Indonesia
NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rileks

**

"Heh, lo kalau mau nakal gue gak larang, tapi setidaknya jangan yang kriminal rugiin orang!"

"Lo tuh yah, bisa kan kaya gue cuman bolos atau tauran doang! Lo tuh, waktu itu juga kasus lo nyalain petasan di meja guru sampai guru lo masuk rumah sakit. Sekarang, lo sama temen-temen lo jatuhin tabung gas dari mobil. Untung aja gak ada korban yang kena itu tabung gas di jalan raya! Gak habis pikir gue. Kalau gue jadi supirnya, gak akan gue minta damai, gue jeblosin lo sama temen-temen lo di penjara!"

Reyhan menjambak rambutnya, kekesalannya sudah menumpuk. Ingin kembali rasanya menghajar adik kurang ajarnya, masih SMP tapi hobi buat ulah. Dia baru saja melayangkan satu pukulan, tapi wajah Rama adiknya sudah bonyok akibat berantem lagi dengan teman-temannya akibat saling menyalahkan.

"Gue cuman ikut-ikutan, Kak! Si Beng itu yang mulai, dia yang paling banyak jatuhin, gue cuman dua. Gue gak sa--!"

Rama menarik kalimatnya, menelan ludah gugup saat melihat tatapan tajam Reyhan yang seperti sudah akan siap untuk membunuhnya.

"Gue gak peduli siapa yang mulai duluan atau salah. Siapapun itu, tetap aja lo ikutan dan bikin kita semua tetap harus ganti rugi!" teriak Reyhan masih murka dengan berbagai alasannya itu.

"Emang berapa lo bayar uang damai?" tanya Bima yang akhirnya punya celah untuk bertanya, sedari tadi dia hanya terus melihat pertengkaran kakak-adik itu di bengkelnya.

"Dua setengah," jawab Reyhan ketus.

"25 rebu?" tanya Dion, kemudian cengengesan melihat tatapan tajam Reyhan. "250 ribu, itu murah sih."

"Dua setengah juta, bangsat!" teriak Reyhan kembali frustrasi memikirkan uangnya yang hilang begitu saja disaat dia pengangguran.

"Yang bangsat adek lo, bukan gue!" sanggah Dion bisa-bisanya menambah bara api ke Reyhan.

"Eh ... buset, pantesan lo ngamuk. Dua setengah juta hilang begitu saja," kata Bima ikut merasakan rasa frustrasi Reyhan yang kehilangan uang nominal yang yang sangat besar untuk kaum mereka.

"Maaf Kak, gue gak lagi-lagi deh, janji." Rama tiba-tiba bersimpuh di kaki Reyhan saat menyadari situasinya serius. "Gue cuman ikut-ikutan, Kak. Jangan bilang bapak-ibu, yah!"

"Minggir!" Reyhan menepis Rama dengan kakinya, kemudian dia duduk bersama kedua temannya. "Lo kalau mau minta maaf, gak usah nyari alasan ini-itu, kelihatan gak tulus. Minta maaf aja, akuin kesalahan udah."

Rama kembali bersimpuh di kaki Reyhan. "Iya Kak, gue minta maaf. Tapi please ... lo gak usah bilang bapak-ibu, yah?"

"Lo minta maaf cuman gak mau gue bilang ke bapak-ibu, kan?"

Rama menghela napas berat. "Gak Kak, enggak! Gue serius minta maaf, tapi kalau bilang, besok lo pasti bakal denger berita duka gue."

"Gak papa Ram, lumayan gue tahlilan dapat makan gratis," ujar Dion sambil meledek.

"Diem Kak Dion, berisik!"

"Kakak lo bakal terus dendam sama lo, mengingat dua juta setengah dia melayang dengan sia-sia," sahut Bima menambah bumbu panas.

Setelah itu, kedua teman Reyhan itu tertawa ngakak, melihat adegan drama di depan mereka.

"Ya udah, ini yang terakhir gak mau lagi gue berurusan sama masalah lo kedepannya. Urus aja sendiri nanti kalau lo bikin masalah lagi." Reyhan berdiri. "Balik sana sendiri, gue juga mau balik!"

"Iya Kak, makasih." Rama berdiri, terlihat kembali raut wajahnya ceria. "Janji gue gak akan berbuat ulah lagi, dadah."

Kemudian anak SMP itu sudah berlari dengan riang, meninggalkan tiga orang remaja yang melihatnya tidak habis pikir.

"Gak yakin gue, adek lo bakal taubat," ujar Bima saat melihat bagaimana riangnya langkah kaki Rama saat berlari kecil.

"Iya, tingkah dia gak kaya habis berbuat dosa tapi lebih habis menang uang judi," tambah Dion.

"Sialan, emang itu anak!"

*

Reyhan menghela napas berat, sebelum memasuki pintu kontrakan. Ini sudah jam 8 malam, sengaja pulang jam segini karena ini adalah jam dia pulang bekerja. Reyhan belum bisa jujur tentang dia yang sekarang sudah pengangguran kepada Ayana. Dia sudah terlalu banyak membuat wanita itu menderita, terlibat banyak masalah hidup bersamanya. Sekarang, Reyhan benar-benar tidak mau melibatkan Ayana dalam kondisi buruk ini juga.

"Assalamualaikum, Abang ganteng pulang Neng ...!" teriak Reyhan berusaha ceria seperti biasanya.

Saat membuka pintu, dia langsung melihat Ayana yang melihatnya dengan perasaan jijik. Reyhan tersenyum, penyambutan wanita itu selalu penuh kejutan dengan bermacam-macam ekspresi.

"Berisik ... alay!"

Reyhan terus berjalan dengan riang, meraih menggenggam wajah Ayana dengan tangannya, kemudian menghujani wanita itu dengan kecupan berkali-kali seluruh mukanya.

Ayana jelas berontak, di pikirannya jelas ini fix Reyhan sedang kesurupan. Sejak kapan, lelaki itu berani bertindak tidak masuk akal seperti ini?

"Reyhan ... kamu kenapa, sih?" Akhirnya, Ayana berhasil mendorong tubuh Reyhan yang membuat lelaki itu langsung rebahan di sampingnya. "Jangan rebahan dulu, mandi dulu, shalat terus makan."

"Bentar, mau gini bentar aja." Sambil rebahan, Reyhan memeluk paha  Ayana yang sedang duduk. Jelas, Ayang berontak. "Bentar, 5 menit aja gini. Aku mau napas bentar."

Ayana adalah termasuk wanita yang peka tapi dia selalu tidak mau ikut campur masalah siapapun, dia tidak mau terlibat jika tidak ada yang mengajaknya melibatkan. Ayana sadar, jika beberapa hari ini Reyhan terlihat ada masalah, tapi sebisa mungkin dia berusaha tidak bertanya, juga ikut campur. Mungkin ada alasan kenapa Reyhan tidak bercerita dan dia mencoba menghargai alasan itu yang membuat lelaki itu memilih untuk tidak mau melibatkannya.

Hubungan mereka sekarang masih abu-abu, tidak sejauh saat pertama tapi tidak sedekat pasangan lainnya. Ayana juga bingung harus menyebutnya apa, tidak ada kata cinta yang terucap tapi semua skinship yang mereka lakukan sudah melebihi skinship orang yang ada hubungan apapun.

Tak lama, Ayana malah mendengar suara napas teratur Reyhan.

"Bisa-bisanya dia tidur, dasar pelor. Bangunin gak yah, tapi dia kan belum makan juga."

Saat melihat wajah lelah Reyhan, Ayana merasa tidak tega untuk membangunkannya. Untuk kali ini, Ayana akan membiarkan, mungkin lelaki itu benar-benar sangat lelah. Lagipula, jika Reyhan merasa lapar dia pasti nanti akan bangun sendiri.

Pelan-pelan, Ayana menjauhkan tangan Reyhan yang memeluk tubuhnya. Kemudian, dia membenarkan sedikit posisi tidurnya, setelah itu menyelimuti lelaki itu.

Tak lama, setelan bosan bermain ponsel Ayana ikut berbaring di samping Reyhan dan kemudian terlelap juga.

"Ay ... ay ... bangun. Ngantuk banget, yah?"

Ayana merasa tepukan pelan di pipinya. Dia masih mengantuk, tidak mau membuka matanya.

"Ay ... ya udah deh, tidur lagi aja."

Entah kenapa, Ayana menjadi ingin bangun, perlahan dia membuka mata, melihat Reyhan yang tidur disisinya sembari berbaring miring ke arahnya dengan terus menatapnya intens.

Ayana tersenyum kecil, soal masalah wajah, dia masih merasa takjub dengan paras Reyhan yang rupawan, satu-satunya hal yang dia syukuri saat terpaksa memutuskan untuk menikah dengan lelaki. Tidak usah munafik, semua orang pasti memuja visual tampan awalnya, setelahnya baru melihat sikapnya.

Tidak sia-sia kan, paras rupawan lelaki itu selalu menjadi pemandangan indah saat bangun tidur.

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Reyhan yang merasa aneh saat Ayana bangun tidur langsung tersenyum aneh saat melihatnya.

"Enggak, aku cuman bersyukur aja," jawab Ayana masih tak melepaskan senyumannya.

"Bersyukur kenapa?"

"Rahasia. Bawel amat nanya-nanya. Eh, ini udah pagi, yah? Bentar banget, perasaan baru tidur"

Reyhan cengengesan. "Belum. Masih jam 2 malem."

"Yakali Reyhan, kenapa kamu bangunin aku jam segini? Aku pikir udah pagi." Ayana jelas mengomel.

Reyhan terlihat kikuk. "Itu anu ... aku ...."

"Eh, kamu udah mandi?" tanya Ayana yang langsung diangguki Reyhan. "Shalat? Makan?" Semua langsung diangguki Reyhan. "Ya udah, bagus deh. Kalau gitu aku mau lanjut tidur."

"Jangan!"

"Eh, kenapa? Ada yang mau aku bantu?" tanya Ayana heran melihat gelagat aneh Reyhan.

"Emmm ...."

"Emmm ... mulu, mau nyanyi lagu sabyan apa gimana?" ledek Ayana.

Reyhan mendengus, kemudian terlihat kikuk lagi. "Main bentar, yuk!"

"Hah, main kemana udah dinihari ini Reyhan, tolong!" Ayana menarik selimut, berniat mengabaikan Reyhan dengan segala tingkah anehnya. Dia mengantuk, tidak ada energi untuk meladeni tingkah Reyhan.

Tiba-tiba, Reyhan menarik tubuhnya menjadi telentang, selomutnya disingkap, kemudian Reyna sudah ada di tubuhnya.

Reyhan terkekeh. "Main gini Ay, maksudnya."

"Hah, tapi ...."

Belum sempat Ayana protes, Reyhan sudah kembali membungkam bibirnya dengan cumbuan lelaki itu. Awalnya dia mau berontak, tapi setelah dipikir-pikir ya sudahlah, dia ikutin maunya Reyhan. Walau sudah beberapa kali mereka melakukannya,tapi sejujurnya dia masih belum terbiasa dengan perasaan degdegan nya.

Entah kenapa, kali ini Reyhan terlihat lebih bersemangat dari biasanya, tapi Ayana sangat menyukai sosok Reyhan yang berkeringat serta terlihat serius saat melakukan seperti ini. Di terlihat lebih sexi.

Setelah merasakan pelepasan, Reyhan berbaring tidur di sampingnya dengan napas yang masih terlihat ngos-ngosan, tapi wajahnya malah terlihat lebih hidup.

"Rey!" Ayana protes saat Reyhan memiringkan tubuhnya sehingga saat ini dia tengah tertidur membelakangi lelaki itu dengan tubuhnya terpeluk erat oleh Reyhan .

"Tidur ayo, Ay!" Reyhan semakin memeluk erat Ayana.

Ayana mendengus. "Udah dapet enak langsung tidur, tadi gak ada nurani bangunin orang lagi enak-enaknya tidur."

Reyhan malah terkekeh. "Kan, bukan aku juga yang enak Ay, kita sama-sama enak. Terus kalau gak tidur, kamu maunya apa sekarang? Mau lanjut lagi? Aku habis kond*m Ay, mau tanpa kond*m apa?"

Ayana merinding. "Gak jelas. Jangan berisik, aku mau tidur. Eh, Rey minimal kita pakai baju dulu sebelum tidur. Lepas!"

Reyhan malah memperat pelukannya. "Gak usah, biar enak meluknya."

Ayana berontak. "Gak mau, keenakan kamu itu mah. Sekarang, aja ini tangan kamu kemana-mana. Lepas ih!"

Karena Reyhan yang tidak mau melepaskan, Ayana terpaksa menyikut perut lelaki itu dengan keras.

"Aw ... sakit Ay, kenceng amat nyikutnya, sakit nih!" Reyhan melepaskan pelukannya, kemudian memegangi perutnya.

"Siapa suruh gak lepas, awas!" Saat beranjak melepas selimut, dia melihat Reyhan dan tubuhnya bergantian. Dia masih malu. "Rey merem, aku mau ganti baju."

"Buat apa Ay, aku kan udah lihat semuanya, mainin juga udah. Kenapa harus merem?" Reyhan melihat Ayana dengan tatapan nakalnya.

"Sialan, gak mau tahu pokoknya merem. Please ... Rey!" Sungguh Ayana sekarang sudah benar-benar frustrasi.

Melihat Ayana terlihat benar-benar marah, akhirnya Reyhan menurut. Kasian juga, tadi lagi enak-enaknya tidur dia malah dibangunkan untuk memenuhi rasa duniawi dirinya yang tidak bisa ditahan.

Setelah Reyhan memejamkan mata, Ayana buru-buru meraih pakaiannya yang tadi berserakan, kemudian langsung berlari ke kamar mandi.

Mendengar pintu kamar mandi tertutup, Reyhan membuka mata, kemudian dia langsung memakai celana pendeknya, dia sedang malas memakai baju.

"Ngapain Ay?"

"Pipis, berisik!"

Reyhan tersenyum. Ternyata ini memang keuntungan sudah menikah, kebutuhan biologis dia bisa terpenuhi dengan sangat baik. Bahkan, bisa membuat kepala dia isinya menjadi lebih ringan, tidak terlalu berat seperti tadi.

Walau masalahnya belum selesai, dia bisa lebih rileks sekarang.

"Thanks, Ay."

##

1
Aidil Kenzie Zie
e. . ternyata belum di unboxing 🤫🤫
uriarmy16: Ada waktunya🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
penasaran apa mereka udah belah duren 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Ara nggak jadi ikut y tor katanya mau kuliah di Jakarta dan tinggal dirumah Bima🤔🤔🤔
uriarmy16: ikut kok, nanti Ada kok diceritain🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
jangan tamat dulu thor
Siti Musyarofah
lanjut anak Rey thor
uriarmy16: gak kepikiran 🤭
total 1 replies
Siti Musyarofah
bagus ceritanya
Siti Musyarofah
kurang hot Thor
uriarmy16: maaf gak bisa, geli sendiri nulisnya wkwk
total 1 replies
Siti Musyarofah
ngakak 🤣
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
astagfirullah ada y emak model begitu
Siti Musyarofah
kok mirip aku y Thor, yg modal nekad buat nikah
uriarmy16: always happy yah😗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!