Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Di ruang utama istana kerajaan yang megah dan penuh ukiran emas, suasana mendadak terasa sangat mencekam serta dingin.
Tabib Agung berdiri tegak di dekat jendela besar sambil mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Berani sekali bocah tukang pijit ingusan itu mempermalukan pasukan elit istana kita di depan umum!" murka Tabib Agung dengan suara bergetar.
Seorang utusan istana yang selamat dari kekalahan kemarin tampak gemetar ketakutan di atas lantai marmer yang dingin.
"Maafkan kelancangan kami, Tabib Agung, ilmu pijit pemuda itu sangat aneh dan langsung melumpuhkan otot pasukan kami seketika!" lapor utusan itu terbata-bata.
Tabib Agung mendengus tajam, kilatan kebencian yang mendalam terpancar jelas dari kedua matanya yang sudah keriput dimakan usia.
"Alasan yang sangat memuakkan dari seorang prajurit tidak berguna!" bentak Tabib Agung penuh amarah yang meluap-luap.
"Jika Jenderal Guntur saja bisa dikalahkan dengan begitu mudah, maka aku sendiri yang harus turun tangan membereskan mereka!" ucap Tabib Agung berbahaya.
Ia segera memanggil komandan pasukan bayangan istana untuk segera menyiapkan kapal perang pribadi menuju pulau seberang.
"Siapkan seribu pasukan racun tingkat tinggi, kita ratakan pulau tempat persembunyian mereka sampai menjadi debu!" perintah Tabib Agung mutlak tanpa bantahan.
"Baik, Tabib Agung! Kami akan segera mempersiapkan armada kapal perang sekarang juga sesuai perintah!" jawab komandan bayangan dengan patuh.
Kembali ke rumah kecil di pulau seberang, suasana sore hari terasa jauh lebih tenang dan damai tanpa gangguan berarti.
Arya sedang duduk bersantai di teras sambil menikmati secangkir teh herbal hangat bersama Vanya yang duduk di kursi sampingnya.
"Teh buatanmu hari ini rasanya lumayan enak dan menghangatkan tenggorokan, manusia," puji Vanya pelan tanpa menoleh ke arah Arya.
"Tentu saja enak, karena diracik dengan penuh cinta oleh seorang tukang pijit profesional," jawab Arya cengengesan tanpa beban.
Vanya mendengus kecil, namun ada rona merah tipis yang tersembunyi di balik helai rambut peraknya yang indah.
"Jangan mulai merayu dengan kata-kata gombal murahanmu itu, Arya," tegur Vanya meski nada bicaranya tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.
"Mana ada gombal, itu adalah fakta mutlak yang diakui oleh sejarah peradaban," balas Arya membela diri sambil tersenyum lebar.
Tiba-tiba, suara dengungan khas sistem berputar kencang di dalam kepala Arya tanpa memberikan peringatan sebelumnya.
[Peringatan Keras Sistem: Mendeteksi pergerakan musuh tingkat boss besar mendekati wilayah pulau!]
[Tabib Agung sendiri memimpin armada besar menuju lokasi Host untuk melakukan pembalasan mutlak!]
Suara sistem itu membuat senyuman santai di wajah Arya perlahan memudar seketika dalam hitungan detik.
Arya mengerutkan keningnya dalam-dalam, menatap lurus ke arah cakrawala laut luas yang mulai berubah menjadi gelap.
"Wah, rupanya kakek tua renta itu benar-benar nggak terima anak buahnya babak belur kemarin," gumam Arya dengan nada serius.
Vanya ikut merasakan perubahan gelombang energi spiritual yang sangat pekat di udara sekitar pulau mereka.
"Tabib Agung... bajingan tua itu akhirnya memutuskan untuk datang sendiri mengejar kita kemari," ucap Vanya tajam penuh kebencian.
Kilatan merah mulai menyala terang di kedua bola mata Ratu Iblis menandakan kemarahannya bangkit kembali.
"Baguslah kalau dia datang sendiri, jadi aku bisa langsung mencabut nyawanya tanpa harus repot cari ke ibu kota," lanjut Vanya dingin.
Arya menoleh ke arah Vanya, lalu menepuk pelan pundak sang Ratu Iblis untuk menenangkan emosinya yang meluap.
"Tenang dulu, Yang Mulia, kita hadapi kakek tua itu dengan teknik pijit andalan kita," hibur Arya dengan senyuman santai.
Vanya melirik ke arah tangan Arya di pundaknya, lalu menghela napas panjang untuk meredakan gejolak amarahnya.
"Kamu ini ya, musuh mau datang bawa pasukan besar masih sempat-sempatnya melawak tidak jelas," keluh Vanya lembut.
"Mau bagaimana lagi, hidup itu harus dinikmati meskipun sering dikasih cobaan berat oleh keadaan," jawab Arya tersenyum.
[Peringatan Sistem: Host mendapatkan misi darurat - Kalahkan Tabib Agung dalam duel pijit dan tempur!]
[Hadiah misi: Peningkatan level sistem ke level 2 dan skill baru tingkat dewa!]
Suara dengungan sistem itu memberikan motivasi tambahan yang cukup menggiurkan bagi Arya untuk bertarung.
"Wah, hadiah naik levelnya lumayan juga, sepertinya kita harus sambut kakek itu dengan karpet merah," semangat Arya berkobar.
Vanya menggelengkan kepalanya pelan, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang manis.
"Terserah padamu saja, Arya, aku akan berdiri di sampingmu menghabisi mereka semua sampai tuntas," ujar Vanya mantap.
Malam hari di pulau seberang turun perlahan, menyelimuti rumah kecil dengan ketenangan sebelum badai besar datang menerjang.
Mereka berdua bersiap menyambut kedatangan Tabib Agung yang berambisi menghancurkan hidup mereka sampai akar-akarnya.
Tap... tap...
Suara angin malam berembus kencang membawa ancaman kematian dari kejauhan lautan gelap.