Indonesia
NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 — Semua Orang Boleh Pergi

Konfirmasi dari pengadilan masuk pukul delapan lewat empat belas menit.

Permohonan cerai telah terdaftar. Rendra menerima pemberitahuan tanpa mengajukan keberatan awal, permintaan pemindahan, atau penundaan jadwal.

Aku membaca kalimat itu di layar ponsel sampai Damar menutup laptopnya.

“Terdaftar bukan berarti selesai,” katanya. “Masih ada proses.”

“Aku tahu.”

“Kamu kooperatif hari ini, itu tetap enggak menghapus pelanggaran yang kemarin.”

“Aku juga tahu.”

Ia mengangguk. Kami tidak perlu membicarakan Rendra lebih lama. Keputusan memindahkan perkara ke pengadilan bukan untuk menguji apakah ia akan mengejar. Aku melakukannya karena batas sementara tidak cukup untuk mengembalikan hidupku.

Pagi itu, Arum membawa daftar seluruh pembayaran yang masih dapat kuhentikan tanpa menunggu putusan bank atau pengadilan.

Ada honor untuk konsultan yang bahkan tidak kukenal.

Penggantian biaya transportasi untuk orang-orang yang sudah tidak bekerja untukku.

Tambahan gaji Tara dari rekening pribadi Rendra yang masuk melalui vendor operasional.

Biaya retensi Gilang.

Langganan sistem keamanan.

Dana kesejahteraan staf yang ternyata sebagian berasal dari yayasan Helena.

Pembayaran kecil kepada pengelola gedung untuk mengirim laporan jam kedatanganku.

Jumlahnya tidak sebesar yang tercatat dalam buku abu-abu. Tetap saja, hampir setiap sudut hidupku ternyata punya orang yang merasa harus memberi kabar kepada pihak lain.

“Apa yang benar-benar berada di bawah kendaliku?” tanyaku.

Arum memberi tanda pada sebelas baris. “Rekening operasional Ruang Tengah, dua rekening pribadi, dan kuasa sementara pada rekening rumah tangga untuk pengeluaran yang Anda setujui sendiri. Dana aman lama belum bisa disentuh penuh karena status pengelolanya masih disengketakan.”

Aku menahan keinginan bertanya siapa yang masih memegang dana tersebut. Jawabannya tidak mengubah tindakan pagi ini.

“Hentikan sebelasnya.”

“Tiga di antaranya terkait pegawai aktif,” kata Arum.

“Gaji mereka tetap dibayar. Yang kita hentikan cuma tambahan, tunjangan tersembunyi, sama pembayaran yang dari awal memang enggak disepakati.”

Damar menambahkan, “Kita juga perlu memberi pemberitahuan. Jangan membuat orang kehilangan pemasukan tanpa memahami sebabnya.”

Aku tidak ingin membuat orang kehilangan pekerjaannya hanya karena aku sedang memutus jaringan lama.

Aku menandatangani surat satu per satu. Tidak ada pembayaran baru. Tidak ada biaya loyalitas. Tidak ada penggantian rahasia. Setiap orang berhak mengetahui apa yang dihentikan dan berhak meminta salinan dasar keputusannya.

Pukul sepuluh, seluruh pegawai Ruang Tengah berkumpul di ruang rapat.

Kursinya tidak cukup karena firma audit memakai dua kursi untuk kotak dokumen. Bagas berdiri di dekat pintu. Lila duduk bersama pengacara pendampingnya. Tara memilih tempat paling belakang.

Aku menyampaikan keadaan kantor tanpa menjanjikan sesuatu yang belum pasti.

Dewan etik masih memeriksa kami.

Empat belas perkara sedang diaudit.

Arus kas akan menurun karena klien baru wajib mendapat pemberitahuan dan beberapa jadwal ditunda.

Seluruh tambahan penghasilan yang sumbernya tidak jelas dihentikan.

Gaji bulan berjalan tetap dibayar. Setelah itu, keberlanjutan pekerjaan bergantung pada kondisi kantor dan pilihan masing-masing.

“Kalian boleh pergi,” kataku.

Tidak ada yang langsung bereaksi.

“Aku tidak akan menahan surat pengalaman kerja, referensi, hak gaji, atau dokumen kalian. Siapa pun yang mendapat pekerjaan lain boleh mengambilnya. Tidak ada kewajiban tinggal untuk membuktikan kesetiaan kepadaku.”

Bagas mengangkat tangan seperti biasa. “Kalau saya pergi sekarang, Ibu anggap saya ikut masalah?”

“Tidak.”

“Kalau tetap tinggal?”

“Aku juga tidak akan menganggap itu bukti kalian bersih. Audit tetap berjalan.”

Beberapa orang tersenyum tipis. Ketegangan tidak hilang, tetapi setidaknya pertanyaannya mendapat jawaban.

Lila meminta izin bicara.

“Saya mengundurkan diri,” katanya.

Surat itu membuat tak seorang pun segera bicara.

Pengacaranya meletakkan surat di meja. Lila tetap akan menyerahkan perangkat, menjawab pemeriksaan, dan mengembalikan pembayaran yang dapat dibuktikan tidak terkait pekerjaan sah. Mengundurkan diri tidak menghapus tanggung jawabnya.

Aku membaca surat itu.

“Kenapa sekarang?”

“Soalnya tiap saya duduk di meja depan, orang datang dan nanya dokumennya aman atau enggak. Saya enggak pantas bilang aman.”

“Audit belum selesai.”

“Saya enggak minta dibebaskan.”

Tangannya bergetar, tetapi ia tidak menarik surat kembali.

Aku menerima pengunduran dirinya tanpa memeluk atau mengatakan bahwa semua orang bisa salah. Kesalahan Lila berlangsung bertahun-tahun dan membuat bukti hilang.

Aku juga tidak menghukumnya dengan mengambil hak yang masih menjadi miliknya.

“Gaji dan hakmu sampai hari ini tetap dibayar,” kataku. “Setelah itu, komunikasi melalui Damar dan pengacaramu.”

Lila mengangguk. Ia menyerahkan kartu akses, kunci lemari, dan ponsel kantor, lalu meninggalkan ruangan bersama pendampingnya.

Pintu menutup perlahan.

Kehilangan pertama datang tanpa musik, tangisan, atau kalimat terakhir. Hanya satu kursi kosong yang beberapa menit sebelumnya masih ditempati seseorang yang setiap pagi mengetahui pesananku sebelum aku bicara.

Setelah Lila, dua pegawai lain meminta waktu berpikir.

Sore harinya, salah satu staf administrasi mengirim surat pengunduran diri karena mendapat pekerjaan di lembaga lain. Ia memiliki dua anak dan tidak sanggup menunggu hasil pemeriksaan.

Aku menulis referensi yang jujur.

Bagas memilih bertahan sampai audit awal selesai, tetapi meminta izin mulai melamar di tempat lain.

“Ambil kesempatan yang baik,” kataku.

Ia terlihat bersalah. “Saya belum tentu pergi.”

“Kamu tidak perlu menenangkan aku.”

Ia mengangguk dan menyimpan formulir lowongan yang tadi berusaha disembunyikan di bawah map.

Aku kemudian menghubungi orang-orang di luar kantor.

Kepada Gilang, kusampaikan kontrak retensi berakhir. Ia menjawab bahwa seluruh perangkat sudah diserahkan dan ia tidak akan mengikuti, menjemput, atau memeriksa lokasi tanpa permintaan langsung dariku.

Ia tidak meminta tetap dianggap keluarga.

Ia juga tidak berjanji akan tetap menjaga dari kejauhan.

Hanya satu kalimat terakhir:

“Terima kasih. Sekarang saya bisa berhenti merasa berutang.”

Dr. Mira menerima penghentian hubungan profesional dan mengirim daftar jalur pengaduan terhadap dirinya. Ia tidak menawarkan terapi gratis sebagai penebusan.

Naufal mengatakan ia akan tetap menjawab bila dipanggil sebagai saksi, tetapi tidak akan datang ke kantor hanya untuk mengingatkan bahwa kasusnya pernah menyelamatkan Ruang Tengah.

Sari tetap membantu audit profesi melalui Damar, bukan melalui hubungan mentor.

Satu per satu, orang-orang berhenti merasa harus tetap berada di sekelilingku.

Rasanya sepi.

Orang sering membicarakan kebebasan seperti pintu yang terbuka dan udara yang lebih lega. Tidak ada yang cukup sering mengatakan bahwa ketika pintu dibuka, sebagian orang benar-benar berjalan keluar.

Menjelang malam, hanya Tara yang belum memberikan keputusan.

Ia masuk ke ruanganku setelah semua staf pulang. Tidak membawa makanan, kopi, atau map yang tidak kuminta.

“Aku sudah menghentikan tambahan pembayaranmu,” kataku.

“Aku menerima pemberitahuannya.”

“Gaji direktur operasional juga akan diperiksa. Selama audit, kamu boleh mengambil cuti atau mengundurkan diri.”

Tara meletakkan kartu akses di meja.

“Ini pengunduran diriku dari jabatan direktur.”

Aku membaca surat satu halaman. Ia tidak menuntut pesangon di luar hak sah, tidak meminta penghapusan catatan, dan bersedia menyelesaikan serah terima melalui auditor.

“Jadi kamu pergi,” kataku.

“Dari jabatan yang membuatku punya akses terlalu besar, iya.”

Kalimat itu menyisakan bagian lain, tetapi aku tidak menanyakannya.

Tara berdiri. “Besok auditor akan mencocokkan rekening vendor. Aku sudah membuat daftar, tapi keputusan memakai atau tidak tetap milikmu.”

“Kirim melalui Arum.”

“Baik.”

Ia pergi setelah menyerahkan kata sandi, kunci cadangan, dan daftar tugas. Sejak kami kuliah, baru kali itu aku tidak tahu apakah besok ia masih akan berada di dekatku.

Malam itu aku pulang ke apartemen sewaan tanpa Gilang, tanpa pesan Tara, dan tanpa seorang pun mengingatkan makan. Aku membuat mi terlalu lembek, lupa membeli air minum, lalu tertawa sendiri ketika menyadari kebebasan juga berarti tidak ada orang yang diam-diam memperbaiki kesalahan kecilku.

Keesokan paginya, kantor masih terkunci ketika aku tiba.

Satu per satu staf yang tersisa datang. Kursi Lila tetap kosong. Meja pegawai yang mengundurkan diri sudah bersih. Di ruang rapat, kotak audit menunggu seperti bukti bahwa tempat ini belum tentu selamat.

Pukul delapan tepat, pintu kaca diketuk.

Tara berdiri di luar dengan laptop pribadi dan surat pernyataan dari Damar bahwa ia tidak menerima gaji, tunjangan, penggantian biaya, atau pembayaran dari siapa pun.

“Aku bukan datang sebagai direktur,” katanya. “Aku cuma bantu serah terima buat audit. Kalau sudah selesai dan kamu mau aku pulang, ya aku pulang.”

Aku membuka pintu.

Tara masuk ke Ruang Tengah tanpa gaji, tanpa bayaran pribadi, dan tanpa jaminan bahwa aku akan memanggilnya sahabat lagi. Kali ini, keputusan apakah ia boleh tinggal benar-benar berada di tanganku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!