannya yang digdaya mulai retak oleh rasa panik. "Lalu di mana bukti yang asli?!"
"Bukti asli kekejaman Papa pada almarhum ayah Tsania, aliran dana pencucian uang bersama ayah Aurelia, beserta rekaman suara ancaman Papa pagi ini..." Arsen menyentuh jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya yang menyala redup dengan pendar lampu merah mikro.
"Sudah terhubung secara real time ke server kejaksaan agung dan sistem pemancar utama stasiun televisi nasional."
"Mmph...!" Tsania menahan jeritannya, matanya berbinar-binar penuh haru dan ketakjuban yang luar biasa.
"Jam tangan ini dilengkapi pemancar suara dan GPS aktif," lanjut Arsen seraya menatap ayahnya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Sejak aku melangkah masuk ke ruangan ini, seluruh pembicaraan kita, termasuk pengakuan Papa soal pembunuhan dan ancaman pis-tol ini sudah direkam dan didengar langsung oleh tim penyidik kepolisian yang saat ini sedang menuju ke rumah ini."
"Kamu... kamu gila, Arsen!" jerit Bisma murka. Wajah tua itu memerah padam, tangannya gemetar hebat saat menekan pelatuk pistol.
"Aku bisa membu-nuh wanita ini sekarang juga!"
"Tembak saja, Pah," tantang Arsen tajam, tatapannya membeku laksana es murni.
"Tembak Tsania, dan Papa akan dipenjara atas tuduhan pembu-nu-han berencana tingkat satu tanpa ada celah jaminan. Tapi kalau Papa turunkan sen-ja-ta itu sekarang... mungkin hukumannya hanya seumur hidup."
"Pilihan yang bagus, Pak Bisma," sebuah suara tegas yang asing mendadak menggelegar dari lorong luar.
Brak!
Pintu ganda mahoni ruang kerja itu didorong paksa hingga terbuka lebar. Raihan melangkah masuk paling depan bersama lima personel kepolisian bersenjata lengkap yang langsung mengarahkan senapan ke arah Bisma dan dua pengawalnya.
"Angkat tangan! Jangan bergerak!" teriak komandan polisi dengan suara lantang.
Dua pengawal Bisma langsung mengangkat tangan ketakutan dan berlutut di lantai. Bisma membeku di tempatnya, pistol perak di tangannya terlepas dan jatuh terbentang ke atas karpet dengan bunyi berdenting kencang. Wajah penguasa Pratama Group itu pucat pasi, seluruh kejayaannya runtuh dalam hitungan detik.
"Tsania!" jerit Raihan bergegas berlari mendekati kursi.
Arsen melangkah lebih cepat. Pria itu berlutut di hadapan Tsania, memotong tali tambang yang mengikat tubuh wanita itu menggunakan pisau lipat kecil dari sakunya dengan jemari yang gemetar hebat karena rasa cemas yang baru bisa dicurahkannya.
Begitu tali terlepas sepenuhnya, Tsania langsung menghamburkan tubuhnya, memeluk leher Arsen rapat-rapat.
"Mas Arsen...!" tangis Tsania pecah seketika, dadanya terisak-isak hebat di pelukan pria itu.
"Aku takut... aku takut sekali... Aku kira semua akan berakhir hari ini..."
Arsen merengkuh tubuh rapuh Tsania dengan amat erat, membenamkan wajahnya di leher wanita itu seraya mengecup pelipisnya berkali-kali. Air mata lega akhirnya menetes dari mata sang CEO.
"Maafkan Mas, sayang... Maaf membuatmu takut," bisik Arsen parau, suaranya sarat akan kehangatan yang amat dalam.
"Sudah selesai... semuanya sudah berakhir. Tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu."
Di sudut ruangan, polisi memborgol kedua tangan Bisma Pratama. Pria tua itu menatap putranya dengan tatapan tak percaya dan keputusasaan yang mendalam saat diseret keluar dari ruangannya sendiri.
"Kamu menghancurkan Papamu sendiri, Arsen!" teriak Bisma histris saat melewati pintu.
"Kamu menghancurkan nama Pratama!"
Arsen berdiri perlahan seraya tetap menuntun dan merangkul pinggang Tsania dengan posesif. Ia menatap kepergian ayahnya tanpa ada sedikit pun penyesalan di matanya.
"Nama Pratama sudah hancur sejak Papa mengotorinya dengan darah orang tidak bersalah," sahut Arsen dingin.
Tsania menyandarkan kepalanya di dada tegap Arsen, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.
"Lalu... bagaimana dengan acara pertunangan malam ini di hotel, Mas?" tanya Tsania pelan seraya menatap wajah Arsen yang kini dipenuhi goresan luka memar.
Arsen menunduk, menyunggingkan senyuman paling hangat yang membuat matanya berbinar indah. Ia mengusap pipi Tsania yang basah dengan lembut.
"Acara di Grand Ballroom tetap berlangsung, Ratuku," bisik Arsen mantap.
"Tapi bukan untuk pertunanganku dengan Aurelia, melainkan untuk mengumumkan penangkapan para penjahat itu, serta membersihkan nama baik almarhum Ayahmu di depan seluruh media. Dan acara pernikahan kita, kamu mau kan, Tsania? Menikah dengan Mas?"
"Aku mau, Mas..."
Arsen menggenggam erat jemari Tsania, menempelkan bibirnya di punggung tangan wanita itu.
"Dan setelah itu..." lanjut Arsen dengan nada suara yang bergetar penuh cinta.
"Kamu tidak apa-apa kan? Kalau kita akan memulai semuanya dari nol bersamamu. Apakah kamu bersedia mendampingi pria yang sudah tidak punya jabatan dan harta ini, Tsania?"
Tsania tersenyum di balik sisa air matanya, menggenggam balik jemari Arsen dengan teramat erat.
"Aku tidak pernah mencintai jabatanmu, Mas Arsen... Aku cuma mencintai priaku yang berjanji meratukanku di kafe kecil itu."
👍👍👍👍
selamat mendekam d penjara pak Bisma