Indonesia
NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas / Penyesalan Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Meminta Bantuan Ayah Mertua

.

Arsen baru sampai rumah saat hari sudah gelap. Wajahnya terlihat kelelahan, dasi yang tadi pagi masih terpasang rapi kini sudah ia longgarkan. Masalah yang menimpa Wijaya group beberapa pekan terakhir benar-benar membuatnya bagai tak sempat bernafas.

Begitu masuk ke ruang keluarga, ia melihat Marissa sudah menunggunya di sofa sambil memegang ponsel. Begitu melihat kedatangan anaknya, perempuan itu langsung mendongak.

"Kenapa kamu pulang dengan wajah seperti itu? Ada masalah apa lagi di perusahaan?" Tanya Marissa setelah mematikan layar ponselnya.

Arsen meletakkan tas kerjanya di meja, lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil mengusap wajah dengan kedua tangan.

"Arsen, Ibu tanya. Apa lagi yang terjadi dengan perusahaan kita?" Marisa mendekat dan menyentuh tangan putranya. “Kemarin kamu bilang mau menemui para mitra kerja sebelumnya kan?"

“Dan aku sudah menemui mereka kemarin, Bu." Arsen menyandarkan punggungnya dengan kepala yang terkulai lemas dan mata terpejam. “Tapi tak satupun dari mereka yang mau memperpanjang kontrak kerjasama."

"Masa tidak ada satu pun? Bukankah kamu punya banyak kenalan bisnis? Tidak mungkin mereka semua mundur hanya karena satu proyek gagal."

"Ini bukan soal proyek itu saja." Arsen kembali menegakkan punggungnya, menatap ibunya dengan mata yang terlihat lelah. "Mereka merasa Wijaya Group sudah tidak layak lagi mendapatkan kepercayaan."

Marissa menggelengkan kepala dengan wajah cemas. "Kenapa kamu tidak mencoba jelaskan kepada mereka? Wijaya group pasti mampu memberikan hasil seperti dulu."

"Aku juga sudah bilang kalau perusahaan masih punya aset dan rencana yang berjalan. Tapi mereka tetap tidak mau mengambil risiko."

Arsen menghela napas panjang. Sebelumnya ia terbiasa dengan orang-orang yang selalu menyambutnya dengan hangat. Sekarang, setiap kali ia datang dengan membawa nama Wijaya group, mereka semua seakan memandang sebelah mata.

"Ada satu hal lagi," suaranya terdengar berat. "Beberapa karyawan senior mengundurkan diri hari ini. Ternyata mereka semua adalah orang-orang Keira yang dulu ditempatkan di perusahaan kita."

Marissa mengernyit. "Orang-orang Keira?"

"Mereka memang bekerja di sini, tapi sebenarnya bagian dari KA Grup. Selama ini mereka membantu menjaga operasional perusahaan tetap berjalan lancar atas perintah Keira." Arsen menunduk menatap lantai. "Dan sebagian gaji mereka juga dibayarkan oleh Keira."

Wajah Marissa perlahan berubah. Bibir wanita itu terlihat bergetar, tangannya menyentuh dadanya yang terasa sesak saat menyadari bahwa orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai milik mereka, ternyata adalah milik Keira.

"Jadi selama ini Keira yang menyokong semuanya?" bisiknya sambil menggelengkan kepala tak percaya.

"Kenyataannya seperti itu.” Arsen tersenyum getir. “Dan sekarang mereka ingin kembali kepada Keira meskipun sebenarnya Keira tidak menyuruh mereka pergi. Karena mereka merasa Wijaya sudah tidak memiliki masa depan. Kita benar-benar bodoh, bagaimana bisa kita baru sadar betapa banyak hal yang tidak kita ketahui tentang perusahaan kita sendiri?"

Marissa tidak langsung menjawab. Tiba-tiba saja semua perlakuan buruknya terhadap Keira kini kembali terlintas di depan matanya. Kenapa bisa begini? Bukankah Keira hanya seorang yatim piatu? Kenapa bisa ternyata Keira lah yang mengendalikan segalanya? Dulu ia menganggap Keira yang tak pantas berdiri berdampingan dengan Arsen. Ternyata merekalah yang tak pantas berdiri berdampingan dengan Keira.

"Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang?" tanya Marissa pelan.

Arsen terdiam cukup lama. Ada satu nama yang terus terlintas di benaknya, nama yang sebenarnya enggan ia sebut karena menyangkut harga dirinya sendiri.

"Keluarga Halim," jawabnya pelan. "Aku akan mencoba meminta bantuan Ayah Clarissa."

"Benar juga!" Mata Marissa langsung berbinar. “Kenapa tidak terpikirkan sejak kemarin? Clarissa istrimu. Lukman tidak akan membiarkan perusahaan menantunya jatuh begitu saja."

Arsen tidak menjawab kata-kata ibunya. Sebenarnya sejak beberapa hari lalu dia memang sudah memikirkan hal itu. Namun, ia merasa bagai tak punya harga diri jika harus meminta tolong dengan ayah mertuanya. Apalagi selama ini yang diketahui oleh keluarga mertuanya adalah bahwa dirinya merupakan seorang pengusaha muda yang sukses.

Akan tetapi sekarang ia tidak memiliki pilihan lain. Keluarga Halim adalah satu-satunya yang bisa ia harapkan saat ini.

Arsen mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangannya. "Clarissa ke mana Bu? Apa dia sudah tidur jam segini?” Tanya arsen karena tak mendapati istrinya semenjak dia datang.

Marisa mendengus kesal lalu menyandarkan punggungnya dengan dua tangan bersedekap di depan dada.

"Sejak tadi pagi istrimu itu bilang mau ke rumah ayahnya,” jawab Marisa terdengar ketus. “Istrimu pun itu benar-benar tidak pengertian," lanjutnya. "Padahal sudah tahu keluarga suaminya sedang dalam kesulitan, dia bukannya mendampingi, setidaknya ikut menunggu ayah mertuanya di rumah sakit, malah memilih pulang ke rumah orang tuanya. Dia benar-benar berbeda dengan Keira.”

Arsen menghela nafas panjang. Kata-kata ibunya yang panjang lebar itu sekarang apa gunanya? Kalau terdengar oleh Keira mereka malah akan ditertawakan. Namun sedetik kemudian kening pria itu mengerut.

"Ibu ada di rumah, lalu siapa yang menunggu ayah?"

"Ibu menyuruh pelayan yang menunggui ayahmu," jawab Marisa. "itu hanya ingin istirahat, Arsen. berapa hari ini punggung Ibu rasanya pegal."

Arsen terdiam mendengar kata-kata ibunya. Pegal? Dulu Keira pernah menjaga ibunya di rumah sakit selama berminggu-minggu. Apa mungkin wanita itu sebenarnya juga merasa pegal?

Arsen menggelengkan kepalanya mencoba menepis masa lalu yang kembali hadir. pria itu mengalihkan pikiran dengan menghubungi Clarissa. Setelah menunggu beberapa kali nada dering, barulah panggilannya tersambung.

"Ada apa?" tanya Clarissa terdengar acuh.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab arisan tanpa basa-basi.

"Bicaranya besok saja. Aku sedang di rumah Ayah Ibu sekarang."

"Justru itu. Aku akan menyusulmu ke sana dan bicara langsung dengan Ayahmu."

"Mau bicara soal apa?" tanya Clarissa setelah beberapa saat lamanya wanita itu terdiam.

"Aku butuh bantuan dana untuk Wijaya Group. Keadaan perusahaan sedang sulit, dan sudah banyak orang yang aku temui. Tapi belum ada satu pun yang mau membantu."

Clarissa mencengkeram ponselnya lebih erat. Ia tidak menyangka Arsen akhirnya akan berani minta bantuan pada ayahnya.

"Arsen, perusahaan ayahku sendiri sedang menangani beberapa proyek. Aku tidak tahu apa Ayah bisa membantumu atau tidak.”

"Tidak apa-apa,” jawab Arsen. "Yang penting katakan pada ayahmu aku akan datang malam ini juga. Biar aku bicara langsung dengan ayahmu." Arsen langsung memutus panggilan tanpa mendengar jawaban dari Clarissa.

Clarissa menghela napas panjang begitu sambungan terputus. Dengan wajah kesal ia membanting ponselnya ke sofa yang ia duduki.

Lukman yang sedang duduk di sofa lain tak jauh dari Clarissa, dan sudah mendengarkan percakapan mereka sejak tadi masih menatap wajah putrinya.

"Arsen mau meminta investasi?" tanyanya menebak.

"Iya.” Clarissa mengangguk. “Katanya keadaan perusahaan makin tertekan sejak kalah tender. Banyak rekan bisnis yang menjauh."

Lukman menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia memang sudah mendengar kabar soal kemunduran Wijaya Group, tapi tidak menyangka akan sampai di titik ini.

"Padahal Ayah menikahkan kamu dengannya supaya dia bisa menjadi penopang keluarga kita. Ternyata malah belum apa-apa dia sudah hancur duluan." Lukman mendengus kesal.

"Terus nanti kalau dia datang kita mau bilang apa, Yah?" tanya Clarissa. “Nggak mungkin kan kita bilang kalau perusahaan kita sendiri juga mau bangkrut?”

Lukman mengusap dagunya, berpikir cukup lama sebelum menjawab. "Biar Ayah yang pikirkan itu nanti,” jawab Lukman akhirnya. Tapi raut wajah pria itu telah berubah menjadi suram. Karena ternyata semua berjalan tidak sesuai dengan keinginannya.

Di tempat duduknya Clarissa juga terlihat menekuk wajahnya. Bayangan hidup mewah yang pernah ia impikan dulu kini telah sirna. Jangankan belanja shopping-shopping, bulan madu saja tidak. Walaupun Arsen memang tampan, tapi apa gunanya jika tak punya harta?

1
vania larasati
lanjut
Noey Aprilia
Keira mngkn mau mmafkn kslhn mreka d msa lalu,tp untk kmbli lg....
Soryyyy yeee......😛😛😛
Aditya hp/ bunda Lia
tidak akan bisa soalnya kamu tuh udah terbiasa terima beres ...tanpa kerja keras dulu
〈⎳ FT. Zira
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sri Widiyarti
menyesalpun tiada guna Arsen...
Ilfa Yarni
tidak Ada Jln lain untukmu slain menerima nasib itulah karma yg hrs kau jalani karena kesombonganmu arsen
Lee Mba Young
nnti di kluarga santoso Clarissa di jadikan babu
Aditya hp/ bunda Lia: setuju semoga ajah ... kita mohon sama othor 🤭
total 1 replies
Patrick Khan
oalah tibak e podo bangkrut e🤣🤣
Nurhartiningsih
gila sih ini
Lily
keluarga gila
vania larasati
lanjut
Ilfa Yarni
inilah contohl orang2 yg tamak Akan harta dikira mereka beruntung tp malah buntung penasaran apa yg Akan dikatakan papa Clarissa ya perusahaanya jg mau bangkrut dia menikahkan anknya dgn arsen berharap bisa dimanfaatin ternyata arsen malah bankrupt duluan
Ayuk Witanto
Keira udah gak Sudi mungut sampah
Aditya hp/ bunda Lia
makanya jangan pada mau enak mau senang tanpa berjuang ...
juwita
Arsen menghela nafas pendek.
juwita
yg penting tidak menceraikan carissa. mgkn itu yg di maksudnya ya mam
juwita
keluarga g bener semua saling memanfaatkan. tp akhirnya zonk semua🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan
udah tidur saja km arsen pasti capek🤣🤣
ryuka
makaaih banyak unt banyak up nya ya thorrrr 😍😍😍😍😍😍
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih juga atas dukungannya kak /Kiss//Pray/
total 1 replies
ryuka
penyesalan emang selalu datang terlambat arsen..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!