Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Batas Akhir Kesabaran
Malam itu, rintik hujan membasahi kaca jendela restoran, menciptakan aliran air yang tampak seperti air mata.
Di salah satu sudut meja, Langit duduk dengan gelisah. Jari-jemarinya yang lentik tak henti memilin ujung lengan rajut sweater nya.
Di hadapannya, duduk Galang, pria yang dahulu hampir menjadi suaminya, dan hampir tiga hari ini telah menganggu Langit.
"Galang, tolong hentikan," suara Langit bergetar, nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Kita sudah selesai. Aku sudah menikah. Bumi adalah suamiku sekarang."
Galang menatap Langit dengan mata yang menyalang, campuran antara obsesi, penyesalan, dan kemarahan yang tertahan.
Ia meraih cangkir kopinya, lalu meletakkannya kembali dengan denting keras yang membuat beberapa pengunjung menoleh. "Menikah? Hanya karena cincin itu sudah berpindah ke jarinya, kamu pikir aku akan menyerah, Langit? Kita bertunangan selama dua tahun! Kamu milikku, harusnya kamu menjadi istriku, bukan dia!"
"Itu masa lalu, Galang! Kamu yang mengkhianati kepercayaan itu, dan bahkan kau dengan senjata ingin menjatuhkan ku!" Langit merasakan sesak di dadanya. Rasa takut mulai merayap di tengkuknya. Ini bukan kali pertama.
Sejak Langit resmi menjadi istri Bumi, Galang berubah menjadi bayangan yang mengerikan.
Pria itu selalu menemukan cara untuk hadir di mana pun Langit berada. Di lobi kantor, di supermarket tempat ia biasa berbelanja, bahkan di pelataran parkir studio seninya.
Galang seperti memiliki seribu mata yang mengintai setiap gerak-gerik Langit.
"Aku khilaf saat itu, dan aku sudah meminta maaf!" Galang mencondongkan tubuhnya ke depan, memotong jarak di antara mereka.
Tatapannya begitu intens hingga membuat Langit refleks menarik diri ke belakang.
"Bumi tidak tahu apa-apa tentangmu. Dia tidak mencintaimu seperti aku mencintaimu. Aku akan melakukan apa saja untuk membawamu kembali, Langit. Apa saja."
Ketakutan yang mendalam mencengkeram hati Langit. Ia segera menyambar tasnya, berdiri dengan lutut yang gemetar, dan bergegas pergi meninggalkan restoran tanpa memedulikan panggilan Galang yang menggema di belakangnya.
Sesampainya di rumah, Langit berusaha bersikap senormal mungkin.
Namun, wajahnya yang pucat dan tangannya yang dingin tak dapat membohongi Bumi,
Saat Langit sedang menuangkan air di dapur, Bumi berjalan mendekat dari belakang.
Kemudian duduk tepat di depan langit, menatapnya sebentar dan itu memberikan reaksi yang tak biasa."Ada apa, Langit? Kamu sedikit pucat," tanya Bumi dengan suara yang tenang namun mengintimidasi bagi siapa saja yang menyembunyikan rahasia.
Langit menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa lagi menyembunyikan hal ini sendirian.
Ketakutannya pada Galang sudah mencapai batas yang tidak bisa ia tanggung sendiri. Dengan suara terputus-putus, Langit menceritakan semuanya.
Tentang bagaimana Galang selalu muncul tiba-tiba, pesan-pesan teror yang bernada obsesif, hingga pertemuan tak sengaja yang dipaksakan di restoran beberapa jam yang lalu, dan sebenarnya sudah terjadi hampir seminggu setelah pernikahan, dan lebih sering tiga hari ini.
Bumi mendengarkan setiap kata dengan saksama. Wajahnya tetap tenang, tidak ada ledakan amarah yang terlihat.
Namun, rahangnya mengetat, dan sorot matanya berubah menjadi sedingin es.
Aura tegas yang menjadi ciri khasnya kini memancarkan ancaman yang nyata bagi siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.
"Dia menyentuhmu?" tanya Bumi singkat, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Langit.
"Tidak, tapi aku takut, Bumi. Dia seperti ada di mana-mana," jawab langit sambil duduk perlahan di depan Bumi.
Bumi memberikan senyumnya. "Jangan takut. Aku yang akan menyelesaikannya. Mulai besok, dia tidak akan pernah mengganggumu lagi. Aku berjanji."
Keesokan harinya, Bumi tidak membutuhkan waktu lama untuk melacak keberadaan Galang. Melalui jaringannya, ia mengetahui bahwa Galang sering menghabiskan waktu sore hari di sebuah lounge eksklusif di pusat kota setelah jam kantor.
Sore itu, hujan kembali turun. Galang sedang duduk di sofa kulit lounge tersebut, menyesap minumannya sembari menatap layar ponsel yang menampilkan foto-foto lama dirinya bersama Langit.
Tiba-tiba, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap menghalangi cahaya lampu di atasnya.
Galang mendongak dan mendapati Bumi sudah berdiri di sana.
Bumi mengenakan setelan santai kaos hitam, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ekspresi wajahnya datar, dingin, namun memancarkan dominasi yang kuat.
"Galang," ucap Bumi, menyebut nama itu dengan nada yang sangat santai namun sarat akan tekanan.
Galang tertegun sejenak, namun segera merubah ekspresinya menjadi seringai meremehkan. Ia bersandar pada sofa dan melipat kakinya. "Ah, sang suami sah. Ada angin apa mendatangi aku? Mau menyerahkan Langit kembali kepadaku?"
Bumi tidak terpancing. Ia tidak membalas provokasi murahan itu dengan kemarahan.
Dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, Bumi menarik kursi di hadapan Galang dan duduk.
Ia menatap Galang lurus pada matanya—sebuah tatapan yang membuat keberanian Galang perlahan menyusut.
"Aku ke sini bukan untuk berdebat atau mendengar bualanmu," kata Bumi, suaranya rendah namun terdengar sangat jelas di antara dentingan musik lounge.
"Aku ke sini untuk memberikan satu-satunya peringatan yang akan kamu dapatkan."
Galang tertawa remeh, mencoba menutupi rasa gugup yang tiba-tiba melanda. "Peringatan? Kamu pikir aku takut? Langit itu milikku sebelum dia menjadi milikmu. Kamu hanya pelarian karena kami sedang bermasalah!"
Bumi mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Keheningan yang diciptakan Bumi terasa begitu mencekam. "Dengarkan aku baik-baik, Galang. Langit adalah istriku. Setiap jengkal hidupnya adalah tanggung jawabku. Dan kamu, kamu hanyalah serangga kecil yang mulai mengganggu kenyamanan rumah tanggaku."
Bumi mengeluarkan sebuah map dokumen dari balik jasnya dan meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Galang. "Buka."
Dengan kening berkerut, Galang membuka map tersebut. Matanya terbelalak saat melihat isinya. Itu adalah laporan lengkap mengenai seluruh aktivitas ilegal perusahaan milik keluarga Galang, termasuk bukti-bukti manipulasi pajak dan pelanggaran kontrak kerja yang selama ini ditutupi dengan rapi. Tidak hanya itu, di lembar berikutnya ada cetakan seluruh rekaman CCTV, riwayat pesan, dan bukti stalking yang dilakukan Galang terhadap Langit selama tiga bulan terakhir.
"Kamu pikir aksimu membuntuti Langit tidak meninggalkan jejak?" Bumi berbicara dengan nada yang sangat datar, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Satu langkah saja kamu mendekati Langit lagi, atau satu pesan saja kamu kirimkan ke ponselnya, dokumen-dokumen ini akan berada di meja Kejaksaan Agung dan meja Kepolisian dalam waktu kurang dari lima menit. Aku bisa memastikan bisnismu hancur, keluargamu jatuh miskin, dan kamu membusuk di penjara atas pasal berlapis."
Wajah Galang seketika berubah pucat pasi. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia memandang Bumi dengan rasa tidak percaya.
Pria di hadapannya ini bukan sekadar suami biasa, Bumi adalah ancaman nyata yang bisa menghancurkan hidupnya dalam sekejap tanpa mengotori tangannya sendiri.
"Kamu-, kamu tidak bisa melakukan ini," suara Galang mulai bergetar, kehilangan seluruh keangkuhannya yang tadi dipamerkan.
Bumi menegakkan kembali tubuhnya, merapikan sedikit kerah jasnya dengan gestur yang sangat tenang. "Cobalah jika kamu ingin tahu aku bisa atau tidak, jangan lupa siapa yang ada di belakangku sekarang dan ingat, taruhannya adalah seluruh hidupmu."
Bumi berdiri, menatap Galang dari atas dengan pandangan merendahkan yang sangat menusuk. "Langit merasa ketakutan karena ulahmu, dan aku sangat tidak suka melihat istriku ketakutan. Anggap ini sebagai pelajaran pertama dan terakhir. Enyah dari kehidupan kami, atau aku yang akan melenyapkan mu dari dunia bisnis dan sosial."
Tanpa menunggu jawaban dari Galang yang sudah membeku ketakutan, Bumi berbalik dan melangkah pergi dengan langkah yang tegap dan berwibawa.
Malam harinya, Bumi kembali ke rumah. Begitu melangkah masuk, ia melihat Langit yang menunggunya di ruang tengah dengan cemas. Melihat suaminya pulang, Langit segera menghampirinya.
"Bumi, kamu dari mana? Kamu tidak apa-apa?" tanya Langit dengan nada khawatir yang kentara.
Bumi tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang hanya ia berikan khusus untuk Langit yang mengkhawatirkannya.
Dan entak keberanian dari mana, Langit datang dan memeluknya. "Semua sudah selesai, Langit. Galang tidak akan pernah mengganggumu lagi. Dia sudah paham posisinya sekarang," bisik Bumi dengan lembut di telinga Langit.