Indonesia
NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Lonceng Senja di Tepian Cakrawala

​Udara malam bulan Oktober di kawasan technopark membawa keheningan yang tebal. Dari ketinggian lantai tiga Kusuma Advanced Research Center (KARC), hamparan lampu-lampu di jalan raya utama ibu kota terlihat berkelap-kelip menyerupai rasi bintang yang jatuh ke bumi. Di dalam ruang kerja utama yang luas dan sunyi, satu-satunya sumber cahaya berasal dari pendaran lembut layar holografik transparan yang memetakan siklus energi mikro di berbagai sektor industri regional.

​Rian duduk tegak di kursi kerjanya. Kemeja putih berlengan panjang yang dikenakannya tampak bersih tanpa noda, berpadu dengan postur tubuh yang memancarkan wibawa ketenangan mutlak. Di seberang meja konsol, Maya sedang memeriksa salinan cetak laporan audit logistik terakhir yang baru saja dikirimkan oleh tim administrasi kementerian.

​"Semua parameter distribusi daya untuk zona industri timur sudah diverifikasi, Rian," ujar Maya sambil merapikan beberapa lembar kertas di tangannya. Suaranya memecah keheningan ruangan dengan lembut. "Tidak ada hambatan teknis. Profesor Wiratman bahkan mengonfirmasi bahwa sidang kabinet menteri pekan depan akan resmi menetapkan model generator termoelektrik kita sebagai cetak biru standar efisiensi nasional."

​Rian mengalihkan pandangannya dari layar holografik, menatap Maya dengan sorot mata yang jernih. "Pengesahan birokratis hanyalah stempel formal atas hukum alam yang memang sudah bekerja dengan sendirinya, Maya. Yang terpenting bukanlah apa kata surat keputusan pemerintah, melainkan bagaimana prinsip dasar efisiensi ini dapat mengurangi entropi energi secara berkelanjutan."

​Maya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya perlahan. Ia sudah terbiasa dengan cara pandang pemuda itu yang sering kali melompati batas-batas pemikiran orang kebanyakan. "Kau selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang kosmik yang begitu luas, Rian. Terkadang aku lupa bahwa kau baru berusia tujuh belas tahun, karena kedalaman cara beralamu terasa seperti seorang filsuf yang hidup berabad-abad lamanya."

​"Usia hanyalah hitungan waktu perputaran planet mengelilingi bintang induknya," jawab Rian ringan, mengambil cangkir teh hangatnya dan menyesapnya perlahan. "Kesadaran sejati tidak terikat oleh batasan angka."

​Sebelum Maya sempat merespons, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kaca geser ruangan. Tanpa menunggu jawaban, Wijaya—kepala divisi pengembangan teknologi—melangkah masuk dengan raut wajah serius namun tenang, membawa sebuah tablet digital di tangan kanannya.

​"Selamat malam, Tuan Rian, Nona Maya," sapa Wijaya sopan, membungkuk sekilas sebelum berdiri tegak di dekat meja kerja. "Maaf mengganggu waktu malam kalian, tapi ada informasi penting yang baru saja masuk dari kantor kejaksaan agung."

​Rian meletakkan cangkirnya dengan rapi ke atas meja, menatap Wijaya lekat-lekat. "Katakan, Wijaya."

​"Sidang perdana kasus tindak pidana korupsi dan sabotase industri yang melibatkan Bramasta dan faksi lamanya telah resmi dimulai pagi tadi," lapor Wijaya dengan nada tegas. "Berdasarkan bukti forensik digital dan transkrip aliran dana yang secara otomatis diekstraksi oleh sistem pertahanan siber kita beberapa waktu lalu, majelis hakim menolak seluruh nota pembelaan mereka. Bramasta dijatuhi vonis hukuman penjara berat sepuluh tahun tanpa hak pembebasan bersyarat, dan seluruh aset sisa sindikatnya disita sepenuhnya oleh negara."

​Maya mendengus pelan, menghela napas lega. "Akhirnya... babak kelam dari orang-orang serakah itu benar-benar ditutup. Mereka mencoba menjatuhkan kita dengan intrik kotor, tapi pada akhirnya sistem kebenaran yang Rian bangun sendiri yang meruntuhkan kekaisaran mereka."

​Rian tidak menunjukkan ekspresi kemenangan yang berlebihan. Wajahnya tetap tenang, datar, dan berwibawa. Bagi seorang kultivator agung yang telah melintasi dimensi kesadaran kosmik, kejatuhan seorang pelaku kejahatan fana bukanlah sebuah peristiwa besar, melainkan sekadar bebatuan kecil yang tersapu oleh arus sungai sejarah.

​"Hukum sebab-akibat bekerja dengan presisi yang mutlak," ucap Rian tenang. "Siapa pun yang menabur kekacauan demi ambisi pribadi pada akhirnya hanya akan menuai kehancuran dari sistem yang mereka manipulasi sendiri."

​Wijaya mengangguk setuju, menatap Rian dengan rasa hormat yang mendalam. "Apa pun itu, Tuan Rian, runtuhnya faksi Bramasta menandai akhir dari seluruh ancaman eksternal terhadap KARC. Mulai besok, kita dapat murni memfokuskan seluruh sumber daya riset pada pengembangan teknologi energi antariksa skala makro sesuai draf awal."

​"Laksanakan sesuai rencana, Wijaya," titah Rian singkat.

​"Baik, Tuan Rian. Saya akan menginstruksikan tim teknis untuk mempersiapkan simposium riset bulan depan," balas Wijaya, lalu membungkuk hormat dan berbalik meninggalkan ruangan.

​Jam dinding menunjuk pukul sepuluh malam lewat tiga puluh menit.

​Setelah Maya pamit pulang menggunakan mobil korporasi sepuluh menit yang lalu, Rian kembali mendapati dirinya sendirian di dalam ruang kerja lantai tiga KARC. Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju balkon luar ruangan yang terbuka langsung ke arah panorama malam ibu kota.

​Angin malam berhembus cukup kencang, menerbangkan ujung kemeja putihnya. Rian menutup kedua matanya rapat-rapat, mengangkat kedua tangannya di depan dada, lalu mengambil posisi meditasi berdiri dengan ritme pernapasan yang sangat halus dan teratur.

​Seketika itu juga, ruang di sekitar tubuh Rian mulai bergetar dalam frekuensi gelombang tak kasat mata. Pendaran cahaya keemasan yang sangat terang benderang memancar keluar dari pori-pori kulitnya, membentuk medan energi spiritual berbentuk lingkaran kosmik yang melingkupi seluruh gedung KARC hingga radius beberapa kilometer.

​Di dalam dimensi kesadaran batinnya, batasan antara dunia fisik dan keluasan semesta melebur menjadi satu. Rian dapat merasakan aliran energi Qi dari inti bumi berpadu harmonis dengan radiasi elektromagnetik bintang-bintang di angkasa luar. Setiap denyut kehidupan, setiap partikel debu yang melayang di udara, dan setiap gelombang pikiran yang terpancar di kota metropolitan di bawahnya dapat ia tangkap dengan kejelasan mutlak tanpa batas.

​[ Pemberitahuan Sistem: Resonansi Kesadaran Kosmik Tahap Puncak tercapai. ]

[ Sinkronisasi antara hukum fisika dunia fana dan hukum keabadian spiritual mencapai kesempurnaan mutlak 100%. ]

[ Status Kultivator: Penguasaan Mutlak atas Keseimbangan Ruang, Waktu, dan Energi. ]

​Deretan teks transparan berwarna keemasan berkedip lembut di retinanya, lalu perlahan-lahan menyatu dan melebur ke dalam inti kesadaran abadi di dalam jiwanya. Tidak ada lagi sistem, tidak ada lagi notifikasi teks; yang tersisa hanyalah kesadaran murni yang menyatu dengan keabadian semesta itu sendiri.

​Rian membuka kedua matanya perlahan. Manik matanya memancarkan kilatan cahaya keemasan yang sangat tajam, tenang, dan dalam, memantulkan keluasan galaksi tanpa batas. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

​Dunia fana di hadapannya kini terbentang luas, penuh dengan peluang, tantangan, dan misteri baru yang siap dijelajahi. Namun, bagi seorang kultivator agung yang telah melampaui batas-batas ruang dan waktu, segala pencapaian gemilang di bumi—mulai dari medali olimpiade, kontrak korporasi, hingga pendirian pusat riset canggih—hanyalah riak-riak kecil di permukaan samudra keabadian.

​Rian membalikkan badannya, melangkah meninggalkan balkon menuju ke dalam ruangan yang temaram. Bayangan sosoknya perlahan memudar di antara cahaya lampu laboratorium yang tenang, meninggalkan keheningan malam yang megah dan penuh misteri di atas langit ibu kota, siap menyambut lembaran baru penjelajahan kosmik yang tak bertepi.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!