Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELAYARAN
Kapal besar itu akhirnya membelah gelombang samudra, meninggalkan pesisir Jawa yang makin lama makin menghilang di balik ufuk.
Rombongan Sena kali ini bukan sekadar perantau biasa, melainkan pondasi awal bagi peradaban baru. Di samping Sena dan Rimbu, ada tiga pelayan wanita yang setia mendampingi sang istri, serta seorang pendekar wanita tangguh yang diutus khusus oleh Ibunda Ken Dedes untuk mengawal Rimbu ke mana pun ia melangkah.
Di barisan pengawal, sepuluh prajurit veteran berusia sekitar 46 hingga 50 tahun berdiri tegak di atas geladak. Meski usia mereka tak lagi muda, kekar otot dan sorot mata tajam mereka adalah saksi dari puluhan medan perang yang telah mereka lewati. Kesetiaan mereka kepada Sena tak perlu diragukan lagi.
Dengan total 14 orang dalam rombongan inti, ditambah perbekalan makanan, minuman, dan pakaian yang sangat melimpah untuk konsumsi lebih dari satu bulan, perjalanan ini telah direncanakan dengan amat matang.
Sebelum berlayar dari pelabuhan Singhasari, Mpu Sura beserta tiga pandai besi sahabatnya sudah menunggu. Mereka memboyong serta peralatan tempa, pasokan logam pilihan, dan perlengkapan dasar pertukangan yang siap digunakan untuk membuka lahan serta membangun basis kekuatan di tanah seberang.
Layar agung dibentangkan, diterpa angin laut yang berembus kencang ke arah utara. Perjalanan laut yang diperkirakan memakan waktu satu bulan menuju Ujung Medini pun dimulai. Di atas geladak, Sena berdiri menatap lautan lepas bersama Rimbu, siap menyongsong takdir baru yang menanti di Selat Malaka.
Di tepi geladak, Rimbu bersandar pada pagar kayu kapal, membiarkan angin laut bertiup memainkan rambutnya. Wajahnya berseri-seri menikmati hamparan lautan biru yang membentang tanpa batas—sebuah pemandangan yang amat asing dibanding rindangnya pedalaman Jawa.
Sena berdiri amat dekat di sampingnya. Tangannya bersiaga merangkul sang istri jika gelombang mendadak menghantam. Bagaimanapun, lautan menyimpan bahaya tak terduga—dari badai mendadak, pusaran air, hingga ancaman lain yang jauh berbeda dari pertempuran darat.
"Ujung Medini tempat seperti apa itu, Kanda?" tanya Rimbu tanpa memalingkan wajah dari garis horizon.
"Aku pun belum pernah ke sana," jawab Sena jujur.
Rimbu seketika menoleh, matanya membelalak kaget. "Loh, terus bagaimana kalau belum pernah ke sana? Nanti kita tersesat!"
Sena tertawa kecil melihat ekspresi panik istrinya yang menggemaskan.
"Tenang saja, juru mudi kapal sudah tahu jalurnya. Makanya aku sewa mahal," ujar Sena menenangkan.
Rimbu memicingkan mata, menunjuk dada Sena dengan jari telunjuknya. "Awas saja kalau sampai tersesat..."
"Tentu tidak," balas Sena santai. Ia memajukan wajahnya sedikit sembari berbisik, "Kalau tersesat, kita jadikan pemandu itu makanan ikan."
Rimbu tertawa renyah sembari mencubit pelan pinggang Sena. Candaan ringan di tengah deburan ombak itu perlahan mengikis kecemasan di hati sang istri, berganti rasa aman saat kapal terus melaju membelah lautan.
Malam merayap perlahan di tengah lautan lepas. Permukaan air tampak begitu tenang di bawah paparan sinar bulan, namun para prajurit veteran yang telah memakan asam garam peperangan paham betul bahwa ketenangan di laut sering kali menipu. Bau amis yang janggal mulai tercium, membawa firasat buruk yang mengusik naluri tempur mereka.
Sena yang berdiri di geladak mengamati kegelapan air di bawah sana. Ia menoleh ke arah sosok prajurit senior yang berdiri di depan dengan senjata terhunus.
"Paman Biru, tolong jaga yang lain," ucap Sena kepada Biru Jajago, veteran tangguh yang dulunya mengabdi setia pada Tunggul Ametung.
Biru Jajago memegangi hulu pedangnya, menatap Sena dengan raut khawatir. "Tapi lebih baik biarkan kami yang mengurusnya, Raden," tawar Biru.
"Tidak perlu. Aku ingin urusan ini cepat tuntas," balas Sena tegas.
Tanpa membuang waktu, Sena merapalkan ajian khusus pemberian Mpu Ranajaya—sebuah ilmu kuno penolak air yang membuatnya bisa bergerak bebas di kedalaman lautan seolah berjalan di daratan.
*BYURRR!*
Sena melompat menerjang kegelapan samudra. Di bawah lambung kapal, dalam remang dasar air, tampak beberapa wujud siluman laut mengerikan bermata merah membara sedang berusaha merusak dinding kayu kapal agar karam.
Tanpa kompromi, Sena melayangkan tebasan-tebasan mematikan berkecepatan tinggi. Pendar ajian mistisnya membakar makhluk-makhluk tersebut. Satu per satu siluman penghuni laut hancur menjadi buih sebelum sempat merusak kapal.
Proses pemusnahan itu berlangsung sangat singkat. Hanya dalam hitungan menit, ancaman gaib di kedalaman air tuntas tanpa sisa.
*BYUR!*
Sena melompat kembali ke atas geladak. Tubuh dan pakaiannya tetap kering sempurna berkat perlindungan ajian Mpu Ranajaya. Biru Jajago dan para veteran lainnya hanya bisa mengangguk penuh rasa hormat melihat kehebatan sang tuan.
Dengan langkah tenang, Sena berjalan menuju bilik kapal dan duduk bersiaga di dekat Rimbu yang tertidur lelap—menjaga sang istri dengan aman hingga fajar menyingsing.
Beberapa hari kemudian, cuaca di atas lautan sebenarnya sangat cerah tanpa selembar awan pun. Namun, secara mendadak dan tidak masuk akal, gelombang tinggi bergulung dan angin kencang mengamuk membanting kapal. Kapal kayu besar itu bergoyang hebat, melempar barang-barang di geladak.
"Ini bukan kehendak alam... ada yang sengaja membuatnya!" gumam Biru Jajago dengan mata menajam.
Sena yang berdiri di samping Rimbu hendak melangkah, namun kali ini sepuluh prajurit veteran langsung mengambil posisi tempur. "Izinkan kami yang membereskannya kali ini, Raden!" seru Biru Jajago.
Para veteran merapatkan barisan, merapalkan mantra perang lama dan menghunus senjata berbahan rajah. Setelah pertarungan gaib yang cukup alot di tengah deburan ombak, pengalaman bertempur puluhan tahun para prajurit tua itu membuahkan hasil. Mereka berhasil mengepung dan meringkus beberapa sosok jin laut yang menjadi dalang badai buatan tersebut.
Makhluk-makhluk halus berwujud mengerikan itu diseret dan diikat di atas geladak dalam keadaan tak berdaya. Sena melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara, ia mencabut pedangnya.
*BZZZT! TRASH!*
Dalam dua gerakan kilat, dua jin utama yang memimpin gangguan tersebut langsung ditebas hingga sirna menjadi debu hitam. Sisa jin lainnya yang menyaksikan eksekusi itu seketika gemetar hebat dan melengking ketakutan sembari menyembah meminta ampun.
"Ampun, Tuanku! Jangan musnahkan kami!" jerit mereka berhamburan.
Sena menatap mereka dingin. "Kalau ingin selamat, jadikan dirimu berguna. Dorong kapal ini agar cepat sampai!"
Jin-jin itu saling bertatapan dengan wajah pucat. "T-tujuannya ke mana, Tuanku?"
"Ujung Medini," jawab Sena singkat.
Mendengar nama itu, jin-jin laut tersebut langsung mengangguk patuh. Mereka segera melompat ke dalam air, mengambil posisi di bagian belakang lambung kapal, lalu menyalurkan tenaga gaib mereka untuk mendorong kapal kayu itu.
Efeknya seketika terasa. Badai buatan mereda, dan kapal meluncur deras di atas permukaan air dengan kecepatan luar biasa jauh lebih cepat dibanding hari-hari sebelumnya. Rimbu, Mpu Sura, dan seisi kapal bertukar pandang penuh rasa takjub menikmati laju kapal yang melesat bagai anak panah.
Terima kasih banyak atas dukungannya!
Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!