**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Dalam Gelap
“Kita nonton film saja malam ini.”
Bram menyampaikan ajakan itu seperti rencana biasa. Laras baru curiga ketika mobil mereka naik ke atap gedung parkir dan petugas memberi dua bantal bersama radio kecil.
Sebelumnya mereka makan malam di kedai ramen kecil. Bram tidak sekalipun membahas ciuman yang gagal ia dapatkan pada hari pertama mengejar Laras. Ia hanya mendengarkan cerita soal hasil HR, lalu bertanya apakah pergelangan tangannya masih sakit.
“Sudah nggak,” jawab Laras.
“Kalau kamu mau bicara ke pendamping hukum, aku punya kenalan.”
“Belum sekarang. Aku simpan semua bukti dulu.”
“Oke.”
Tidak ada kalimat `aku sudah bilang` tentang Pak Herman. Bram juga tidak menggunakan kejadian itu sebagai alasan melarang Laras bekerja. Sikap tersebut membuat Laras lebih mudah menerima ajakan film, meski ia tetap meminta lokasi dan jam pulang sebelum naik mobil.
“Drive-in cinema?”
“Kamu bilang belum pernah.”
Di rooftop, belasan mobil menghadap layar besar. Lampu kota mengelilingi tempat itu, tetapi area penonton dibiarkan remang. Angin malam membawa aroma popcorn dan aspal yang masih menyimpan panas siang.
Bram memarkir mobil, menurunkan sandaran kursi, lalu meletakkan kotak makanan di tengah.
“Film apa?” tanya Laras.
“Romantis.”
“Judulnya?”
Bram menyebut judul asing yang tidak dikenalnya. Laras baru memahami alasan wajah Bram terlalu polos ketika adegan pertama menampilkan sepasang kekasih berciuman di dapur.
“Kamu sengaja pilih ini?”
“Rating-nya bagus.”
“Rating penonton atau rating usia?”
Bram tertawa. “Kalau nggak nyaman, kita ganti.”
Ia benar-benar membuka daftar film lain di ponsel. Ada film keluarga, komedi, dan animasi yang diputar pada layar berbeda. Laras melihat kesungguhannya, lalu menahan tangannya.
“Yang ini saja.”
“Yakin?”
“Kita sudah dewasa.”
“Aku tahu. Justru itu yang bikin aku khawatir.”
Laras melempar satu butir popcorn ke arahnya. Bram menangkapnya dengan mulut dan terlihat terlalu bangga atas keberhasilan kecil itu.
Laras tidak meminta ganti. Ia mengambil popcorn dan memusatkan mata ke layar. Beberapa menit kemudian, adegan di film menjadi semakin berani. Kamera tidak menunjukkan semuanya, tetapi suara napas dan gerak tubuh para tokohnya cukup membuat ruang dalam mobil terasa sempit.
Bram justru diam. Tangannya berada di atas paha sendiri, tidak bergerak mendekat.
Laras meliriknya.
“Kenapa?” tanya Bram.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kelihatan mau marah.”
“Aku cuma heran kamu bisa tenang.”
“Aku sedang berusaha jadi laki-laki sopan.”
“Terlambat beberapa tahun.”
Candaan itu memudar di antara mereka. Masa lalu kembali muncul, bukan sebagai rasa bersalah yang menusuk, melainkan jarak yang sudah mereka tempuh. Dulu satu ruangan gelap cukup membuat mereka lupa seluruh dunia. Sekarang Bram duduk hanya beberapa sentimeter darinya dan tetap menunggu.
Di layar, tokoh perempuan menangis setelah mengaku takut ditinggalkan. Tokoh laki-laki menciumnya tanpa janji, hanya memegang wajahnya seperti sesuatu yang tidak ingin ia rusak.
Mata Laras panas.
Ia tidak tahu apakah air mata itu untuk film, Wahyu, Tiara, atau dirinya sendiri yang terlalu lama mengira cinta selalu datang bersama rasa takut.
Bram menoleh. “Laras?”
Perempuan itu tidak menjawab. Ia melepas sabuk pengaman, membungkuk melewati konsol, lalu mencium Bram.
Tubuh laki-laki itu membeku.
Laras menempelkan bibir sekali lagi, lebih jelas, agar Bram tahu itu bukan gerakan tidak sengaja. Baru kemudian tangan Bram naik. Ia berhenti di dekat pipi Laras tanpa menyentuh.
“Boleh?” bisiknya.
Laras mengangguk.
Telapak tangan Bram menangkup wajahnya. Ciuman balasannya lambat pada awalnya, seolah masih memberi Laras waktu untuk mundur. Ketika jari Laras meremas kerah kemejanya, kelembutan itu berubah lebih dalam.
Suara film menghilang dari perhatian. Laras hanya mendengar napas Bram dan detak jantungnya sendiri. Bibir mereka berpisah sesaat, lalu bertemu lagi. Bram tidak menarik tubuh Laras ke pangkuannya. Ia membiarkan perempuan itu menentukan jarak.
Air mata yang tadi tertahan jatuh ke sudut mata. Bram mengusapnya dengan ibu jari, kemudian mengecup jejaknya. Ujung lidahnya menyentuh sedikit rasa asin di kulit sebelum ia kembali menatap Laras.
Tidak ada kelaparan liar seperti di kamar hotel pertama mereka. Ada sesuatu yang lebih berat, lebih tenang, dan justru lebih sulit dihindari.
“Kenapa nangis?”
“Aku nggak tahu.”
“Mau berhenti?”
Laras menggeleng.
Ia mencium Bram sekali lagi, kali ini singkat. “Aku cuma baru sadar rasanya beda.”
“Apa yang beda?”
“Dulu aku selalu takut pintu dibuka orang.”
Bram menyentuhkan dahinya ke dahi Laras. “Sekarang?”
“Sekarang aku takut kamu terlalu baik sampai aku nggak bisa lari lagi.”
“Kamu tetap boleh lari.”
“Jangan kasih izin terus.”
“Kalau aku tahan, nanti kamu bilang aku memaksa.”
“Aku benci kamu selalu punya jawaban.”
“Aku nggak punya jawaban waktu kamu bilang nggak mau nikah.”
Pengakuan itu membuat Laras diam. Bram mengusap punggung tangannya.
“Aku pulang malam itu dan duduk di mobil hampir satu jam,” katanya. “Aku ingin balik, ketuk pintu, terus yakinkan kamu. Tapi kamu minta ruang. Jadi aku pikir, kalau cintaku cuma bisa hidup saat kamu menurut, berarti itu bukan cinta yang layak kamu terima.”
Laras memandang layar yang kini hanya menjadi cahaya bergerak di belakang bahu Bram.
“Aku masih takut nikah.”
“Aku tahu.”
“Ciuman ini bukan janji.”
“Aku tahu.”
“Tapi juga bukan kesalahan.”
Napas Bram tertahan. “Boleh aku ingat kalimat itu lama-lama?”
Laras mengangguk. Dulu mereka selalu menyebut pertemuan sebagai kesalahan, bahkan ketika diam-diam menantikannya. Menyebut satu ciuman sebagai pilihan terasa seperti mengembalikan nama kepada hubungan mereka.
Laras tertawa kecil. Film di layar sudah memasuki adegan lain, tetapi mereka tidak lagi mengikuti alurnya.
“Waktu di lapangan,” kata Bram, “kamu mau jawab apa?”
“Pertanyaan yang mana?”
“He must be someone you love very much.”
Bahasa Inggris Bram terdengar kaku karena ia mengulang kalimat orang lain. Laras menyentuh bekas luka tipis di dekat alisnya.
“Aku belum siap bilang.”
“Nggak apa-apa.”
“Tapi aku yang cium kamu duluan.”
“Aku catat sebagai kemajuan.”
“Jangan sombong.”
“Kalau begitu kita resmi pacaran?”
Laras memicingkan mata. “Kamu merusak suasana.”
“Aku butuh status untuk isi formulir.”
“Formulir apa?”
“Formulir laki-laki yang boleh jemput, kirim bekal, dan dicium di bioskop.”
Laras tertawa sampai dahinya jatuh ke bahu Bram. “Iya.”
“Iya apa?”
“Kita pacaran.”
Bram menahan wajah tetap tenang selama dua detik, lalu meraih ponsel.
“Jangan unggah apa pun.”
Ia meletakkan kembali ponselnya. “Baik, pacar.”
Bram kembali ke kursinya. Namun kali ini Laras menyelipkan tangan ke tangannya dan tidak melepaskannya hingga film selesai.
Hujan turun ketika mereka meninggalkan rooftop. Laras sempat berlari menuju mobil dan rambutnya basah di bagian belakang. Sesampainya di kos, pengelola mengizinkan Bram masuk sebentar setelah Laras menunjukkan rambut dan hujan deras di luar.
“Setengah jam saja, Mas,” kata pengelola. “Jam tamu tetap berlaku.”
“Siap, Bu.”
Laras mandi air hangat. Ketika keluar, Bram sudah menyiapkan pengering rambut dan handuk di kursi. Ia duduk di belakang Laras, menyalakan alat pada suhu rendah, lalu menggerakkan udara hangat dari akar ke ujung.
“Kamu belajar dari mana?”
“Video.”
“Video apa?”
“Cara mengeringkan rambut tanpa bikin rusak.”
Laras menatap pantulan mereka di cermin. Bram berkonsentrasi membagi rambut dengan jari, wajahnya lebih serius daripada saat membaca dokumen bisnis.
Kelelahan membuat kelopak mata Laras berat. Ia bersandar sedikit dan hampir tertidur sebelum rambutnya benar-benar kering.
Gerakan sisir berhenti setiap kali rambut tersangkut. Bram tidak pernah menarik paksa. Ia mengurai bagian kusut dengan jari, lalu mengeringkannya perlahan. Di luar, hujan memukul kaca dan suara penghuni kos lain terdengar berlari di lorong sambil mengangkat jemuran.
Pemandangan di cermin begitu biasa sampai terasa asing bagi Laras. Tidak ada gairah terlarang, kamar hotel, atau telepon pasangan yang harus diabaikan. Hanya seorang pacar yang mengeringkan rambutnya sebelum jam tamu habis.
“Skincare belum,” kata Bram.
“Besok saja.”
“Katanya serum malam harus teratur.”
“Kamu sekarang ahli?”
“Dua jam di toko harus ada hasil.”
Bram mengambil botol yang berlabel `melembapkan`. Ia menunjukkan produk itu agar Laras bisa mengonfirmasi, lalu meneteskan sedikit ke telapak tangannya.
“Tepuk pelan,” gumamnya, mengingat petunjuk.
Jari-jarinya menyentuh pipi Laras dengan hati-hati. Tidak ada niat menggoda dalam gerakan itu. Ia mengoleskan serum, menunggu sebentar, lalu menutupnya dengan pelembap.
“Kebanyakan,” protes Laras dengan mata terpejam.
“Besok aku kurangi.”
“Besok belum tentu boleh.”
“Berarti aku catat kalau malam ini kesempatan langka.”
Bram mengambil kapas bersih untuk menghapus pelembap yang mengenai alis. Ketelitian kikuk itu membuat Laras tersenyum dalam kantuk.
Laras benar-benar tertidur di kursi.
Bram mematikan pengering, merapikan botol, dan mengangkatnya ke tempat tidur. Laras terbangun sedikit ketika tubuhnya menyentuh kasur.
“Bram?”
“Tidur.”
“Filmnya jelek.”
“Iya.”
“Tapi malamnya bagus.”
Bram menahan senyum. Ia menarik selimut sampai bahu Laras, lalu duduk di tepi ranjang tanpa berusaha berbaring di sampingnya.
“Aku pulang setelah hujan reda.”
Laras membuka mata. Dalam cahaya meja yang lembut, tatapan Bram tidak lagi menyimpan nafsu seorang laki-laki yang mendapatkan perempuan secara sembunyi-sembunyi. Ada cinta yang pekat, hampir terlihat, dan tidak meminta dibalas malam itu juga.
Sesuatu di antara mereka benar-benar telah berubah.
Bukan karena malam yang gelap memberi keberanian, melainkan karena untuk pertama kalinya mereka tidak membutuhkan kegelapan untuk saling memilih.
Laras meraih tangannya sebelum kembali memejamkan mata.
heran
ribet ni urusan