Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata CEO" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Tiga puluh menit kemudian, mobil mewah yang membawa Kahiyang dan Nyonya Kirana melaju pelan masuk ke gerbang tinggi berukir indah, lalu berhenti tepat di halaman depan kediaman keluarga Rafsanjani.
Kahiyang menatap ke luar jendela dengan napas tertahan. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar datang ke kediaman mertuanya. Matanya terbelalak tak percaya menelusuri bangunan besar dan megah yang berdiri kokoh di hadapannya.
Arsitekturnya sangat berkelas, pilar-pilar penyangga di teras depan menjulang gagah, menunjukkan kemegahan. Halamannya luas, tertata rapi dengan taman bunga berwarna-warni dan rumput yang terawat sempurna.
Jantung Kahiyang berdebar kencang saat teringat kembali semua ucapan Bu Retno dan Cantika yang terus mengira Sultan hanyalah pemuda biasa, keluarganya pas-pasan, kemewahan yang mereka perlihatkan hanyalah sandiwara semata. Namun kini, ia sadar sepenuhnya bahwa suaminya benar-benar anak orang kaya raya. Keluarganya adalah pemilik kerajaan bisnis besar yang namanya disegani banyak kalangan. Hatinya bergetar campuran antara takjub, bangga, dan rasa haru yang mendalam. Ia merasa dirinya sangat kecil tetapi juga sekaligus sangat beruntung.
"Kenapa diam saja, Sayang? Kaget, ya?" sapa Nyonya Kirana sambil tersenyum melihat ekspresi menantunya yang tampak tertegun.
Kahiyang menoleh ke arah ibu mertuanya. Ia tidak menjawab, hanya tersenyum canggung lalu mengangguk pelan.
Nyonya Kirana tersenyum lembut. "Nggak papa, mulai sekarang rumah ini adalah rumahmu juga, karena kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami."
"Kita masuk, yuk," ajaknya sambil menggandeng tangan Kahiyang lebih erat.
Istri Sultan itu berjalan pelan mengikuti langkah ibu mertuanya. Hatinya makin tenang dan bahagia dipertemukan orang yang sepaham dengannya.
...
Sementara itu, tanpa keduanya sadari, pada saat yang sama tepatnya di dalam kamar pribadinya yang luas dan nyaman, Sultan berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Dia melihat dengan jelas sosok yang turun dari kendaraan bersama ibunya.
Matanya tak lepas menatap Kahiyang di bawah sana yang berdiri begitu anggun tampak sedikit terpesona melihat rumah mereka, tapi di saat yang sama tetap bersikap tenang dan anggun.
“Cantik sekali Ayangku,” batin Sultan sambil tersenyum penuh kasih.
Meski penampilannya sederhana tetapi memancarkan kecantikan yang alami. Sultan tersenyum lebar, hatinya terasa hangat dan penuh rasa bangga. Tanpa menunggu lama, Sultan dengan cepat keluar dari kamarnya. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu wanita yang dirindukannya.
Di lantai bawah, Kahiyang baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu utama yang terbuka lebar. Begitu masuk, matanya kembali terbelalak. Interior di dalam rumah itu begitu indah, penuh perabotan bernilai seni tinggi, tetapi tertata rapi dan tidak berlebihan. Suasana juga terasa hangat, wangi, dan sangat damai.
Baru saja ia ingin bicara sesuatu pada Nyonya Kirana, terdengar suara langkah kaki cepat menuruni anak tangga. Kahiyang menoleh ke arah suara itu, dan di sana... Sultan berdiri di anak tangga terakhir, menatapnya dengan tersenyum menawan yang pernah ia lihat.
"Ayangku..." panggil Sultan lembut.
Senyum Kahiyang seketika merekah. "Rafa..."
Ia menatap suaminya lekat-lekat. Kini ia sudah mengetahui siapa pria yang berdiri di hadapannya. Rafa yang sederhana itu adalah Sultan Rafsanjani, CEO sekaligus pewaris kerajaan bisnis Rafsanjani. Namun setelah mengetahui semuanya, Kahiyang justru semakin memahami satu hal penting.
Rafa dan Sultan tetaplah orang yang sama. Pria yang lembut, tulus, rendah hati, dan selalu berusaha membuatnya merasa nyaman. Status dan kekayaan yang dimilikinya tidak pernah membuat Sultan berubah ketika sedang bersamanya. Perasaan itu membuat rasa cinta dan hormat Kahiyang kepada suaminya justru semakin dalam.
Sultan berjalan mendekat hingga berhenti tepat di hadapan istrinya. Matanya menelusuri wajah Kahiyang dari dekat. Ia bisa melihat perubahan yang sangat jelas terpancar dari kedua mata indah itu.
"Kamu cantik sekali," bisik Sultan pelan, tak peduli ada ibunya yang berdiri di samping mereka. "Aku sudah lihat dari atas tadi. Kamu kelihatan bersinar... dan rumah ini, semegah apa pun, masih kalah indah jika dibandingkan dengan istriku sendiri."
Wajah Kahiyang seketika bersemu merah. Ia menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan senyum yang telanjur mengembang di bibirnya.
"Kamu itu selalu saja punya cara untuk membuatku tak bisa berkata-kata," gumamnya malu.
Ia mengalihkan pandangan ke sekeliling kemudian kembali menatap suaminya. Kali ini tatapannya lebih dalam, seolah ada banyak hal yang sedang ia pikirkan.
"Tapi sekarang aku jadi makin penasaran," ucapnya perlahan. "Sebenarnya masih berapa banyak hal tentang dirimu yang belum aku tahu?"
Sultan tersenyum kecil, tidak langsung menjawab hanya menatap istrinya beberapa saat. Lalu tangannya terangkat, mengusap pipi Kahiyang dengan lembut. "Masih banyak, tapi nggak semuanya harus kamu tahu hari ini."
Kahiyang mengerutkan kening kecil. "Kenapa?"
"Karena aku ingin kamu mengenalku bukan karena apa yang aku punya, bukan pula nama keluarga. Aku hanya ingin kamu tetap mengenal suamimu ini sebagai Rafa yang selama ini kamu kenal," sambung Sultan dengan tenang.
Kahiyang kembali terdiam. Entah mengapa, jawaban itu justru membuat hatinya semakin tersentuh. Ia menggenggam tangan Sultan erat.
"Aku paham," ucapnya lembut. "Dan sekarang aku juga sadar bahwa selama ini yang paling penting memang bukan siapa dirimu di mata orang lain."
Sultan menatap Kahiyang lekat-lekat, menunggu kelanjutan ucapannya.
"Yang penting buatku adalah bagaimana kamu memperlakukanku," lanjut Kahiyang dengan senyum lembut. "Dan kamu selalu membuatku merasa dihargai dan dicintai."
Senyum Sultan perlahan kembali mengembang. Tatapannya begitu lembut memandang istrinya. "Aku senang mendengarnya," ucapnya tulus.
Kahiyang membalas tatapannya. Kini hatinya terasa jauh lebih tenang. Ia tidak lagi memikirkan seberapa besar kekayaan keluarga Rafsanjani. Baginya, semua itu hanyalah bagian dari kehidupan Sultan.
Yang membuat hatinya bahagia adalah kenyataan bahwa di balik semua kemewahan itu, Sultan tetap menjadi pria yang sama ketika berada di sisinya.
Sultan kemudian menggenggam tangan Kahiyang. "Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik nikmati saja apa yang kamu miliki sekarang. Kalau perlu kamu boleh memanfaatkan aku."
"Benarkah, aku boleh memanfaatkanmu?" tanya Kahiyang antusias.
"Tentu saja, buat apa punya suami kaya raya kalau tidak dimanfaatkan," celetuk Tuan Bahtiar tiba-tiba muncul menghampiri mereka.
Nyonya Kirana langsung mendekat ke arah suaminya. "Benar, lagi pula Sultan putra kami satu-satunya. Siapa yang akan menghabiskan uangnya kalau bukan kamu, Ayang?" sambungnya menimpali ucapan Tuan Bahtiar.
Kahiyang tertawa kecil mendengar ucapan kedua mertuanya. Sementara itu, Sultan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua orangtuanya yang sangat mendukung sang istri untuk menghabiskan hartanya.
"Kalau begitu, aku benar-benar akan memanfaatkan kesempatan ini," ujar Kahiyang sambil tersenyum jahil.
Sultan terkekeh. "Silakan...aku ikhlas jika istriku yang menghabiskannya."
Tuan Bahtiar dan Nyonya Kirana tersenyum melihat interaksi anak dan menantunya. Kehangatan sederhana itu mampu membuat suasana di ruangan itu terasa begitu akrab, seolah Kahiyang sudah lama menjadi bagian dari keluarga mereka.
Kahiyang menggenggam tangan Sultan lebih erat. Di tengah keluarga yang menerimanya dengan begitu tulus, ia semakin yakin bahwa kedatangannya ke rumah ini bukan sekadar memasuki kehidupan baru, tetapi menemukan keluarga yang akan menjadi rumah baginya.
gemes banget
kayaknya bakalan pingsan 7 hari 7 malem deh 😂😂