Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Jreng... tet... ngiiing!
Suara distorsi gitar dari tabung besi Mika meliuk-liuk panjang memenuhi ruang rekaman utama Zeros Records.
Di sudut lain, jari-jari Leo menari di atas synthesizer barunya, menghasilkan dentuman bass elektronik yang menggetarkan lantai.
Tuuut... zzzzt... bam!
Clara berdiri di dalam bilik kaca, memejamkan mata sambil menyanyikan nada tinggi yang menyayat hati.
Ini adalah hari ketujuh mereka mengurung diri di dalam studio tanpa melihat matahari.
Stevan duduk di kursi produser dengan wajah datar, namun tangannya terus bergerak lincah di atas papan kendali suara.
Tuk!
Stevan menekan tombol interkom dan menghentikan seluruh iringan musik secara mendadak.
"Berhenti," ketik Stevan di ponselnya yang langsung tersambung ke layar monitor besar di dalam ruang rekaman.
Napas Clara terengah-engah, sementara Mika mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan.
Leo yang sedang fokus menekan tombol langsung menarik tangannya karena kaget.
"Transisi dari melodi slide Mika ke ketukan elektronik Leo masih berantakan di detik ke empat puluh lima," ketik Stevan lagi.
"Mika, tahan gesekan senarmu setengah ketukan lebih lama."
"Leo, potong frekuensi bass di bagian itu agar suara vokal Clara tidak tertabrak."
Mika mendengus pelan dan memutar bahunya yang terasa sangat pegal.
"Kau benar-benar produser berdarah dingin, Zero. Ini sudah pengulangan yang kelima belas kalinya," keluh Mika sambil mengatur napas.
Stevan tidak mempedulikan keluhan itu sama sekali.
Ia mengetik lagi dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menuntut kesempurnaan.
"Di luar sana, label raksasa punya mesin dan uang untuk membuat musik instan yang sempurna."
"Kita hanya punya insting dan rasa sakit kita. Jika kalian tidak bisa sempurna, kita akan hancur."
Leo langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa banyak bicara.
"A-aku mengerti, Tuan Zero. A-aku akan memperbaikinya sekarang," ucap Leo sambil memutar beberapa kenop di alatnya.
Clara memberikan acungan jempol dari balik kaca bilik rekaman, menandakan ia juga siap mengulang vokalnya.
"Baiklah, mari kita selesaikan lagu sialan ini dan buat seluruh negara menangis," ucap Mika kembali memasang tabung besinya.
Stevan memberikan aba-aba hitungan mundur menggunakan jari tangannya.
Tiga... dua... satu...
Musik kembali mengalun, kali ini jauh lebih rapi, agresif, namun memiliki harmoni yang luar biasa indah.
Suara gesekan gitar Mika terdengar seperti jeritan putus asa yang saling bersahutan dengan melodi futuristik Leo.
Clara menyatukan kedua elemen ekstrem itu dengan vokal resonansinya yang bulat dan sangat emosional.
Ketika nada penutup dari lagu itu akhirnya selesai direkam, keheningan menyelimuti seluruh ruangan.
Stevan memutar ulang hasil rekaman kasar tersebut selama empat menit penuh.
Tuk.
Stevan menekan tombol simpan dan mengacungkan kedua ibu jarinya tinggi-tinggi ke arah mereka bertiga.
"Sempurna. Kalian bertiga boleh istirahat selama satu jam," bunyi pesan di layar monitor utama.
Mika langsung menjatuhkan gitarnya ke sofa dan merebahkan dirinya di lantai karpet karena kelelahan ekstrim.
Clara keluar dari bilik rekaman sambil tersenyum lebar dan langsung mengambil botol air mineral besar.
Hanya Leo yang masih duduk di tempatnya, menatap layar komputernya dengan senyuman puas yang sangat langka ia tunjukkan.
Stevan berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan menuju ruangan pribadinya di lantai dua gedung tersebut.
Saat ia sedang menaiki tangga, sebuah antarmuka biru transparan tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya.
[TING!]
[Misi Utama Tahap 2: Pendirian Kerajaan Musik (Zeros Records) telah dinyatakan selesai sempurna.]
[Seluruh pondasi label dan dua anggota inti tambahan telah berhasil direkrut.]
[Apakah tuan rumah ingin mengklaim hadiah Penyembuhan Fisik Minor dan Keterampilan Negosiasi Bisnis sekarang?]
Langkah kaki Stevan terhenti seketika di tengah anak tangga.
Jantungnya berdebar sangat kencang, memukul-mukul rongga dadanya layaknya drum perang.
"Klaim semua hadiahnya," batin Stevan tanpa ragu sedikit pun.
[Hadiah sedang diproses. Mohon cari tempat yang aman karena proses penyembuhan jaringan sel akan memicu rasa sakit.]
Stevan mempercepat langkahnya menaiki sisa anak tangga dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.
Ceklek.
Ia mengunci pintu ruangan itu rapat-rapat dan menutup semua tirai jendela kaca.
Stevan menjatuhkan dirinya ke atas sofa panjang di sudut ruangan dan bersandar dengan napas memburu.
Tiba-tiba, sebuah aliran energi yang sangat panas dan membakar muncul dari bagian bawah tenggorokannya.
"Argh!" batin Stevan menjerit saat rasa panas itu berubah menjadi rasa sakit yang menusuk.
Rasanya seperti ada ribuan semut api yang sedang merayap dan menggigit jaringan lunak di dalam pita suaranya.
Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahi dan pelipisnya.
Stevan mencengkeram dada kemejanya dengan sangat kuat hingga kainnya kusut masai.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, menahan siksaan penyembuhan itu tanpa mengeluarkan erangan sedikit pun.
Dalam pandangan mentalnya, ia bisa merasakan sel-sel pita suaranya yang hangus terbakar perlahan mulai merajut diri mereka kembali.
Proses itu berlangsung selama kurang lebih sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun di neraka.
Perlahan-lahan, rasa panas yang menyengat itu mulai mereda dan berubah menjadi sensasi sejuk yang sangat melegakan.
Hah... hah... hah...
Stevan mengatur napasnya yang terengah-engah, seluruh kemejanya kini basah kuyup oleh keringat.