Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Deru mesin mobil sport hitam milik Alvarez membelah jalanan sore kota Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata. Di dalam kabin yang kedap suara itu, atmosfer terasa begitu mencekam. Dinginnya AC mobil sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana yang terlanjur membeku.
Alvarez fokus menatap lurus ke depan. Kedua tangannya mencengkeram setir mobil dengan begitu kuat, hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol sempurna. Wajahnya mengeras, rahangnya terkatung rapat, dan matanya memancarkan kilatan cemburu yang teramat pekat. Pria itu mendiamkan Raelyn total sejak mereka meninggalkan area kampus.
Raelyn yang duduk di kursi penumpang samping kemudi melirik suaminya dengan pandangan cemas. Sifat tegas dan garang yang biasanya menjadi tameng andalannya mendadak lenyap. Dia tahu betul, kakek diktator di sampingnya ini sedang dalam mode mengamuk tingkat tinggi, meskipun penampilannya luar biasa tenang.
Raelyn berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana yang teramat kaku.
"Ehem... Al, lo... lo kok bisa tahu jadwal pulang gue hari ini? Perasaan gue gak ada ngomong apa-apa deh tadi pagi," ucap Raelyn dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
Tidak ada jawaban. Alvarez bahkan tidak meliriknya seinci pun.
Raelyn menelan ludah, mencoba taktik lain. Dia mengulurkan tangan kirinya, lalu dengan ragu-ragu mencolek lengan jas hitam Alvarez yang kokoh.
"Al... lo marah ya? Sori deh, gue gak bermaksud bikin lo repot sampai datang ke kampus segala. Lagian tadi gue udah usir dia kok, beneran."
Tetap senyap. Alvarez hanya menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, membuat mobil sport itu melesat semakin cepat menyalip beberapa kendaraan di depannya. Gengsi dan amarah di dalam dada sang CEO muda terlalu besar untuk diredam hanya dengan satu dua patah kata maaf.
Melihat usahanya mencairkan suasana gagal total karena didiamkan seperti patung es, Raelyn akhirnya menyerah. Dia mendengus pasrah, kembali melipat tangannya di dada, dan membuang pandangan ke luar jendela samping hingga mobil mereka akhirnya memasuki area parkir bawah tanah tawang.
...----------------...
Begitu sampai dirumah, Alvarez langsung melangkah lebar menuju ruang kerjanya tanpa menoleh ke belakang, membanting pintu kaca ruangan itu dengan cukup keras. Raelyn yang melihatnya hanya bisa menghela napas panjang dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri demi membersihkan diri dan menenangkan pikirannya.
Dua jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Alvarez yang berada di ruang kerjanya sudah tidak tahan lagi menahan gejolak amarah, cemburu, dan rasa penasaran yang membakar dadanya. Kalimat Elang di parkiran kampus mengenai 'cinta pertama' dan 'kesetiaan lima tahun' terus berputar otomatis di otaknya seperti kaset rusak.
Cklek!
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Alvarez membuka pintu kamar Raelyn dengan satu sentakan tangan yang sangat tegas.
Raelyn yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sembari memeriksa draf skripsinya langsung tersentak kaget. Dia mendongak dan mendapati Alvarez berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang berantakan jas kerjanya sudah dilepas, kemeja putihnya kusut dengan dasi yang sudah ditarik longgar, dan tatapan matanya menatap Raelyn dengan sangat tajam.
"Al, bisa gak sih kalau—"
Belum sempat Raelyn menyelesaikan kalimat protesnya, Alvarez sudah melangkah lebar memasuki kamar, lalu menutup pintu di belakangnya dengan bantingan keras. Pria itu berjalan mendekati tepi ranjang, berdiri tegak menjulang di depan Raelyn sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Jelaskan," ucap Alvarez pendek, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan dipenuhi intonasi menuntut yang dingin.
Raelyn mengernyitkan dahi, mencoba bersikap defensif. "Jelasin apa? Orang semuanya udah selesai di parkiran tadi, kan?"
Alvarez menundukkan tubuhnya sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata bulat milik Raelyn dengan tatapan yang mengunci pergerakan istrinya.
"Kenapa kamu memilih untuk berbohong tadi malam, Raelyn? Kenapa saat aku tanya kamu ketemu siapa di kafe, kamu memilih bilang tidak ketemu siapa-siapa? Kenapa kamu menyembunyikan fakta bahwa pria bernama Elang itu sudah menemuimu dan... memelukmu?"
Mendengar pertanyaan beruntun yang sarat akan kekecewaan mendalam dari mulut Alvarez, Raelyn langsung tertegun. Genggaman tangannya di draf kertas skripsi melonggar. Dia bisa melihat dengan jelas ada gumpalan luka dan rasa cemburu yang luar biasa besar di balik sepasang mata elang suaminya.
Raelyn menghela napas pendek, lalu menegakkan posisi duduknya untuk menatap Alvarez dengan pandangan yang tidak kalah serius. Tameng kebohongannya sudah hancur, dan dia tahu kejujuran adalah satu-satunya jalan keluar malam ini.
"Gue... gue bohong karena gue tahu lo bakal ngamuk kayak gini, Al!" aku Raelyn jujur, suaranya sedikit melunak.
bersambung....