Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Penjara Awan
Retakan di dinding batu semakin melebar. Debu berjatuhan dari langit-langit kuil, dan cahaya keperakan dari formasi itu berdenyut seperti jantung yang berdetak semakin cepat.
Zhou Chen tidak menjawab pertanyaan Zhou Han. Ia tidak punya waktu untuk itu. "Zhou Ming, bisakah kau baca formasi ini?"
Zhou Ming berlutut di dekat garis-garis keperakan yang merambat di lantai, matanya menyipit mempelajari pola yang berputar dari titik tengah ruangan. "Ini formasi kurungan, bukan formasi pembunuh langsung. Tujuannya menahan orang di dalam, sementara dinding di sekitarnya runtuh perlahan. Kalau kita tidak menemukan titik inti sebelum dinding roboh sepenuhnya, kita akan terkubur hidup-hidup di dalamnya."
"Berapa lama waktu kita?" tanya Zhao Kai, masih menghindari sisa embun beku yang membeku di lantai.
"Tidak tahu pasti," jawab Zhou Ming. "Tetapi tidak lama."
Zhou Han tertawa pelan dari sudut ruangan, tubuhnya masih bersandar lemah pada pilar. "Kalian tidak akan menemukannya dengan mudah. Formasi ini peninggalan kuno, dari masa sebelum Kerajaan Zhou berdiri. Bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya memahaminya, aku hanya diberi lempeng pengaktifnya."
"Kalau begitu, kenapa kau mengaktifkannya juga?" tanya Zhou Chen tajam. "Kau juga terjebak di dalam sini."
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum Zhou Han benar-benar pudar. "Karena Nyonya tidak pernah bermaksud membiarkanku hidup setelah gagal. Aku hanya memilih cara mati yang menurutku pantas, bersama orang yang membuatku penasaran bukan sendirian di jalanan seperti anjing buangan."
Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa ke seluruh ruangan, mengabaikan nyeri yang masih berdenyut di kepalanya sejak ia memaksa menembus tirai kekuatan Zhou Han, Kali ini sasarannya bukan manusia, melainkan pola formasi itu sendiri.
Formasi Penjara Awan. Objek buatan kuno. Analisis sebagian berhasil. Titik inti kemungkinan berada di bawah altar utama, ditandai dengan aliran energi paling padat. Peringatan: mendekati titik inti tanpa memutus jalur pengaman akan mempercepat keruntuhan, bukan menghentikannya.
"Di bawah altar," kata Zhou Chen, menunjuk ke arah patung dewa tanpa kepala di ujung ruangan. "Tetapi kalau langsung didekati, formasi ini akan runtuh lebih cepat."
Yue Er, yang sejak tadi memperhatikan pola cahaya di lantai dengan matanya yang tajam, tiba-tiba angkat bicara. "Yang Mulia, lihat baik-baik. Garis-garis ini tidak menyala bersamaan. Ada urutan nyalanya, seperti pola yang berputar. Kalau kita melangkah mengikuti urutan itu, mungkin kita tidak memicu keruntuhan."
Zhou Chen menatapnya, kagum. Kemampuan pengamatan Yue Er, yang dulu hanya terlihat dalam soal memanah, kini terbukti berguna dalam hal yang jauh lebih rumit.
"Bisakah kau membaca urutannya?"
Yue Er mengamati sejenak, bibirnya bergerak pelan menghitung dalam hati. "Timur, tenggara, selatan, lalu memutar kembali ke barat daya sebelum akhirnya ke tengah. Seperti jarum jam yang berjalan mundur dua langkah setiap tiga langkah maju."
Dinding kuil bergetar hebat. Sebagian atap runtuh, menimpa salah satu tiang kayu tua hingga patah menjadi dua. Waktu mereka semakin sempit.
"Zhao Kai, lindungi Xiao Hei dan Zhou Ming di sini," perintah Zhou Chen. "Yue Er, kau tunjukkan jalannya. Aku yang akan mendekati altar."
"Yang Mulia terlalu berisiko sendirian," bantah Zhao Kai.
"Kalau kita semua bergerak sekaligus, kemungkinan salah langkah lebih besar," jawab Zhou Chen tegas. "Biar aku dan Yue Er saja."
Mereka berdua melangkah hati-hati mengikuti pola yang dibaca Yue Er: timur, tenggara, selatan, mundur ke barat daya, lalu maju lagi. Setiap kali kaki mereka menyentuh garis yang salah, cahaya di bawah telapak kaki mereka berkedip merah sebentar sebelum kembali tenang peringatan, bukan hukuman, tetapi cukup untuk membuat jantung mereka berdegup kencang setiap kali itu terjadi.
Di belakang mereka, Zhou Han menyaksikan dengan tatapan yang sulit diartikan antara kagum dan putus asa.
"Kalian benar-benar akan mencoba menyelamatkanku juga?" tanyanya pelan, nyaris tidak percaya. "Padahal aku yang mengaktifkan formasi ini."
"Kau juga korban," jawab Zhou Chen tanpa menoleh, fokus penuh pada langkah kakinya sendiri. "Aku tidak akan membiarkan Zhou Yan menambah satu nyawa lagi ke dalam daftar dosanya, termasuk nyawamu."
Mereka akhirnya tiba di depan altar. Di bawah patung dewa tanpa kepala itu, tersembunyi sebuah lubang kecil berisi kristal keperakan yang berdenyut seperti jantung yang menjadi sumber seluruh formasi.
Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa sekali lagi, memaksa dirinya menembus rasa nyeri yang semakin tajam di kepalanya.
Titik inti terkonfirmasi. Untuk menghentikan formasi tanpa memicu ledakan energi, dibutuhkan penyaluran qi berlawanan arah secara bersamaan dari dua sisi kristal. Peringatan: proses ini akan menguras tenaga dalam pengguna secara signifikan.
"Kita butuh dua orang yang menyalurkan qi dari dua sisi sekaligus," kata Zhou Chen kepada Yue Er. "Aku tidak punya kultivasi. Kau harus melakukannya bersama salah satu dari mereka."
Yue Er menggeleng cepat. "Tingkat hamba terlalu rendah, Yang Mulia. Kalau dipaksa, hamba pasti tidak akan bisa memecahkanya."
Dari kejauhan, suara Zhao Kai terdengar berteriak menembus reruntuhan yang semakin dekat. "Biar hamba yang lakukan salah satu sisi! Xiao Hei, kau ambil sisi yang lain meski meridianmu belum pulih penuh, kau satu-satunya lagi yang punya kultivasi cukup untuk ini!"
Xiao Hei, meski wajahnya pucat mendengar risikonya, mengangguk mantap. "Hamba siap, Yang Mulia."
Zhou Chen ingin membantah, ingin melarang Xiao Hei mengambil risiko itu mengingat titik lemah di meridiannya. Namun waktu tidak lagi memihak mereka. Atap kuil mulai runtuh sepenuhnya di bagian belakang.
"Lakukan," katanya akhirnya, suaranya berat menahan kekhawatiran. "Tetapi hentikan secepatnya setelah kristal itu stabil. Jangan memaksakan diri lebih dari itu."
Zhao Kai dan Xiao Hei berdiri di dua sisi altar, masing-masing menempelkan telapak tangan ke kristal keperakan itu. Qi mereka mengalir berlawanan arah, satu searah jarum jam, satu berlawanan arah jarum jam, seperti dua aliran sungai yang saling menekan.
Kristal itu bergetar hebat, cahayanya berkedip liar antara terang dan gelap. Xiao Hei menggeram menahan sakit titik lemah di meridiannya bereaksi keras terhadap tekanan qi yang mendadak besar, tetapi ia tidak melepaskan tangannya.
Zhou Chen berdiri di dekatnya, siap menangkapnya kapan saja tubuh itu roboh.
Detik-detik berikutnya terasa seperti waktu yang meregang panjang. Kemudian, dengan satu denyar cahaya terakhir yang menyilaukan seluruh ruangan, kristal itu meredup dan padam. Garis-garis keperakan di lantai memudar satu per satu. Getaran di dinding kuil berhenti.
Xiao Hei ambruk seketika, dan Zhou Chen menangkapnya tepat waktu, mendekapnya di lengannya sendiri.
"Xiao Hei!"
"Hamba... baik-baik saja, Yang Mulia," bisiknya lemah, meski wajahnya pucat pasi dan napasnya tersengal. "Hanya... sangat lelah."
Reruntuhan kuil kini menyisakan puing-puing yang berserakan di sekeliling mereka, tetapi bangunan itu tidak lagi runtuh. Di sudut ruangan, Zhou Han tergeletak lemah, kehabisan tenaga sepenuhnya setelah menahan luka dalamnya sejak awal pertarungan.
Zhou Chen mendekatinya perlahan, menatap sosok yang selama berbulan-bulan menjadi musuh paling licik yang pernah ia hadapi, kini tidak lebih dari seorang pemuda kelelahan yang kehilangan segalanya.
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku," gumam Zhou Han lemah, matanya setengah terpejam.
"Mungkin lain kali," jawab Zhou Chen. "Sekarang, kau akan ikut denganku, kembali ke istana. Bukan sebagai tahanan mati, tetapi sebagai saksi hidup yang bisa membuktikan siapa Zhou Yan sebenarnya."
Zhou Han memejamkan mata sepenuhnya, entah karena pasrah atau karena benar-benar kehabisan tenaga untuk melawan lebih jauh. "Terserah kau, Kakak. Aku sudah terlalu lelah untuk peduli lagi."
Di luar kuil, langit mulai menunjukkan semburat jingga pertama menjelang fajar. Zhou Ming berdiri di ambang pintu yang runtuh sebagian, menatap pemandangan itu dengan wajah lelah namun lega.
"Kita berhasil," katanya pelan. "Tetapi ini baru satu bagian dari teka-teki yang jauh lebih besar."
Zhou Chen mengangguk, menatap ke arah cakrawala yang perlahan berubah terang. Zhou Han tertangkap. Namun Zhou Yan sosok yang sesungguhnya mengendalikan semua ini dari balik bayangan masih belum tersentuh sama sekali.
Dan kini, wanita itu tahu bahwa alat yang ia buang telah jatuh ke tangan musuhnya.