Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Anak Buta di Balik Kandang

Keesokan paginya, Laras kembali ke jalur pinggir dengan alasan memeriksa ternak penerima pakan.

Ia tidak pergi sendiri. Wati membawa dokumen kunjungan, sementara Garang ikut di kendaraan karena Bu Endah meminta anjing itu berlatih berjalan setelah luka tenggorokannya pulih. Lokasi dan jadwal mereka disampaikan kepada drh. Hutomo serta Pak Sutrisno.

"Kalau lelaki itu ada, kita hanya memeriksa kandang dari luar," kata Laras. "Kalau tidak ada dan anak meminta bantuan, kita catat kondisinya. Jangan menjanjikan sesuatu yang belum bisa kita lakukan."

Wati memandangnya. "Ibu yakin anak dalam mimpi itu ada di sana?"

"Aku yakin ada anak yang disembunyikan. Soal lainnya harus dibuktikan."

Mereka berhenti lebih dulu di dua kandang terdaftar. Laras memeriksa respons terhadap pakan, mengambil foto, dan menandatangani buku kunjungan. Dengan demikian, kehadiran mereka di wilayah itu memiliki alasan profesional yang benar.

Pondok Karman tampak sepi ketika mereka lewat menjelang siang. Tidak ada motor atau pikap di depan. Pintu kandang setengah terbuka, tetapi pintu rumah terkunci.

Laras memanggil dari luar pagar. "Pak Karman? Kami dari Puskeswan."

Tak ada jawaban.

Kemudian terdengar batuk kecil dari belakang terpal.

Laras tidak langsung masuk. Ia berjalan di sepanjang batas luar sampai menemukan bagian pagar yang roboh akibat badai. Dari sana terlihat tumpukan jerami, beberapa kambing kurus, dan seorang anak perempuan duduk di tanah. Tali melingkari pergelangan kakinya dan terikat longgar pada tiang.

Anak itu sangat kecil untuk perkiraan usia delapan tahun. Bajunya kebesaran dan kotor. Rambutnya dipotong tidak rata. Kedua matanya terbuka, tetapi permukaannya tertutup putih keruh. Kepalanya bergerak mengikuti suara langkah, bukan cahaya.

Laras menahan napas.

"Halo," katanya lembut dari luar pagar. "Namaku Laras. Aku dokter."

Tubuh anak itu langsung meringkuk. Kedua lengannya melindungi kepala.

"Jangan pukul," bisiknya terbata.

"Tidak ada yang akan memukulmu. Aku berdiri jauh. Kamu bisa dengar suaraku?"

Anak itu mengangguk sedikit.

Laras berjongkok agar suaranya datang dari posisi rendah. "Ada teman bersamaku. Namanya Wati. Ada anjing besar juga, namanya Garang. Dia tidak akan mendekat kalau kamu takut."

Garang seolah mengerti. Ia berbaring di tanah beberapa meter dari pagar, kepala di antara kaki depan.

Anak itu mengendus udara. "Anjing?"

"Iya. Bulunya tebal. Warnanya gelap. Dia pernah sakit, tapi sekarang sudah sehat."

"Galak?"

"Kalau aku bilang diam, dia diam. Kalau kamu tidak mau menyentuhnya, dia tetap di sana."

Anak itu tidak menjawab. Laras mengeluarkan permen berbungkus dari tas. Ia menggoyangkan bungkusnya agar berbunyi.

"Aku punya permen. Masih tertutup. Boleh kutaruh dekat pagar?"

Hening cukup lama sebelum anak itu mengangguk.

Wati hendak melangkah, tetapi Laras memberi tanda agar tetap di tempat. Laras masuk melalui bagian pagar yang roboh dengan gerakan lambat. Ia meletakkan permen di tanah, lalu mundur tiga langkah.

"Ada di depanmu, sedikit ke kanan."

Jari kurus meraba tanah. Anak itu menemukan bungkus permen dan langsung menggenggamnya di dada tanpa membuka.

"Namamu Icha?" tanya Laras.

Anak itu tersentak. "Dari mana tahu?"

"Kamu pernah menyebutnya ketika menangis. Apakah itu nama yang kamu ingat?"

"Pak bilang Icha."

"Pak Karman ayahmu?"

Kepala Icha bergerak cepat ke kiri dan kanan. Ketakutan membuat napasnya pendek.

"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menjawab."

Laras melihat bekas memar lama di lengan dan luka gesek baru di pergelangan kaki. Ia tidak membuka pakaian anak itu atau memeriksa paksa. Hanya dari posisi duduk, cukup jelas bahwa anak tersebut membutuhkan perlindungan dan pemeriksaan medis.

"Matamu sakit?"

"Gelap," bisik Icha. "Dulu ada cahaya. Habis obat, panas. Lalu gelap."

Wati menutup mulut, menahan emosi. Laras tetap menjaga suara.

"Obat apa?"

"Pahit. Bau daun. Pak bilang supaya Icha tidak lari."

Kalimat sederhana itu lebih mengerikan daripada penjelasan panjang. Laras tidak meminta rincian lain. Anak delapan tahun tidak seharusnya mengulang trauma hanya demi memuaskan pertanyaan orang dewasa.

"Boleh aku melihat dari dekat tanpa menyentuh?"

Icha ragu, lalu mengangguk. Laras mendekat dari depan sambil terus berbicara. Selaput putih tampak bukan kelainan bawaan sederhana. Ada bekas iritasi lama di kulit sekitar mata. Pemeriksaan yang aman membutuhkan dokter mata dan alat lengkap.

"Aku tidak akan memberi obat sekarang," kata Laras. "Matamu harus diperiksa di rumah sakit."

"Pak marah kalau Icha pergi."

"Karena itu jangan melawan sendirian."

Garang mengeluarkan dengusan kecil. Icha mengangkat kepala.

"Boleh pegang anjing?"

Laras memanggil Garang mendekat perlahan. Anjing itu merayap dengan perut rendah, lalu berhenti di luar jangkauan. Laras menaruh tangan Icha pada punggung tangannya sendiri, membiarkannya memilih.

Ujung jari Icha menyentuh bulu Garang. Anjing itu tidak bergerak. Perlahan, telapak kecil tersebut mengusap sekali.

Untuk pertama kalinya, wajah Icha tidak sepenuhnya tegang.

"Hangat," katanya.

Garang memiringkan kepala, lalu meletakkan dagu di tanah. Icha tertawa sangat kecil, seolah suara itu sudah lama tidak digunakan. Ia meraba telinga anjing tersebut, berhenti setiap kali Garang bernapas, kemudian berani menyentuh kalung di lehernya.

"Dia punya rumah?" tanya Icha.

"Punya. Ada orang yang selalu menunggunya pulang."

"Kalau Icha pergi, ada yang tunggu?"

Pertanyaan itu membuat tenggorokan Laras sakit. Ia tidak tahu keluarga anak ini, tetapi tak mungkin seorang anak hilang tanpa meninggalkan ruang kosong di suatu tempat.

"Pasti ada orang yang mencarimu," katanya hati-hati. "Kalau kamu ingat nama lain, tempat, lagu, atau suara dari sebelum tinggal di sini, ceritakan kepada petugas nanti. Tidak perlu memaksa ingatan sekarang."

Icha menyentuh dahinya. "Ada suara perempuan panggil... Lika. Atau Ika."

"Tidak apa-apa kalau belum jelas."

Laras mencatat bunyi itu tanpa menunjukkan keterkejutan. Nama Icha mungkin pemberian Karman. Potongan `Lika` bisa menjadi bagian dari nama lama, tetapi ia belum boleh menyimpulkan.

Ia bertanya apakah Icha makan hari ini. Anak itu menjawab mendapat bubur pagi. Air dalam cangkir berbau logam dan berdebu. Laras menggantinya dengan air kemasan yang masih tersegel, membiarkan Icha mendengar tutup botol dibuka agar tahu airnya belum dicampur sesuatu.

"Minum perlahan."

Icha mengikuti. Setelah beberapa teguk, batuk keringnya berkurang.

"Dia akan mengingat baumu," jawab Laras. "Kalau kita bertemu lagi, panggil namanya."

Saat Icha mengangkat tangan, kerah bajunya bergeser. Di dekat tulang belikat terlihat ujung bekas luka melengkung, persis seperti dalam mimpi. Laras tidak menyentuhnya. Ia hanya mencatat bentuk dan sisi tubuh dalam ingatan.

"Icha, dengarkan aku. Permen itu boleh kamu simpan. Kalau takut, pegang bungkusnya dan ingat aku akan kembali dengan orang yang bisa melindungimu. Jangan bilang kepada Pak Karman kalau itu membuatmu dalam bahaya."

"Rahasia?"

"Rahasia untuk menjaga kamu, bukan rahasia karena kamu melakukan kesalahan. Kamu tidak salah."

Bibir anak itu bergetar. "Laras balik?"

"Aku akan berusaha kembali secepat mungkin."

Laras tidak berkata pasti hari ini atau besok. Ia tidak tahu seberapa cepat polisi dan petugas perlindungan anak dapat bergerak. Janji palsu bisa menjadi luka baru.

Suara mesin terdengar dari jalan.

Garang langsung berdiri dan menggeram rendah. Wati melihat melalui celah pagar. "Motornya datang."

Laras cepat mundur dari anak itu. Ia meminta Icha tetap duduk dan tidak mencoba lari. Wati berpindah ke dekat kendaraan, membawa dokumen kunjungan di tangan.

Karman memasuki halaman dengan wajah keras. Sebuah karung panjang diikat di belakang motornya. Bau kulit hewan, bahan kimia, dan daun pahit ikut terbawa.

Ujung bahan berbulu menyembul dari karung sebelum Karman mendorongnya masuk. Warnanya cokelat gelap dengan pola yang tidak menyerupai kulit kambing biasa. Pada sepatu lelaki itu menempel tanah merah dari jalur pedalaman, bukan debu pucat daerah pondok.

Laras mengingat semuanya. Wati sempat memotret kendaraan dan nomor rangka dari posisi umum sebelum memasukkan ponselnya. Mereka tidak menyentuh karung atau menuduh tanpa pemeriksaan, tetapi barang itu memperkuat dugaan bahwa Karman sering berpindah wilayah dan mungkin terkait perdagangan satwa.

"Kalian masuk tanpa izin!"

"Pagar rusak dan kami mendengar anak meminta bantuan," jawab Laras. "Kakinya diikat. Matanya membutuhkan perawatan."

"Dia anak angkat saya. Tali itu supaya tidak jatuh ke sumur. Matanya sakit sejak lahir."

"Anak itu bilang dulu masih bisa melihat."

Karman menatap Icha. Tubuh kecil itu langsung gemetar. Laras tahu satu kalimat tambahan dapat dibayar anak itu setelah mereka pergi.

Ia mengubah nada menjadi lebih datar. "Saya tidak akan memperdebatkan di sini. Sebagai tenaga kesehatan yang melihat anak dalam keadaan berisiko, saya wajib membuat laporan. Bapak bisa menunjukkan dokumen pengasuhan dan catatan pengobatan kepada petugas."

"Tidak ada yang boleh mengambil anak saya. Pergi sebelum saya panggil orang kampung."

Wati diam-diam menekan tombol rekam pada ponselnya. Laras tidak terpancing. Ia memberi tanda kepada Garang dan mundur ke kendaraan.

Sebelum naik, Laras menoleh sekali.

Icha masih duduk di dekat jerami. Permen itu digenggam erat di dada. Air mata mengalir tanpa suara, tetapi ia tidak menangis keras yang bisa membuat Karman marah.

Laras menekan kuku ke telapak tangannya sampai rasa sakit menjaga wajahnya tetap tenang.

Ia tidak meninggalkan anak itu. Ia sedang mundur untuk membawa pertolongan yang lebih kuat.

Di dalam kendaraan, Wati akhirnya menangis. "Mengapa kita tidak membawa Icha sekarang?"

"Karena Karman bisa menuduh kita menculik, memanggil orang bersenjata, atau melukai Icha sebelum bantuan tiba," jawab Laras meski suaranya ikut berat. "Kita butuh polisi dan Dinas Sosial. Rekamanmu, lokasi, kondisi tali, dan pernyataannya cukup untuk laporan awal."

"Kalau dia memindahkannya?"

"Karena itu kita lapor hari ini dan minta pengamanan cepat. Pak Sutrisno juga akan memeriksa jalur keluar tanpa mendekati rumah."

Laras menulis kronologi selagi ingatan masih segar. Ia memisahkan apa yang dilihat, apa yang dikatakan Icha, dan apa yang hanya diduga. Laporan yang kuat tidak boleh mencampur ketiganya.

Aku pasti kembali, janjinya dalam hati.

1
Nadia Zalfa
lanjut kak
aku
lanjutkan melangkah menuju kehancuran total van. aku mendukungmu!!! /Determined//Determined//Facepalm//Facepalm/
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!