Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Akhirnya Ketemu Sama Mereka...
Di rumah, Moiro yang baru selesai mandi mendapat notif pesan dari Mika. Ia baru berjalan keluar dari ruangan menuju ruang tamu di tengah rumahnya.
Sebuah handuk masih melingkar di kepala saat berjalan mendekat ke arah ponselnya yang berada di atas sofa.
Kalo handuk di kepala, berarti di selangkangannya gak ada dong?!
Para pembaca, tutup mata kaliaaaan! Nanti ternodai...!
Ia mengusap-usap tangan yang masih sedikit lembab ke pakaiannya yang sudah dikenakan sebelumnya, lalu mengambil ponsel itu.
Oh, ternyata udah pake baju... Dasar Author! Gak ngasih tau di awal-awal!
Moiro pun membuka kontak Mika.
...——————————...
Mika Sano: aktif
...---...
Moiro, aku dapat pesan dari Ketua kelas.
Katanya, dia dan Yamaguchi tidak sengaja mendengar perbincangan kita, dan mereka ingin ikut kita malam ini.
^^^Benarkah?^^^
^^^Mereka tak punya niat lain, kan?^^^
Sepertinya tidak.
Mungkin mereka memang hanya ingin ikut bersenang-senang bersama kita.
^^^Begitu, ya?^^^
Jadi, bagaimana menurutmu?
^^^Selagi tak membuat masalah, menurutku mereka bisa ikut.^^^
^^^Tapi bagaimana denganmu?^^^
Aku akan senang jika kita jalan-jalan bersama. Semakin banyak orang semakin menyenangkan!
^^^Baiklah, kalau memang itu maumu.^^^
^^^Aku tidak keberatan.^^^
Terima kasih, Moiro!
Untuk waktu dan tempat, nanti kuberitahu pada mereka juga!
^^^Baiklah.^^^
[Stiker makanan memberi jempol sambil tersenyum]
...——————————...
"Stiker lagi. Sepertinya perempuan memang suka mengirim stiker saat mengakhiri obrolan," pikir Moiro.
Biar keliatan kiyut katanya.
Ia kembali meletakkan ponselnya lalu duduk bersandar di sofa. Dua tangannya menyangga kepala dengan santai karena sandarannya lebih rendah dari leher Moiro.
"Jalan bareng, ya...? Kayaknya bakal seru, sih," pikirnya sambil menatap langit-langit rumahnya, tanpa sadar tersenyum tipis.
Ekspresinya berubah datar dan kesal tiba-tiba, "Tapi besok masih harus kerja walau tanggal merah."
Moiro pun menghela napas panjang, merasa lelah jika malam natal ia tidak istirahat total dan besoknya masih harus bekerja.
"Tunggu bentar," ucap Moiro yang tersadar dengan mata membulat halus, lalu segera duduk tegak, "Itu berarti..."
Kedua tangannya memegang kepalanya, tubuhnya mulai bergetar, "Aku bakal foto-foto lagi sama pelanggan?! Pake baju maid?!"
"AAAAAARGHHHH!" teriaknya sambil mendongak dan mengacak-acak rambut, "GAK MAAUUUUUU!"
"WOII, JANGAN BERISIK!" seru tetangga yang lewat di depan rumahnya.
Nah loh. Kena marah lagi kan.
"M-Maafkan aku!" seru Moiro dari dalam setelah dimarahi.
"Aku dimarahin lagi..." bisiknya pelan, jiwanya seolah ikut keluar seiring dengan napas. Matanya putih bersih.
Jangan koit dulu! Cerita belum tamat!
"Tapi..." bisiknya lagi, mengingat pekerjaannya lagi hingga tubuh bergidik dan wajah membiru, "Kuharap gak ada cowok lagi yang suka sama penampilan itu..."
Urat halus muncul di pelipisnya, lalu berseru, "Lagian, mereka sadar gak sih kalo aku ini cowok?!"
Moiro langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, teringat kalau dirinya baru saja dimarahi oleh tetangga.
Ia hening sejenak, menatap ke arah luar dan tidak mendengar suara apapun.
Merasa lega, ia pun menghela napas panjang.
Moiro kembali bersandar di sofa, memikirkan kembali mengenai ajakan sebelumnya.
Alisnya mengerut cepat, setelah teringat wajah setan pengganggu yang juga akan ikut mereka nanti malam.
"Awas aja kalo macem-macem," batin Moiro sambil tersenyum miring, seolah telah memikirkan rencana jahats, "Mereka belum tau diriku saat di luar lingkungan sekolah."
Kayaknya dia punya semacam alter ego dah.
...***...
Malam natal pukul tujuh, mereka bersiap untuk berkumpul di suatu tempat.
Waktu itu, Moiro sedang berjalan mengenakan pakaian hangat berupa jaket tebal, selendang, dan sarung tangan. Ia melirik sekeliling, memastikan tempat yang didatanginya benar.
Moiro kembali membuka layar ponselnya, menggeser-geser layar untuk kembali memastikan, lalu berbisik pelan diikuti uap yang keluar dari mulutnya karena cuaca dingin, "Kalo gak salah, Mika pernah bilang sol tempat kumpul."
Moiro pun mendapatkan pesan itu yang bertulis “... kumpul di dekat halte bus ...”.
"Halte bus..." bisiknya pelan, lalu menatap sekeliling, mencari halte yang dimaksud.
Saat matanya melihat sebuah tempat semacam halte, ia langsung menghampirinya.
Sesampainya di sana, Moiro tak melihat siapapun, dan menduga kalau yang lain belum datang.
"Apa akunya yang datang kecepetan?" pikirnya tak lama kemudian, sambil menatap sekeliling yang dirasa sepi.
Tiba-tiba, suara notif pesan terdengar di ponselnya.
Moiro segera mengambil dan membukanya, dan melihat pesan—dari Mika—yang membuat matanya membelalak lebar.
“Moiro, kamu di mana? Kami sudah kumpul semua, nih."
"L-Lah...?" ucapnya pelan, sedikit bergetar dan bingung, "Bukannya aku juga di halte bus, ya? Apa haltenya beda?"
Awokawok, salah tempat.
Moiro segera menatap sekeliling lagi, melihat betapa sepinya tempat itu. Ditambah tempat yang ia diami saat itu terlihat sedikit lebih gelap dari tempat-tempat lainnya.
Ia segera memeriksa halte tempatnya berdiam dan menemukan sesuatu.
"Ini..." ucapnya pelan, menatap sipit penuh heran ke jalanan di dekatnya, "Kok ada rel keretanya?"
Lah? Bis mana yang pake rel kereta?!
Kepalanya langsung diangkat, mencari tanda pemberitahuan dekat sana, dan menemukan tanda sedikit berkarat yang bertuliskan perintah agar tidak berdiri melebihi garis kuning.
Moiro mulai berkeringat lalu menoleh cepat ke bawah kakinya, menemukan lapisan cat kuning yang samar.
"I-Ini mah stasiun trem!" teriaknya kemudian setelah sadar, "Keliatan terbengkalai gini lagi!"
Ia memegang kepalanya sambil mendongak, "AKU NYASAR KE MANAAA?!"
...***...
Sementara itu, di halte bus yang dimaksud oleh Mika, tiga orang yang mengenakan pakaian tebal dan hangat sedang diam menunggu.
Saat itu, Mika mulai cemas karena pesannya hanya dibaca oleh Moiro. Ia menatap layar ponselnya penuh kekhawatiran.
Yuka mendekat padanya lalu bertanya, "Gimana? Ada kabar?"
"Paling dia nyasar," sahut Ryuji sambil menyangga kepala dengan dua tangan.
Yuka menatap datar pada Ryuji, sementara Mika menatapnya dengan amarah.
Ryuji merasa merinding dan langsung klarifikasi, "A-Aku bercanda."
Tiba-tiba, suara notif pesan di ponsel Mika terdengar, dan itu dari Moiro.
"Dia membalas pesannya!" seru Mika kemudian setelah menatap layar ponsel.
Yuka dan Ryuji pun mendekat, ikut melihat karena penasaran.
Ketiganya mematung bersamaan setelah membaca pesan singkat dari Moiro.
“Nyasar.”
"Bwahahahaa!" Ryuji sontak tertawa terbahak-bahak sambil menepuk kakinya sendiri, "Tuh kan! Apa kubilang?! Ahahaha...!"
Saking kerasnya ia tertawa, beberapa orang yang lewat sampai menatap ke arah mereka.
"Moiro...!" bisik Mika yang panik sambil memencet-mencet layar ponselnya, tak menghiraukan tawa Ryuji, "Aku akan kirim lokasinya segera! Harusnya kulakukan dari awal..."
Sementara itu, Ryuji terus tertawa tanpa henti sampai sedikit membungkuk. Dua tangannya memegangi perut saking gelaknya ia tertawa, "Ini hari paling menyenangkan yang pernah ada!"
Plak!
"Diam lah!" bisik Yuka nyaring pada Ryuji. Ia menepuk kepalanya keras karena malu mereka dilihat banyak orang.
"Aduh!" sentak Ryuji yang tiba-tiba dipukul sambil memegangi kepalanya. Buliran bening karena tertawa sebelumnya masih menggumpal di ujung kelopak mata.
Kacau amat malam-malam begini!
...***...
Hampir sepuluh menit, Moiro akhirnya datang setelah dipandu oleh Mika lewat telepon.
Di sana, ia tampak kelelahan hanya karena salah ambil jalan, dan akhirnya malah menunda beberapa menit jalan-jalan mereka.
Setelah sampai, Moiro dibuat tak istirahat. Tatapannya seketika berubah kesal saat melihat Ryuji yang menahan tawa saat melihatnya. Wajah setan itu terlihat sangat menjengkelkan.
"Kau abis ngetawain aku, ya...?" ucap Moiro, memberi penekanan sambil mendekat padanya.
Ryuji mulai panik, meski ujung bibirnya masih tersinggung samar, "E-Enggak. Aku cuma... Itu loh. Inget momen lucu doang."
Mika yang juga sudah kesal pada Ryuji dan lelah menunggu lebih memilih untuk menenangkan keduanya, "Sudah, sudah. Mending kita langsung jalan aja."
"Bener itu," lanjut Yuka, mengangguk pelan sambil melipat tangannya di deoan, "Kalian mau buang-buang waktu lagi?"
Mendengar itu dari keduanya membuat Moiro terpaksa berdamai dengan Ryuji, dan akhirnya mereka memulai jalan-jalan di malam natal itu.
Akhirnya bab spesial datang lagi! Tapi ini lebih kayak double date malam natal gak sih? Hahay...!