Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Gosip CEO
Tia menghela napas panjang, bersandar di dada bidang Sam yang terasa kokoh dan hangat. Keharuan yang membuncah di dadanya perlahan berganti dengan rasa pening yang nyata. Bayangkan saja, hanya dalam hitungan jam, statusnya meloncat drastis dari staf admin berutang pinjol menjadi istri sah seorang miliarder pemilik imperium bisnis triliunan rupiah. Otaknya yang biasa menghitung angka efisiensi kantor mendadak lumpuh total.
"Mas Sam..." bisik Tia pelan, mengusap bahu jins lusuh Sam. "Kita... pulang ke kontrakan dulu saja ya? Jangan ke rumah mewah itu dulu. Aku butuh waktu untuk bernapas dan mencerna semua kegilaan ini."
Sam menoleh, menatap wajah istrinya yang masih merona merah. Ia tersenyum maklum, mengusap puncak kepala Tia dengan penuh kelembutan. "Boleh, Mbak Tia. Kalau memang mau ke kontrakan dulu, aku antarkan. Tapi maaf ya, nanti aku tidak bisa menginap... ada urusan mendesak yang harus aku selesaikan malam ini."
Tia mendongak, sedikit terkejut. "Urusan mendesak? Soal apa, Mas Sam?"
"Soal Papa..." raut wajah Sam mendadak berubah agak redup, ada kilat kecemasan di matanya. "Kondisi Papa di rumah sakit makin menurun. Mas Hendra bilang Papa terus memanggil namaku. Aku harus mendampinginya malam ini. Mbak Tia tidak apa-apa sendirian di kontrakan?"
Mendengar alasan itu, rasa empati Tia seketika membuncah. Ia menggenggam erat telapak tangan Sam. "Astaga, Mas Sam... ya tidak apa-apa! Kamu fokus urus Papa saja. Nanti kalau ada apa-apa, langsung kabari aku ya?"
"Siap, Istriku," goda Sam seraya mengecup singkat kening Tia, membuat jantung wanita itu kembali berdebar brutal.
Tepat pukul sebelas malam, sedan Rolls-Royce Phantom itu berhenti di mulut gang sempit kontrakan Tia. Demi menjaga kenyamanan Tia, Sam meminta para pengawal membawakan tumpukan kotak dan kantong belanjaan Chanel langsung masuk ke dalam kontrakan tipe 21 yang mungil itu.
Setelah melepas Sam pergi bersama Hendra menuju Rumah Sakit Medika, Tia mengunci pintu kontrakan rapat-rapat. Ia berbalik, menatap ruang tamunya yang kini sesak oleh tumpukan kotak hitam berpita putih mewah di atas meja kayu lipatnya.
Tia melangkah gontai masuk ke dalam kamar tidur, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur busa tipis. Tanpa ba-bi-bu lagi, Tia menyambar bantal, menutupi seluruh wajahnya rapat-rapat, dan...
"AAAAAAAKKKKKHHH! GILA! GILA! GILAAA!"
Tia menjerit histeris dari balik bantal, menepuk-nepuk kasurnya dengan kaki melayang-layang di udara. Wajahnya membara panas luar biasa. Rasa malu saat mengingat bagaimana ia dulu menyewa Sam dengan cicilan tiga ratus ribu, menawarkan jualan cilok bakar pedas manis, hingga sok pahlawan menangisi nasib PHK di depan seorang CEO raksasa, kembali membakar seluruh syaraf tubuhnya!
Namun, di balik rasa malu yang teramat sangat itu, sebuah senyuman lebar dan manis pelan-pelan terukir di bibirnya. Tia melepaskan bantal dari wajahnya, menatap plafon kamar yang berdebu dengan mata berbinar-binar.
"Nasibku..." gumam Tia tak percaya, memegangi dadanya yang naik-turun. "Kemarin aku merasa jadi wanita paling apes se-Indonesia... Kena PHK, dikejar pinjol, barang rumah dijual semua... Eh, malam ini aku ternyata jadi bini tunggal miliarder terkayanya Norman Corp!"
Sungguh, seperti ketiban durian runtuh di siang bolong! Hidupnya berubah 180 derajat dalam semalam. Tidak ada lagi ketakutan akan omelan Tante Lies, tidak ada lagi bayang-bayang utang, dan yang paling membuat hatinya membumbung tinggi: pria yang dicintainya ternyata bukan cuma tampan dan berotot tegap, tetapi juga sangat tulus mencintainya tanpa peduli latar belakangnya.
Di tengah lamunan indahnya yang sedang melayang-layang di atas awan, otak Tia yang lincah mendadak teringat sesuatu.
'Tunggu dulu... Norman Corp?!'
Mata Tia membelalak lebar. Ia secepat kilat menyambar ponsel murahnya yang tergeletak di atas bantal. Jemarinya menari-nari secepat kilat mencari kontak sang adik sepupu.
Tia langsung menekan tombol panggilan ke nomor Nia.
Panggilan diangkat pada deringan ketiga. Suara Nia terdengar agak mengantuk namun tetap terdengar ceria. "Halo? Mbak Tia? Kok menelepon malam-malam begini? Ada apa, Mbak?"
Tia membenarkan posisi duduknya di atas kasur, berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja kejatuhan harta karun.
"E-eh, Nia... maaf ya Mbak ganggu malam-malam," sapa Tia berpura-pura santai. "Ini... Mbak cuma mendadak ingat obrolan kita tadi siang di salon. Kamu kan bilang baru saja diterima kerja di Norman Corp?"
"Iya, Mbak! Kenapa?" sahut Nia terdengar mulai bersemangat kembali. "Mbak Tia mau tanya-tanya soal lowongan kerja di sana juga ya? Nanti kalau ada info staf admin buka, tak kabari ya, Mbak!"
"E-eh, bukan itu..." Tia berdehem canggung, memegang pipinya yang panas. "Mbak cuma penasaran saja... Kamu pernah dengar cerita tidak tentang Direktur Utama alias CEO baru Norman Corp yang sekarang?"
Di ujung telepon, Nia terdengar langsung menghembuskan napas heboh. "Wah! Kalau soal itu sih, satu kantor dari lantai dasar sampai lantai atas lagi heboh banget bahas itu, Mbak Tia!"
"Beneran? Bahas apa saja memangnya?" pancing Tia dengan senyum yang makin tidak bisa ditahan.
"CEO baru kita itu misterius banget, Mbak!" celoteh Nia berapi-api. "Identitas pribadinya dijaga ketat banget sama jajaran eksekutif, tidak semua orang bisa lihat. Tapi katanya... karyawan tingkat manajer yang pernah tidak sengaja papasan di lantai 45 bilang kalau CEO baru kita itu sosoknya tinggi tegap, gagah banget, dan ketampanannya tuh bikin meleleh! Pokoknya lebih mirip model internasional dibanding pengusaha!"
Tia yang mendengarkan deskripsi itu langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan tawa giginya agar tidak pecah. 'Tentu saja tinggi tegap dan tampan! Wong tiap hari kerjanya angkat pakan buaya sama guling-gulingan lawan kecoak di kontrakanku!' batin Tia menjerit riang.
"Terus ya Mbak..." lanjut Nia tanpa tahu apa-apa, "Katanya beliau itu juga sangat baik dan berwibawa! Aura bos mewahnya tuh terpancar alami banget! Duh, aku jadi penasaran setengah mati mau lihat muka CEO baru kita itu pas acara penyambutan karyawan baru minggu depan!"
Tia menyandarkan punggungnya di dinding kamar, menggigit bibir bawahnya seraya tersenyum-senyum sendiri. Bayangan wajah Samsudin dengan kaus oblong abu-abunya yang santai namun memiliki aura kepemimpinan yang tegas menari-nari indah di ruang imajinasinya.
"O-oh... begitu ya, Nia..." sahut Tia berusaha menahan nadanya agar tidak kelepasan tertawa bangga. "Semoga kamu bisa ketemu ya sama CEO-nya minggu depan."
"Iya, Mbak! Doakan ya! Ya sudah, Mbak Tia tidur sana, sudah malam. Daaah!"
Panggilan terputus. Tia meletakkan ponselnya di atas dada, lalu tertawa pelan seraya berguling-guling di atas kasur.
Betapa kaget dan guncangnya jiwa Nia nanti jika mengetahui bahwa CEO misterius, tampan, dan berwibawa yang diagung-agungkan di seluruh Gedung Norman Corp itu tidak lain dan tidak bukan adalah Samsudin, pria yang dulu pernah dihina oleh Nia dan Aris sebagai 'pawang buaya modal tampan doang'!
Tia memejamkan matanya rapat-rapat dengan senyuman paling bahagia di wajahnya.
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄