Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Bank Berjalan

Nama Marcus tidak langsung dijelaskan Nathan.

Dua minggu berikutnya dipenuhi pekerjaan. Iklan ponsel membuat wajah Nathan semakin dikenal, dan beberapa merek berlomba mengajukan kontrak. Aegis Jewels menawarkan nilai yang bahkan lebih tinggi daripada kontrak Julian sebelumnya.

Di ruang rapat perusahaan Nick, Gavin membagikan rancangan kerja sama. Nathan akan menjadi duta koleksi pria di Indonesia. Satu perhiasan utama harus dipotret di kantor pusat Singapura karena tidak diizinkan dibawa keluar dari ruang penyimpanan khusus.

"Aku tidak mau pergi selama kondisi Karina belum aman," kata Nathan.

"Pemotretan Singapura bisa dijadwalkan nanti," jawab Gavin. "Kontrak lokal berjalan dulu."

Nick memeriksa angka honor dan bersiul. Bobby bersandar di kursi sambil menatap Nathan.

"Aegis membayar mahal karena tahu dia bukan model biasa," katanya. "Ini bank berjalan."

Karina yang ikut melalui panggilan video mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Nathan memberi tatapan peringatan, tetapi Bobby sudah terlanjur bicara.

"Ayahnya pemilik Maxson Private Bank di Singapura. Marcus Mah. Nathan ini Aries Mah, pewaris tunggal yang pura-pura jadi mahasiswa miskin dan mencuri mi instan kami."

Ruangan membeku.

"Bobby," kata Nathan pelan.

"Apa? Kalian sudah menikah. Masa Ci Karin belum tahu?"

Karina menatap layar. Nama Aries memang tercantum pada dokumen pernikahan, tetapi Nathan selalu menyebutnya nama resmi yang digunakan di Singapura. Ia belum pernah mendengar penjelasan tentang sebuah bank keluarga.

"Kita bicara di rumah," kata Nathan.

"Baik," jawab Karina.

Nada tenangnya membuat Nick menendang kaki Bobby di bawah meja.

Setelah panggilan berakhir, Nathan menandatangani kontrak dengan syarat jadwal luar negeri menunggu izin dokter. Bobby meminta maaf, tetapi Nathan tidak marah. Ia hanya tampak seperti seseorang yang tahu tembok rahasianya mulai retak.

Di Sky Palace, Karina juga sibuk. Metamorfosa telah mengajukan akta pendirian dan nomor usaha melalui notaris. Livia menangani perjanjian sewa kantor kecil, Josie menyusun daftar narasumber, sedangkan Karina memimpin kalender konten.

Artikel pertama membahas perempuan yang membangun hidup setelah perceraian. Mereka menghindari nada mengasihani dan menyertakan informasi praktis tentang keuangan, dukungan psikologis, serta kembali bekerja.

Mereka meninjau tiga calon ruang kantor melalui video. Yang pertama terlalu mahal dan tidak memiliki akses lift langsung. Yang kedua murah, tetapi berada di jalan sempit yang sulit dicapai narasumber. Ruang ketiga lebih kecil, memiliki cahaya alami, ruang menyusui, dan akses transportasi yang baik.

"Kita pilih yang ketiga," kata Karina. "Jangan habiskan modal untuk lobi. Pembaca tidak peduli meja kita marmer atau kayu."

Livia menyetujui dengan syarat kontrak sewa memberi hak keluar setelah satu tahun. Josie mengusulkan satu sudut studio rias yang dapat dipakai untuk produksi video dan pelatihan perempuan yang kembali bekerja.

Karina membagi kalender menjadi tiga: cerita pribadi yang telah diverifikasi, panduan praktis dari ahli, dan profil bisnis kecil. Semua tulisan tentang trauma harus melalui persetujuan narasumber sebelum terbit. Mereka juga membuat aturan bahwa foto anak tidak boleh digunakan sebagai umpan emosi tanpa izin khusus.

"Kita bahkan belum meluncur, tapi aturannya sudah seperti media besar," kata Josie.

"Lebih mudah membangun etika sejak awal daripada memperbaiki kerusakan nanti," jawab Karina.

Livia menatapnya melalui layar. "Aku semakin yakin Bu Wanda memberiku orang yang tepat."

Pujian itu membuat Karina tersenyum. Dahulu promosi yang hilang terasa seperti pintu terakhir tertutup. Kini ia melihat betapa banyak pintu yang tidak pernah ditemukan selama terus berdiri di lorong yang sama.

"Judulnya jangan terlalu defensif," kata Livia melalui rapat video. "Kita tidak sedang memohon masyarakat menerima janda."

Karina mengganti judul menjadi Setelah Pernikahan Berakhir, Hidup Tidak Ikut Selesai.

Josie mengangkat dua jempol. "Lebih kuat."

Ketika rapat selesai, Nathan pulang membawa makanan. Karina tidak langsung menyinggung Marcus. Ia menyerahkan cetakan kontrak Aegis yang sudah dibacanya dari email.

"Nilainya besar," katanya.

"Masuk ke rekening yang kamu kelola."

"Aku bicara tentang ayahmu."

Nathan melepas jaket. "Marcus Mah memimpin Maxson. Aku memakai nama Aries di Singapura. Aku tinggal dengannya sejak umur delapan."

"Kamu pewaris tunggal?"

"Secara biologis, iya. Ada anak angkat di keluarga, tapi struktur warisnya rumit."

"Kenapa tidak pernah bilang?"

"Karena aku ingin punya sesuatu yang bukan milik Marcus. Kuliahku, balapan, kontrak iklan, kamu."

Karina tersentak pada kata terakhir. "Aku bukan sesuatu yang bisa kamu miliki."

"Aku tahu." Nathan mengusap wajah. "Maksudku hubungan kita. Aku tidak mau kamu menilai dirimu terhadap bank, nama keluarga, atau orang yang bahkan belum datang menemuiku."

"Dia tahu kita menikah?"

Nathan diam terlalu lama. "Cepat atau lambat dia akan tahu."

Jawaban itu belum lengkap. Karina merasakan jurang kekayaan di antara mereka semakin besar, tetapi juga melihat luka yang membuat Nathan enggan mengucapkan nama ayahnya.

Malamnya, mereka duduk di ruang bunga melihat rekaman USG. Nathan berlutut di depan Karina, meletakkan telapak tangan di perutnya. Gerakan kecil menyambutnya.

"Mereka semakin kuat," katanya.

"Seperti ayahnya?"

"Semoga tidak sekeras kepala ayahnya."

Karina menyisir rambut abu-abunya dengan jari. "Kamu benar-benar membayangkan masa depan bersama mereka?"

Nathan menatapnya. "Aku membayangkan rumah yang penuh anak, suara berisik, dan kamu mengeluh aku terlalu memanjakan semuanya."

Kata cinta sudah berada sangat dekat. Namun Karina takut mengucapkannya, dan Nathan seolah menunggu tanpa mau memaksa.

Di kantor Nick, Bobby masih merasa bersalah. Ia mengirim pesan kepada Karina yang berisi satu kalimat.

Maaf aku keceplosan, Ci. Tapi cepat atau lambat, Om Marcus pasti muncul.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!