Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerhana Abadi
Tidak ada ledakan besar. Tidak ada suara menggelegar. Akhir dari sebuah era tidak ditandai dengan gemuruh, melainkan dengan tarikan napas panjang yang mencekik seluruh dunia.
Saat Kaelen menyedot singularitas dari dada Sang Kaisar, aliran waktu di Alun-Alun Pencerahan seolah berhenti. Nebula bintang di dalam dada sang dewa terseret keluar, berputar membentuk pusaran debu kosmik yang ditelan mentah-mentah oleh gauntlet obsidian Kaelen.
Wajah sempurna Kaisar Agung, yang selama ribuan tahun tidak pernah menunjukkan emosi selain ketenangan, kini terdistorsi oleh horor murni. Retakan-retakan cahaya menjalar di leher dan pipinya, menyerupai porselen mahal yang dijatuhkan ke lantai batu.
"Kau... tidak bisa menampungnya..." Kaisar tersedak, suaranya pecah menjadi ribuan keping gema. "Dagingmu akan hancur... dunia ini akan..."
"Maka biarkan hancur," geram Kaelen, mencengkeram tenggorokan Kaisar semakin erat. Mata ungunya menyala lebih terang dari matahari yang sekarat.
Dengan satu tarikan terakhir yang memeras seluruh sisa Domain Null miliknya, Kaelen mencabut paksa akar terakhir dari Jantung Astral.
Tubuh Sang Kaisar meledak. Namun tidak ada darah atau daging yang berserakan. Tubuh itu hancur menjadi debu kaca bercahaya yang seketika disedot masuk ke dalam dada Kaelen.
Detik itu juga, langit di atas Ibukota Kekaisaran berubah menjadi hitam pekat. Awan-awan putih yang selama ini ditopang oleh sihir cuaca runtuh menjadi badai hujan es kotor. Seluruh kristal penerangan di jalanan pualam mati serentak.
Kengerian yang lebih besar menyusul. Tanpa Jantung Astral untuk menyuplai sihir levitasi, taman-taman gantung dan menara-menara istana yang selama ini melayang melawan gravitasi mulai bergetar hebat.
KRRAAAKK!
Bongkahan pualam seukuran bukit jatuh dari langit, menghantam jalanan ibukota dengan kekuatan meteor. Reruntuhan bangunan menimpa sisa-sisa pasukan Garda Kekaisaran yang kini hanya bisa menjerit histeris karena mereka tidak lagi bisa memanggil perisai angin atau penghalang bumi. Sihir mereka telah mati. Dunia telah direset secara paksa ke titik nol.
Di tengah pelataran yang mulai runtuh, Kaelen berdiri mematung.
Ia telah menang. Ia telah mencabut jantung dewa. Namun harga dari kemenangan itu datang menagih nyawanya dalam hitungan detik.
Inti Leviathan di dadanya dan gauntlet di lengannya tiba-tiba berhenti mendengung. Hening. Lalu, sebuah denyut balik yang mengerikan meledak dari dalam nadinya.
"AARRRGGGHHH!"
Kaelen, yang saraf rasa sakitnya telah dimatikan, tiba-tiba jatuh berlutut sambil menjerit memilukan. Suara jeritannya terdengar seperti besi yang dirobek paksa. Jaringan kulit di lengan kanannya mulai terbakar dari dalam, memancarkan cahaya ungu putih yang sangat tidak stabil. Pembuluh darah di lehernya menonjol, bercahaya terang.
Peringatan. Kapasitas wadah terlampaui 14.000%. Ketiadaan komponen penyalur ketiga. Inisiasi ledakan supernova dalam 60 detik.
Suara mekanis di dalam kepalanya terdengar seperti vonis mati. Silas benar. Mesin Pemakan Dewa itu terbagi menjadi tiga bagian karena satu tubuh manusia tidak akan sanggup menahan aliran energi seluruh dunia, sekalipun ia memiliki dua bagian. Energi Jantung Astral yang ia telan kini mulai memakan balik tubuhnya.
"Kaelen!" Lyra berlari menembus hujan puing pualam, mengabaikan serpihan batu yang menggores pipinya.
"Jangan mendekat!" raung Kaelen, mengangkat tangan kirinya yang masih manusiawi. Energi liar memancar dari mulutnya setiap kali ia berbicara. "Tubuhku... aku tidak bisa menahannya!"
Silas dan Jenderal Kael menyusul di belakang Lyra. Dokter tua itu menatap Kaelen dengan horor. "Dia kelebihan beban! Jantung Astralnya terlalu besar! Jika dia meledak, seluruh benua ini akan terbelah menjadi debu vulkanik!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Dok?!" teriak Rexor yang baru saja turun dari meriamnya.
Kaelen mencengkeram dadanya. Kesadarannya mulai terkoyak antara bagian manusia yang sekarat dan bagian mesin yang mencoba mencari jalan keluar. Ia tidak bisa memuntahkan energi ini kembali—dunia sudah terputus dari jaringan sihir. Satu-satunya cara adalah menahannya. Mengurungnya.
Jika wadah ini hancur, maka aku akan membuat wadah baru dari ketiadaan.
"Menjauh... bawa armada keluar dari istana!" perintah Kaelen, darah hitam mengalir dari matanya.
Kaelen membalikkan polaritasnya bukan ke luar, melainkan ke dalam. Ia memerintahkan gauntlet dan Inti Leviathan untuk membongkar jaringannya sendiri dan membangun kepompong pertahanan absolut.
Batu obsidian cair mulai merembes keluar dari pori-pori kulit Kaelen. Materi hitam pekat yang menyerap cahaya merambat menutupi wajahnya, bahunya, hingga membungkus seluruh tubuhnya. Dalam hitungan detik, Kaelen yang menjerit kesakitan tertelan sepenuhnya oleh sebuah bola obsidian raksasa berwarna hitam legam yang melayang beberapa sentimeter di atas tanah.
Kepompong hitam itu berdenyut pelan, memancarkan hawa dingin mutlak yang membekukan darah siapa pun yang mendekat.
Langit benar-benar gelap. Peradaban sihir telah runtuh. Dan sang penakluk dewa kini terkurung di dalam penjara buatannya sendiri