Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH TIGA
Sidang pembuktian akhirnya digelar di Pengadilan Agama, tiga minggu setelah mediasi pertama. Anyara datang dengan didampingi Pak Bram, membawa seluruh bukti yang telah ia kumpulkan selama berbulan-bulan—struk hotel, tangkapan layar percakapan, catatan transaksi mencurigakan, hingga kesaksian tertulis dari Melia yang bersedia menjadi saksi.
Juned hadir dengan pengacaranya sendiri, wajahnya menunjukkan kepasrahan yang jauh berbeda dari sikap defensif yang dulu selalu ia tunjukkan.
"Yang Mulia, kami memiliki bukti lengkap mengenai perselingkuhan yang dilakukan pihak tergugat, termasuk kesaksian dari salah satu pihak yang terlibat," ucap Pak Bram, menyerahkan bundelan dokumen kepada hakim.
Hakim, seorang pria paruh baya dengan wajah tegas, memeriksa dokumen itu dengan teliti. "Saudara Juned, apakah Anda mengakui bukti-bukti yang diajukan pihak penggugat?"
Juned menunduk, suaranya pelan tapi jelas. "Saya mengakui semuanya, Yang Mulia. Saya tidak akan membantah."
Pengakuan terbuka itu membuat proses persidangan berjalan jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Hakim menanyakan beberapa hal terkait pembagian harta—yang ternyata tidak banyak diperdebatkan karena Anyara memang tidak menuntut apa pun selain hak-hak dasarnya—serta konfirmasi bahwa tidak ada anak yang lahir dari pernikahan mereka yang perlu diatur hak asuhnya.
"Berdasarkan bukti dan pengakuan yang telah disampaikan, sidang berikutnya akan menjadi sidang pembacaan putusan, dijadwalkan dua minggu dari sekarang," ucap hakim, mengetuk palu tanda sidang hari itu ditutup.
Di luar ruang sidang, Anyara menghela napas lega. "Secepat ini prosesnya, Pak Bram? Saya kira bakal lebih lama."
"Karena pihak tergugat kooperatif dan mengakui semua bukti, Bu. Ini mempercepat proses secara signifikan. Dua minggu lagi, insyaallah putusan resmi sudah bisa keluar."
Juned yang kebetulan melintas, berhenti sejenak di hadapan Anyara. "Ra, makasih udah nggak mempersulit proses ini. Aku tau aku nggak pantas dapetin kebaikan itu, tapi tetep makasih."
Anyara menatapnya, merasakan campuran emosi yang sudah jauh lebih tenang dibanding beberapa bulan lalu. "Saya cuma pengen semua ini cepat selesai, Mas. Buat kita berdua."
Juned mengangguk, lalu berjalan pergi dengan pengacaranya, meninggalkan Anyara yang berdiri di koridor pengadilan dengan perasaan campur aduk antara lega dan haru—babak besar dalam hidupnya sebentar lagi akan resmi berakhir.
Dua minggu kemudian, sidang pembacaan putusan berlangsung singkat. Hakim membacakan keputusan resmi: pernikahan Anyara dan Juned dinyatakan putus karena perselingkuhan yang terbukti, dengan seluruh tuntutan Anyara dikabulkan tanpa perlawanan berarti dari pihak Juned.
Begitu palu diketuk tanda putusan resmi, Anyara merasakan sesuatu yang sulit ia gambarkan—bukan lagi kesedihan yang dulu selalu menyelimutinya, melainkan sebuah kebebasan yang telah lama ia nantikan.
Di luar pengadilan, Hans sudah menunggu, seperti yang telah ia janjikan sejak awal proses ini dimulai.
"Gimana, Mbak? Udah resmi?" tanya Hans, wajahnya penuh harap.
"Udah, Pak. Resmi bercerai," jawab Anyara, tersenyum meski matanya sedikit berkaca-kaca—bukan karena sedih, melainkan karena haru menyadari betapa panjangnya perjalanan yang telah ia lalui untuk sampai ke titik ini.
Hans tersenyum lega, menahan diri untuk tidak langsung menunjukkan kebahagiaannya secara berlebihan, mengingat momen ini tetaplah momen yang berat bagi Anyara, meski berakhir dengan keputusan yang tepat.
"Selamat, Mbak. Mbak udah berhasil ngelewatin semuanya dengan luar biasa."
"Makasih, Pak. Semua ini juga karena dukungan Bapak dari awal."
Sesampainya di rumah Ratih—yang meski Anyara sudah pindah ke kos, tetap sering ia kunjungi—kabar putusan itu disambut dengan pelukan hangat dari mertuanya yang kini telah bertransformasi menjadi sosok yang begitu berbeda dari awal pernikahannya.
"Alhamdulillah, Nak. Akhirnya semua ini selesai juga," ucap Ratih, matanya berkaca-kaca.
"Iya, Bu. Makasih udah selalu dukung saya sepanjang proses ini."
"Ibu yang harusnya makasih, Nak. Kamu udah ngajarin Ibu banyak hal soal keberanian dan harga diri. Apa pun yang terjadi ke depannya, kamu tetep anak Ibu."
Anyara memeluk mertuanya erat, merasakan kehangatan dari sebuah hubungan yang, meski dimulai dengan penuh tekanan dan kepahitan, kini telah berubah menjadi ikatan yang tulus dan saling menguatkan.
Malam itu, sepulang dari rumah Ratih, Anyara duduk sendirian di kamar kosnya, menatap langit-langit dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari sebelumnya. Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat ke Hans.
"Pak, terima kasih untuk semuanya. Babak berat dalam hidup saya akhirnya selesai."
"Ini baru permulaan, Mbak. Babak baru yang jauh lebih baik menanti di depan."
Anyara tersenyum membaca balasan itu, merasakan secercah harapan yang mulai tumbuh nyata dalam dirinya—harapan yang, setelah sekian lama tertutup oleh kebohongan dan kepedihan, kini perlahan menemukan jalannya kembali menuju cahaya.