Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Ayo Tinggalkan Papa, Nak

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:75.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.

Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.

Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.

Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gani dengan ketulusannya

Siang itu toko buku tampak sepi. Naya pun memutuskan untuk merapihkan buku-buku agar tertata lebih rapi.

Ia tatap rak bagian atas yang sedikit berdebu. Celingak-celinguk untuk mencari kursi tangga, berniat membersihkannya.

"Mama...Azlil mau main sama Dilga yah, mah!" pamit bocah kecil dari arah pintu, bersiap keluar.

"Iya, hati-hati nak!" sahut Naya tanpa menoleh. Sibuk membersihkan debu dengan kemoceng.

"UHUKKK! UHUKKK!!"

Satu minggu tidak dibersihkan, tidak mengira akan seberdebu ini, padahal pintu selalu tertutup rapat.

Itu karena musim ini masuk musim kemarau. Para pengunjung biasanya meninggalkan jejak debu di lantai. Alhasil bertebaran sana sini. Dan yang paling menumpuk adalah bagian atas karena jarang tersentuh.

Baru saja hendak menapak tangga bawah untuk turun, kakinya malah tergelincir dan membuatnya terhuyung ke bawah.

Naya sudah yakin ia akan terjatuh. Mungkin bisa kepalanya kena, atau punggungnya yang kena. Namun semua statement itu hilang saat ia merasakan tubuhnya tidak membentur lantai, dan seperti ada tangan kekar menopang punggungnya.

Melotot Naya disitu. Menoleh cepat, "Mas Gani?!"

Gani tak bergeming, ia hanya membantu menurunkan Naya dari tangannya. Lalu menatap kursi tangga yang sudah sangat rapuh dan berbahaya itu.

Tangannya menyentuh tatakan kaki yang terlalu kecil dan pendek.

"Apa kamu berniat mematahkan tulang mu?" Gani menoleh, menatap Naya intens, "Ini terlalu kecil, Naya. Bahkan tidak menopang semua kakimu."

Naya tertegun, menatap lemah kursi tangga yang memang pendek pendek itu. Hanya menopang kaki bagian tengah saja, itupun kadang masih suka mis kalau pijakannya salah.

"Hanya ini yang kupunya." balas Naya lirih, "Kamu ngapain kesini, mas?"

Gani menarik nafas dalam, "Hanya keliling." lalu mengambil kursi tangga itu, mengangkutnya keluar.

"Mas kamu mau bawa kursi tangga itu kemana?!" seru Naya mengekor di belakang.

Langkah Gani terhenti, menoleh menatap Naya datar, "Membuang barang berbahaya ini."

Melototlah Naya disitu. Ia raih ujung kursi tangga itu dari tangan Gani.

"Gausah mas, ini masih bisa dipake. Aku—"

"Berhenti membantah, Naya." tegas Gani.

Naya terdiam, tak bergeming. Sementara Gani menarik nafas panjang, ia lempar kayu rongsokan itu ke sembarang arah. Lalu menarik tubuh Naya ke dalam pelukannya.

"Aku cuma tidak ingin kau celaka. Setidaknya jika kau butuh apa-apa panggil aku, yah?" bisik Gani lebih lembut.

Naya terdiam, menatap kosong lantai tanpa sepatah kata pun. Sementara Gani segera membawa kursi tangga itu ke luar untuk di buang ke tong sampah.

Naya memanyun kecil. Menatap rak-rak lain bagian atas yang bahkan belum tersentuh kemoceng.

"Terus bagaimana aku membersihkannya?"

Cukup lama Naya melamun. Sebelum ia mendengar suara bunyi palu yang di pukul di luar toko-nya.

Keningnya mengerut kecil, karena penasaran ia pun memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Dan saat ia melihat ke luar, di pojokan toko buku, Gani tengah berjongkok sambil berkutat dengan aneka kayu dan paku.

Untuk sesaat Naya terdiam. Ternyata Gani tidak hanya menyelamatkannya, tapi ia juga membuatkan kursi tangga baru yang lebih aman.

"Mas, sejak kapan ada kayu disitu?" tanya Naya tampak ragu, berdiri di belakang Gani.

Pria itu berbalik, menatap Naya intens.

"Aku tak sengaja melihat kursi rongsokan itu saat melintas lewat sini kemarin. Aku berniat membuat yang baru, untung saja aku datang tepat waktu. Karena hari sabtu memang jadwalmu membersihkan rak bagian atas."

Hening

Sejak kapan Mas Gani jadi sedetail ini? Bahkan ia sampai tau jadwal bersih-bersih ku?

"Ohh iya, aku juga sudah membuat kursi goyang di belakang toko. Itu akan jadi tempat santai kalo tubuh kamu pegal. Mejanya juga ada, kamu bisa meletakkan minuman atau semacamnya. Tinggal depannya nanti akan ku buat taman kecil agar ada yang bisa kamu lihat-lihat."

Mendengar itu melototlah Naya. Wanita itu langsung berlari ke pintu belakang toko. Dimana di belakangnya ada lahan paving kosong yang sebelumnya tidak terisi apapun.

Namun saat melihatnya. Ternyata disana sudah ada kursi goyang, meja, serta payung untuk terlindungi dari sinar matahari.

Untuk sesaat Naya terdiam. Lalu air mata luruh setelahnya. Ia tidak tau Mas Gani akan memerhatiakannya sampai seperti ini.

Tapi sejak kapan? Sejak kapan pria itu menaruhnya disana? Dan sejak kapan dia perduli tentangnya? Bukankah yang paling dia perdulikan adalah ibunya.

Naya berbalik pergi dari sana dengan langkah lemah, menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh Gani.

"Makasih yah, mas." cicit wanita itu.

Tidak ada lagi tatapan sinis, atau bentakan yang ia lontarkan seperti biasanya. Hanya kata-kata gugup dan ekspresi malu yang cukup menyebalkan, namun Naya tidak bisa mengendalikannya.

Gani elap peluh keringat di dahi, menatap Naya intens. Pria itu tersenyum tipis.

"Aku hanya tidak ingin kau terluka saat aku tidak ada."

Naya remat ujung bajunya kuat. Padahal saat mereka menikah Gani tidak pernah seperhatian ini.

Yaa...tidak sepenuhnya.

Karena saat Gani membuatkan sesuatu untuknya, yang memakai bukanlah dia, melainkan keluarganya. Semenjak saat itu juga Gani jarang membeli barang-barang yang sekiranya bisa Naya pakai untuk bersantai.

"Aku akan membuatkan minum dan cemilan." Naya berbalik cepat setelah itu.

Sementara Gani menatap punggungnya yang menjauh, tersenyum tipis. Ia tatap kembali paku yang masih tertancap ujungnya. Memalu-nya dengan hati-hati.

"Dulu aku salah karena tak terlalu memperhatikanmu, Naya. Aku juga tau sedikit demi sedikit tentang orang tuaku yang jahat sejak kamu tidak ada. Meski kita tidak bersama lagi, setidaknya izinkan aku memudahkan segala urusanmu."

***

"Nih, mas. Diminum yah."

Naya letakkan nampan berisi minuman dan juga camilan di meja kecil yang ia letakkan di samping Gani. Seraya tersenyum ramah.

Gani tatap Naya intens, untuk sesaat dadanya berdesir aneh. Ini adalah pertama kali selama tiga tahun Naya tersenyum kepadanya. Padahal hanya melihat senyumnya saja, ia sudah sesalting ini.

Gani palingkan wajahnya cepat, berdehem kecil, I-iya."

Naya lantas tidak pergi dari sana. Ia memilih berjongkok di samping Gani untuk menontonnya membuat kursi tangga, seraya menopang kedua pipinya dengan tangan.

"Ada yang perlu ku bantuin mas?"

"Ek-ekhm! Tidak-tidak ada." gagap pria itu.

Bola mata Naya melebar, relfeks mencondongkan tubuh, "Eumm? Iyakah?"

Sial!

Kenapa tiba-tiba Naya bersikap manis seperti ini?! Aku bisa-bisa nanti gabisa tidur semalaman bayangin senyumnya!

Dapat Naya lihat telinga dan leher Gani memerah, meski wajahnya tampak serius me-malu.

"Mass..." panggil Naya dengan nada sedikit dibuat mendayu.

PUSHH!

Pipi Gani langsung memerah, merunduk lemah untuk menghindari bertatap muka dengan Naya, sedikit menurunkan topinya ke bawah.

"I-iya..."

Naya tersenyum manis, "Makacii...."

DEG!

Sial!

Sudah berapa lama aku tidak mendengar nada manjanya ini?! Akhirnya, akhirnya apa yang aku tunggu-tunggu muncul juga!

Suara lembut dan imut Naya, yang hanya khusus untukku!

"Naya berhenti menggangguku dan masuklah." ucap Gani dengan nada sedingin mungkin.

Bola mata Naya membola polos. Bukan ucapannya yang ia fokuskan, tapi rona di pipi, leher dan telinga Gani yang semakin kentara.

"Hihi...iya dehh...Semangat sayang!"

"UGHH!!"

1
Ds Phone
jadi ketawa meraka berdua
Ds Phone
kenapa nak rasa ber salah pulak
Ds Phone
tak mahu terluka lagi
Ds Phone
lagi buat orang panas
Ds Phone
ada aja pakat dengan anak nya
Ds Phone
suka buat lawak bodoh
Ds Phone
buat macam tak kenal aja
Ds Phone
itu kawan yang bagus nasihat yang bagus aja
Ds Phone
susah juga macam ni di telan mati di luah mati anak
Ds Phone
ada kenangan lama antara meraka
Ds Phone
habis dia keluar kan semua yang di simpan dalam hati
Ds Phone
ya lah bapak dia
Ds Phone
merajuk lah tu
Ds Phone
dulu kau buang puteri mu kenapa sekarang nak balik
Ds Phone
anak nya pandai ambik orang tua
Ds Phone
apa kah dia di terima
Ds Phone
kawan nya sama lulus bendul
Ds Phone
bukan cemburu tapi sakit hati
Ds Phone
apa den tak sedar pasangan kena buli
Ds Phone
bodoh kau maseh nak pada nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!