Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Di Bawah Hujan

Dua hari kemudian, Bandung diguyur hujan sejak sore.

Aku berdiri di seberang Rawon Bu Lina sambil memegang payung hitam milik Rangga yang sebenarnya tidak perlu dikembalikan hari itu. Payung itu dipinjamkan sebulan lalu dan baru sekarang kujadikan alasan untuk menemuinya.

Warung hampir kosong. Dari balik tirai hujan, kulihat Rangga menutup laptop dan membantu Bu Lina mengangkat bangku. Ia tidak mencariku sejak pertemuan di rumah. Ia memberiku jarak persis seperti yang pernah kuminta, dan ternyata jarak itu lebih menyebalkan daripada dugaanku.

Kemarin aku sengaja lewat gang belakang untuk menghindari warung, lalu kecewa karena ia tidak muncul. Pagi tadi aku mengetik tiga pesan dan menghapus semuanya. Yang pertama terlalu marah. Yang kedua terlalu jujur. Yang ketiga hanya bertanya apakah ia sudah makan, tetapi bahkan kalimat itu terasa seperti pengakuan.

Akhirnya aku mencuci payung yang sebenarnya sudah bersih, mengeringkannya, lalu menunggu hujan turun untuk membuat alasan paling tidak masuk akal.

Aku menyeberang. Ujung celana langsung basah terkena air jalanan.

"Ini," kataku saat mencapai teras.

Rangga menatap payung. "Payungku?"

"Bukan lemari."

"Aku lupa kamu pinjam."

"Makanya kukembalikan."

Bu Lina muncul membawa dua cangkir. Tatapannya berpindah dari payung yang masih terbuka ke hujan deras di belakangku.

"Kalau payung dikembalikan sekarang, Sekar pulang pakai apa?"

"Nanti reda."

"Ramalan cuaca bilang sampai malam." Ia meletakkan cangkir. "Ibu mau beli jahe ke rumah sebelah. Kalian jaga panci."

Rumah sebelah menjual pulsa, bukan jahe. Bu Lina pergi sebelum kami sempat membantah.

Rangga menyandarkan payung di dinding. "Karet rambutmu ada di atas meja."

"Aku nggak datang untuk itu."

"Datang untuk payung."

"Iya."

"Saat hujan."

Aku mengembuskan napas. "Kamu mau mengejek atau bicara?"

"Aku menunggu kamu mau bicara."

"Kenapa harus aku? Kamu yang meninggalkan kalimat setengah jadi."

Rangga berdiri di seberang panci rawon. Uap rempah naik di antara kami.

"Aku bilang kamu tetanggaku karena Ibumu bertanya di depan semua orang," katanya. "Aku nggak mau mengatakan sesuatu tentang perasaanku yang membuatmu dipermalukan atau dipaksa menjawab di rumah itu."

"Jadi memang ada perasaan?"

"Ada."

Jawaban langsung itu menghilangkan semua kalimat tajam yang sudah kusiapkan.

"Sejak kapan?"

"Lama."

"Lama itu kapan?"

"Kalau kujawab sekarang, kamu mungkin lari lagi."

"Jangan bercanda."

"Aku nggak bercanda."

"Coba jawab."

Rangga bersandar ke meja kasir. "Waktu kelas dua SMA, kamu memukul anak laki-laki yang menendang Kari."

"Aku mendorongnya."

"Sampai masuk selokan."

"Dia pantas."

"Nah, itu."

Aku menatapnya tak percaya. "Kamu menyukaiku karena aku mendorong orang ke selokan?"

"Aku menyukaimu sebelum itu. Hari itu aku baru sadar betapa parahnya."

Tawa lolos dari mulutku. Rangga ikut tersenyum, dan ketegangan di antara kami berubah bentuk. Masih ada, tetapi tidak lagi tajam.

"Kenapa nggak pernah kelihatan?"

"Kelihatan. Bara mengejekku bertahun-tahun. Bu Lina menyimpan paha ayam untukmu setiap kamu datang karena dia tahu aku akan memberikan punyaku. Bahkan Kari lebih sering tidur di sandalmu daripada sandalku."

"Kari bukan bukti. Dia mengikuti siapa pun yang bawa ikan."

"Kamu selalu bawa ikan. Berarti dia punya penilaian bagus."

Aku menunduk agar Rangga tidak melihat senyumku terlalu jelas. Selama ini kupikir perhatian itu hanya kebiasaan dua keluarga yang tinggal berdekatan. Ternyata di balik setiap tindakan kecil ada sesuatu yang ia jaga tanpa pernah mengirim tagihan.

Hujan menghantam atap seng lebih keras. Aku memandang gelang giok di pergelangan tangan, lalu wajah Rangga.

"Aku nggak tahu apa yang kurasakan bisa dipercaya," kataku. "Setelah semua yang terjadi, mungkin aku hanya menempel kepada orang yang membuatku merasa aman."

"Kamu boleh menunggu sampai tahu."

"Kalau ternyata jawabannya bukan yang kamu mau?"

"Aku akan sedih." Ia mengangkat bahu kecil. "Lalu tetap memastikan Ibu tidak menaruh terlalu banyak sambal di mangkukmu."

"Sesederhana itu?"

"Nggak akan sederhana untukku. Tapi perasaanku bukan hukuman yang harus kamu hindari dengan mengatakan iya."

"Mungkin."

Aku tersinggung. "Kamu setuju?"

"Aku nggak akan bilang perasaanmu pasti cinta hanya karena aku ingin begitu. Kamu berhak mencari tahu."

"Lalu perasaanmu?"

"Sudah ada jauh sebelum Damar datang."

Dadaku menghangat dan sakit sekaligus. "Kenapa nggak pernah bilang?"

"Karena dulu kamu ingin kuliah, kerja, dan keluar dari rumah tanpa bergantung pada siapa pun. Aku takut kalau bicara, kamu mengira harus memilih antara rencanamu dan aku."

"Kamu selalu memutuskan apa yang mungkin kupikirkan."

"Itu kesalahanku."

Ia mengakuinya tanpa pembelaan. Aku tidak terbiasa dengan orang yang tidak mengubah permintaan maaf menjadi alasan baru untuk menguasai percakapan.

"Waktu di rumah, kamu bilang aku penting," kataku.

"Iya."

"Penting sebagai apa?"

Rangga mengusap wajah. "Sekar, kalau aku jawab, aku nggak ingin kamu merasa harus menjawab balik hari ini."

"Aku capek semua orang menganggap aku nggak bisa memilih."

Matanya terangkat. "Baik. Aku menyukaimu. Sudah lama. Bukan karena kamu tinggal di rumah kami, bukan karena aku menolongmu, dan bukan karena aku berharap kamu berutang apa pun."

Tanganku mengencangkan pegangan tas.

"Aku takut kepada Damar," kataku.

"Aku tahu."

"Kadang aku takut pada suara pintu. Pada teh yang nggak kubuat sendiri. Pada orang yang berdiri terlalu dekat."

"Aku tahu."

"Tapi aku nggak takut kepadamu."

Rangga tidak bergerak.

"Aku percaya kamu," lanjutku. "Dan mungkin aku juga menyukaimu. Aku cuma belum tahu bagaimana melakukan ini tanpa takut semuanya akan berubah menjadi tuntutan."

"Kita nggak perlu melakukan apa pun malam ini."

"Itu masalahnya." Aku tertawa gugup. "Kamu selalu terlalu sabar sampai aku nggak tahu apakah kamu benar-benar menginginkanku atau cuma menjagaku."

Rangga menatapku lama. "Aku menginginkanmu berada di sini karena kamu memilihnya. Itu berbeda."

Hujan mulai miring tertiup angin dan membasahi lantai teras. Aku mengambil payung.

"Aku mau pulang sebelum semakin malam."

"Aku antar."

"Nggak perlu."

Aku membuka payung dan melangkah ke hujan. Kali ini aku tidak lari karena marah. Aku lari karena jantungku terlalu penuh dan senyum hampir muncul tanpa izin.

"Sekar!"

Langkah Rangga mengejar. Tangan hangat menangkap pergelangan yang tidak memakai gelang, lalu langsung melonggar seolah menunggu penolakanku.

Aku berhenti.

Ia menarikku hanya setelah aku membalik telapak dan menggenggam tangannya.

Kami kembali ke bawah teras sempit. Payung jatuh miring di antara kaki. Wajah Rangga begitu dekat sampai aku bisa melihat titik air di bulu matanya.

Suara hujan menutup jalan dari dunia lain. Tangannya masih berada di tanganku, hangat dan terbuka. Tidak ada pagar di belakang punggungku, tidak ada pintu terkunci, tidak ada suara yang memutuskan keinginanku sebelum aku sempat mengenalinya.

Aku bisa mundur.

Justru karena itulah aku memilih tetap berdiri.

"Aku belum selesai," katanya.

"Kali ini selesaikan."

Tatapannya turun sesaat ke bibirku, lalu kembali ke mata.

"Boleh?"

Napas tertahan di dadaku.

Aku mengangguk.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!