I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Getaran itu berlangsung kurang dari tiga detik.
Namun bagi Sol-Vane, tiga detik sudah cukup untuk membuat seluruh sistem pertahanan kota masuk ke keadaan darurat.
Di dalam Grand Council Hall, para penjaga berlarian melewati lorong-lorong kristal. Lampu merah menyala di setiap sudut bangunan. Puluhan layar magitek bermunculan secara otomatis, menampilkan pola energi yang berubah tanpa henti.
[PERINGATAN SISTEM]
[INTERFERENSI EKSTERNAL TERDETEKSI]
[SUMBER: TIDAK TERIDENTIFIKASI]
[STATUS: TIDAK DAPAT DIKUNCI]
Elder Vane berdiri di tengah ruang kendali.
Wajahnya yang sebelumnya penuh keyakinan kini terlihat kaku.
"Ulangi pemindaian."
Seorang teknisi menelan ludah.
"Sudah tiga kali, Elder."
"Kalau begitu lakukan yang keempat."
"Kami tidak bisa."
Vane menoleh tajam.
"Apa?"
Teknisi itu menunjuk layar utama.
"Masalahnya bukan kita gagal menemukan sumbernya."
Ia menarik napas.
"Sistem tidak bisa menentukan dari mana interferensi itu berasal."
Vane terdiam.
"Mustahil."
"Justru itu masalahnya."
Layar utama tiba-tiba berubah.
Seluruh data menghilang.
Kemudian muncul satu kalimat.
[EXTERNAL REFERENCE ESTABLISHED.]
Ruangan mendadak sunyi.
Vane menatap tulisan tersebut.
"External reference..."
Ia mengingat istilah yang pernah ia lihat di dokumen rahasia Grand Council.
Istilah yang bahkan sebagian besar anggota Council tidak pernah diberi akses untuk membacanya.
"Jangan-jangan..."
Vane belum selesai berbicara ketika seluruh ruangan berguncang.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada serangan.
Hanya satu gelombang tekanan yang melewati seluruh kota.
Kemudian—
semua layar mati.
Jauh dari Sol-Vane, Ren dan ketiga rekannya terus bergerak.
Mereka belum tahu apa yang sedang terjadi di kota.
Namun Ren tahu satu hal.
Mereka sedang diamati.
Bukan dengan mata.
Bukan dengan sensor.
Bukan pula dengan sihir.
Ada sesuatu yang mencoba membangun hubungan antara mereka dan sebuah titik yang bahkan tidak berada dalam jalur perjalanan mereka.
Ren berhenti.
Rayker hampir menabraknya.
"Kenapa berhenti?"
Ren tidak menjawab.
Ia melihat tanah di bawah kakinya.
Tidak ada apa-apa.
Tanah.
Batu.
Debu.
Namun Cosmic Perception Eye miliknya menangkap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa.
Sebuah pola.
Sangat tipis.
Hampir seperti bekas goresan.
Ren berjongkok.
Ia menyentuh tanah dengan dua jari.
Lyra memperhatikan.
"Apa itu?"
"Jejak."
"Jejak siapa?"
"Belum tahu."
Caelum segera mengaktifkan QNI.
"Biarkan aku memindainya."
Ren berdiri.
"Jangan."
Caelum berhenti.
"Kenapa?"
"Kalau kau memindainya, mereka akan tahu kita menemukannya."
Rayker langsung mengerti.
"Jadi kita sudah meninggalkan jejak?"
Ren menggeleng.
"Justru sebaliknya."
Ia menunjuk tanah.
"Kita menemukan jejak mereka."
Lyra menatap permukaan tanah.
"Tapi tidak ada siapa-siapa."
"Memang."
Ren berjalan melewati tanda tersebut.
"Karena mereka tidak datang melalui sini."
Rayker mengerutkan kening.
"Lalu bagaimana jejak itu bisa ada?"
Ren tidak menjawab.
Ia terus berjalan.
Caelum memandang simbol tersebut sekali lagi.
Kemudian wajahnya berubah.
"Ren."
"Hm?"
"Aku pernah melihat pola seperti itu."
Ren berhenti.
"Di mana?"
"Di data lama."
Caelum membuka rekaman dari memorinya.
Sebuah simbol muncul.
Bentuknya hampir sama dengan tanda di tanah.
Hanya ada satu perbedaan.
Simbol pada arsip memiliki tiga garis.
Sedangkan simbol di tanah hanya memiliki satu.
Caelum memperbesar gambar.
"Ini bagian dari sistem penandaan."
Rayker mengangkat alis.
"Penandaan?"
"Ya."
Caelum menatap simbol itu.
"Dulu aku mengira simbol ini digunakan untuk menandai jalur distribusi energi."
Ren menatapnya.
"Dan sekarang?"
Caelum diam.
Kemudian menjawab,
"Kurasa bukan."
Lyra bertanya,
"Kalau bukan jalur energi, lalu apa?"
Caelum menatap Ren.
"Target."
Suasana kembali hening.
Rayker langsung menghunus pedangnya.
"Jadi tanda ini menandai seseorang?"
"Atau sesuatu."
Ren memandang simbol itu.
"Berapa banyak simbol yang ada di arsipmu?"
Caelum membuka data.
"Ratusan."
"Di mana?"
Caelum menunjukkan peta.
Ren melihatnya.
Titik-titik kecil tersebar di seluruh wilayah.
Ada yang berada di kota.
Ada yang berada di gurun.
Ada yang berada di reruntuhan.
Bahkan beberapa berada di lokasi yang seharusnya tidak memiliki kehidupan.
Ren memperhatikan semuanya.
Kemudian ia berkata,
"Ini bukan sistem pelacakan."
Caelum menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena titik-titik itu tidak mengikuti pergerakan target."
Ren menunjuk beberapa titik.
"Mereka sudah ada sebelum target berada di sana."
Caelum membeku.
Rayker mengerutkan kening.
"Jadi apa maksudnya?"
Ren menjawab,
"Mereka bukan menandai orang."
Ia menunjuk peta.
"Mereka menandai tempat."
Lyra perlahan memahami.
"Tempat yang akan didatangi seseorang?"
"Lebih buruk."
Ren memandang peta itu.
"Tempat yang sudah dipersiapkan untuk seseorang."
Tidak ada yang berbicara.
Caelum kembali melihat data.
"Tunggu."
Jarinya bergerak cepat.
"Ada tiga titik yang baru aktif."
Ren langsung menoleh.
"Di mana?"
Caelum memperbesar peta.
Tiga titik muncul.
Satu berada jauh di utara.
Satu di wilayah barat.
Dan satu—
tepat di posisi mereka.
Rayker menarik napas.
"Jadi mereka memang menemukan kita."
Caelum menggeleng.
"Bukan hanya kita."
Ren menatap tiga titik itu.
"Benar."
Ia menunjuk titik pertama.
"Ini Rayker."
Kemudian titik kedua.
"Lyra."
Lalu titik ketiga.
Caelum menatap layar.
"Berarti..."
Ren menyelesaikan kalimatnya.
"Ketiga Living Fuse."
Rayker menggenggam pedangnya lebih erat.
"Kalau begitu kita harus pergi lebih jauh."
"Tidak."
Rayker menatap Ren.
"Apa?"
"Kita tidak akan lari."
Lyra terlihat khawatir.
"Ren, kalau mereka mampu melacak kita sampai sejauh ini—"
"Kita bukan target utama mereka."
Caelum langsung mengangkat kepala.
"Kau sudah mengatakan itu sebelumnya."
"Karena memang begitu."
Ren melihat tiga titik pada layar.
"Mereka mencari tiga Living Fuse karena mereka membutuhkan sesuatu dari mereka."
"Dan sesuatu itu adalah..."
"Resonansi."
Caelum terdiam.
Ren melanjutkan.
"Architect Core hanyalah salah satu bagian."
Ia mengingat kembali semua yang terjadi di bawah Aetheria Tower.
Void Intruder.
Reaktor.
Core Fluid.
Dan pecahan topeng milik Harvester.
Semua kejadian itu mulai membentuk satu pola.
"Void Sovereigns tidak datang ke Sol-Vane secara acak."
Rayker menatap Ren.
"Mereka datang untuk Architect Core."
"Ya."
"Lalu kenapa?"
Ren menatap Caelum.
"Karena Architect Core bukan hanya mesin."
Caelum perlahan mengerti.
"Itu..."
"Benar."
Ren mengucapkannya dengan tenang.
"Gerbang."
Caelum membeku.
Lyra menatap mereka berdua.
"Gerbang menuju apa?"
Ren tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke langit.
"Tempat dari mana Void Sovereigns datang."
Rayker terdiam.
Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa apa yang mereka anggap sebagai serangan terhadap satu kota mungkin sebenarnya hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Caelum menutup semua layar.
"Kalau begitu kita tidak bisa kembali ke Sol-Vane."
"Memang tidak."
"Dan kita tidak bisa tetap di sini."
"Benar."
Rayker menghela napas.
"Jadi ke mana kita pergi?"
Ren menatap ke arah utara.
"Ada tempat."
Caelum langsung bertanya,
"Tempat apa?"
"Reruntuhan."
"Nama?"
"Belum tahu."
Rayker mengangkat alis.
"Kau menyuruh kami pergi ke tempat yang bahkan namanya tidak kau ketahui?"
Ren mengangguk.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena seseorang pernah mencoba menghapus tempat itu dari peta."
Caelum terdiam.
"Dan?"
Ren berjalan.
"Biasanya, sesuatu tidak perlu dihapus kalau memang tidak penting."
Mereka mengikuti.
Namun baru beberapa langkah—
Ren berhenti lagi.
Kali ini ekspresinya berubah.
Cosmic Perception Eye aktif.
Udara di depan mereka bergetar sangat tipis.
Rayker segera menyadarinya.
"Ada sesuatu?"
Ren tidak menjawab.
Sebuah suara terdengar.
Bukan dari langit.
Bukan dari tanah.
Bukan dari arah mana pun.
Suara itu muncul langsung di dalam ruang di sekitar mereka.
"Target terkonfirmasi."
Lyra membeku.
Rayker mengangkat pedangnya.
Caelum mencoba mengaktifkan QNI.
Tidak berhasil.
Ren hanya berdiri diam.
Kemudian suara kedua terdengar.
"Tiga resonansi ditemukan."
Rayker mengambil posisi bertahan.
"Keluar!"
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara ketiga.
"Satu anomali ditemukan."
Ren mengangkat kepalanya.
Untuk pertama kalinya, suara itu berhenti.
Seolah sesuatu sedang mencoba memahami dirinya.
Lalu—
[ERROR]
Suara tersebut terputus.
Hening.
Caelum menatap QNI yang kembali menyala.
Di layar hanya terdapat satu baris.
[TARGET RESOLUTION: UNSTABLE]
Rayker menoleh kepada Ren.
"Itu..."
"Ya."
Ren menatap kegelapan di depan.
"Mereka tidak mengenaliku."
Caelum perlahan berkata,
"Justru itu yang membuatku takut."
Ren tersenyum kecil.
"Kenapa?"
"Karena sesuatu yang mampu menemukan tiga Living Fuse dalam jarak seperti ini..."
Caelum menatap layar.
"...baru saja gagal memahami satu orang."
Ren berbalik.
"Kalau begitu kita punya sedikit waktu."
Rayker bertanya,
"Untuk apa?"
Ren mulai berjalan menuju utara.
"Untuk mencari tahu siapa mereka sebelum mereka mencari tahu siapa aku."
Di belakang mereka, tiga simbol di tanah menyala bersamaan.
Lalu satu simbol keempat muncul.
Tidak berada di Rayker.
Tidak berada di Lyra.
Tidak berada di Caelum.
Simbol itu muncul tepat di tempat Ren berdiri beberapa detik sebelumnya.
Namun simbol tersebut segera retak.
Kemudian—
menghilang dengan sendirinya.
Jauh di suatu tempat yang tidak diketahui, sebuah sistem mendeteksi kegagalan itu.
[TARGET 01: CONFIRMED]
[TARGET 02: CONFIRMED]
[TARGET 03: CONFIRMED]
[TARGET 04: ERROR]
Beberapa detik kemudian, satu perintah muncul.
[RECLASSIFICATION REQUIRED.]
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—
sistem tersebut tidak memiliki jawaban.