Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 33
Sisa-sisa ledakan helikopter Maverick yang menghantam puncak gedung parkir di kejauhan masih menyisakan pendar jingga kemerahan yang memantul di awan malam Los Santos. Kobaran api dan tumpukan puing-puing besi yang berserakan di badan jalan berhasil menciptakan blokade alami yang efektif, menghentikan laju puluhan armada mobil patroli LSPD yang tadinya menempel ketat di belakang mereka.
Di dalam kabin van Declasse Burrito hitam yang sudah babak belur, ketegangan perlahan mereda berganti dengan adrenalin yang masih memompa kencang di dalam darah. Franklin Clinton mencengkeram erat setir mobil dengan buku-buku jarinya yang memutih. Matanya awas, menatap tajam ke setiap tikungan dan papan penunjuk jalan yang melintas cepat di bawah terangnya lampu-lampu kota.
"Polisi di belakang tertahan oleh reruntuhan helikopter, tapi itu tidak akan lama!" seru Franklin melalui mikrofon taktis earpiece, suaranya terdengar tegas namun terkontrol. "Mereka pasti sedang menyiapkan rute pengepungan baru lewat jalur alternatif. Kita harus segera masuk ke terowongan sebelum mereka menutup akses!"
"Arahkan kemudi ke jalur lingkar barat laut, Frank!" instruksi Lester Crest tiba-tiba masuk melalui saluran radio, suaranya terdengar tegang namun sigap dari markas selulernya. "Aku sudah meretas sistem lampu lalu lintas dan mengalihkan seluruh kamera pengawas di sektor itu. Belok ke kiri di persimpangan depan, masuk ke jalur terowongan pemeliharaan bawah tanah Los Santos Storm Drain!"
"Copy, Lester!" balas Franklin singkat.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Franklin menginjak pedal gas hingga menempel ke dasar lantai. Van hitam itu melesat bertenaga, membanting setir ke jalur kiri dengan manuver tajam yang membuat ban mobil mencicit keras di atas aspal basah. Mereka meninggalkan keramaian pusat kota dan mulai memasuki kawasan industri tua yang sepi, di mana permukaan jalanan mulai menurun curam menuju mulut terowongan beton raksasa yang gelap gulita.
Di dalam ruang bagasi belakang, Andika, Michael, dan Trevor mengamankan posisi mereka. Andika menyeka butiran keringat yang membasahi dahinya, lalu memasukkan kembali pistol Glock miliknya ke dalam holster ketiak dengan rapi. Ia melirik dua tas kargo kanvas jumbo berisi tumpukan uang tunai jutaan dolar dan batangan emas murni yang terikat aman di sudut bagasi, memastikan tidak ada satu pun ikatan yang terlepas akibat guncangan keras selama pelarian tadi.
"Kerja bagus di belakang, kawan-kawan," puji Michael sambil melepaskan topeng badut dari wajahnya, mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah oleh keringat. "Kita benar-benar berhasil merobek perut bank itu dan keluar hidup-hidup."
"Hidup ini memang terasa hampa kalau tidak diisi dengan sedikit kekacauan dan bau mesiu, Micky!" tawa Trevor meledak gila, ikut menarik lepas topeng badutnya dan menyeka darah kering di pipinya akibat serpihan kaca. "Anak muda ini—Andika—benar-benar punya nyali baja! Aku mulai menyukai bocah ini!"
Andika hanya tersenyum tipis menanggapi pujian khas Trevor. "Yang penting kita masih bernapas dan tas-tas ini penuh," balas Andika tenang, meraba saku jasnya untuk memastikan rokoknya masih utuh.
Di kursi depan, Franklin terus memperketat konsentrasinya. Di hadapan mereka, mulut terowongan beton raksasa Los Santos Storm Drain yang gelap dan lembap sudah berdiri menyambut. Tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun, Franklin memutar kemudi dan meluncur masuk ke dalam perut terowongan.
VROOOOOOOOOOOOOMMM!
Suara deru mesin V8 van Burrito itu memantul keras berkali-kali di dinding-dinding beton terowongan yang luas, menciptakan gema memekakkan telinga layaknya raungan monster bawah tanah. Cahaya lampu depan van membelah kegelapan lorong, menyorot genangan air keruh dan pilar-pilar beton tua yang berjejer rapi di sepanjang jalur pemeliharaan air tersebut.
Di dalam terowongan ini, suasana terasa jauh lebih aman dari jangkauan pandangan mata helikopter maupun patroli darat LSPD. Namun, mereka tahu betul bahwa mereka tidak boleh menurunkan kewaspadaan. Perjalanan di dalam labirin terowongan bawah tanah ini menuntut ketepatan navigasi tingkat tinggi agar tidak terjebak di jalan buntu.
"Terus lurus sekitar tiga ratus meter ke depan," suara Lester kembali menggema melalui earpiece dengan nada instruktif yang sangat detail. "Kalian akan melihat persimpangan lorong bercabang tiga dengan tanda lampu merah darurat yang sudah kuhidupkan. Ambil jalur yang tengah—jalur pemeliharaan lama yang mengarah langsung ke sektor Grand Senora Canal."
"Diterima, Lester," jawab Franklin, matanya memicing menatap lurus ke depan menembus sorot lampu mobil.
Beberapa detik kemudian, persimpangan bercabang yang dimaksud Lester muncul di hadapan mereka. Sebuah lampu darurat berkedip merah terang di atas dinding beton sisi kiri. Dengan keahlian mengemudi yang presisi, Franklin membelokkan van hitam itu ke jalur tengah tanpa kehilangan traksi sedikit pun, menjaga kestabilan kendaraan meski permukaan jalanan berlubang dan dipenuhi genangan air.
"Kalian luar biasa," suara Lester terdengar kembali, kali ini sedikit lebih lega. "Dari pantauan sistem satelitku, barikade polisi di jalan raya utama kini sedang sibuk menyisir arah yang salah—mereka mengira kalian kabur ke arah perbukitan Vinewood, bukan masuk ke dalam sistem saluran pemeliharaan bawah tanah ini. Kalian berhasil mengecoh mereka sepenuhnya."
"Bagus," geram Michael sambil menyalakan sebatang rokok di dalam kabin van, menghembuskan asap putih tipis ke udara. "Biar para anjing pemburu itu kebingungan di atas sana sementara kita mengamankan hasil rampokan."
Van Burrito terus melaju stabil menyusuri lorong panjang terowongan bawah tanah yang sepi. Suasana di dalam kabin kini jauh lebih tenang, diiringi deru halus mesin yang mulai mereda setelah dipacu dalam kecepatan ekstrem di jalan raya pusat kota tadi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit di dalam perut bumi, sorot lampu depan van mulai menangkap bias cahaya terang di ujung lorong. Itu adalah pintu keluar terowongan kedua yang tersembunyi di balik rimbunnya semak-semak tinggi di tepi kanal sepi pinggiran kota, jauh dari jangkauan kawasan komersial Los Santos.
Franklin memelankan laju van secara perlahan, mematikan lampu sorot utama kendaraan, dan merayap keluar dari mulut terowongan menuju area terbuka yang aman dan terlindung dari pandangan publik.
"Kita sudah keluar dari zona bahaya utama," umum Franklin lewat mikrofon, menghela napas panjang untuk meredakan sisa-sisa ketegangan di dadanya.
"Kerja yang sangat sempurna, kawan-kawan," puji Michael sambil menepuk dasbor mobil. "Sekarang, mari kita menuju titik pertemuan akhir untuk membersihkan jejak dan membagi hasil kerja keras kita."
Dengan rasa aman yang kini sepenuhnya berada di genggaman, van Declasse Burrito hitam itu kembali melaju mulus menyusuri jalanan pedesaan yang sunyi, membawa Andika, Michael, Franklin, dan Trevor beserta tumpokan jutaan dolar hasil rampokan The Fleeca Bank menuju babak akhir dari operasi besar mereka.