Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Formasi yang Mulai Retak
Pikiran syukur Chu Feng malam itu belum sepenuhnya selesai ketika sebuah getaran aneh tiba-tiba menjalar di sepanjang lantai ruangan tersembunyi itu bukan gempa, melainkan sesuatu yang lebih halus, seperti denyut yang melemah dari sebuah jantung yang mulai lelah.
Kristal-kristal keemasan di langit-langit ruangan, yang sejak awal memancarkan cahaya stabil, berkedip sekali, dua kali, sebelum kembali normal namun cukup untuk membuat Chu Feng waspada.
"Apa kalian merasakannya?" tanyanya, bangkit dari duduknya.
Zhao Lin, yang paling peka terhadap perubahan energi di sekitarnya, mengangguk cepat. "Sesuatu terjadi pada formasi ruangan ini. Rasanya seperti... melemah."
Mereka berkumpul di tengah ruangan, mengamati sekeliling dengan waspada. Chu Feng mengaktifkan Mata Dewa-nya, memindai pola energi yang mengalir di sepanjang dinding dan langit-langit ruangan itu dan yang ia lihat membuat perutnya terasa dingin.
Ukiran-ukiran formasi kuno yang sejak awal bersinar terang kini menunjukkan retakan-retakan halus, cahayanya mulai tidak stabil di beberapa titik, seperti kain yang mulai terurai di ujung-ujungnya.
"Formasi ini melemah," katanya, suaranya tegang. "Aku tidak tahu persis kenapa mungkin karena sudah terlalu lama tidak digunakan sebelum kita membukanya, mungkin karena menahan percepatan waktu sebesar ini butuh energi yang sangat besar. Tapi kalau ini terus melemah..."
"...ruangan ini bisa runtuh, atau lebih buruk, mengunci kita di dalam sini selamanya," Jiang Rou menyelesaikan kalimat itu, wajahnya pucat.
Kepanikan sesaat melanda kelima anggota tim, namun Chu Feng dengan cepat mengambil alih, insting kepemimpinan yang telah terbentuk selama berbulan-bulan latihan bersama kini muncul secara alami.
"Kita tidak punya waktu untuk panik," katanya tegas. "Kita harus mempercepat sisa latihan kita, lalu keluar sebelum formasi ini benar-benar hancur."
Ia menoleh ke arah dua murid yang belum sempat mendapatkan giliran penuh di medan berat tingkat tinggi. "Kalian berdua fokus pada tingkat ketiga sekarang, jangan memaksakan diri ke tingkat empat. Kita butuh kalian keluar dalam kondisi baik, bukan terjebak dalam pertarungan batin yang belum siap kalian hadapi."
Kedua murid itu mengangguk, segera bergegas menuju area medan berat dengan tekad yang diperbarui oleh rasa urgensi yang baru.
Selama dua hari berikutnya setara hampir dua puluh hari di dunia luar seluruh tim mendorong diri mereka dengan intensitas yang belum pernah mereka capai sebelumnya, menyadari bahwa setiap detik yang tersisa di dalam ruangan ini kini menjadi sumber daya yang sangat berharga dan terbatas.
Zhao Lin akhirnya mencapai tingkat keempat pada hari itu, mengalami bisikan gelapnya sendiri godaan berupa keraguan mendalam tentang kemampuannya sendiri, bisikan yang menuduhnya hanya menjadi bayang-bayang di antara rekan-rekan yang lebih menonjol sepertinya Chu Feng dan Liu Bo. Dengan tekad yang sudah lama terpendam, ia berhasil mengatasinya, keluar dari pertarungan batin itu dengan kepercayaan diri baru dan kekuatan yang meningkat signifikan.
Jiang Rou, meski tidak mencapai tingkat keempat karena fokusnya lebih pada penyempurnaan formasi pendukung dibandingkan kekuatan fisik murni, menemukan caranya sendiri untuk memperkuat kemampuan alkiminya menciptakan dua formasi darurat baru yang bisa digunakan tim dalam situasi genting, hasil dari eksperimen intensif selama waktu yang tersisa.
Dua murid lainnya berhasil memantapkan diri mereka di tingkat ketiga, tubuh dan qi mereka jauh lebih kuat dibandingkan saat pertama kali memasuki ruangan ini, meski belum mencapai terobosan sebesar Chu Feng, Liu Bo, atau Zhao Lin.
Pada hari yang mereka sepakati sebagai hari terakhir, ketika retakan pada formasi ruangan sudah semakin jelas terlihat beberapa area latihan bahkan mulai kehilangan cahaya kristalnya sepenuhnya kelima anggota tim berkumpul di dekat lorong keluar, lelah namun dipenuhi rasa pencapaian yang mendalam.
"Kita sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan di sini," kata Chu Feng, menatap keempat rekannya dengan bangga yang tulus. "Sekarang saatnya kembali, dan menghadapi apa pun yang menanti kita di luar."
Mereka melangkah bersama menuju lorong itu, Hei berlari lebih dulu dengan semangat seekor binatang yang tidak sabar kembali ke udara terbuka. Ketika mereka akhirnya keluar dari gerbang batu yang perlahan mulai meredup cahayanya di belakang mereka, sinar matahari yang menyilaukan menyambut mereka jauh lebih terik dari yang mereka ingat, seolah menegaskan bahwa waktu memang telah berlalu jauh lebih lama dari perkiraan awal mereka.
Tetua Wang, yang tampaknya sudah menunggu di dekat gerbang selama entah berapa lama, langsung berdiri dengan ekspresi campuran kelegaan dan keterkejutan begitu melihat mereka muncul.
"Kalian akhirnya keluar," katanya, suaranya bergetar menahan emosi. "Sudah hampir tiga minggu sejak kalian masuk aku mulai khawatir formasi itu telah menelan kalian selamanya."
Chu Feng terkejut mendengar angka itu. Tiga minggu di dunia luar, dibandingkan hanya beberapa hari yang mereka rasakan di dalam namun dengan rasio waktu sepuluh banding satu, itu berarti mereka telah menghabiskan hampir enam bulan penuh dalam latihan intensif, jauh melampaui perkiraan awal mereka sendiri.
"Enam bulan," gumamnya, mencoba mencerna kenyataan itu. "Kompetisi—"
"Kompetisi tinggal dua minggu lagi," potong Tetua Wang, wajahnya kini menunjukkan urgensi baru. "Dan ada banyak hal yang perlu kalian ketahui tentang apa yang terjadi selama kalian di dalam sana."
Jantung Chu Feng berdegup kencang mendengar nada suara Tetua Wang yang berubah serius. "Apa yang terjadi, Tetua?"
"Beberapa hal," Tetua Wang menghela napas panjang. "Pertama, kabar baik sekte sudah pulih dari kerusakan akibat serangan itu, dan beberapa sekte tetangga bahkan mengirimkan bantuan setelah mendengar tentang apa yang terjadi, memperkuat reputasi kita menjelang kompetisi."
"Dan yang lainnya?" tanya Chu Feng, merasakan firasat buruk.
Tetua Wang ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Seekor burung pos dari Klan Su datang tiga kali selama kalian tidak ada, masing-masing membawa pesan yang semakin mendesak. Pesan terakhir tiba lima hari lalu Su Yue mengabarkan bahwa tetua Klan Su mempercepat tenggat waktu perjodohannya. Bukan lagi tiga bulan dari pesan pertama, melainkan tinggal kurang dari satu bulan sejak sekarang."
Chu Feng merasakan tanah seolah bergeser di bawah kakinya. Waktu yang mereka habiskan untuk mempersiapkan diri, sebesar apa pun manfaatnya, juga berarti waktu yang hilang untuk membantu Su Yue dan sekarang, dengan tenggat yang dipercepat, jendela kesempatan itu terasa semakin sempit.
"Dan Aula Kegelapan Malam?" tanyanya, hampir takut mendengar jawabannya.
"Sejauh ini sunyi," jawab Tetua Wang, meski nada suaranya tidak sepenuhnya meyakinkan. "Tapi kesunyian semacam itu sering kali lebih mengkhawatirkan dibandingkan serangan terbuka. Mereka mungkin sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar, menunggu momen yang tepat mungkin saat kompetisi berlangsung, ketika perhatian semua orang teralihkan."
Chu Feng menatap keempat rekan timnya, masing-masing wajah menunjukkan kesadaran yang sama beratnya bahwa perjalanan enam bulan di dalam ruangan tersembunyi itu, meski membuahkan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan, juga berarti mereka kini harus bergerak jauh lebih cepat dan lebih cermat dari sebelumnya, menghadapi tiga hal sekaligus dalam waktu yang semakin sempit kompetisi yang tinggal dua minggu, Su Yue yang tenggat waktunya kini tinggal kurang dari sebulan, dan Aula Kegelapan Malam yang kesunyiannya terasa seperti badai yang sedang menunggu waktu untuk pecah.
Kami sudah lebih kuat sekarang, pikirnya, mengokohkan pegangan pada Tombak Awan Kelabu yang kini terasa seperti perpanjangan sejati dari dirinya sendiri. Tapi apakah itu cukup untuk menghadapi semuanya sekaligus, dalam waktu sesempit ini?
Tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan itu, hanya tekad yang semakin membara di dadanya, dan kesadaran bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi ruang untuk keraguan atau penundaan.