Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Tenang Saja
Dengan segera, Karissa mengangkat telepon tersebut.
"Halo!" sapanya pada orang yang ada di seberang telepon.
"Karissa! Maaf, untuk janji makan malam kita, aku tidak bisa memenuhinya! Ada tugas ke luar kota, aku harus berangkat malam ini juga. Tidak apa-apa, kan?"
"Oh!" Karissa terdiam beberapa saat sebelum ia bertanya, "Bersama siapa? Apa ayahmu?"
"Bukan! Ayah tidak ikut, kau tenang saja! Sekarang, aku tutup dulu, ya! Sampai bertemu nanti di rumah!"
Klik!
Tiba-tiba sambungan telepon ditutup.
Karissa melihat layar ponselnya sudah berwarna hitam. Dengan enggan, ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Padahal tadi, ia hanya ingin tahu, Louis pergi dengan siapa? Apa dengan Marine? Tapi, pria itu malah menutup teleponnya. Tidak ada kesempatan untuknya bertanya lagi.
"Aisshh! Sudahlah! Bisa aku tanyakan lagi nanti di rumah!"
Karissa segera menghentikan taksi dan pulang ke rumah dengan berbagai masalah di kepalanya. Bukan hanya masalah Karina, tetapi juga Louis.
***
Di malam hari, Louis sudah mengemas semua barangnya. Ia menarik koper dan keluar dari dalam kamar.
Ketika melewati kamar ayahnya, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Karissa keluar dari dalam dan memperhatikan Louis dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Berangkat sekarang?" tanya Karissa pada pria itu.
Louis melepaskan pegangan pada kopernya dan segera mendekati Karissa.
"Iya! Aku harus berangkat sekarang," jawab Louis dari jarak yang sangat dekat.
Ia tiba-tiba berbisik, "Di mana Ayah?"
"Ada, di kamar mandi! Mau berpamitan padanya? Aku panggilkan, ya?" Karissa berbalik badan dan bersiap untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak!" cegah Louis sambil menarik lengan wanita itu.
Ia menarik Karissa lebih kuat sehingga wanita itu terjatuh ke dalam pelukannya.
"Aku hanya ingin berpamitan padamu! Dua atau tiga hari ke depan, kita tidak akan bertemu. Aku akan sangat merindukanmu!" bisik Louis di atas kepala Karissa.
Detik berikutnya, ia memegang wajah cantik itu dengan kedua telapak tangannya, lalu mencium bibirnya dengan penuh kerinduan.
"Eh, eemmhh!" Karissa hendak berbicara, tetapi terhalang oleh bibir pria itu.
Karissa didorong olehnya hingga terus mundur ke belakang dan bersandar di dinding yang dingin. Louis terus menciumnya seolah tidak takut dilihat oleh orang lain di rumah itu. Ia ingin merasakan manisnya bibir Karissa untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi.
Entah berapa lama kemesraan mereka berlangsung, hingga tiba-tiba terdengar samar suara seorang wanita berbicara dengan pelayan di lantai bawah.
Louis segera melepaskan ciumannya dan melepaskan pelukannya pada Karissa. Ia segera membenahi rambut dan pakaiannya yang sedikit berantakan.
"Aku pergi dulu, ya!" ucapnya tidak sabar.
Lalu, ia mengecup kening Karissa. "Masuk dan tidurlah! Nanti setelah sampai, aku akan menghubungimu!"
"Emmhh!" Karissa mengangguk.
Louis segera beranjak, menarik kopernya lalu berjalan dengan cepat menuruni anak tangga.
Di tangga, ia bertemu dengan Marine. Wanita itu hendak menyapa, tetapi Louis segera mengisyaratkan agar wanita itu diam.
"Sssttt! Ayah sudah tidur! Jangan berisik!" bisiknya sambil menarik tangan Marine dan berjalan ke bawah.
Marine segera menutup mulutnya dan tidak lagi berbicara. Dengan patuh, ia mengikuti langkah Louis berjalan keluar dari rumah itu.
Di luar rumah, sudah ada taksi yang menunggu mereka.
Louis melepaskan tangan Marine, lalu bertanya dengan heran, "Kau yang membawa taksi itu kemari?"
"Ya!" Marine mengangguk dengan ceria.
"Daripada kau repot mencari taksi, lebih baik sekalian saja denganku! Ya, kan?" ucapnya dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
Louis tidak terlalu menghiraukan masalah itu. Ia hanya ingin segera pergi sebelum Karissa melihat dirinya bersama Marine.
"Ayo!" Louis memasukkan kopernya ke dalam bagasi, lalu masuk ke dalam taksi dan menutup pintunya dengan cepat.
"Eh, tunggu!" Marine yang ditinggalkan sendirian segera mengikuti Louis masuk.
Sopir taksi segera melajukan mobilnya menuju bandara.
Louis duduk dengan tegak sambil menatap ke depan. Ia tidak mengobrol, membuat Marine merasa heran.
"Ada apa denganmu? Apa kau mencemaskan sesuatu?"
"Hemh?" Louis segera menoleh ke samping, menatap Marine yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Tidak!" Louis menggelengkan kepala.
"Aku tidak apa-apa! Hanya sedang memikirkan isi proposal yang sudah dibuat oleh asisten Ayah! Aku sedang memikirkan beberapa hal, termasuk cara kita nanti menghadapi klien," jawabnya dengan sedikit berbohong.
Padahal, dirinya sedang memikirkan Karissa. Ia takut wanita itu marah. Ia juga takut Karissa melihat Louis dan Marine pergi bersama ke Kota C.
"Oh, masalah itu! Kau tenang saja!" Marine menggenggam tangan Louis dan mengelusnya dengan lembut, seolah sedang menenangkan pria itu agar jangan khawatir.
"Semuanya sudah jelas tercantum di dalam proposal. Kita hanya perlu berbicara kepada klien sesuai dengan isi proposal saja!"
"Hemh!" Louis mengangguk, menunjukkan kepada Marine bahwa dirinya mengerti dengan ucapannya.
***
Pagi hari, Karissa terbangun karena suara nada dering di ponselnya. Ia segera mengambil ponsel tersebut dari bawah bantal, lalu melihat nama yang tertera di layar.
"Louis!"
"Aishh!"
Dengan enggan, ia memasukkan kembali ponselnya ke bawah bantal, berpura-pura tidak mendengar apapun dan tidak tahu ada telepon masuk.
Selain panggilan tidak terjawab, ada juga beberapa pesan singkat dari Louis yang belum ia baca. Sejak semalam hingga sekarang, Karissa tidak sekalipun membalas pesannya, membuat pria itu terus meneleponnya.
Ketika Karissa berniat untuk tidur lagi, terdengar suara Tuan Lee berbicara di samping sofa yang dijadikan tempat tidur Karissa.
"Lanjutkan tidurmu di kasur!"
"Ehh!" Karissa segera menyibak selimut, bangun, lalu duduk di sofa. "Sudah bangun?"
"Sana ... pindah ke tempat tidur!" titah Tuan Lee yang kini mengenakan handuk di pinggang.
Tubuhnya yang polos dan rambut hitamnya masih basah, menandakan bahwa ia baru saja keluar dari kamar mandi.
Karissa yang melihatnya segera memalingkan muka ke sisi lain. Ia tidak ingin melihat tubuh kekar dan halus pria berusia empat puluh delapan tahun itu. Tubuhnya terlalu menggoda, bahkan tidak kalah bagus dibandingkan dengan tubuh putranya.
"Ah, ya! Aku pindah ke tempat tidurmu saja!" ucap Karissa dengan sedikit gugup.
Ia segera berdiri, lalu beranjak pergi sambil membawa bantal dan selimutnya ke tempat tidur besar dan empuk itu. Ia kembali membenamkan dirinya di bawah selimut.
Tuan Lee yang melihat tingkah konyolnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Setelah berpakaian rapi dan menyisir rambutnya, Tuan Lee segera pergi keluar kamar.
"Aku berangkat dulu, ya!" pamitnya pada Karissa.
Wanita itu hanya menjawab singkat, "Ya!"
Lalu, Tuan Lee menutup pintu kamar dan pergi ke lantai bawah untuk sarapan.
Setelah mendengar pintu kamar ditutup, Karissa segera menyibak selimut. Ia menghirup udara dengan bebas. Akhirnya ia bisa bernapas lega.
"Fuhhh!"
Berpura-pura tidur tanpa bergerak dan bersembunyi di bawah selimut membuatnya pegal dan sesak. Jangankan untuk tidur nyenyak, bernapas dengan bebas pun tidak bisa.
Karena tidak bisa kembali tidur, Karissa memutuskan untuk bangun dan pergi ke kamar mandi.