Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Farhan dan Kehangatan di Rumah Azam
#33
Sarah masih berdiri di depan lemari kaca ketika Farhan memergokinya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Farhan sekali lagi.
Sarah terkejut bercampur gugup, namun, tetap berusaha segera menguasai ekspresinya. Ia tidak boleh terlihat panik. Jika Farhan mencium sesuatu yang janggal, ia harus mampu mengalihkan perhatian lelaki itu sebelum pertanyaan-pertanyaan berikutnya muncul.
“Aku hanya melihat-lihat,” jawabnya sambil menutup pintu lemari kaca. “Memangnya kenapa, Mas?”
Farhan masih mengamati gerak-gerik istrinya. “Melihat-lihat koleksi tas Dina?”
Sarah mengangguk, tapi juga mengangkat bahu seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan. “Memangnya aku tidak boleh melihatnya?” katanya dengan mimik wajah dibuat cemberut.
“Aku tidak bilang begitu.” Farhan melangkah mendekat. “Hanya saja, setahuku kamu jarang masuk ke ruangan ini.”
Sarah tersenyum tipis. “Aku sedang mencari sesuatu untuk dipakai menghadiri acara minggu depan. Lalu, aku teringat kalau Dina punya banyak tas. Jadi, aku hanya melihat-lihat modelnya. Ngomong-ngomong, benda-benda ini ‘kan, sudah ditinggalkan pemiliknya, apa aku boleh memilikinya?”
Farhan tidak langsung menjawab.
Ia tahu Sarah sendiri memiliki cukup banyak tas. Karena itu, alasan istrinya terdengar sedikit janggal. Namun, ia juga tidak punya alasan kuat untuk menuduh Sarah melakukan sesuatu yang buruk hanya karena menemukannya di depan lemari tersebut.
“Kalau kamu membutuhkan tas, beli saja yang baru,” ujarnya akhirnya. “Jangan asal mengambil barang milik Dina!”
Deg!
Tubuh Sarah diam mematung, senyumnya hilang seketika, apakah ini artinya Farhan masih menyimpan nama Dina di hatinya? Namun, diantara rasa sakit itu, Sarah tetap mencoba tersenyum.
“Aku tahu, Mas. Lagipula aku bukan pencuri.”
“Aku tidak menuduhmu.” Farhan mengelak.
“Tapi cara bicaramu seolah-olah kamu mencurigaiku.”
Farhan menghela napas. Ia tidak ingin memulai pertengkaran hanya karena persoalan sepele. Pikirannya sudah cukup dipenuhi urusan perusahaan serta gugatan yang masih bergulir di pengadilan.
“Aku hanya mengingatkan. Barang-barang itu masih milik Dina. Kita tidak punya hak untuk memperlakukannya sesuka hati!” Farhan kembali mengingatkan.
Sarah terpaksa mengangguk, tapi sungguh, ini pukulan yang cukup menyakitkan bagi Sarah. Karena ia menyadari bahwa memiliki Farhan, tak berarti bisa menjadi ratu sepenuhnya di hati pria itu.
Sarah mengepalkan kedua tangannya, “Iya, aku mengerti,” katanya, berusaha tetap datar dan netral.
Farhan memandang lemari kaca sekali lagi sebelum berbalik hendak pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh.
“Ngomong-ngomong, Ibu bilang, kemarin kamu pergi keluar?”
“Iya, mengurus beberapa hal.”
“Hal apa itu?” selidik Farhan tak bermaksud apa-apa, hanya ingin bertanya.
“Apakah aku tak boleh sesekali keluar? Hanya Ibu saja yang boleh keluar bertemu dengan teman-temannya, sementara aku tidak?!” cerocos Sarah, mulai men-drama.
Farhan mengangkat kedua pundaknya, “Aku hanya bertanya, kenapa kamu tersinggung begitu?” gumam Farhan, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, meninggalkan Sarah yang masih berdiri diam menahan geram.
Begitu Farhan menghilang dari pandangan, senyum Sarah kembali lenyap seketika. Jantungnya berdebar kencang, ia sempat mengira Farhan akan terus bertanya tentang tas-tas tersebut, untung saja lelaki itu tidak berlama-lama di sana.
Namun, ucapan Farhan tentang Dina tadi terus terngiang di benaknya. Perihal barang-barang yang masih menjadi milik Dina.
Sarah melirik lemari kaca dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Farhan tidak akan menyetujui jika dirinya mengambil satu pun barang milik mantan istrinya tanpa izin. Apalagi sampai menjualnya.
Tapi masalahnya, Sarah sedang butuh uang untuk membungkam Cakra, agar pria itu tidak membongkar kejahatannya di masa lalu. Terlebih jika hal itu sampai membuat Farhan meninggalkannya, sampai kapanpun, Sarah tak akan rela.
•••
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah tirai kamar Aisha, hingga membuat Dina mengerjapkan mata perlahan, ia berusaha mengumpulkan kesadarannya setelah melewati malam yang cukup panjang dengan begadang.
Tubuhnya terasa pegal. Semalam ia beberapa kali terbangun untuk memastikan keadaan Ghazi, bahkan sempat tertidur dalam posisi setengah duduk karena bayi itu begitu nyaman berada di dekatnya. Karena itulah, selepas sholat subuh ia kembali mengistirahatkan tubuh lelahnya.
Dina menoleh ke samping, dan tersenyum saat melihat Ghazi masih terlelap di sisinya, sementara Aisha sepertinya sudah pergi entah kemana.
Dina kembali menyentuh pelipis Ghazi, lalu tersenyum lega saat merasakan suhu badan Ghazi sudah kembali normal. “Alhamdulillah, kamu sudah tidak demam lagi, Sayang,” bisiknya.
Dina tidak langsung bangkit, beberapa saat, Dina hanya berbaring miring memperhatikan Ghazi, menikmati suasana pagi yang terasa begitu asing sekaligus menenangkan.
Beberapa saat kemudian, Dina menoleh ke sekitar, ia sadar jika rumah ini, ia hanya tamu yang kebetulan menjadi ibu ASI untuk Ghazi. Namun, sejak kedatangannya semalam, Azam dan keluarganya memperlakukan Dina dengan begitu hangat, seolah kehadirannya bukanlah sesuatu yang merepotkan.
Bahkan selepas sholat subuh tadi, Aisha sudah membawakan teh hangat dan sepiring camilan bergizi sebagai pengganjal perut.
Dina tersenyum tipis, setidaknya, untuk sementara waktu, ia bisa hidup tenang tanpa memikirkan kisah rumah tangganya yang telah berakhir, serta kehilangan yang masih menyisakan luka.
Perlahan, ia turun dari tempat tidur, merapikan selimut Ghazi, kemudian mengambil perlengkapan mandinya. Baru saja hendak melangkah ke kamar mandi, pintu kamar dibuka dari luar.
“Kak Dina sudah bangun?” terdengar suara Aisha, yang baru saja membuka pintu ruangan.
Dina mengangguk, “Kebetulan kamu datang, titip Ghazi sebentar, aku mau mandi.”
“Dengan senang hati, Kak. Santai saja, anggap kamar sendiri.” Aisha mempersilahkan dengan ramah, agar Dina tidak merasa segan.
Tak butuh waktu lama, karena beberapa saat kemudian, Dina sudah keluar dari kamar mandi. “Airnya sejuk sekali,” ungkap Dina.
“Jangan kaget, Kak. Di Yogya sudah biasa, apalagi rumah ini cukup dekat dengan pegunungan.”
“Eh, Ghazi sudah bangun?” tanya Dina, saat melihat tangan dan kaki Ghazi sudah bergerak-gerak, begitu lucu dan menggemaskan.
“Iya, Kak. Barusan buka mata, lucu banget, langsung senyum-senyum liatin aku, padahal semalaman Kak Dina yang begadang menemaninya,” ungkap Aisha gemas pada keponakannya.
Dina tersenyum, “Aisha, Kakak boleh pinjam sisir rambut?”
“Boleh, Kak. Oh, iya, baju kotor Kak Dina juga, letakkan saja di keranjang laundry, nanti ada bibi yang mencucinya secara terpisah.”
Namun, Dina menggeleng tak nyaman, karena ia hanya tamu, bukan salah satu majikan di rumah ini, kenapa perlakuannya terasa lebih spesial dibandingkan dahulu saat tinggal di rumah mertuanya. “Nggak usah, nanti aku cuci sendiri, aku ‘kan, tamu.”
“Ish… Kakak, justru karena tamu, maka pakaian kakak, akan dicuci terpisah, biar bisa segera dipakai lagi untuk ganti. Jangan merasa merepotkan, ah. Justru kami yang seharusnya berterima kasih, karena Kakak bersedia datang jauh-jauh demi Ghazi.”
Tok!
Tok!
Pintu diketuk dari luar. “Masuk.” Aisha mempersilahkan si pengetuk pintu untuk masuk. Rupanya Azam yang datang, diam-diam Dina bernafas lega karena sudah mandi dan rapi, meskipun pakaiannya masih sama dengan semalam.
“Maaf, ganggu. Ghazi sudah bangun?” tanyanya kikuk, sebab ada Dina di sana.
“Sudah, Mas. Tapi maunya sama aku, gak mau sama Mas Azam, gimana, dong?”
“Hoax, itu hoax yang nyata, mana ada anak yang gak mau sama ayahnya?” bantah Azam kesal, ia sudah kelewat rindu pada putranya karena sejak kemarin hampir seharian penuh tak punya kesempatan menggendong bayi itu.
“Sini berikan padaku,” pintanya sedikit pura-pura ketus. Dina memperhatikan interaksi akrab kakak beradik tersebut sambil menyisir rambut sebahunya, ada canda tawa hangat, serta nada marah berbalut kasih sayang terselubung di antara keduanya. Mungkin begitulah rasanya memiliki saudara, karena Dina anak tunggal.
Azam akhirnya berhasil membawa putranya keluar, namun, sebelum keluar, ia menoleh ke arah Dina. “Ayo keluar, kita sarapan sama-sama, Ayah dan Bunda sudah menunggu di meja makan.”
“I-iya, Mas—”
Duh, Dina keceplosan lagi, mana ada Aisha yang mulai senyum-senyum tak jelas melihat interaksinya dengan Azam. “Eheemm! Abaikan aku, gak usah grogi, Kak. Anggap aja aku nggak ada. Aku santai kok orangnya.” Aisha menutup kedua mata dan telinganya, tingkah gadis itu justru terlihat lucu di mata Dina.
“Apaan, sih, kamu, gak jelas banget,” gerutu Azam, padahal ia pun salting tak karuan.
laki pulang kerja cape malah denger anak nangis apa ya gak mumet, walau di sambut sama kutang doang juga gak jadi nafsu denger anak nangis😂
Farhan siap² wanita yang kamu bela tak sebaik yang kamu kira🤣