Indonesia
NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Tenggelam

Suara langkah kaki itu berhenti. Keheningan menyergap, hanya menyisakan deru pelan arus sungai di kejauhan. Ye Chan mematung. Napasnya tertahan satu ketukan. Ia tidak menoleh, tak ingin memecah fokus yang tersisa. Tangan kanannya menggenggam erat gagang pedang patah itu, buku-buku jarinya memutih.

Di belakangnya, permukaan air sungai mulai bergetar. Riak halus muncul, merambat dari tengah sungai menuju tepian.

Satu detik. Dua detik.

BYUR!

Sosok hitam raksasa menerjang keluar dari balik arus.

Ye Chan tidak membuang waktu. Ia menjatuhkan diri, berguling di atas tanah berbatu.

Cakar monster itu menghantam tanah dengan kekuatan yang mengerikan.

BRAK!

Tanah di tempat Ye Chan berdiri tadi ambles. Pecahan batu dan tanah basah beterbangan, mengenai punggungnya dengan keras.

Ye Chan meluncur beberapa meter sebelum berhasil menghentikan lajunya. Ia menumpukan satu tangan ke tanah untuk bangkit. Rasa sakit tajam segera menjalar, menusuk dari telapak tangan hingga menjalar ke bahu yang terluka.

'Sial.'

Ia menyeka darah yang mengalir di sudut bibir. Rasa logam memenuhi mulutnya.

'Masih sama menjengkelkannya.'

Monster itu mengangkat kepala besarnya. Tanduk hitam di dahinya berkilau di bawah temaram cahaya bulan, terlihat tajam dan mematikan. Matanya yang biru gelap menatap lurus ke arah Ye Chan.

Ye Chan mundur satu langkah.

Monster itu maju, langkahnya berat dan lamban namun penuh tekanan.

Ye Chan mundur lagi.

Tiba-tiba, ia menyunggingkan senyum tipis.

'Kalau kau memang sangat ingin memakanku...'

Pandangannya melirik tajam ke arah hutan lebat di sisi kanan.

'...maka kejarlah aku.'

Ia berbalik dan berlari kencang. Ia tidak memilih jalan daratan yang aman. Ia justru menerjang masuk ke dalam air sungai yang dingin dan pekat.

Begitu kakinya menyentuh permukaan air, reaksi itu terjadi seketika.

BOOM!

Sebuah gelombang air setinggi beberapa tombak menghantam tubuhnya tanpa ampun.

Ye Chan mengangkat kedua tangan, mengerahkan seluruh sisa Qi untuk menciptakan lapisan pertahanan tipis di sekujur tubuhnya.

DUAGH!

Tekanan air itu terlalu kuat. Tubuhnya terpental, punggungnya menghantam dinding batu sungai hingga terdengar bunyi retak yang samar.

'Kh!'

Darah kembali naik ke tenggorokan.

Monster itu bergerak di dalam air dengan kelincahan yang mustahil untuk ukuran tubuh sebesar itu. Ia seperti bayangan, berenang tanpa hambatan.

Ye Chan menyipitkan mata.

Ini bukan sekadar teknik air biasa. Ia memperhatikan bagaimana arus di sekitarnya bereaksi sebelum monster itu bergerak. Arus itu patuh. Air tidak mengikuti gerak monster itu, melainkan melayani kemauan sang predator.

Ye Chan berhenti mencoba melawan arus. Ia membiarkan tubuhnya terbawa tarikan air yang mulai liar.

Monster itu melesat mengejarnya. Cakar hitamnya menyambar dari samping, membelah air.

Ye Chan menunduk.

Cakar tajam itu melintas tepat di atas kepalanya, memotong beberapa helai rambutnya.

Ia memutar tubuh, memusatkan fokus pada telapak tangan yang ia tempelkan pada batu di dasar sungai. Sebuah gulungan kertas formasi kecil meluncur keluar dari lengan bajunya.

Kertas itu hancur menjadi debu Qi.

Energi menyebar ke dasar sungai.

Arus di sekitar monster mendadak melambat. Tidak banyak, hanya jeda sesaat yang nyaris tak terasa. Namun bagi Ye Chan, sedetik itu adalah segalanya.

Ia melesat ke samping, menghindari serangan susulan.

Monster itu meraung, suara itu bergetar di dalam air hingga memekakkan telinga.

Air sungai di sekitarnya mendadak terangkat, membentuk dinding cair raksasa yang menutupi pandangannya.

Ye Chan menatap dinding itu. Wajahnya berubah pucat.

'...Sial.'

Itu bukan sekadar serangan. Seluruh aliran sungai di sekitarnya sedang digerakkan sebagai senjata.

Gelombang besar menghantam Ye Chan. Dunianya seketika berubah menjadi biru pekat yang menyesakkan. Suara dunia luar menjadi jauh dan teredam. Rasa sakit menghantam dadanya dengan ritme yang kacau. Qi dalam meridiannya mulai berantakan akibat hantaman hebat itu.

'Tubuhku tidak akan sanggup menahannya lebih lama lagi.'

Ye Chan mencoba berenang, namun arusnya terlalu kuat. Tubuhnya hanyalah dahan rapuh di tengah badai.

Darah mulai mengalir dari hidungnya, mewarnai air menjadi merah samar.

Monster itu mendekat dari kejauhan, siluetnya membesar dengan cepat.

Ye Chan menatap sosok itu.

Lalu, ia melihat sesuatu.

Sebuah titik cahaya biru samar berdenyut di bawah dada monster itu.

Intinya.

Sebuah gagasan berbahaya muncul di kepalanya. Sesuatu yang gila, namun masuk akal daripada mencoba bertarung dengan kekuatan murni.

Tangannya mengepal.

'Kalau aku tidak bisa menghancurkan tubuhmu...'

Tatapannya tertuju ke arah Giok Kehampaan yang tersembunyi jauh di dalam tubuhnya.

'...mungkin aku bisa mengambil sesuatu milikmu.'

Monster itu membuka rahangnya lebar-lebar. Taring-taring tajam yang berkilat itu berjarak hanya beberapa senti dari kulitnya.

Ia tidak menghindar.

Tangannya justru bergerak, menempel kuat pada dada monster.

Cakar monster menghantam tubuh Ye Chan.

DUAGH!

Tulang rusuknya terasa hancur. Darah keluar dari mulutnya, mengambang di air seperti kabut merah. Namun, tangan Ye Chan tetap tertempel kokoh.

"Sekarang."

Tidak ada cahaya ledakan. Tidak ada suara gemuruh.

Hanya satu getaran halus.

Inti monster itu bergetar hebat. Makhluk itu mendadak meraung, suaranya menggetarkan isi sungai.

Ye Chan ikut menggertakkan gigi, menahan rasa sakit yang menusuk otaknya. Sesuatu sedang ditarik dari inti itu.

Sebuah sifat alami yang selama bertahun-tahun melekat pada tubuh monster tersebut.

Air di sekeliling mereka mulai berputar tak terkendali.

Monster itu mengamuk, kehilangan arah.

Ye Chan hampir kehilangan kesadarannya.

'Jadi, begitu...'

Giok itu mampu menyerap lebih dari sekadar Qi.

Tanduk monster menghantam dadanya sekali lagi.

KRAK!

Tubuh Ye Chan terpental jauh. Namun pada saat yang sama, inti monster itu kehilangan kestabilannya. Kemampuan air yang mengelilingi tubuhnya mendadak kacau.

Ye Chan memanfaatkan kesempatan emas itu.

Ia menendang dasar sungai dengan sekuat tenaga, melesat menuju permukaan. Monster itu masih mengejarnya, namun gerakannya kini kaku dan ragu.

Ye Chan sudah tidak memiliki cadangan tenaga. Ia hanya bisa melihat cahaya bulan yang semakin dekat di atas sana.

Satu meter.

Dua meter.

Tiga—

Tangannya menembus permukaan air.

BYUR!

Tubuhnya terlempar ke tepian sungai yang berpasir. Ia jatuh terjerembap, tidak mampu bergerak sedikit pun. Hening kembali merajai hutan. Hanya suara embusan napasnya yang patah-patah.

Beberapa saat kemudian, jemarinya bergetar.

"...Hah..."

Ye Chan mencoba menarik napas. Dadanya terasa seperti habis dipukul godam raksasa. Ia memuntahkan air sungai bercampur darah ke atas pasir. Di dalam tubuhnya, Giok Kehampaan kembali diam, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun, sesuatu telah berubah.

Ye Chan duduk bersandar pada batang pohon tua di dekatnya. Ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar.

Setetes air sisa dari ujung dedaunan jatuh perlahan.

Sebelum tetesan itu menyentuh tanah, Ye Chan menggerakkan jarinya secara refleks.

Tetesan itu berhenti di udara.

Mengambang.

Mata Ye Chan menyipit. Air itu berputar perlahan mengikuti gerakan ujung jarinya.

Ia tidak berkata apa-apa. Ia menggerakkan tangan ke kiri. Air itu bergerak ke kiri. Ke kanan. Air itu pun ikut serta.

Ye Chan melepaskan fokusnya. Tetesan itu jatuh ke tanah.

Ia menatap telapak tangannya dengan tatapan tidak percaya. Ini bukan teknik kultivasi. Ia sangat mengenal perbedaan antara teknik yang membutuhkan sirkulasi Qi dan kemampuan bawaan.

Apa yang barusan ia lakukan...

...terasa seperti menggerakkan anggota tubuhnya sendiri.

Alisnya berkerut dalam.

'Sejak kapan aku memiliki kemampuan seperti ini?'

Ia tidak menemukan jawaban. Ye Chan menutup mata, mencoba merasakan kondisi dalam tubuhnya. Qi-nya masih kacau, meridiannya terluka, namun ada sensasi baru yang tipis namun nyata.

Sebuah kecenderungan terhadap air. Sangat alami, seolah-olah kemampuan itu sudah terkunci di sana sejak lahir.

Ye Chan terdiam cukup lama dalam kesunyian hutan. Ia menghela napas panjang.

'Giok itu... semakin sulit untuk dipahami.'

Ia membuka mata kembali. Kesadarannya kini tajam dan waspada.

'Dan sekarang, bukan waktunya untuk merenung.'

Tangannya masuk ke balik pakaian, memeriksa sisa pil. Tiga pil tersisa. Dua pemulih luka, satu pemulih Qi. Itu tidak akan cukup untuk bertahan lama.

Ye Chan menatap sungai di depannya, lalu hutan di belakangnya. Ia berada di daerah asing. Tidak ada Zhan Ya. Tidak ada Yuen Fang. Tidak ada pengejar.

Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, kesunyian menyelimutinya.

Ia berdiri dengan susah payah, kakinya bergetar.

"Aku harus pergi."

Satu langkah. Tubuhnya bergoyang. Ia memaksa kakinya melangkah lagi.

"Aku tidak boleh mati di sini."

Ia baru saja berjalan beberapa langkah ketika suara manusia yang tajam terdengar dari balik pepohonan.

"Berhenti."

Tangan Ye Chan refleks bergerak ke pinggang. Tidak ada pedang di sana. Hanya tangan kosong yang lemah.

Dari balik semak, muncul seorang pemuda membawa tombak pendek. Tatapannya dingin, turun ke pakaian Ye Chan yang penuh darah, lalu menatap sungai di belakangnya.

"Orang luar?"

Ye Chan memilih diam.

Pemuda itu mengangkat tombaknya, ujung senjata itu berkilau menakutkan.

"Kalau kau masih bisa berdiri, berarti lukamu belum fatal."

Ia menunjuk ke arah timur.

"Kalau mau hidup, ikut kami."

Ye Chan menyipitkan mata, menilai ancaman.

"Dan kalau aku menolak?"

Pemuda itu tersenyum tipis, tidak menyentuh emosi apa pun.

"Kalau begitu, kau akan mati sebelum sempat tahu tempat apa ini."

Ye Chan terdiam. Tepat di belakang mereka, jauh di dalam hutan, terdengar suara raungan rendah yang mengguncang dedaunan.

Suara yang sama.

Hewan Buas Bertanduk Hitam itu masih hidup.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!