GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Kubah Es dan Paradoks Buku Besar
Ledakan arus pendek itu tidak terjadi seperti di film-film pahlawan super yang penuh cahaya estetik. Yang terjadi adalah sebuah realitas fisika yang brutal.
Ketika Gala memutar kunci kontak motor Revo berujung kuningan itu ke dalam panel sirkuit analog yang tidak memiliki pelindung grounding, tegangan listrik raksasa dari generator termal di bawah meja jahit langsung mencari jalan keluar terdekat. Suara letupan keras memekakkan telinga terdengar bersamaan dengan bau sangit ozon dan daging yang terbakar.
Gala terpental keras ke belakang, punggungnya menghantam dinding es. Ia mengerang tertahan, memegangi telapak tangan kanannya yang kini melepuh kemerahan akibat sengatan listrik. Beruntung, sol sepatu karet murahan yang ia pakai menahan arus itu agar tidak melewati jantungnya. Namun, rasa sakit yang menjalar di lengannya benar-benar nyata, mengingatkannya bahwa ini bukanlah permainan.
Di tengah kubah, efek dari lonjakan arus elektromagnetik itu bekerja persis seperti yang diharapkan secara mekanis. Senjata otomatis mutakhir milik pasukan The Board of Directors—yang bergantung pada sistem pelatuk elektronik dan pembidik cerdas—seketika mati total. Layar tablet di tangan Baroness Karlotta meletup, mengeluarkan asap hitam pekat, memutus paksa proses peretasan transfer dana.
“Senjata macet! Ganti ke laras pendek mekanis!” teriak salah satu komandan pasukan dalam bahasa Jerman, mencoba membuang senapan canggihnya yang kini tak lebih dari seonggok besi rongsokan.
Namun, Senja dan Sersan Broto tidak memberi mereka waktu sedetik pun untuk berpikir.
Kembali ke dasar taktik pertarungan jarak dekat yang realistis, Senja menerjang maju. Alih-alih melakukan gerakan akrobatik yang membuang tenaga, ia menggunakan momentum tubuhnya untuk menghantam lutut komandan terdepan dengan pipa besinya, membuatnya runtuh, lalu melucuti pistol semi-otomatis dari pinggang pria itu dalam satu gerakan mulus. Dua tembakan presisi dilepaskan Senja, melumpuhkan dua penjaga lain di titik non-lethal—bahu dan paha.
Sersan Broto membuktikan mengapa Interpol pun segan padanya. Mengabaikan udara tipis yang membakar paru-paru tuanya, ia bergerak dengan efisiensi seorang veteran. Menggunakan sebuah revolver baja tua yang sepenuhnya beroperasi secara mekanis tanpa chip elektronik, Broto melepaskan tembakan perlindungan yang memaksa sisa pasukan elit itu berlindung di balik pilar-pilar es.
Siska dan Vanya memanfaatkan kekacauan itu untuk mengapit posisi Baroness Karlotta, memaksa wanita anggun itu mundur menghindari tebasan belati taktis Vanya.
Di tengah hujan peluru dan pecahan es yang berhamburan, Mbah Danu berdiri dengan tenang yang menakutkan. Ia tidak panik. Insting bertahan hidup seorang maestro kriminal perlahan mengambil alih. Pria tua berambut putih itu menatap layar proyektor hologram yang kini berkedip-kedip mati akibat EMP. Proses transfer lima puluh triliun dolar itu terhenti di angka empat puluh persen. Dana itu kini tidak berada di rekening rakyat miskin, tidak pula di rekening The Board of Directors. Dana tersebut menggantung di ruang hampa digital—sebuah paradoks perbankan internasional.
“Karlotta! Tinggalkan mereka. Ambil silinder master-nya!” perintah Mbah Danu dingin, suaranya tak terpengaruh oleh kekacauan di sekitarnya.
Baroness Karlotta menendang meja es untuk menghalau laju Siska, lalu bergegas menuju meja jahit emas. Dengan gerakan terlatih, ia membuka kompartemen rahasia di bawah jarum jahit dan mencabut sebuah tabung kuningan padat bertatahkan kode-kode analog. Itu adalah silinder master—buku besar fisik yang merekam seluruh kunci akses menuju dana yang kini tertahan di server perantara.
Melihat hal itu, Gala yang masih menahan sakit di lantai berusaha bangkit. “Senja! Tabung kuningannya! Kalau itu dibawa kabur, uangnya bakal hilang permanen!”
Senja mencoba menerobos maju, namun Mbah Danu dengan sigap melemparkan sebuah granat suar termal ke tengah ruangan. Ledakan cahaya putih yang menyilaukan dan hawa panas yang ekstrem memaksa Senja, Siska, dan Broto menutup mata dan merunduk.
Panas dari granat termal itu memicu reaksi berantai yang fatal. Pilar-pilar es yang menopang kubah Matterhorn mulai retak parah. Suara derit mengerikan bergema dari langit-langit ketika bongkahan es seukuran mobil mulai berjatuhan ke lantai titanium.
“Gua ini mau runtuh! Kita harus keluar sekarang!” teriak Vanya, menarik kerah baju Pak Joko yang sejak tadi tiarap gemetar di bawah meja, melindungi kepalanya dengan sarung tenun yang kini robek terkena pecahan es.
Ketika pandangan Senja kembali fokus, Mbah Danu dan Baroness Karlotta sudah menghilang ke dalam lorong evakuasi darurat di balik dinding kristal, membawa serta tabung silinder master tersebut.
“Sialan,” desis Sersan Broto, mengosongkan silinder revolvernya yang berasap. “Mereka punya jalur pelarian tersembunyi. Kita tidak bisa mengejar mereka di tengah kondisi runtuh begini.”
Gala memaksakan diri berdiri, dibantu oleh Senja yang merangkul bahunya. Tangan kanan Gala dibebat seadanya oleh Siska menggunakan robekan kain steril dari kotak P3K taktis. Rasa dingin yang menggigit mulai masuk melalui celah jaket mereka, diperparah oleh angin badai yang masuk dari retakan dinding kubah. Logika bertahan hidup kini menjadi prioritas utama. Mengabaikan uang triliunan dolar, mereka harus keluar dari puncak Matterhorn sebelum terkubur hidup-hidup.
Berpacu dengan waktu dan runtuhnya bongkahan es raksasa, kelompok itu tertatih-tatih berlari menyusuri lorong mekanis yang kini gelap gulita dan dipenuhi percikan api dari kabel yang putus. Jaringan laser pertahanan telah mati sepenuhnya, memberi mereka jalan bebas menuju pintu keluar raksasa tempat helikopter Sersan Broto tertambat.
Mereka berhasil melempar diri ke dalam kabin helikopter sesaat sebelum separuh tebing es Matterhorn longsor ke dalam jurang gelap, menelan benteng rahasia Mbah Tejo bersama mesin jahit emasnya ke dalam perut bumi selamanya.
Di dalam kabin helikopter yang akhirnya melayang stabil menjauhi badai salju, keheningan yang berat menyelimuti mereka. Suara deru baling-baling seolah menjadi satu-satunya pengingat bahwa mereka masih bernapas.
Gala bersandar lelah di dinding helikopter, menatap telapak tangannya yang diperban. Ia memutar kepalanya, menatap Sersan Broto, Siska, Vanya, Senja, dan Pak Joko secara bergantian. Tidak ada lagi kelakar. Tidak ada lagi ilusi bahwa petualangan ini hanyalah lelucon nasib sial.
“Jadi…” Gala memecah keheningan, suaranya parau namun lebih tegas dari biasanya. “Mbah Danu berhasil kabur bawa kunci aslinya. Uang lima puluh triliun dolar itu nyangkut di server entah di mana. Dan sekarang kita secara resmi jadi musuh publik nomor satu dari organisasi paling berbahaya di dunia.”
Siska yang sedang memeriksa sisa sinyal di tabletnya mengangguk pelan. “Secara teknis, iya. Tabung silinder yang dibawa Danu adalah separuh dari kunci analognya. Separuhnya lagi…” Siska menatap Gala lekat-lekat. “…adalah data biometrik garis keturunan kandung Mbah Tejo. Yaitu DNA Anda sendiri, Gala.”
Pak Joko menghela napas panjang, membenarkan letak kacamata minusnya yang retak. “Itu artinya, Danu tidak akan melepaskan kita. Untuk mencairkan dana yang tertahan itu, dia membutuhkan darahmu, Gala. Secara harfiah.”
Sersan Broto menatap keluar jendela helikopter, memandangi fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur Eropa, memancarkan cahaya keemasan di atas salju.
“Kita tidak akan lari lagi,” ucap Broto, nada suaranya berat dan penuh perhitungan strategis. “Selama ini kita hanya bereaksi terhadap serangan mereka. Ini saatnya kita yang memburu mereka. Mbah Danu dan Dewan Komisaris tidak membangun kerajaan mereka di atas gunung es. Pusat operasional perbankan analog tua mereka berada di tempat di mana revolusi industri pertama kali dimulai.”
Senja menyipitkan matanya, mengerti arah pembicaraan ayahnya. “London. Jaringan bank bawah tanah The City of London.”
Broto mengangguk. “Persiapkan diri kalian. Kita mungkin baru saja kehilangan mesin jahit emasnya, tapi perang yang sebenarnya untuk menentukan nasib ekonomi dunia baru saja akan dimulai dari jalanan berkabut Inggris.”