Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kembali ke Dunia Asal, Namun Hati Tetap Tertinggal
Cahaya keemasan menyilaukan mata, dan rasanya seperti terlempar ke dalam pusaran angin yang tak berujung — tubuhku tak berbobot, telingaku berdenging, dan segala bayangan di sekitarku berputar menjadi kabur. Nama Arga terucap di bibirku berulang-ulang, tapi suaraku tertelan kekuatan yang menarikku pulang. Lalu... gelap.
Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kurasakan bukan udara sejuk kamar kami, bukan aroma lavender yang selalu ada di bantal Arga — melainkan bau kertas tua dan udara ruangan yang agak pengap. Mataku terbuka perlahan. Di hadapanku bukan langit-langit rumah keluarga Pratama, melainkan plafon kamarku sendiri — kamarku di dunia asliku.
Aku tersentak bangun, duduk tegak di tepi tempat tidur. Tanganku meraba wajahku, memeluk tubuhku — nyata, padat, dan kembali berat. Di sampingku tidak ada Arga. Tidak ada aroma kopi pagi yang biasa ia seduh. Tidak ada suara langkah kakinya yang mendekat sambil tersenyum. Ruangan ini... sunyi. Hanya detak jam dinding yang biasa, monoton, dan terasa begitu asing meski itu kamarku sendiri.
Aku kembali. Aku benar-benar kembali ke duniaku.
Namun bukannya lega yang kurasakan, justru dada terasa hampa — seakan sebagian jiwaku tertinggal di sana, di dunia yang kini semakin jauh. Aku memegang dadaku. Jantungku berdetak, tapi terasa ada ruang kosong di sana, tempat di mana Arga seharusnya berada.
"Arga..." bisikku namanya pelan, berharap ia akan muncul dari balik pintu, seakan semuanya hanya mimpi buruk. Tapi tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyambutku.
Hari-hari pertama adalah yang terberat. Aku kembali ke rutinitas lamaku — bangun, beraktivitas, berbicara dengan orang-orang di sekitarku — tapi semuanya terasa seperti aku bukan benar-benar di sini. Tubuhku ada di dunia ini, tapi pikiranku, hatiku, seluruh duniaku tetap tertinggal di sisi lain — di rumah keluarga Pratama, di samping Arga.
Teman-temanku menyadari perubahanku. "Kau terlihat berbeda," kata salah satu dari mereka suatu sore. "Seperti ada yang hilang dari matamu."
Aku hanya tersenyum tipis, tak bisa menjelaskan. Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada seseorang dari dunia lain? Bahwa aku pernah menjadi Pewaris Cahaya, pernah hidup di tempat di mana bulan purnama menyimpan kekuatan nyata, dan bahwa hatiku kini terbelah dua?
Suatu malam, tak bisa tidur lagi, aku membuka laci meja belajarku — tempat di mana aku menyimpan novel yang dulu pernah kutemukan, novel yang membawaku ke dunia itu. Saat tanganku menyentuh sampulnya, jantungku berdegup kencang. Aku membukanya perlahan, mencari halaman tempat kisah Arga dimulai. Namun saat aku membacanya... tak ada satu pun cerita tentang kami. Tak ada ikatan bulan purnama, tak ada Damar, tak ada Freya yang menjadi Pewaris Cahaya. Cerita itu berakhir jauh lebih awal — berakhir saat Arga menemukan ibunya, bahagia dan damai, tanpa pernah bertemu denganku.
"Tidak mungkin..." bisikku, tanganku gemetar membalik halaman demi halaman. "Aku ada di sana. Kita nyata. Bagaimana bisa cerita ini tak menyebutkanku sama sekali?"
Air mata jatuh membasahi kertas itu. Apakah semua itu mimpi? Apakah aku hanya berimajinasi terlalu dalam? Tapi rasa tangannya di tanganku, suaranya saat berbisik 'aku mencintaimu', perasaan saat cahaya keemasan menyatukan kami — semuanya terasa lebih nyata daripada hidupku di sini.
Aku menutup buku itu erat-erat, berjanji dalam hati: Kau nyata, Arga. Dan aku akan kembali padamu. Apa pun harganya.
Malam itu, sesuatu terjadi. Saat aku sedang menatap bulan purnama dari jendela — bulan yang sama, yang bersinar di dua dunia sekaligus — aku merasakan getaran halus di dalam diriku. Bukan panggilan untuk pulang. Melainkan... jawaban.
Aku bergegas mengambil pena dan kertas, lalu mulai menulis — bukan karena aku berniat, tapi karena tanganku bergerak sendiri, seakan dipandu oleh sesuatu yang jauh lebih kuat. Kata-kata itu mengalir keluar, rumus-rumus kuno, pola cahaya, cara untuk melintasi batas di antara dua dunia. Sebuah cara untuk kembali.
Saat selesai, aku menatap tulisan itu dengan napas tertahan. Di sana tertulis jelas: Gerbang bisa dibuka kembali. Tapi harganya bukan sekadar pengorbanan. Ia adalah pertukaran — dua jiwa, dua dunia, dan keseimbangan yang tak boleh dilanggar.
Aku tak peduli berapa berat harganya. Aku tak peduli apa yang harus kuserahkan. Aku sudah menemukan jalan kembali. Dan aku akan pergi ke sana — ke tempat di mana hatiku berada.
....