Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033 - Lift dan Sebuah Ciuman

Pagi berikutnya, aku meletakkan obat pergelangan kaki di depan Vania.

"Siapa yang meneleponmu tadi malam?"

Tangannya berhenti menyusun jadwal. "Tim hotel."

"Tim hotel tidak tahu aku tidur dengan lampu jingga. Raka juga tidak tahu cedera kakiku kambuh dua tahun lalu."

Vania mengembuskan napas. "Mbak Laras, saya diminta memastikan pekerjaan Anda lancar."

"Oleh siapa?"

"Pak Raka."

Aku menelepon Raka dan menyalakan pengeras suara.

"Apakah kau tahu kaki kiriku pernah cedera?"

"Sekarang tahu. Kenapa?"

"Apakah kau meminta Vania melaporkan kondisiku pukul dua pagi?"

Keheningan singkat. "Tidak."

Aku menutup sambungan.

Vania menatap lantai. "Saya tidak pernah berniat memata-matai."

"Arkana mengirimmu."

"Dua tahun lalu. Pak Arkana meminta saya mencari pekerjaan di lingkungan tur Anda kalau ada kesempatan. Tidak boleh mendekat bila Anda menolak, tidak boleh melaporkan alamat pribadi, hanya kesehatan dan ancaman. Ketika Pak Raka mencari asisten lokal, saya melamar melalui jalur biasa."

"Apa saja yang kaulaporkan?"

Vania membuka ponselnya dan menunjukkan rangkaian pesan singkat. Sebagian besar hanya satu arah.

`Jadwal selesai. Tidak ada masalah.`

`Cedera kaki terasa setelah latihan. Sudah diperiksa.`

`Ada penggemar mencoba masuk belakang panggung. Keamanan menangani.`

Balasan Arkana lebih pendek lagi.

`Pastikan dokter terbaik tersedia.`

`Jangan biarkan namaku disebut.`

`Kalau dia bertanya, jangan berbohong.`

Pesan terakhir membuatku menatap Vania.

"Aku baru bertanya sekarang."

"Karena itu saya menjawab sekarang."

"Apakah dia pernah meminta rekaman pribadi atau nama lelaki yang kutemui?"

"Tidak. Pak Arkana hanya sekali bertanya apakah Anda bahagia. Saya bilang itu bukan hal yang bisa saya ukur. Setelah itu beliau tidak bertanya lagi."

Rasa hangat dan marah bercampur di dada. Dia tetap menemukan celah dalam janjinya, tetapi setidaknya tidak menggunakannya untuk mengambil hidupku kembali.

"Dia melanggar janjinya untuk berhenti mengawasiku."

"Beliau menyebutnya jalur darurat. Saya menyebutnya lelaki keras kepala yang tidak tidur kalau tidak tahu Anda makan."

Aku seharusnya memecatnya. Sebaliknya, aku bertanya, "Bagaimana keadaannya?"

Vania tersenyum tipis. "Pertanyaan itu tidak termasuk dalam laporan saya."

Kami berangkat ke Aveline Grand sebelum siang. Di pintu hotel, puluhan reporter sudah menunggu. Identitas Nirmala bocor setelah foto kedatanganku bersama Raka tersebar.

"Mbak Nirmala, apakah benar Anda Larasati, istri Pak Arkana?"

"Mengapa pulang bersama Raka Mahendra?"

"Apakah pernikahan dengan wali angkat Anda masih berlaku?"

Vania membuka jalan. Aku menunduk, tetapi sebuah mikrofon nyaris menyentuh wajah.

"Apakah Pak Arkana membiayai karier Anda?"

"Karier saya dibangun dari beasiswa, latihan, dan kontrak saya sendiri," jawabku.

Seorang reporter lain mengangkat foto dari dua tahun lalu, saat aku dan Arkana keluar dari kantor pencatatan.

"Catatan publik menunjukkan status Anda belum berubah. Apakah Anda masih menikah dengan Pak Arkana sambil berkencan dengan Pak Raka?"

"Saya tidak membahas status pribadi di pintu hotel."

"Apakah hubungan itu dimulai ketika Anda masih menjadi anak asuhnya?"

Langkahku berhenti. Vania segera berdiri di antara mikrofon dan tubuhku.

"Pertanyaan berikutnya hanya tentang pertunjukan," katanya.

Reporter itu tidak mundur. "Publik berhak tahu apakah citra Nirmala dibangun dari skandal."

Aku mengangkat kepala. "Publik berhak menilai musik yang saya jual kepada publik. Masa kecil saya bukan produk Anda."

Beberapa kamera menangkap jawabanku. Aku tahu potongannya akan beredar sebelum kami mencapai lift, mungkin dengan judul yang sama sekali berbeda.

Kilatan kamera semakin rapat.

Raka datang bersama keamanan hotel dan membawa kami masuk. "Acara ini tentang musik, bukan kehidupan pribadi artis saya."

"Artis Anda atau pasangan Anda?" teriak seorang reporter.

Raka merangkul bahuku untuk menghalangi kamera. Aku menepisnya setelah pintu tertutup.

"Jangan menambah bahan berita."

"Aku baru menyelamatkanmu."

"Aku tidak perlu diselamatkan dengan pelukan yang tidak kuminta."

Wajahnya berubah serius. "Maaf."

Kami masuk ke lift panorama menuju ballroom. Dinding kaca memperlihatkan Jakarta mengecil di bawah. Motif spider lily terukir pada panel logam, membuat cincin yang tersembunyi dalam tasku terasa berat.

"Kau sengaja memilih hotel ini," kataku.

"Aku ingin kau berhenti takut pada bangunan milik lelaki itu."

"Aku tidak takut pada bangunannya. Aku takut pada bagian diriku yang masih mengenali setiap aromanya."

Lift itu menggunakan pengharum kayu yang sama dengan Vila Arkana. Bahkan pilihan musik instrumentalnya berasal dari daftar putar yang pernah kususun. Hotel ini berkembang dua tahun, tetapi jejak kami tetap berada pada detail yang tidak akan dikenali tamu lain.

Raka mengikuti pandanganku ke motif bunga. "Dia belum mengubah apa pun."

"Kau sering datang?"

"Cukup sering untuk tahu ruang kerja lantai atas menyimpan foto pengantin yang tidak pernah dipublikasikan."

Aku berbalik tajam. "Foto apa?"

"Aku tidak melihat jelas. Pintu terbuka saat rapat. Perempuan dalam gaun putih itu mirip dirimu."

Jantungku berdetak lebih cepat. Foto studio. Pesan yang kutinggalkan sebelum semua kebenaran pecah ternyata telah sampai kepadanya.

"Dia menyimpannya," bisikku.

Raka menghela napas. "Itulah masalahnya. Dia selalu ada bahkan ketika tidak berada di ruangan."

"Atau ingin dia melihatmu membawaku pulang?"

Raka menekan tombol berhenti darurat. Lift melambat di antara lantai.

"Aku lelah menjadi lelaki yang selalu menunggu bayangan orang lain keluar dari matamu," katanya.

"Aku tidak pernah menjanjikan lebih dari kerja sama."

"Aku tahu. Tapi beri aku satu jawaban jujur. Kalau Arkana meminta kembali, apakah kau pergi?"

"Dia tidak akan meminta."

"Itu bukan jawaban."

"Raka, jalankan lift."

Dia berdiri terlalu dekat. "Dua tahun aku ada di sini. Dia tidak."

"Dan aku menghargainya. Tapi waktu bukan mata uang untuk membeli cinta."

Raka menyentuh wajahku, lalu menciumku sebelum aku sempat mundur.

Aku mendorong dadanya. "Berhenti."

Dia langsung melepaskan. Penyesalan muncul di wajahnya.

"Maaf. Aku salah."

Aku mengusap bibir. "Jangan pernah lakukan lagi."

"Tidak akan."

Lift bergerak kembali setelah tombol dilepas. Pintu terbuka di lantai ballroom.

Arkana berdiri tepat di luar.

Dia mengenakan setelan hitam dan dasi merah gelap yang kubelikan dua tahun lalu. Di belakangnya ada direktur hotel dan dua staf yang langsung menunduk.

Tatapannya berpindah dari wajah Raka ke bibirku.

Dua tahun memisahkan kami, tetapi tubuhku mengenal tatapan itu sebelum pikiranku sempat menyusun sapaan. Nyeri lama di pergelangan kaki, cincin dalam tas, dan seluruh malam tanpa nomor aktif seakan berkumpul di ruang sempit itu.

Aku ingin mengatakan ciuman tadi bukan pilihanku. Harga diriku menahan penjelasan sebelum dia bertanya.

Tidak ada amarah terbuka. Hanya tangan di sisi tubuhnya yang mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya kehilangan warna.

Pintu lift mulai menutup lagi.

Arkana menahannya dengan satu tangan, tanpa pernah melepaskan pandangan dariku.

Kami akhirnya benar-benar bertemu kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!