Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Surat Undangan dari Pihak Ketiga
Salju turun semakin lebat, menutupi jejak-jejak kekacauan di lereng Gunung Solaria. Kereta kuda berlogo serigala keluarga Pendelton melaju membelah badai, membawa kembali pewarisnya dengan kemenangan yang tidak diakui oleh siapa pun kecuali oleh malam itu sendiri.
Satu minggu berlalu sejak insiden di Makam Suci.
Akademi Solaria kini diselimuti oleh atmosfer yang sangat aneh. Jika sebelumnya kebencian dan intrik politik terjadi secara terang-terangan di kantin atau lorong asrama, kini semuanya bergerak di bawah bayang-bayang. Kekalahan telak Julian dalam membuktikan pencurian Perisai Matahari membuat faksi pangeran itu kehilangan gigi. Banyak bangsawan netral yang mulai merapat secara diam-diam ke faksi keluarga Pendelton, melihat arah mata angin politik yang berubah.
Sementara itu, Leon seakan ditelan bumi. Pahlawan Terpilih itu absen dari semua kelas. Rumor mengatakan ia sedang melakukan latihan pertapaan rahasia yang diinstruksikan langsung oleh Uskup Agung untuk menstabilkan 'Pencerahan Ilahi'-nya.
Bagiku, itu adalah kabar baik. Tidak ada pahlawan berisik berarti waktu yang lebih tenang untuk membaca buku di perpustakaan.
"Kau terlihat sangat bosan, Arthur," Nox melayang di atasku, memutari lampu gantung di perpustakaan pribadi asrama elit. "Tidak ada rencana untuk membakar sesuatu minggu ini? Atau mungkin menjebak guru untuk dipecat?"
Aku membalik halaman buku Sejarah Anomali Magis yang sedang kubaca, tidak menoleh sedikit pun.
"Kau salah mengartikan diam sebagai kebosanan, Nox. Diam adalah saat yang tepat untuk membiarkan musuhmu melakukan kesalahan akibat kepanikan." Aku menyesap teh hangatku. "Sistem dunia ini sedang menyusun ulang kodenya. Hancurnya event Makam Suci membuat 'takdir' harus mencari rute alternatif untuk mempersenjatai Leon."
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk meja belajarku.
Aku mendongak. Bukan Cedric si penjilat, bukan juga Cecilia. Di depanku berdiri seorang murid laki-laki berambut cokelat pendek dengan kacamata berbingkai bundar. Pakaiannya sangat rapi, tapi lambang di seragamnya menunjukkan bahwa ia berasal dari Asosiasi Riset Alkimia—kelompok nerd yang jarang berinteraksi dengan faksi politik bangsawan.
"T-Tuan Muda Pendelton," sapanya gugup, suaranya nyaris berbisik. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikan kami.
"Ada yang bisa kubantu, Tuan...?"
"Rowan, Tuan. Rowan dari Divisi Alkimia Tingkat Dua." Pemuda itu menelan ludah, tangannya yang gemetar menyodorkan sebuah amplop hitam bersegel lilin merah gelap. "S-Saya hanya diminta mengantarkan ini untuk Anda. Dari... dari seseorang di Distrik Bawah."
Distrik Bawah. Area kumuh di luar dinding utama ibu kota, tempat para kriminal, pembunuh bayaran, dan penyihir ilegal bersarang. Tempat di mana bahkan Pasukan Bayanganku harus berhati-hati melangkah.
Aku menatap amplop itu sejenak, lalu menggunakan Mata Kausalitas.
Cincin emas berputar di mataku.
[Benda: Surat Undangan Terenkripsi]
[Pengirim: Anomali Tidak Terdeteksi]
[Jejak Sihir: Kutukan Darah (Aktif jika dibuka paksa)]
[Potensi Bahaya: B]
Aku tersenyum tipis, mengambil amplop itu dari tangan Rowan. "Terima kasih, Rowan. Siapa yang menitipkan ini padamu?"
"S-Seorang pria bertopeng gagak, Tuan. D-Dia bilang... jika saya tidak mengantarkannya ke tangan Anda langsung, dia akan mengubah keluarga saya menjadi patung batu." Rowan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "S-Saya permisi!"
Pemuda itu lari terbirit-birit meninggalkan perpustakaan.
Aku memutar-mutar amplop hitam itu di tanganku. Segel lilinnya tidak berlambang keluarga bangsawan mana pun, melainkan ukiran yang menyerupai laba-laba.
"Kutukan darah?" Nox melayang turun, matanya mengintip ke arah amplop. "Si pengirim tidak ingin suratnya dibaca oleh orang lain. Atau mungkin, itu jebakan untuk meledakkan wajahmu saat kau membukanya."
"Jika dia ingin membunuhku, dia tidak akan menggunakan kurir penakut dari asosiasi alkimia," jawabku.
Aku menyalurkan sedikit api hitam Vespera ke ujung jariku, menggunakannya layaknya pisau bedah untuk melelehkan segel lilin merah itu dengan sangat hati-hati, memakan sihir kutukan darahnya tanpa memicu ledakannya.
Aku menarik secarik kertas dari dalamnya. Tulisannya kasar, seolah ditulis dengan terburu-buru, namun isinya membuat pendaran ungu di mataku berkilat tajam.
"Kepada Tuan Muda yang mencuri peran sang Pahlawan,
Kami tahu apa yang terjadi di Tartarus. Kami tahu apa yang terjadi di Makam Suci. Dunia ini bukan hanya panggung bagi Pangeran Julian dan boneka merahnya.
Jika kau tertarik untuk melihat naskah dunia ini dari sisi yang lebih gelap, datanglah ke Kasino Obsidian di Distrik Bawah malam ini. Sendiri.
Tertanda, Mata Laba-laba."
"Mata Laba-laba?" Nox membeo, mengerutkan dahinya yang tembus pandang. "Siapa mereka? Sebuah kultus pemuja serangga?"
Aku melipat kembali surat itu, seringai predator yang berbahaya terbentuk di bibirku.
"Bukan kultus, Nox. Mereka adalah Sindikat Arachne." Aku menyandarkan tubuhku ke kursi. "Di dalam novel aslinya, Sindikat Arachne adalah jaringan intelijen bawah tanah terkuat yang menguasai seluruh pasar gelap di lima benua. Mereka tidak peduli pada cahaya atau kegelapan, mereka hanya peduli pada informasi."
Aku mengetukkan jariku ke meja kayu. "Dalam plot asli, Leon baru berhasil menarik perhatian Sindikat ini di akhir tahun kedua, setelah ia menyelamatkan putri ketua sindikat dari penculikan. Tapi tampaknya... aksi perampokanku di Makam Suci membuat mereka mempercepat jadwalnya, dan mereka memilihku sebagai kandidat yang lebih menarik."
"Jadi, kau mau memenuhi undangan kencan buta ini?" goda Nox. "Distrik Bawah di malam hari bukanlah tempat yang ramah untuk anak bangsawan."
"Aku bukan anak bangsawan biasa, Nox. Aku adalah Administrator yang sedang mencari plugin tambahan," aku bangkit berdiri, merapikan bajuku. "Sindikat Arachne memiliki mata dan telinga di mana-mana. Jika aku bisa mengendalikan mereka, aku tidak hanya menguasai intelijen ibu kota dari Pasukan Bayangan keluargaku, tapi aku akan menguasai seluruh jaringan informasi dunia."
Malam ini, Sang Penjahat akan turun ke lumpur terdalam kekaisaran, bukan untuk membersihkannya, melainkan untuk menjadi rajanya.
Tengah malam di Distrik Bawah Solaria tidak pernah sepi. Bau amis darah, asap opium murah, dan alkohol murahan menguar kuat dari setiap sudut jalan sempit yang tidak tersentuh cahaya bulan.
Aku berjalan tanpa menggunakan kereta kuda Pendelton. Mantel Kain Kafan Malam menyelimuti tubuhku, membuat auraku sama sekali tidak terdeteksi oleh preman-preman jalanan yang biasanya memalak orang asing. Mereka hanya melihat sosok tinggi berjubah hitam yang berjalan melewati mereka layaknya hantu.
Kasino Obsidian terletak di ujung jalan paling gelap, disamarkan sebagai bangunan pabrik baja yang sudah tutup. Dua pria bertubuh raksasa, masing-masing dengan lengan mekanik sihir, menjaga pintu kayunya yang reyot.
Aku melangkah mendekat.
"Kasino tutup," geram salah satu penjaga, menyilangkan lengan mekaniknya di depanku.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku menjentikkan amplop hitam bersegel laba-laba dari sakuku.
Mata penjaga itu membelalak melihat segel tersebut. Sikap kasarnya langsung menguap, digantikan oleh kepatuhan yang kaku. Ia membuka pintu kayu itu lebar-lebar. "S-Silakan masuk, Tuan. Tamu VIP telah menunggu di meja nomor tiga."
Begitu pintu terbuka, dentuman musik kasar dan suara riuh sorakan langsung memekakkan telinga. Kasino bawah tanah ini dipenuhi oleh penjudi putus asa, tentara bayaran, dan penyihir buronan. Udara sangat pengap oleh asap.
Aku berjalan menembus keramaian, menuju sudut ruangan yang sedikit lebih redup. Meja nomor tiga.
Di sana, duduk seorang wanita yang kecantikannya sangat kontras dengan lingkungan kotor ini. Ia mengenakan gaun beludru ungu gelap. Rambut hitam pekatnya disanggul rapi dengan tusuk konde berbentuk laba-laba perak. Di bibirnya yang diolesi lipstik semerah darah, tersungging senyum misterius yang berbahaya. Matanya yang berwarna ungu—warna yang sangat langka—menatapku lekat-lekat saat aku mendekat.
Mata Kausalitas: Aktif.
[Nama: Elara 'The Widow' Vance]
[Peran: Pemimpin Cabang Sindikat Arachne Ibu Kota / Anak Haram Baron Vance]
[Kapasitas Mana: Kelas A (Elemen Ilusi dan Racun)]
[Status Pikiran: Menyelidik, Waspada, Dendam]
Mataku sedikit menyipit dari balik tudung mantel. Menarik. Nama belakangnya Vance. Anak haram dari Baron Vance—pria yang baru saja kujebloskan ke penjara satu minggu yang lalu atas dasar penggelapan dana.
"Silakan duduk, Tuan Muda Pendelton," sapa wanita itu, suaranya lembut layaknya sutra, namun menyembunyikan bisa yang mematikan. "Atau kau lebih suka kusebut sebagai... Pencuri Matahari?"
Aku menarik kursi dan duduk di depannya, melipat tanganku di atas meja yang kotor.
"Basa-basi yang manis, Nona Vance," balasku santai, sengaja menekankan nama belakangnya. "Aku berasumsi undangan ini bukan untuk minum teh sambil mengenang mendiang ayahmu di penjara?"
Elara membeku sesaat. Mata ungunya berkilat tajam. "Kau meretas informasi itu dengan cepat. Benar, pria bodoh itu adalah ayahku. Tapi jangan salah paham, aku tidak peduli dia membusuk di penjara akibat ulahmu. Pria itu menelantarkan ibuku dan lebih memilih anak sahnya yang cengeng itu, Cedric."
Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan tangan yang dipenuhi cincin beracun.
"Kau menghancurkan faksi Pangeran Julian, kau mempermalukan pahlawan kesayangan dewa, dan kau mencuri artefak terkuat di era ini tanpa meninggalkan jejak sihir," bisik Elara. "Sindikat Arachne sangat tertarik padamu, Arthur Pendelton. Kami ingin menawarkan sebuah... kemitraan."
Aku tersenyum tipis. "Kemitraan? Kalimat yang bagus untuk menutupi niat kalian yang sebenarnya, yaitu menjadikanku pion eksekutor kalian yang baru."
Elara tertawa pelan. "Kau sangat blak-blakan. Baiklah. Aku akan memberikanmu akses ke seluruh jaringan informasi Sindikat di benua ini. Sebagai gantinya, kau hanya perlu melakukan satu hal kecil untuk kami."
"Dan apa itu?" tanyaku.
Senyum Elara lenyap, digantikan oleh ekspresi pembunuh berdarah dingin.
"Bulan depan, saat Festival Musim Semi," bisiknya, "kami ingin kau membunuh Kaisar Solaria di hadapan publik."
Udara di sekitarku seolah berhenti mengalir. Membunuh Kaisar? Pria terkuat yang dilindungi oleh dua belas ksatria dewa dan memiliki kekuatan yang setara dengan bencana alam?
Nox, yang mendengarkan percakapan itu dari bahuku, bersiul panjang. "Wah, Arthur. Mereka tidak main-main. Mereka memintamu melakukan log out permanen dari dunia ini."
Aku menatap mata ungu Elara yang menantang. Sindikat ini mencoba menggunakan kebencianku pada Julian untuk memicu perang saudara besar-besaran.
Aku bersandar kembali ke kursiku, tawa rendah dan gelap mengalir dari tenggorokanku. Aku tidak marah. Aku justru merasa ini adalah permainan yang sangat menyenangkan.
"Kaisar, ya?" gumamku, mengetukkan jari ke meja. "Permintaan yang sangat ambisius, Elara. Tapi aku punya penawaran balik yang lebih menarik."
Mata Elara menyipit. "Penawaran balik?"
"Ya," aku mencondongkan tubuhku ke depan, memproyeksikan aura kegelapan dari Perisai Gerhana yang bergetar di cincinku, membuat udara di sekitar meja kami turun belasan derajat. "Aku tidak akan menjadi eksekutor bodoh kalian. Sebaliknya, mulai malam ini... seluruh Sindikat Arachne akan bekerja untukku."