Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Chandra
Bagas menarik kerah jas Dandi yang lecek dan membantunya berdiri. Pria muda itu berjalan terengah-engah menuju salah satu sofa kayu di sudut galeri, lalu menjatuhkan tubuhnya yang lemas. Empat pengawalnya hanya bisa berdiri gemetar di dekat pintu, tidak berani mendekat apalagi bersuara.
"Jelaskan sekarang," tegas Bagas dengan nada dingin. Tangannya masih mengepal, energi spiritual di sekitarnya belum sepenuhnya surut. "Sebelum aku benar-benar hilang kesabaran dan meremukkan sisanya."
Dandi memegangi dadanya, meringis pelan saat mengambil napas dalam-dalam. "Sabar dulu, Bagas. Kamu pikir aku ke sini cuma mau cari mati? Aku datang karena ada hal yang jauh lebih besar dari sekadar keberadaan Nyonya Yueji."
"Besar apa?" Bagas menaikkan sebelah alisnya. "Kamu hampir membuat tempat ini hancur. Kalau aku terlambat satu detik saja, kepalamu sudah menggelinding di lantai marmer itu."
Dandi menggeleng cepat. Ia menoleh ke arah pintu belakang, memastikan Yueji benar-benar sudah tidak berada di sekitar mereka. Setelah merasa aman, ia memajukan badannya dan berbisik.
"Yang istimewa di rumah ini bukan cuma Nyonya Yueji, Bagas. Malah bisa dibilang, keberadaan Nyonya cuma sebagian kecil dari misteri tempat ini."
Bagas mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"
"Suaminya," ucap Dandi dengan mata membelalak serius. "Tuan Chandra."
Bagas tertawa kecil, suara tawa yang penuh nada keraguan. "Suaminya? Nyonya Yueji tadi bilang suaminya cuma manusia biasa. Pria tampan yang manis dan bertanggung jawab. Apa hubungannya dengan urusan kita?"
"Itu yang Nyonya kira! Atau mungkin Nyonya tahu, tapi sengaja menutup-nutupinya," potong Dandi cepat. "Tuan Chandra itu dewa jatuh. Dan yang paling gila, dia sendiri sama sekali tidak sadar siapa identitas aslinya."
Ruangan itu mendadak hening. Bagas menatap Dandi lama, mencari tanda-tanda apakah pemuda di depannya sedang mengarang cerita demi menyelamatkan nyawa. Namun, raut wajah Dandi sangat pucat dan matanya memancarkan ketakutan yang nyata.
"Dewa jatuh?" ulang Bagas pelan. "Dandi, jangan main-main. Di zaman fana seperti sekarang, mana mungkin ada sosok seperti itu tinggal di rumah biasa?"
"Aku lihat dengan mataku sendiri, Bagas!" Dandi menepuk pahanya gemas. "Beberapa hari lalu, tetua sekte kami mengamati Tuan Chandra dari kejauhan saat dia sedang melukis di teras belakang. Waktu dia mulai memegang kuas dengan mode serius, hukum alam di sekitar rumah ini mendadak kacau. Udara mendengung, energi spiritual berkumpul seperti badai, dan terjadi fenomena langit."
"Fenomena langit bagaimana?"
"Awan di atas rumah ini berputar membendung cahaya matahari, forming pusaran emas," terang Dandi panjang lebar. "Dan yang paling tidak masuk akal, begitu garis kuasnya selesai membentuk wujud sesuatu di kanvas, lukisan itu langsung memancarkan aura kehidupan. Apa yang dia lukis, seketika dampaknya terasa nyata di alam fisik! Itu bukan sekadar teknik melukis tingkat tinggi. Itu kekuatan penciptaan tingkat dewa!"
Bagas berdiri mematung. Dadanya berdebar keras. "Hahh... benarkah?" gumamnya takjub. Perkataan Dandi terdengar begitu liar, tetapi ingatan tentang hawa murni yang menutupi area galeri ini membuat cerita itu masuk akal.
"Bagaimana mungkin ada teknik seperti itu?" tanya Bagas lagi, mencoba mencerna setiap frasa. "Lukisan yang menjadi nyata? Bukankah itu ajaran sihir kuno yang sudah punah?"
"Makanya aku bilang dia dewa jatuh!" Dandi menggeser duduknya mendekat. "Aura penciptaannya tidak bisa dipalsukan. Waktu kuasnya menari, garis warna merah dan emas di atas kertas itu hidup. Tetua kami sampai berlutut di semak-semak dari jarak lima ratus meter karena tidak kuat menahan tekanannya."
"Lalu kenapa dia hidup sederhana di galeri ini?" cetus Bagas penasaran. "Kenapa dewa setinggi itu memilih memegang kuas melukis pemandangan daripada menguasai benua?"
"Dia tidak ingat siapa dirinya, Bagas," jawab Dandi. "Baginya, dia cuma Chandra, seorang pelukis yang kebetulan punya istri cantik. Dia pikir fenomena di sekitarnya cuma kebetulan cuaca atau halusinasi semata. Dan Nyonya Yueji menjaga ilusi itu dengan sangat rapat!"
"Nyonya sengaja membiarkannya tetap tidak tahu?"
"Iya! Nyonya melindungi ketenangan hidup mereka," kata Dandi frustrasi. "Nyonya tidak ingin Tuan Chandra terbangun dan mengingat masa lalunya. Menurut Nyonya, hidup jadi manusia biasa jauh lebih membahagiakan."
"Dan kalian mau merusak kebahagiaan itu?" Bagas menatap Dandi dengan pandangan menuduh.
"Bukan merusak!" sahut Dandi membela diri. "Bantu aku merajuk Nyonya, Bagas! Kalau Sekte Surgawi bisa menjadikan Tuan Chandra sebagai pembina, kita semua akan dapat perlindungan. Ilmu penciptaannya bisa menyelamatkan peradaban kita yang makin terdesak."
"Tapi cara kalian salah," sela Bagas menggeleng tegap. "Menyerbu galeri ini sama saja menantang kematian. Nyonya Yueji bisa meratakan Sekte Surgawi dalam hitungan detik jika dia mau."
"Kami tahu kami nekat!" Dandi menepuk dadanya sendiri yang masih memar. "Kami kehabisan jalan. Beberapa kali tetua mengutus diplomat baik-baik, tapi Nyonya selalu melempar mereka keluar lewat jendela sebelum sempat duduk. Hari ini kami bawa rombongan karena menyangka bisa sedikit menggertak atau membuat Nyonya mau bernegosiasi."
"Menggertak Nyonya Yueji?" Bagas tertawa sinis. "Kalian benar-benar tidak paham siapa yang kalian hadapi. Di zaman purba, sepuluh ketua sekte besar seperti sekte kalian pernah berlutut di hadapannya hanya untuk meminta petunjuk singkat."
"Kami sudah paham sekarang," gumam Dandi sambil mengusap tengkuknya. "Makanya kami butuh kamu. Kamu murid Guru Katara. Nyonya tadi terbukti menghormati namamu dan ajaran gurumu. Kalau kamu yang berbicara, Nyonya pasti mau mendengar."
"Jangan bermimpi," potong Bagas tegas. "Aku datang ke sini untuk menjalankan amanat Guru Katara, bukan jadi alat politik Sekte Surgawi. Lagipula, kalau Nyonya sudah bilang tidak, keputusan itu tidak bisa diubah."
"Tapi Bagas, pikirkan dampaknya!" Dandi menahan lengan jubah Bagas. "Dewa jatuh seperti Tuan Chandra adalah keberadaan yang sangat mencolok. Sekte kita bukan satu-satunya yang menyadari keanehan di tempat ini. Sekte Hitam dan para iblis dari lembah utara juga mulai mencium aura unik ini."
Bagas mengerutkan alisnya. "Sekte Hitam sudah mulai bergerak?"
"Mereka sudah mengirim mata-mata!" kata Dandi serius. "Kalau Tuan Chandra tidak diresmikan sebagai pembina Sekte Surgawi atau tidak dijaga oleh benteng sekte, mereka bisa menyergap tempat ini sewaktu-tiba Tuan Chandra sedang sendirian."
"Nyonya Yueji ada di sisinya," sahut Bagas tenang. "Iblis mana yang berani mendekat?"
"Nyonya tidak bisa berdiri di sini dua puluh empat jam tanpa henti," balas Dandi. "Bagaimana kalau Tuan Chandra pergi ke pasar? Bagaimana kalau dia pameran di luar kota? Nyonya tidak mungkin terus-terusan mengawal suaminya seperti pengawal pribadi tanpa membuat Tuan Chandra curiga."
Bagas terdiam sebentar. Kata-kata Dandi mulai masuk akal di kepalanya. Keberadaan sosok sesakti itu tanpa pertahanan sekte memang seperti menaruh permata berharga di pinggir jalan umum.
"Jadi maksudmu," kata Bagas pelan, "kalian ingin memberi perlindungan tanpa merusak ilusi hidup biasanya?"
"Tepat!" Dandi mengangguk antusias. "Kami tidak menuntut Tuan Chandra harus pindah ke markas sekte. Kami cuma ingin nama beliau dicatat sebagai pembina, lalu kami tempatkan murid-murid terbaik di sekitar kota ini secara tersembunyi. Tapi Nyonya menolak bahkan sebelum kami selesai menjelaskan rencana ini!"
"Karena kalian datang dengan kesombongan," cetus Bagas. "Kalian berbicara seolah-olah Sekte Surgawi yang memberi bantuan, padahal kalian yang sangat membutuhkan Tuan Chandra."
Dandi menunduk canggung. "Ya... mungkin cara tetua kami terlalu kaku. Makanya sekarang aku memohon padamu."
"Aku tidak janji bisa membujuk Nyonya," ucap Bagas. "Tapi aku akan mencoba mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan kekhawatiran soal Sekte Hitam. Hanya itu. Soal takhta pembina, itu urusan kalian."
"Itu saja sudah cukup, Bagas! Terima kasih banyak!" Dandi bernapas lega. Namun selang beberapa detik, raut wajah Dandi kembali berubah tegang. Tangannya melambai pelan, memberi isyarat agar Bagas mendekatkan telinganya.
"Ada satu hal lagi yang bikin aku makin gemetar," bulu kuduk Dandi berdiri.
"Apa lagi?" tanya Bagas, merasa staminanya terkuras hanya karena mendengarkan cerita Dandi.
"Di belakang sana... ada yang lebih menakjubkan," bisik Dandi. "Ada Garuda."
Bagas mendelik. "Hah? Apa? Garuda?"
"Pelankan suaramu!" Dandi panik, menutup mulut Bagas dengan telapak tangannya, lalu cepat-cepat menariknya kembali karena takut ditampar. "Kalau Nyonya tahu kita membicarakan hal ini, habis kita!"
Bagas menurunkan volumenya, tetapi tatapannya penuh rasa heran dan tidak percaya. "Kamu bercanda? Garuda itu makhluk mitos tingkat tinggi. Bahkan di zaman purba dulu, keberadaannya sangat langka. Bagaimana bisa ada di rumah ini?"
"Aku tidak bercanda!" Dandi bersumpah sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar. "Bukan cuma sekadar burung biasa. Itu Garuda murni! Tampaknya makhluk itu dipelihara atau dipanggil oleh Tuan Chandra sendiri. Dia bertengger santai di dahan pohon belakang seolah-olah cuma burung peliharaan biasa."
"Dipelihara?" Bagas membelalak. "Raja para burung tempat persemayaman energi suci dipelihara seperti burung berkutut?"
"Mata kepala saya sendiri yang melihatnya," bisik Dandi mantap. "Waktu Tuan Chandra memberi makan, Garuda itu menundukkan kepalanya yang sebesar rumah itu dengan sangat patuh. Bahkan burung itu cuma memakan buah-buahan spiritual yang dilukis oleh Tuan Chandra."
Bagas menggeleng-gelengkan kepala. Rasa takjubnya kini berganti menjadi kebingungan yang sangat besar. Galeri kecil ini ternyata merupakan pusat berkumpulnya hal-hal yang berada di luar jangkauan akal sehat manusia fana.
"Baik, baik," bisik Bagas pelan. "Kita tahan diri dulu."
Mereka berdua serempak terdiam. Dalam keheningan yang serba canggung itu, Bagas dan Dandi perlahan-lahan memutar tubuh mereka. Kedua pasang mata itu menatap lurus ke arah teras belakang yang dibatasi oleh pintu kaca besar.
Di sana, di bawah naungan pohon rindang yang diterpa angin sore, terlihat seorang pria muda berpakaian santai sedang memegang kuas dengan senyum tipis di wajahnya. Di sampingnya, Yueji berdiri sambil menyodorkan secangkir teh hangat, tersenyum manis seolah tidak pernah ada pertumpahan darah yang hampir terjadi beberapa menit lalu. Dan tak jauh dari mereka, seekor burung berukuran raksasa dengan bulu keemasan yang berkilau tampak beristirahat dengan tenang, mengawasi halaman itu dengan mata yang tajam.
Bagas menelan ludah. Ia tahu, tugasnya untuk menjaga amanat gurunya baru saja menjadi sepuluh kali lipat lebih rumit.