Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Suasana di depan gerbang Sekolah Dasar Harapan Bangsa tampak begitu ramai oleh deretan kendaraan orang tua dan mobil jemputan yang mengular panjang. Sinar matahari sore yang mulai berhias warna jingga keemasan menerpa pekarangan sekolah. Bel kepulangan baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, menyambut riuhnya anak-anak berseragam putih-merah yang berlarian keluar kelas dengan wajah-wajah riang.
Di dalam kabin mobil SUV hitam milik Gema, atmosfer terasa begitu pekat, kaku, dan melingkupi dada dengan rasa sesak yang tak bertepi. Pria berkemeja abu-abu dengan lengan yang tergulung acak-adakan itu menyandarkan punggungnya ke jok kulit. Tatapannya kosong, lurus menatap gerbang sekolah. Wajahnya yang biasa tegas kini tampak teramat lelah, dengan garis penyesalan dan keputusasaan yang tercetak amat jelas.
Sejak Alana melangkah keluar dari pintu jati rumah mereka tadi sore meninggalkan dirinya yang berlutut meratapi penyesalan di atas lantai marmer dingin dunia Gema rasanya runtuh seketika. Rumah megah berarsitektur tropis yang selama ini menjadi simbol statusnya mendadak berubah menjadi penjara dingin yang mencekik. Setiap sudut ruangan seolah memantulkan bayangan Alana yang menarik tangannya secara perlahan namun tegas, menandai runtuhnya pernikahan mereka yang berjalan enam tahun.
Gema mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan secara kasar. Ia meraih ponsel di konsol tengah, menatap layarnya yang gelap gulita.
Ponsel milik Alana benar-benar mati total.
Sejak Alana melangkah keluar dari pagar rumah, puluhan kali Gema mencoba meneleponnya, mengirimkan ratusan pesan singkat serta pesan suara yang memohon agar Alana mau kembali. Namun tak ada satu pun yang masuk. Garis dua abu-abu yang tak kunjung berubah menjadi biru membuktikan bahwa Alana telah memutus penuh seluruh akses darinya. Wanita yang selama ini selalu sabar menunggu dan menyambutnya di rumah itu kini benar-benar telah menghilang tanpa jejak.
Tok, tok, tok.
Ketukan halus pada kaca jendela sebelah kiri membuyarkan lamunan kelam Gema.
Gema menoleh dan buru-buru memutar tombol otomatis untuk menurunkan kaca jendela. Di luar, berdiri putri kecilnya, Tania, berbalut seragam sekolah dengan ransel merah bergambar karakter kartun di punggung mungilnya.
Seorang guru pendamping berdiri penuh kesopanan di sampingnya.
"Sore, Pak Gema. Tania sudah selesai kegiatan ekstrakurikulernya sore ini," panggil sang guru ramah.
"Sore, Bu. Terima kasih banyak ya," sahut Gema dengan suara serak. Ia memaksakan senyum tipis, lalu bergegas turun dari mobil untuk menyambut putrinya.
Tania terlihat tersenyum manis. Kuncir rambutnya sedikit melar setelah seharian beraktivitas. Gema berlutut di atas aspal, menyejajarkan posisinya, lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Aroma minyak telon dan bedak bayi yang khas dari tubuh Tania menghantam indra penciumannya, seketika memicu rasa perih yang teramat sangat di ulu hatinya.
"Ayah!" panggil Tania renyah seraya melingkarkan lengan mungilnya di leher Gema.
Gema mengecup puncak kepala putrinya lama, memejamkan mata menahan gejolak emosi. "Halo, Sayang... Gimana sekolahnya hari ini? Seru?"
"Seru banget! Tania tadi menggambar taman bunga sama teman-teman!" cerita Tania riang saat Gema membantunya melepaskan ransel dan menuntunnya masuk ke jok penumpang depan.
Gema memutari mobil, lalu kembali duduk di kursi pengemudi. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia memasangkan sabuk pengaman untuk Tania secara telaten. Namun, tepat ketika Gema hendak menarik sabuk pengamannya sendiri dan menyalakan mesin, Tania menolehkan kepalanya ke jok belakang yang kosong melompong.
Garis alis tipis Tania bertaut. Mata bulatnya yang jernih memancarkan kebingungan yang sangat polos.
"Ayah... Ayah jemput Tania sama Bunda, kan?" tanya Tania polos, mendongak menatap wajah ayahnya. "Bunda di mana? Kok enggak ada di belakang? Bunda lagi tunggu di rumah ya?."
Deg!
Pertanyaan sederhana yang keluar dari bibir mungil anak kecil itu seketika menghantam dada Gema bagaikan hantaman godam yang tak bertepi. Udara di paru-parunya seperti tersedot habis. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku dan membeku.
Gema langsung diam seribu bahasa.
Bibirnya mengatup rapat, mengunci kalimat apa pun yang hendak keluar. Rasa bersalah yang teramat sangat menyeruak mencekik lehernya hingga terasa amat menyiksa. Bagaimana mungkin ia menjelaskan kepada putri kecilnya bahwa wanita yang ia sebut Bunda wanita yang merawatnya sejak bayi, yang mengusap air matanya saat sakit, dan mengajarinya bertumbuh baru saja pergi menanggalkan statusnya sebagai istri dan ibu di rumah mereka?
"Ayah?" panggil Tania lagi, tangan mungilnya menepuk kemeja Gema. "Kok Ayah diam aja? Bunda ikut enggak?"
Gema menelan ludah yang terasa begitu pahit dan kenyal. Tatapannya bergulir panik, menghindari sorot mata Tania yang jernih tanpa dosa.
"Bunda... Bunda lagi ada urusan di luar, Sayang," bohong Gema dengan suara bergetar samar. Ia menyalakan mesin mobil untuk mengalihkan perhatian, berpura-pura sibuk memutar lingkar kemudi menuju jalan raya.
Namun, anak kecil memiliki kepekaan batin yang luar biasa. Tania yang tadinya riang seketika berubah murung. Bahunya yang mungil terkulai. Raut wajahnya yang tadinya berseri-seri kini meredup tajam, bagaikan bunga indah yang mendadak layu karena kekurangan air dan sinar matahari.
Tania menatap ke luar jendela mobil, memerhatikan deretan pepohonan sore yang bergerak cepat. "Bunda kok enggak pernah pamit kalau mau pergi jauh? Biasanya Bunda selalu bilang sama Tania kalau mau ke mana-mana..." cicit Tania dengan suara yang begitu lirih dan sedih.
Keheningan kembali melingkupi kabin mobil. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan lambat bagi Gema. Otaknya berputar keras memikirkan cara untuk menemukan Alana. Ke mana wanita itu pergi? Rumah orang tuanya jelas bukan tujuan Alana karena hubungan mereka yang dingin. Menginap di hotel pun terlalu berisiko untuk jangka panjang.
Tiba-tiba, Tania menepuk paha Gema dengan pelan. Wajah mungilnya mendadak tegak kembali dengan binar harapan yang terpancar dari matanya.
"Ayah! Tania tahu!" seru Tania tiba-tiba.
Gema melirik putrinya dengan dahi berkerut. "Tahu apa, Sayang?"
"Bunda pasti lagi sibuk di toko roti!" sahut Tania antusias, jemari mungilnya menunjuk ke arah depan. "Kemarin Bunda bilang sama Tania kalau minggu ini toko rotinya lagi ramai banget banyak pesanan kue. Bunda pasti ada di sana! Ayah, ayo kita jemput Bunda di toko roti sekarang! Tania mau makan kue buatan Bunda!"
Kalimat polos yang keluar dari mulut Tania itu seketika bekerja bagaikan keajaiban di tengah kegelapan hati Gema.
Bagaikan tanaman yang sudah kering layu dan hampir mati lalu mendadak disiram air hujan sejuk, wajah Gema yang semula muram dan putus asa seketika berubah ceria! Matanya membelalak kecil, dan binar kehidupan langsung kembali menyinari wajah tegasnya.
Toko roti! Lumiere Bakehouse!
Bagaimana bisa ia melupakan tempat itu? Toko kue itu adalah rumah kedua bagi Alana, tempat di mana seluruh jiwa, kerja keras, dan dedikasi wanita itu dicurahkan. Bahkan jika Alana tidak ingin menampakkan diri di rumah utama mereka, kemungkinan besar Alana akan berlindung atau mengurus bisnisnya di toko kuenya sendiri.
Rasa lega yang luar biasa membuncah di dalam dada Gema. Senyum tipis yang jujur akhirnya terbit di bibirnya.
Kehadiran Tania di sampingnya kini menjadi senjata dan alasan paling sempurna bagi Gema untuk menemui Alana. Alana mungkin bisa bersikap dingin, tegas, dan menolak berurusan dengannya sebagai suami. Namun, Gema tahu betul betapa dalamnya kasih sayang Alana kepada Tania. Alana tidak akan pernah tega menolak atau mengabaikan putri kecil yang sudah ia rawat dari bayi jika anak itu berdiri di hadapannya sambil memanggil nama Bunda.
"Pintar banget anak Ayah..." puji Gema dengan nada suara yang kini dipenuhi semangat baru. Ia mengusap lembut kepala Tania, membetulkan kuncir rambutnya yang agak melar. "Anak Ayah pintar sekali. Ya sudah, kita sekarang langsung jalan ke toko roti Bunda, ya?"
"Horeee! Jemput Bunda!" seru Tania gembira, bertepuk tangan kecil. Bunga yang sempat layu di wajahnya kini mekar kembali dengan sangat indah.
"Sip! Tania duduk yang tenang ya, kita ke toko kue Bunda sekarang," ucap Gema mantap.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Gema memindahkan tuas transmisi dan menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil SUV hitam itu melaju membelah kepadatan lalu lintas sore kota Jakarta menuju kawasan toko kue milik Alana.
Di dalam hatinya, dada Gema bergemuruh hebat. Penyesalan, rasa bersalah, dan harapan bercampur menjadi satu. Ia berjanji dalam hati, begitu ia sampai di toko roti itu dan bertemu dengan Alana, ia tidak akan membiarkan wanita itu pergi lagi dari kehidupannya. Ia akan menggunakan alasan apa pun termasuk kerinduan Tania untuk membawa Alana pulang dan memohon kesempatan kedua untuk memperbaiki rumah tangga mereka yang hampir hancur.
lagi an kbur cm di situ situ saja.
kabur yg nanggung 🤣.
kabur sekalian kluar pulau, buka hidup baru. Tania Ada bpk nya ngapain di pikirin.
sebenere yg buat sulit itu bukan melupan Tania tp Alana yg bucin ma Gema mkne gk bisa pergi jauh, di siksa taunan mau mau saja. alasan Tania.
kl niat pergi luar pulau naik kapal biar gk di lacak. mobil di jual. trus nnti buka toko lagi tmpat lain. itu br Jos gandos.