Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Prang.

Sebuah asbak kaca tebal melayang dan hancur berkeping-keping menabrak dinding ruangan mewah tersebut.

Pak Wijaya berdiri dengan dada naik turun menahan amarah yang sudah meledak hingga ke ubun-ubun.

Di depannya, Chef Hasan hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam tanpa berani menatap mata bos besarnya.

"Jadi kamu bilang koki jalanan itu menyuruhku datang sendiri dan bertarung secara jantan di depan publik?" bentak Pak Wijaya dengan suara menggelegar.

"Iya Pak Bos, dia sangat sombong dan seolah sudah tahu kalau saya ini utusan dari Bintang Samudera," jawab Chef Hasan dengan suara gemetar.

Pak Wijaya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri mendengar kegagalan koki andalannya itu.

"Lalu bagaimana dengan masakannya? Apa kamu berhasil menemukan celah kelemahan resepnya?" kejar Pak Wijaya masih tidak mau menyerah.

Chef Hasan menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab pertanyaan yang sangat menjatuhkan harga dirinya itu.

"Maaf Pak Bos, rasa masakannya benar-benar di luar nalar dan logikaku sebagai koki eksekutif," akunya dengan nada putus asa.

"Kaldu supnya sangat jernih tapi rasanya sangat dalam, dan mie pedasnya ditarik dengan tangan kosong namun presisi teksturnya luar biasa."

Mendengar pengakuan itu, wajah Pak Wijaya berubah menjadi sangat merah padam seperti kepiting rebus.

Ia tidak menyangka bisnis kulinernya yang sudah berkuasa puluhan tahun bisa terancam oleh pemuda ingusan dari jalanan.

"Kalau kita tidak bisa menghancurkannya pakai preman atau Dinas Kesehatan, berarti kita harus membunuhnya di atas panggung besar," desis Pak Wijaya dengan senyum licik yang kembali muncul.

"Siapkan dana satu miliar rupiah dari kas perusahaan hari ini juga Hasan."

Chef Hasan mendongakkan kepalanya dengan raut wajah sangat terkejut mendengar nominal fantastis tersebut.

"Satu miliar untuk apa Pak Bos? Mau menyewa pembunuh bayaran?" tanya Chef Hasan kebingungan.

"Bodoh! Uang itu untuk menyelenggarakan Festival Kuliner Kota yang paling megah akhir bulan ini," jawab Pak Wijaya sambil menepuk meja kerjanya.

"Kita akan undang wali kota, pejabat daerah, dan kritikus makanan nasional paling kejam dari ibu kota."

"Di festival itu, kita paksa pemuda gerobakan itu ikut bertanding melawanmu dan kita hancurkan nama baiknya di depan semua orang."

Chef Hasan menganggukkan kepalanya mengerti dengan rencana licik dan terstruktur dari bos besarnya itu.

"Rencana yang sangat brilian Pak Bos, saya pastikan dia akan menangis memohon ampun saat masakannya dicaci maki oleh kritikus nasional nanti," balas Chef Hasan kembali mendapatkan kepercayaan dirinya.

Dua hari kemudian, suasana di Kedai Raja Kuliner masih seramai biasanya dengan antrean yang mengular ke jalan.

Galang sedang sibuk di dapur bersama asisten bayangannya saat Bima masuk membawa sebuah amplop cokelat.

"Bang Galang, ini ada titipan dokumen dari Mbak Nadia yang baru saja datang," lapor Bima menyerahkan amplop tersebut.

Galang mengelap tangannya dengan serbet dan membuka amplop cokelat itu perlahan.

Matanya langsung berbinar terang melihat selembar kertas resmi berlambang burung garuda di dalamnya.

"Nomor Induk Berusaha dan sertifikat higienis kedai kita akhirnya keluar juga Mas Bima," ucap Galang dengan nada sangat lega.

"Wah mantap Bang, berarti kita sudah resmi dan kebal hukum dari petugas pemerintahan titipan orang tua sombong itu ya," sorak Bima kegirangan.

Galang mengangguk puas dan segera menyimpan dokumen berharga itu ke dalam laci mejanya yang paling aman.

Ting.

Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring menandakan masuknya pelanggan baru.

Namun kali ini yang masuk bukanlah gerombolan mahasiswa yang kelaparan seperti biasanya.

Empat orang pria berpakaian jas rapi masuk dengan langkah angkuh membawa sebuah gulungan kertas besar berbahan tebal.

"Permisi, kami mencari saudara Galang, pemilik sah dari tempat makan kumuh ini," sapa pria paling depan dengan nada suara yang sangat merendahkan.

Bima langsung memasang wajah garang dan berjalan menghalangi langkah keempat pria berjas tersebut.

"Jaga mulutmu Mas, ini kedai resmi berizin, bukan tempat kumuh," tegur Bima sambil berkacak pinggang.

"Ada urusan apa kalian cari bos saya siang-siang begini saat sedang ramai pelanggan?"

Pria berjas itu mendengus sinis dan sengaja membuka gulungan kertas di tangannya lebar-lebar.

"Kami utusan resmi dari panitia Festival Kuliner Kota yang disponsori oleh Restoran Bintang Samudera," jawab pria itu dengan suara lantang agar semua orang dengar.

"Kami membawa surat undangan sekaligus surat tantangan terbuka dari Pak Wijaya untuk pemilik kedai ini."

Galang yang mendengar keributan itu langsung keluar dari dapur dengan wajah tenang dan tanpa ekspresi.

"Saya Galang, berikan surat itu pada saya," ucap Galang mengulurkan tangannya dari belakang Bima.

Pria berjas itu menyerahkan gulungan kertas tersebut dengan senyum mengejek yang sangat kentara.

"Pak Wijaya menantangmu untuk ikut dalam kompetisi utama di Festival Kuliner Kota tiga hari lagi di alun-alun," jelas utusan itu panjang lebar.

"Syaratnya, kalau masakanmu kalah dari koki eksekutif kami, kamu harus menutup kedai ini selamanya dan menyerahkan semua resepmu secara gratis."

Seluruh mahasiswa yang sedang makan di dalam kedai mendadak hening mendengar syarat taruhan yang sangat tidak masuk akal itu.

"Gila, itu sih namanya perampokan berkedok kompetisi," bisik seorang mahasiswa dari meja paling dekat.

Bima juga ikut terbakar emosinya dan langsung menatap Galang dengan wajah cemas.

"Jangan mau Bang, ini pasti jebakan maut dari orang tua licik itu untuk merebut kedai kita," larang Bima menarik lengan baju Galang.

1
Wega Luna
ada loh nasi goreng 6000 an kalo GK salah di daerah Kediri atau Tulungagung ,,, asli pengen beli tapi karena kemarin bus pariwisata ku GK bisa menepi jadi cuma lihat dari jendela bus ,kalo ada waktu luang saya mau kesana lagi pake mobil pribadi ,,, sebagai pecinta kuliner nasi goreng saya penasaran rasanya dengan harga tersebut
ZAHRANI: waaaah info yang menarik kak👍
total 1 replies
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!